LOGINBeberapa bulan kemudian… Cahaya matahari pagi menerobos melalui celah tirai ruang tengah, membiaskan pendar keemasan di atas lantai. Damian melangkah keluar dari area dapur dengan kaus santai yang sedikit kusut dan apron kain tipis yang terpasang agak miring. Di dada tegapnya, seorang bayi perempuan berusia tiga bulan mengenakan sleepsuit merah muda tampak memiringkan kepala, sibuk mengunyah ujung kain yang menempel di pundak ayahnya. Damian memegang botol susu hangat di satu tangan, sementara tangan satunya lagi menyangga punggung mungil putri mereka dengan canggung tapi teramat hati-hati. "Bentar ya, sayang... botolnya masih agak hangat," gumam Damian pelan, berusaha mengarahkan dot ke mulut kecil bayinya seraya berjalan bolak-balik kecil di ruang tengah. Lara yang baru keluar dari kamar mandi berdiri terpaku di ambang pintu. Sudut bibirnya terangkat tinggi melihat pemandangan menggemaskan di depannya: mantan direktur yang kini tampak agak kelimpungan dengan rambut sedikit be
Langkah kaki Lara melambat seiring perutnya yang kian membuncit di usia kehamilan delapan bulan.Di sudut ruang tengah rumah mereka, sebuah boks bayi kayu berwarna putih sudah berdiri rapi. Damian sedang berlutut di lantai, mengencangkan baut terakhir pada kaki boks kayu itu menggunakan obeng. Kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan otot tangannya yang tegang setiap kali memutar perkakas."Udah selesai, sayang?" tanya Lara seraya berjalan mendekat sambil memegangi pinggang belakangnya.Damian menggoyangkan struktur boks kayu itu dengan kedua tangannya, memastikan tidak ada yang goyah sedikit pun, lalu berdiri. "Sudah nih, sudah kokoh. Nggak akan goyang."Pria itu mengusap keringat tipis di pelipisnya, lalu pandangannya beralih ke wajah Lara. Dalam sekejap, raut fokusnya berubah menjadi lembut. Tangannya terulur meraih siku Lara, menuntun istrinya untuk duduk perlahan di tepi ranjang."Kan aku bilang tunggu aku yang pindahin baju-baju bayinya ke lemari," tegur Damian pelan se
Dua minggu belakangan, ada yang berbeda dari keseharian Lara. Bukan cuma rasa lelah yang datang lebih cepat setiap kali ia memotong tangkai bunga di toko, tetapi juga indra penciumannya yang mendadak luar biasa peka. Pagi ini saja, aroma wangi kopi hitam segar yang diseduh Damian di dapur mendadak membuat perut Lara mual hebat. Lara tergesa-gesa berlari ke kamar mandi, membungkuk di atas kloset dan mengeluarkan cairan bening dengan dada kempas-kempis. Damian yang mendengar suara itu langsung menyusul dengan wajah cemas. Ia berlutut di samping Lara, memijat lembut tengkuk istrinya seraya mengusap punggung wanita itu. "Masih mual?" tanya Damian pelan, suaranya sarat kekhawatiran. "Hari ini nggak usah ke toko dulu ya. Biar Fani yang pegang toko sendirian. Kita ke dokter aja." Lara menyeka mulutnya dengan tisu, menggeleng pelan. "Nggak usah, Damie. Cuma masuk angin biasa kok. Kemarin malam kan sempat hujan pas kita pulang." Damian menatap wajah Lara yang agak pucat dengan dahi b
“Mau tidur atau mau lanjut, hm?”Lara diam sebentar. Pipinya langsung terasa panas. Tadi dia memang sudah agak mengantuk, tapi pertanyaan Damian itu membuat tubuhnya yang masih lengket dan peka itu langsung bereaksi lagi. Ia dapat merasakan milik Damian masih setengah tegang di bawah selimut, menempel hangat dan menekan di paha dalamnya. Aroma tubuh mereka yang tercampur keringat, aroma percintaan, dan parfum Damian yang samar masih menggantung di udara kamar.“Mau… lanjut,” jawab Lara pelan, suaranya hampir seperti bisikan. Dia tidak berani menatap wajah Damian, malah menyembunyikan wajah di dada sang suami. Kulit Damian terasa panas di pipinya.Damian tersenyum. “Hm? Nggak kedengeran, sayang.”Lara menggigit bibir, lalu mengangkat wajah sedikit. “Mau lagi… aku mau lanjut.”“Kenapa malu-malu gitu, hm?” goda Damian sambil mengusap pinggangnya. Jari-jarinya terasa hangat, meninggalkan jejak panas di kulit Lara yang masih sensitif.Lara merengek malu, tapi tubuhnya bergerak sendiri.
Aroma harum mawar, sedap malam, dan daun eucalyptus yang baru dipotong memenuhi setiap sudut ruangan itu.Di balik meja yang berada di tengah toko, Lara cekatan memotong tangkai mawar putih dengan gunting dahan. Jari-jemarinya yang makin terampil menyusun tangkai demi tangkai ke dalam kertas pembungkus berwarna cokelat pucat, mengikatnya rapi dengan tali rami.Tiga bulan sejak pertama kali menyewa ruko kecil ini, Morning Florist sudah menemukan ritmenya. Toko makin sering dihampiri pelanggan, mulai dari penghuni perumahan sekitar hingga pesanan bunga meja untuk kafe-kafe."Mbak Lara, pesanan buket mawar merah buat Mas yang di depan sudah selesai?" tanya Fani, gadis muda yang membantu Lara mengurus toko, seraya membawa ember berisi tangkai krisan segar."Sudah, Fan. Ini tinggal kasih kartu ucapan," jawab Lara seraya tersenyum manis. Ia menempelkan stiker logo kecil berwujud kelopak bunga di sudut pembungkus.Saat Lara menyerahkan buket itu ke meja kasir, pintu kaca toko yang dipasangi
Aroma kopi menyambut Lara begitu ia memutar gagang pintu kaca ruko dua lantai di kawasan Dharmawangsa itu.Ruangan di lantai satu didesain terbuka dengan konsep minimalis. Meja kayu panjang berdiri di tengah ruangan, dikelilingi beberapa kursi. Tidak ada papan nama besar seperti gedung Atmadja Corp dulu, hanya ukiran kayu bertuliskan Lara Strategic Advisory di samping resepsionis.Arman sedang sibuk merapikan kabel monitor di sudut meja ketika Lara melangkah masuk membawa tas kain besar dan sebuah pot tanaman hias kecil berdaun hijau pekat."Pagi, Bu Lara," sapa Arman seraya meluruskan punggungnya."Pagi, Man. Ini aku bawain monstera kecil buat di meja depan biar agak segeran," sahut Lara seraya meletakkan pot itu di sudut meja kayu.Dari arah ruang kerja di lantai dua, langkah kaki Damian terdengar menuruni tangga. Pria itu mengenakan kemeja biru muda tanpa dasi dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Raut wajahnya jauh lebih rileks akhir-akhir ini."Datang jam berapa, sayang







