INICIAR SESIÓNKertas-kertas berserakan di atas karpet ruang rapat itu. Layar monitor di dinding masih menyala merah, menampilkan deretan rekening operasional Danuarta Group yang dibekukan secara sepihak oleh bank dan otoritas pajak. Prang! Gelas kristal di tangan Jagad Danuarta melayang membentur dinding kaca, pecah berkeping-keping menjadi serpihan tajam. Pria itu berdiri dengan dasi yang sudah ditarik miring, napasnya memburu cepat menatap adiknya. "Satu koma empat triliun, Amara!" bentak Jagad, suaranya menggelegar memantul di dinding ruangan. "Kamu bilang proyek gabungan ini tambang emas! Kamu bilang Damian cuma bocah penakut yang kabur karena masalah perempuan! Sekarang apa ini?!" Amara berdiri mematung di sisi meja kerja, wajahnya pucat pasi tanpa sisa senyum angkuh. Tangannya gemetar memegang bundel berkas tagihan yang baru saja diantarkan petugas dinas pajak. "Aku nggak tahu kalau ada tumpukan utang lama di berkas lampiran itu, Mas," suara Amara tercekat, nada bicaranya mulai goyah.
Pagi keesokan harinya, di dalam kamar rawat, Lara duduk di kursi samping tempat tidur. Wajahnya yang pucat tertutup sedikit oleh ujung jaket rajut tebal yang dipinjamkan Damian. Tangannya menggenggam jemari ayahnya yang kasar dan masih dingin.Pria paruh baya di atas ranjang itu menoleh perlahan. Perban putih masih melingkari pelipisnya, tetapi tatapan matanya sudah jauh lebih jernih dibanding dua hari lalu."Lara mau istirahat dulu beberapa hari, Yah," bisik Lara dengan senyum yang dipaksakan sekuat tenaga. "Tempatnya tenang, dekat kebun teh di kaki bukit. Nanti kalau badan Lara udah enakan, Lara langsung ke sini lagi jenguk Ayah."Ayah Lara menatap lebam samar di pipi putrinya, lalu beralih ke perban tipis di pergelangan tangannya. Napas pria tua itu terdengar berat melalui hidung. "Kamu yang paling penting pulih dulu, Nduk. Jangan pikirin Ayah terus. Ayah udah ada ibu sama dokter."Lara mengangguk pelan, menelan rasa sesak yang mendadak mengganjal di tenggorokannya. Ia menunduk,
Di taman belakang rumah sakit, udara sore berembus sejuk membawa aroma rumput basah. Matahari mulai condong ke barat, membiaskan cahaya jingga lembut yang menembus dedaunan pohon.Damian berdiri di samping kursi roda Lara, menunduk merapikan selimut tebal yang menutupi pangkuan wanita itu hingga ke ujung kaki.“Dingin?” tanyanya lembut.Lara menggeleng. Wajahnya masih pucat, dan lingkaran gelap di bawah matanya belum hilang sepenuhnya, tetapi rona merah perlahan mulai kembali ke pipinya.Siang tadi, kabar baik akhirnya datang. Ayahnya sudah dipindahkan dari ruang ICU ke kamar rawat biasa. Napas pria tua itu sudah stabil tanpa bantuan mesin oksigen. Satu beban besar yang menghimpit dada Lara selama berhari-hari rasanya terangkat sedikit.Namun, di saku jaket yang disampirkan di pegangan kursi roda, ponsel Damian mendadak bergetar panjang.Layar ponsel menyala, menampilkan nama Amara Danuarta yang menelepon berulang kali. Panggilan itu terputus, sedetik kemudian berganti dengan nomor
Aroma antiseptik di lorong ICU itu terasa lebih dingin dari biasanya. Suara statis mesin alat deteksi jantung terdengar samar dari balik pembatas kaca tebal.Damian mendorong kursi roda perlahan, lalu menghentikannya tepat di samping ranjang rawat.Di atas kasur, ayah Lara terbaring dengan perban tebal melilit kepalanya. Selang oksigen terpasang di hidung pria tua itu, tetapi kedua matanya sudah terbuka, menatap sayu ke arah putrinya.Lara membungkuk sedikit dari kursi roda. Tangannya yang masih pucat meraih jemari ayahnya yang kasar dan keriput, menggenggamnya erat-erat. Lebam di pipi Lara sudah mulai memudar menjadi warna kehijauan, tetapi sorot matanya masih menyimpan luka yang dalam."Ayah..." suara Lara tercekat di tenggorokan, menahan getaran yang mendadak naik ke dada. "Ayah udah enakan?"Pria tua itu mengangguk lemah. Bibirnya yang kering bergerak lambat di balik masker oksigen. Jemarinya meremas balik tangan Lara dengan tenaga yang sangat tipis, seolah menyalurkan ketenangan
Isak tangis Lara akhirnya reda saat obat penenang yang disuntikkan perawat mulai bekerja. Tubuh wanita itu lemas, napasnya perlahan turun menjadi tarikan teratur dan berat. Bahkan dalam tidurnya, jemari tangannya yang pucat masih mencengkeram erat ujung pakaian Damian, seolah takut pria itu akan lenyap begitu ia melepaskannya.Damian duduk tak bergerak selama beberapa menit. Matanya memandangi wajah Lara yang lebam, bekas air mata yang mengering di pipinya, dan bibirnya yang masih pecah-pecah.Dengan gerakan amat perlahan, Damian melepaskan jemari Lara dari bajunya satu per satu. Ia menarik selimut tebal rumah sakit hingga sebatas dada wanita itu, lalu bangkit berdiri.Langkah kakinya membawanya masuk ke kamar mandi kamar rawat.Damian menyalakan keran wastafel, membiarkan air dingin mengalir deras membasahi kedua tangannya yang kaku. Ia menunduk, membasuh wajahnya berkali-kali untuk mengusir rasa pening yang menusuk pelipis.Saat ia mendongak menatap cermin, sosok pria di depannya
Cahaya kelabu menembus tirai jendela kamar rawat, membawa hawa dingin sisa hujan semalam. Di atas nakas, botol infus menetes lambat dan teratur, suara ritmisnya menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan ruangan.Damian duduk membungkuk di kursi samping ranjang. Kedua sikunya bertumpu di lutut, telapak tangannya menangkup wajah. Kausnya masih kusut dengan noda darah mengering di bagian dada, dan matanya merah, cekung akibat tak terpejam sama sekali.Di atas kasur, jemari Lara yang terpasang selang infus bergerak pelan.Kelopak mata wanita itu bergetar sebelum akhirnya terbuka perlahan. Pandangannya kabur menatap langit-langit putih kamar rumah sakit, lalu mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya redup pagi.Rasa sakit langsung menyergap dari berbagai penjuru tubuhnya. Pipinya bengkak berdenyut, pergelangan tangannya yang dibalut kasa putih terasa perih, dan di perut bagian bawahnya, ada rasa ngilu sekaligus sensasi hampa yang asing."Lara?"Suara bariton yang s







