Beranda / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 126

Share

BOSS WITH BENEFIT - 126

Penulis: Pipit Chie
last update Tanggal publikasi: 2026-07-03 21:00:00

Begitu Devan menggesekkan ujung kejantanannya, Naila mengerang, menarik leher Devan agar mencium bibirnya. Pria itu menghunjam masuk bersamaan dengan lidahnya menerobos mulut Naila. Istrinya langsung melingkarkan kedua kaki di pinggangnya dan Devan mulai bergerak dengan irama yang pelan, percintaan yang cepat memang favorit Devan tapi gerakan yang lambat akan membuat istrinya tidak sabaran, Devan sangat menyukai bagaimana Naila akan ikut menggerakkan pinggul karena tidak sabar dan pada akhiry

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 126

    Begitu Devan menggesekkan ujung kejantanannya, Naila mengerang, menarik leher Devan agar mencium bibirnya. Pria itu menghunjam masuk bersamaan dengan lidahnya menerobos mulut Naila. Istrinya langsung melingkarkan kedua kaki di pinggangnya dan Devan mulai bergerak dengan irama yang pelan, percintaan yang cepat memang favorit Devan tapi gerakan yang lambat akan membuat istrinya tidak sabaran, Devan sangat menyukai bagaimana Naila akan ikut menggerakkan pinggul karena tidak sabar dan pada akhirya Naila akan merengek dengan suara yang manja.“Kenapa pelan banget?” protes Naila sambil mencium jakun pria itu.”Kalau kuat-kuat nanti kamu protes.””Kuat-kuat aja—ugh!” Naila memejamkan mata kala Devan langsung menambah ritme gerakannya. “Iya, begitu, lebih kuat, Sayang.”Devan memeluk pinggang Naila, merapatkan tubuh mereka dan terus menghunjam.”Ah! Lebih kuat, Dev.”Devan memindahkan kaki Naila yang semula melingkari pinggangnya agar diletakkan di bahu, posisi itu m

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 125

    ”Udah nggak, sih. Kata Mas Rai kalau dia masih ikutin aku, bilang aja sama Mas Rai, nanti Mas Rai yang beresin dia. Jadi aku nggak butuh bodyguard, memangnya aku bocah?”Devan memandang Alfariel yang hanya diam saja.”Nanti kalau dia ganggu lagi, mau nggak mau kamu harus terima pake bodyguard,” putus Alfariel. Dan Aleeta tidak berani untuk membantah.”Oh, ya, film yang kamu tunggu itu udah tayang di Netflix, Alee,” ujar Eve mencoba mengubah topik pembicaraan, “katanya kamu mau nonton?””Yuk, nonton temenin aku. Film horor soalnya,” Aleeta menarik Eve, Naila dan Almeera menuju ruang teater pribadi di rumah Alfariel, Devan, Aksa dan Ravel segera berdiri mengikuti istri-istri mereka.”Ayah nggak ikut nonton?” Naila menatap Alfariel yang kembali meraih bukunya.”Ayah nggak suka film horor, kalian aja. Ayah mau baca buku.”“Ayah tuh sebenarnya penakut,” ledek Aleeta sambil tertawa.Mereka memasuki teater pribadi di lantai dua, ruangan itu mewah dan cukup besar. Dinding-dinding ruangan dihi

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 124

    “Dev ….”Devan membalik tubuh Naila, membuat Naila menungging padanya, kali ini Devan mengambil vibrator yang berbentuk lonjong dengan ukuran kecil, ia menghunjam sambil melumasi vibrator itu dengan pelumas, Devan mengatur getarannya yang lembut.”Rileks,” ujar Devan mulai mengolesi bagian belakang Naila dengan pelumas.”Sayang?!” Naila menoleh melalui bahu.”Rileks, Sayang.” Devan mendorong ujungnya yang bergetar untuk masuk.”DEVAN!” Naila menjerit saat merasakan getarannya. “AH!” Devan dengan mudah mendorong benda lonjong kecil itu masuk sepenuhnya, bagian tali dan pegangannya dibiarkan agar Devan bisa menariknya keluar nanti. “DEVAN!” Naila menghentakkan pinggulnya saat toys di dalamnya bergetar lembut. Ia terengah-engah sementara Devan kembali menghunjam. “S—Sayang, ah! Ah!” Naila ikut menggerakkan pinggulnya saat Devan bergerak, tangannya meremas bantal begitu kuat.Ciuman Devan memenuhi punggung Naila, ia menarik pinggul itu semakin menungging untuknya, sambil terus menghunjam,

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 123

    Devan tersenyum samar, Ia menyandarkan kepala ke atas bantal membiarkan dirinya larut dalam pertunjukan yang Naila persembahkan hanya untuknya.Dengan gerakan perlahan, Naila melepas stockingnya satu per satu, memainkan kain tipis itu dengan gaya yang anggun namun menggoda. Ia membungkuk sedikit, memberi Devan pemandangan siluetnya yang sempurna. Tangannya terus bermain di rambut dan pinggulnya, ketika akhirnya Naila mendekatkan dirinya, duduk perlahan di pangkuan Devan dengan tatapan yang intens, Devan tak bisa menahan senyum lebarnya. “Kamu cantik banget.”Naila tertawa kecil, sengaja menarik tali korsetnya lebih longgar agar payudaranya terlihat. Ia menyentuh dan membelai dada dan bahunya dengan tangan yang lentik, gerakan yang mengundang hasrat. Naila lalu melepaskan korset itu perlahan-lahan hingga hanya tersisa celana dalam hitam yang membungkus tubuhnya. Ia memakai kembali stocking jaring-jaring itu lalu duduk di atas Devan dengan posisi bersimpuh. Dengan perlaha

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 122

    Setelah memberikan ucapan selamat, Handoko mundur sejenak dan berdiri bersama keluarganya, Naila memalingkan wajahnya, mencoba mengalihkan perhatian dari Handoko yang masih berdiri bersama ayah mertuanya, berbincang dengan suara rendah. Tatapan Naila tertuju pada ibunya yang hanya diam, wajah ibunya tampak biasa saja, melihat tangan ibunya memeluk lengan Hadi, Naila tersenyum kecil. Ia dan ibunya pasti akan baik-baik saja karena mereka memiliki pria-pria hebat yang akan melindungi mereka dari rasa sakit. Naila ikut memeluk lengan Devan, begitu Devan menunduk untuk menatapnya sambil tersenyum, Naila berjinjit untuk mengecup pipi suaminya.Meskipun sempat sedikit terkejut karena kehadiran ayahnya, nyatanya Naila kembali ke titik bahagia dalam hidupnya. Kini ia memakai gaun untuk makan malam. Ia duduk di samping Devan di meja mereka. Devan menarik kursi Naila mendekat dan menyentuh paha Naila yang terbuka karena belahan gaunnya yang mencapai paha.“Sengaja pilih gaun yang belah

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 121

    Alfariel, yang tak bisa menahan tawa, menepuk bahu Devan dengan penuh kasih sayang. “Coba dibaca pelan-pelan dalam hati. Nggak usah buru-buru, nggak ada yang mau dikejar. Toh malam pertama juga bakal tetap dilakuin malam hari,” kekeh Alfariel.Devan melirik dengan wajah sebal. “Nggak lucu, Yah.””Emang, Ayah kan bukan pelawak,” jawab Alfariel santai.Devan kembali berdecak kesal. Ketika suasana tiba-tiba hening, penghulu yang duduk di depan mereka membuka pembicaraan. Suaranya tenang dan penuh kebijaksanaan. “Saudara Devan Wijaya, apakah Anda sudah siap untuk melanjutkan prosesi pernikahan ini?”Devan menatapnya sejenak, menarik napas panjang dan mencoba untuk mengumpulkan keberanian. Dengan perlahan, Devan meraih tangan penghulu dan menjabatnya. Suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha untuk terlihat tenang. “Saya siap,” jawabnya, penuh tekad meskipun perasaannya masih campur aduk.Penghulu tersenyum, seolah tahu bahwa Devan sudah siap meskipun tampak gugup.

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 6

    Naila berdiri, keluar dari ruang meeting menuju ruang kerja Devan, ia mengetuk pintu dengan pelan. ”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam. Naila mendorong pintu. “Permisi, Pak.” ”Ada apa?” tanya Devan sambil sibuk menatap layar laptopnya. “Saya mau tanya soal desain yang barusan, salahnya di

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 5

    Naila: Tok tok Xoxo: Hmm? Naila: Udah makan siang? Xoxo: Belum, sebentar lagi. Ada apa? Naila: Nanya aja kali, Pak. Xoxo: Kamu di mana? Naila: Kantin. Xoxo: Aku titip makanan. Naila: Dih, ogah. Sini aja turun sendiri. Males jadi babu. Xoxo: Aku sudah berbaik hati ngasih tim kamu m

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 4

    “Lo nggak ke apartemen gue, kan?” Naila memastikan Tere akan ke apartemennya atau tidak, karena kalau sahabatnya itu datang, rencana terpaksa berubah, Naila tidak bisa membiarkan Devan datang ke tempatnya. ”Nggak, Randi mau nginap di tempat gue,” jawab Tere sambil menunggu makanannya diantar. “Ken

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 3

    Naila sedang menunggu flat white-nya bersama Agus, Edo dan Gabriel. ”Gue nggak tidur mikir revisian semalaman, memang anjing tuh bos,” umpat Agus dengan wajah kusut. ”Yang nyuruh lo mikir semalaman siapa? Tidur, makanya,” sahut Naila. ”Masalahnya kalau proyek ini dilempar ke tim lain, hilang h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status