Inicio / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 2

Compartir

BOSS WITH BENEFIT - 2

Autor: Pipit Chie
last update Fecha de publicación: 2026-05-25 11:27:31

”Shit!”

Naila mengumpat lantang, Devan sudah berhasil melepaskan roknya, seluruh kancing kemejanya terbuka, memperlihatkan sepasang bukit kembar yang bagian branya juga sudah tidak terpasang sempurna, wanita itu mengenakan model bra dengan pengait di bagian depan, mempermudah Devan membukanya dengan tidak sabar.

”Devan!” Naila menjerit ketika Devan memasukinya dalam satu kali sentakan, “bisa nggak … ugh … kamu … oh … pelan-pelan … shit!” Bibirnya meracau karena kenikmatan yang Devan berikan dengan hunjaman kuat. “Kamu … bisa sabar … nggak, sih?”

”Nggak bisa,” Devan berbicara sambil mencium dada Naila.

Desah nikmat dari bibir Naila menggema di dalam kamar yang sunyi, wanita itu menahan gemetar ketika mendapat kenikmatan tanpa henti yang begitu keras dari Devan.

“Devan!” Naila menjerit marah karena Devan bergerak kuat dengan sengaja, pria itu sangat suka menguji kesabaran Naila yang seperti selembar tisu yang disiram seember air.

Bukannya memelankan gerakan, Devan seakan tidak terpengaruh sama sekali, pria itu tersenyum miring, senang bisa melihat Naila frustrasi seperti itu, bibirnya meraih bibir Naila untuk dicium, menyesapnya sekuat ia bergerak di bawah sana.

”Kamu … kayak … orang gila!” Naila mencengkeram bisep Devan dengan kedua tangannya,.

”Aku tahu kamu suka,” Devan menunduk, mencium ceruk leher Naila yang wangi.

Devan terus bergerak, kian lama kian cepat, protes yang Naila layangkan tenggelam di bibirnya, Devan sengaja mencium Naila agar membuat wanita itu marah, semakin Naila marah, semakin membuatnya bersemangat.

”Oh!” Naila menggigit bibir Devan cukup kuat, dirinya terlonjak karena kepuasan yang meledak.

Keduanya terbaring lemas tanpa tenaga, terengah-engah karena kegilaan yang baru saja terjadi.

”Dasar manusia gua!” Naila mendorong dada Devan dengan kedua tangan, pria itu tersenyum miring, bangkit berdiri dan membuang kondomnya ke tong sampah. Naila yang sudah kehabisan tenaga segera berbaring sambil memeluk selimut. “Aku tidur sebentar, ya. Jam sembilan bangunin.”

”Iya,” Devan memakai celananya, lalu duduk di sofa sambil bermain ponsel, tepat pukul setengah sembilan, Devan berdiri mendekati ranjang. “Nai,” pria itu membangunkan Naila.

”Hmm, jam berapa?”

”Setengah sembilan.”

“Aku bilang jam sembilan, Dev.”

”Sekali lagi sebelum pulang,” Devan menyibak selimut. Mau tidak mau Naila membuka mata, menatap kesal, pria itu malah tersenyum lebar, melepaskan celananya lalu mengambil satu bungkus kondom lagi. “Lihat, kan? Udah keras lagi.”

Tanpa menunggu jawaban Naila, Devan membalik tubuh wanita itu untuk tengkurap, tangannya menarik pinggang Naila ke atas, bibirnya mencumbu bahu Naila sementara tangannya membelai dengan lembut. Naila melenguh, meremas ujung bantal dengan kedua tangan. Jika Devan selalu bisa keras dengan cepat maka Naila juga bisa basah lebih cepat, Naila sudah membungkuk dan siap menerima Devan memasukinya.

”Pelan-pelan aja, pinggang aku rasanya mau patah—ugh! Aku bilang pelan-pelan!”

”Jangan marah,” Devan mengecup bahu wanita itu lagi, ia membuat kemarahan Naila menjadi racauan yang disertai rintihan.

Naila terhempas ke kasur dengan rasa lelah sekaligus puas, saat ia melirik Devan yang masih berada di belakangnya, pria itu menyeringai puas sambil memisahkan dirinya.

“Pinggang aku sakit,” Naila telentang, tidak peduli kemejanya begitu kusut sementara bagian bawahnya tidak ditutupi oleh apa pun.

”Kamu bawa mobil?”

”Nggak, aku naik taksi.”’

”Aku antar sekarang atau masih mau istirahat dulu?”

”Sekarang aja lah, biar sekalian istirahat.” Naila memaksakan diri untuk bangkit, meraih celana dalamnya yang ada di ujung kasur, lalu memakai rok dan memperbaiki atasannya yang kusut tak berbentuk. “Ngomong-ngomong, kamu beneran nggak suka sama desain yang tadi?”

Devan sedang memasang kembali sepatunya. “Hal pribadi nggak bisa dicampur sama kerjaan, Nai. Nanya itu besok di kantor.”

”Ck, cuma nanya aja, mau kamu tuh yang kayak gimana? Biar ada gambaran, sudah empat desain kamu tolak semua.”

“Bukannya kamu yang bilang jangan ngurusin soal kerjaan di luar kantor?” Devan mengembalikan kata-kata yang pernah Naila lempar padanya dulu.

”Terserah, deh.” Tangannya meraih tas dan keluar kamar lebih dulu, Devan segera menyusulnya.

Naila memasuki apartemennya dengan langkah lelah.

“Oh shit!” Ia terkejut mendapati sepasang kekasih sedang sibuk bercinta di atas sofanya, Tere sedang menunggangi Randi dan keduanya juga terkejut melihat kehadiran Naila. “Kalian ngapain di apartemen gue?”

Tere menarik selimut untuk membungkus tubuh mereka berdua. “Sorry, gue pikir lo masih lembur, bentar lagi selesai, kok.”

Tidak habis pikir, wanita itu masuk ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Begitu Naila selesai membersihkan diri, Tere sudah berbaring di ranjangnya.

”Randi mana?”

”Gue suruh pulang.” Wanita itu menatap layar laptop dengan tatapan serius, “gue pikir lo masih di kantor.”

”Ngapain gue di kantor sampai jam sepuluh?”

”Soalnya tadi lo bilang lembur.”

Naila ikut merebahkan diri, mengintip layar laptop Tere, Naila pikir sahabatnya itu sibuk bekerja tetapi malah menonton drama korea. Tere menoleh, matanya memicing melihat dada Naila.

“Habis make out sama siapa lo?”

”Kepo,” Naila menyeringai.

”Pinter banget bikin cupang di dada dan bukannya leher, si Randi kalau nggak bikin cupang di leher gue kayak nggak puas, udah gue maki berkali-kali masih aja nggak berubah,” Tere menunjukkan bekas cupang memudar di lehernya.

”Udah ah, gue capek, mau tidur.” Naila menarik selimut.

”Main berapa ronde tadi?”

”Dua,” jawabnya dengan mata setengah terpejam.

”Siapa sih temen tidur lo? Kok nggak pernah cerita?”

”Bukan siapa-siapa, cowok random aja.”

”Lo … main sama cowok random?”

”Hmm,” Naila setengah menggumam dengan mata terpejam rapat.

”Cari pacar aja lah, Nai, lo tahu resiko sama cowok random, kan?”

”Males gue pacaran, ribet. Lo kalau nggak bisa diem mending nonton di luar, deh. Gue ngantuk.”

”Gue juga,” Tere menutup laptopnya dan menaruhnya ke atas meja, wanita itu ikut masuk ke dalam selimut. Keduanya terlelap dengan cepat.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
Naila... si paling gak mau berkomitmen
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 90

    Handoko tertawa kecil, nada cemoohnya tetap sama. “Kamu tidak lihat siapa lawan bicaramu ini? Sopan sedikit, Anak Muda.”Devan maju selangkah, tubuhnya tegap, namun tetap terlihat tenang. “Memangnya siapa Anda?” tanya Devan dengan nada dingin. Kata-kata itu membuat Handoko terdiam. Matanya menyipit, menatap Devan dengan sorot penuh penilaian, tapi Devan tetap berdiri teguh di tempatnya. Naila hanya bisa menatap Devan dengan campuran rasa terkejut dan haru. Dia tidak pernah membayangkan ada seseorang yang akan berdiri di sisinya seperti ini, menghadapi pria yang selama ini menjadi bayang-bayang gelap dalam hidupnya.“Siapa kamu?” tanya Handoko dengan nada geram. “Aku harus bicara pada bosmu—“”Devan Wijaya,” sela Devan datar, membuat Handoko seketika bungkam. Mendengar nama keluarga Wijaya, Handoko menatap Devan lekat, cara pandangnya langsung berubah dari yang tadinya meremehkan menjadi sedikit bersahabat. “Untuk apa Anda datang ke kantor saya? Menjalin kerja sama dengan perusahaan s

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 89

    “Kenapa Papa ninggalin Nai? Kenapa Papa nggak jemput Nai? Nai sendirian, Pa! Mama jahat! Jemput Nai, Pa!” Naila kecil terduduk di sudut kamar, bahunya berguncang hebat. Air mata mengalir deras di pipinya yang memerah, suaranya serak karena sudah terlalu lama menangis. “Papa! Papa!” jeritnya, berharap panggilannya akan sampai ke telinga pria yang begitu ia rindukan. Namun, keheningan kamar itu menjadi jawaban yang memilukan.Ibunya berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kelelahan. “Naila, sudah … Papa nggak akan datang. Papa kamu sudah punya keluarga baru. Kamu nggak perlu terus-terusan begini, berisik!” ucapnya dengan suara pelan, namun menusuk hati Naila.Mata gadis kecil itu melebar, napasnya tersengal. “Apa maksud Mama? Nai mau sama Papa!” serunya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Nai mau sama Papa! Telepon Papa, Ma. Jemput Nai!”Ibunya menarik napas dalam, lalu mendekat. Dia berlutut di hadapan Naila, “Dengar, Naila. Papa kamu itu … dia sudah punya istri lain, dan mereka puny

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 88

    Hari pertama balik ke kantor setelah liburan panjang, Naila melangkah masuk dengan senyum tipis di wajah. Aroma kopi di pantry terasa lebih hangat dari biasanya, mungkin suasana hatinya masih terbawa sisa liburan bersama Devan.“Nah, akhirnya traveler kita balik juga!” suara Edo langsung menyambut begitu Naila menaruh tas di mejanya.Gabriel, yang lagi nongkrong di meja Agus, langsung nimbrung, “gimana liburannya?”Naila mendesah sambil beres-beres dokumen di meja. “Biasa aja,” jawabnya santai, meskipun ada senyum kecil di ujung bibirnya.“Yaelah, masa biasa aja? Sama pak bos gitu lho!” sahut Edo yang langsung melangkah mendekat. “Lo beneran nggak mau cerita? Mana upload video pak bos lagi main snowboarding. Sengaja ngasih bahan gibah dia. Atau sengaja mau pamerin pacarnya?” Naila hanya tertawa kecil sambil balik badan ke layar komputer. “Males ah cerita. Lo kebanyakan gosip sih,” jawabnya sambil menyalakan komputer, “terus kalau gue emang mau pamer, kenapa emangnya? Masalah buat kal

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 87

    “Devan!” Naila berseru sambil tertawa, merentangkan kedua tangannya, menikmati sensasi terangkat dari tanah. Devan tersenyum nakal, melingkarkan tangannya lebih erat di tubuh Naila. Dengan lembut, Devan memutar tubuh Naila di udara. Naila tertawa lepas, wajahnya bersinar karena kebahagiaan. “Kamu nggak capek? Aku berat, loh,” katanya sambil tertawa riang.“Nggak, kamu ringan,” jawab Devan, semakin mempererat pelukannya. Dengan gerakan lembut, Devan meraih wajah Naila, menariknya dekat, dan tanpa kata, mereka mulai berciuman. Naila menutup matanya, menikmati setiap detik yang terlewati. Ia merasa begitu bahagia, impian yang sudah lama ia simpan akhirnya terwujud. Berdansa dengan orang yang ia cintai di bawah salju, dan kini, ciuman yang lembut dan penuh makna ini, menjadi hadiah yang lebih dari cukup untuknya. Bibir mereka bergerak dengan lembut, Devan mengesap bibir bawahnya dengan perlahan, dengan kelembutan yang membuat Naila memeluk lehernya lebih erat, saat pria itu ganti menyesap

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 86

    Sambil tersenyum lebar, Devan membelai bokong itu dan kembali menghujam, membuat tangan Naila berpegangan pada dinding sementara pria itu menghentak masuk dari belakangnya dengan kuat.Esoknya, mereka menuju lereng ski. Naila mengenakan pakaian ski lengkap yang membuatnya tampak lucu dengan topi bulu. Devan tertawa kecil saat melihatnya mencoba berdiri dengan susah payah di atas papan ski.“Jangan ketawa, aku serius belajar ini,” protes Naila. “Kamu kan tahu aku nggak bisa main ski.”“Oke, oke,” Devan menahan tawanya dan berdiri di belakang Naila, membantunya menjaga keseimbangan. “Rileks, Sayang, aku nggak bakal biarin kamu jatuh.” Di lereng ski yang putih bersih, suara tawa Naila memenuhi udara dingin yang menggigit. Devan berdiri di dekatnya, memegang kedua lengan Naila yang bergetar entah karena dingin atau gugup. “Sayang, santai aja,” katanya sambil tertawa kecil, mencoba menenangkan wanita itu yang sudah terjatuh beberapa kali.“Ih susah banget!” keluh Naila sambil mencoba berdi

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 85

    Devan dan Naila tiba di Jepang dengan udara dingin yang langsung menyambut mereka di luar bandara. Dari Tokyo, mereka melanjutkan perjalanan ke Hokkaido, tempat yang sudah direncanakan Devan untuk menjadi destinasi pertama mereka. Salju yang menyelimuti kota itu membuat Naila langsung terpana begitu mereka tiba.“Hokkaido itu kayak negeri dongeng,” gumam Naila sambil memandangi hamparan salju di sepanjang jalan dari dalam mobil menuju resort mereka. Devan yang duduk di sampingnya tersenyum. Mengusap kepala wanita itu yang ditutupi oleh beanie. Naila menoleh ke arah Devan, senyumnya kecil namun hangat. “Makasih udah ajak aku ke sini.”Devan hanya tersenyum kecil. “Apa pun buat kamu.”Setibanya di resort ski, Naila langsung terkagum-kagum melihat bangunan kayu bergaya tradisional Jepang yang dihiasi lentera-lentera kecil di sekelilingnya. Mereka bergegas check-in dan menuju kamar mereka yang hangat, dengan pemandangan pegunungan berselimut salju dari jendela besar di dalamnya, semuanya

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status