FAZER LOGINDokter menyiapkan alat USG, mengambil gel dari meja di dekatnya. “Saya akan menggunakan USG untuk melihat kondisi di dalam perut, ya, Bu Naila. Tenang saja, ini prosedur yang aman dan tidak sakit.” Suaranya lembut.
Saat gel dingin menyentuh perut Naila, ia sedikit menggigil, tapi Devan langsung mengusap punggung tangannya pelan. “Nggak apa-apa Sayang,” ucapnya dengan senyum tipis yang menenangkan.Dokter mulai menggerakkan transduser USG di atas perut Naila, mata fokus pada layar moniDokter menyiapkan alat USG, mengambil gel dari meja di dekatnya. “Saya akan menggunakan USG untuk melihat kondisi di dalam perut, ya, Bu Naila. Tenang saja, ini prosedur yang aman dan tidak sakit.” Suaranya lembut.Saat gel dingin menyentuh perut Naila, ia sedikit menggigil, tapi Devan langsung mengusap punggung tangannya pelan. “Nggak apa-apa Sayang,” ucapnya dengan senyum tipis yang menenangkan.Dokter mulai menggerakkan transduser USG di atas perut Naila, mata fokus pada layar monitor. Suara alat yang lembut memenuhi ruangan, sementara layar mulai menampilkan gambar hitam putih yang samar-samar. Devan menatap layar itu dengan penuh perhatian meskipun ia sama sekali tidak mengerti apa yang ia lihat.Setelah beberapa detik yang terasa sangat lama, senyum kecil terlukis di wajah dokter. Ia menoleh ke Devan dan Naila. “Selamat, Bu Naila, Pak Devan. Bu Naila sedang hamil.”Kalimat itu seperti bom kecil yang meledak di ruangan. Naila menatap dokter dengan mata membelala
Naila tertawa kecil, memukul pelan bahu suaminya. Di tepi lapangan itu, dengan suara sorak-sorai di sekeliling mereka, Naila merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia.Devan mengurai pelukan agar bisa mengecup kening Naila sekali lagi, lalu ia menghabiskan sisa air minum di botol, Devan duduk di tepi lapangan dan menarik Naila duduk di sampingnya. Kali ini mereka menyaksikan pertandingan basket yang akan dimulai sebentar lagi. Gabriel, Agus, Edo dan Naufal berkumpul bersama mereka, ikut memberi semangat pada tim lantai dua puluh yang kini mulai bersiap-siap di tengah-tengah lapangan.Selama pertandingan, Naila dan teman-temannya ikut heboh memberi semangat sementara Devan terus tertawa pelan melihat istrinya, begitu tim basket lantai dua puluh menang, Naila menghambur ke dalam pelukan suaminya sambil tertawa lebar.”Semangat banget,” Devan menyelipkan anak rambut ke balik telinga Naila.”Iya, tahun ini harus borong piala pokoknya.”Devan menatap bawahann
Naila tertawa pelan, “kamu ngomel-ngomel tuh lucu, ya.””Jadi nggak usah nuduh aku nggak olahraga, ya. Aku udah olahraga otak di kantor, olahraga fisik di rumah, dan kamu kadang keliaran dalam rumah nggak pake celana dalam. Sengaja banget.””Kan cuma kita berdua di sini, jadi kalau aku telanjang sekalian, toh nggak ada yang lihat selain kamu.””Tapi itu sengaja banget, udah gitu aku kepancing, dituduh hyper.”Naila terkikik geli, “ugh, suami aku cakep deh kalau ngomel-ngomel begini, gemesin,” canda wanita itu. Tapi tawanya terhenti begitu Devan menciumnya di sana. “Dev ….”“Ketawa aja,” Devan tersenyum miring.”Mana bisa ketawa kalau kamu—ah!” Naila memegangi bahu Devan. Ia merebahkan tubuhnya di atas meja sementara kedua kakinya di taruh di lengan kursi Devan, pria itu berada di tengah-tengahnya dan mencium kewanitaannya disertai jilatan yang menggoda. Naila menoleh ke samping, pada lemari kaca yang dipenuhi oleh buku-buku dan miniatur desain yang Devan buat
”Baik bener Ibu Bos yang satu ini,” sambar Gabriel untuk segera mengintip isinya, ada banyak coklat mahal dari Prancis yang jelas tidak dijual di Indonesia, Gabriel membaginya satu persatu dengan rata kepada seluruh penghuni lantai dua puluh.“Makasih, Bu Naila,” ucap salah seorang junior Naila, “nggak pernah ke Prancis, tapi lumayan bisa makan coklat dari sana.””Please, panggil gue kayak biasa, jangan Ibu, deh. Geli dengernya.”“Nanti Pak Dev marah, nggak?””Nggak, tolong jangan panggil gue Ibu, gue berasa tua.”Para junior wanita itu terkikik geli, kali ini lebih santai menatap Naila, tadinya semua merasa segan karena posisi Naila bukan hanya karyawan biasa lagi. “Gimana honeymoon-nya, Mbak? Seru banget keliling Eropa, gue intip postingan Pak Dev, isinya foto Mbak Nai semua, foto Pak Dev nyaris nggak ada kalau bukan foto berdua,” tanya mereka dengan malu-malu.Naila hanya tertawa, “kayak yang kalian lihat di postingan suami gue,” jawabnya dengan nada santai.”Ciyeee, suami,” goda
Begitu Devan menggesekkan ujung kejantanannya, Naila mengerang, menarik leher Devan agar mencium bibirnya. Pria itu menghunjam masuk bersamaan dengan lidahnya menerobos mulut Naila. Istrinya langsung melingkarkan kedua kaki di pinggangnya dan Devan mulai bergerak dengan irama yang pelan, percintaan yang cepat memang favorit Devan tapi gerakan yang lambat akan membuat istrinya tidak sabaran, Devan sangat menyukai bagaimana Naila akan ikut menggerakkan pinggul karena tidak sabar dan pada akhirya Naila akan merengek dengan suara yang manja.“Kenapa pelan banget?” protes Naila sambil mencium jakun pria itu.”Kalau kuat-kuat nanti kamu protes.””Kuat-kuat aja—ugh!” Naila memejamkan mata kala Devan langsung menambah ritme gerakannya. “Iya, begitu, lebih kuat, Sayang.”Devan memeluk pinggang Naila, merapatkan tubuh mereka dan terus menghunjam.”Ah! Lebih kuat, Dev.”Devan memindahkan kaki Naila yang semula melingkari pinggangnya agar diletakkan di bahu, posisi itu m
”Udah nggak, sih. Kata Mas Rai kalau dia masih ikutin aku, bilang aja sama Mas Rai, nanti Mas Rai yang beresin dia. Jadi aku nggak butuh bodyguard, memangnya aku bocah?”Devan memandang Alfariel yang hanya diam saja.”Nanti kalau dia ganggu lagi, mau nggak mau kamu harus terima pake bodyguard,” putus Alfariel. Dan Aleeta tidak berani untuk membantah.”Oh, ya, film yang kamu tunggu itu udah tayang di Netflix, Alee,” ujar Eve mencoba mengubah topik pembicaraan, “katanya kamu mau nonton?””Yuk, nonton temenin aku. Film horor soalnya,” Aleeta menarik Eve, Naila dan Almeera menuju ruang teater pribadi di rumah Alfariel, Devan, Aksa dan Ravel segera berdiri mengikuti istri-istri mereka.”Ayah nggak ikut nonton?” Naila menatap Alfariel yang kembali meraih bukunya.”Ayah nggak suka film horor, kalian aja. Ayah mau baca buku.”“Ayah tuh sebenarnya penakut,” ledek Aleeta sambil tertawa.Mereka memasuki teater pribadi di lantai dua, ruangan itu mewah dan cukup besar. Dinding-dinding ruangan dihi
Devan berdiri di tepi pantai untuk menikmati angin laut pada malam hari, Naila sudah tidur karena lelah, ia menikmati waktunya sendirian sampai akhirnya Ravel bergabung dengannya.”Belum tidur?” Ravel berdiri, memasukkan kedua tangan ke saku celana.”Belum, Abang sendiri kenapa belum tidur?””Habis
Naila berdiri di jendela kamar yang luas, memandangi pemandangan indah pantai Nusa Dua yang terlihat begitu tenang. Deburan ombak yang menyentuh pasir putih membuat ia merasa tenang. Angin laut yang menyapu lembut rambutnya, memberikan kesan betapa jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari. Saat
”Semua salah Mama,” Mulan mengelus punggung Naila dengan lembut, ia mengurai pelukan untuk menyeka air mata di wajah putrinya. “Semuanya salah Mama.” Wanita itu turut menangis. “Mama dan papa kamu menikah karena dijodohkan Eyang, Mama nggak tahu kalau papa kamu sebenarnya punya pacar. Papa kamu ngg
Naila duduk di atas sofa, tubuhnya meringkuk dalam pelukan Devan yang nyaman. Di luar jendela, hujan turun perlahan, menambah suasana hangat yang mereka rasakan di dalam ruangan. Tangan Naila yang halus menggenggam erat lengan Devan, seakan mencari kekuatan dari pria itu. Meski suasana tenang, piki







