LOGIN“Mama dimana?” tanya Haisa heran, suaranya setengah berbisik. Biasanya juga seperti itu, setiap kali bangun tidur ia akan ke kamar ibunya dan memanggil ibunya.“Di bawah, tidur di sofa,” jawab Bintang.“Loh kok tidur dibawah? Kenapa gak di kamar? Papa mana?”Haisa memang si paling kritis, dia benar-benar ingin tahu. Apalagi, semalam sebelum tidur kedua orang tuanya ada di rumah dan semuanya baik-baik saja. Ia tahu ibunya sedih, tapi tetap saja heran kalau tidur di sofa.“Mama baru tidur, semalaman Mama gak tidur karena menunggu kabar dari rumah sakit, Tante Ara masuk rumah sakit. Dan papa sekarang masih di rumah sakit, melihat kondisi Tante Ara,” jawab Bintang menjelaskan.Haisa mengangguk paham. “Kak Bintang ngapain disini?”“Aku nungguin Aksa bangun, takut nanti dia bangun nyariin Mama dan nangis. Kasihan Mama baru tidur, dan juga takut Aksa kenapa-napa, takut dia maksa turun tangga sendirian,” jawab Bintang.“Oh. Kalau gitu aku mau ke Mama deh.”Bintang menahan Haisa. “Jangan gangg
“Sabar gimana? Apa maksudnya?” tanya Selena.Semakin diminta untuk sabar, Selena semakin menunjukkan kepanikannya. Sebab, saat ini dalam pikirannya hanya ada dua kemungkinan, hidup atau tidak. Sejak semalam, tidak ada kabar yang menunjukkan Ara sudah membaik.Tiba-tiba saja Haris menelpon dengan ucapan pertama yang keluar memintanya sabar, apakah itu artinya Ara pun sudah pergi untuk selama-lamanya?“Kamu tenang dulu, Sayang. Aku belum bilang apa-apa.”“Cepat katakan, Sayang.”“Kondisi Ara sudah stabil, dia sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja saat ini dia belum sadarkan diri, tapi dokter mengatakan beberapa jam lagi dia akan sadar.”Selena menghela napas lega, ia mengelus dada. Rasanya ada beban yang rontok saat mendengar kondisi sang adik.“Kondisinya memang cukup mengkhawatirkan, terlambat sedikit saja Yuda membawanya ke rumah sakit kemungkinan kita akan kehilangan dia. Tapi, balik lagi semua sudah ketentuan Yang Maha Kuasa, hidup dan mati tidak bisa ditentukan. Syukurnya seka
Tengah malam…Braak!Suara berisik, benda jatuh dari dapur memecah keheningan malam di rumah besar Haris dan Selena. Semua penghuni sedang terlelap, tapi lampu di dapur menyala dan tampak adanya kesibukan disana.Bi Ratih terkejut mendengar suara itu, dengan kantuk yang masih menyerang, wanita paruh baya itu beranjak ke dapur. Apa yang dia lihat di dapur itu membuatnya mengucek mata berkali-kali, takut salah lihat.Dan, Bi Ratih yakin ini bukanlah mimpi, dia melihat Selena sedang sibuk di dapur. Sesekali ia menghapus air matanya, tapi tangannya sibuk dengan panci diatas kompor yang menyala. Dan bau bawang goreng juga semerbak memenuhi ruangan.“Non, lagi apa?” tanya Bi Ratoh heran.Selena menoleh, matanya bengkak. Bibirnya tersenyum ke arah Bi Ratih. “Maaf, Bi. Berisik ya?”Bi Ratih menggelengkan kepalanya. “Gak juga, Non Selena lagi apa?”“Buat bubur, Bi. Semalam Haisa minta buatkan bubur untuk sarapan pagi ini.”“Ini masih tengah malam, Non. Bibi bisa masakin besok pagi.”Selena men
“Oke.”Haris menjawab dengan pelan, tangannya pun bergetar memegang ponsel itu. Dia melirik Selena dan menghela napas berat.Istrinya itu menatapnya dengan penuh penantian dan rasa penasaran yang dalam. Apalagi melihat ekspresi Haris yang seolah panik, namun ditahan.“Ada apa, Sayang? Siapa yang sakit?” tanya Selena.“Kamu tenang dulu aja ya, kamu tetap di rumah saja bersama anak-anak. Aku akan menyusul Yuda dulu,” jawab Haris akhirnya.Haris tahu, Selena sangat lelah. Dan juga, anak-anak yang begitu berharap ibunya ada di rumah. Dalam kondisi seperti ini semuanya serba salah. Akhirnya Haris mengambil jalan tengah, Selena tetap di rumah hanya dia sendiri yang akan ke rumah sakit.“Kamu belum menjawabku.”“Ara.”Selena memejamkan matanya saat mendengar nama sang adik. Awalnya ia kira Tyas lah yang jatuh sakit, karena sejak Pak Benny dinyatakan meninggal, Tyas lebih banyak diam dan melamun.Meskipun tidak menutup kemungkinan Ara juga sakit, bahkan saat ayahnya masih di rumah sakit Ara s
Kriet!Selena mendorong pintu kamar dan membukanya pelan setelah ia memastikan Haisa benar-benar sudah tertidur pulas.Ternyata di atas tempat tidur, Haris dan Aksa belum tidur. Keduanya malah sedang asyik bermain.“Kok belum tidur?” tanya Selena mendekat.Haris tertawa. “Iya, Aksa malah masih mau main. Tadi Ibu bilang dia memang tidurnya sampai sore, jadi mungkin karena itu dia belum mengantuk,” jawab Haris.“Mama,” panggil Aksa sambil melambaikan tangannya dengan maksud meminta Selena untuk duduk di sebelahnya dan ikut bermain.“Jadi Mama juga ikut main?” tanya Selena tersenyum.Aksa menganggukkan kepalanya dan memberikan satu buah mobil-mobilan kepada Selena.Selena akhirnya ikut bermain mobil-mobilan favorit Aksa di atas tempat tidur. Aksa tampak tergelak-gelak. Ia begitu senang bermain bersama ayah dan ibunya.“Haisa sudah tidur?” tanya Haris pada Selena.“Iya. Karena dia kayaknya kebalikan dari Aksa. Dia main sampai sore, kalau Aksa malah tidur sampai sore. Haisa malah main jadi
“Ya sama aja. Kalau pun Mama yang baca ceritanya, setelah kamu tidur Mama berhenti. Cuma bedanya, kalau kamu baca sendiri, sebelum tidur kamu sudah berhenti bacanya,” ucap Bintang.“Tetap beda. Dan aku maunya Mama yang bacain,” jawab Haisa.“Ya sudah, Mama akan bacakan. Tapi nggak boleh main-main dulu sebelum tidurnya. Langsung tidur, karena Mama juga akan menemani adik Aksa,” ucap Selena.“Kamu nggak mau Papa aja yang bacain?” tawar Haris pada Haisa.Haisa menggelengkan kepalanya dan menarik tangan Selena. “Nggak mau. Aku maunya sama Mama aja.”“Ya sudah, Aksa sama Papa, oke?” ucap Haris yang langsung menggendong Aksa untuk menuju ke kamar.“Kami juga pulang ke rumah sebelah, ya, karena sudah lama rumah sebelah nggak ada yang menempati,” kekeh Pak Herman, menggandeng tangan sang istri untuk kembali ke rumahnya yang terletak di sebelah rumah Haris dan Selena.Haris menoleh. “Tapi besok jangan langsung pulang.”“Ya ampun, anaknya merengek pada ibunya, bapaknya merengek juga,” kekeh Pak







