INICIAR SESIÓN”Shit!”
Naila mengumpat lantang, Devan sudah berhasil melepaskan roknya, seluruh kancing kemejanya terbuka, memperlihatkan sepasang bukit kembar yang bagian branya juga sudah tidak terpasang sempurna, wanita itu mengenakan model bra dengan pengait di bagian depan, mempermudah Devan membukanya dengan tidak sabar. ”Devan!” Naila menjerit ketika Devan memasukinya dalam satu kali sentakan, “bisa nggak … ugh … kamu … oh … pelan-pelan … shit!” Bibirnya meracau karena kenikmatan yang Devan berikan dengan hunjaman kuat. “Kamu … bisa sabar … nggak, sih?” ”Nggak bisa,” Devan berbicara sambil mencium dada Naila. Desah nikmat dari bibir Naila menggema di dalam kamar yang sunyi, wanita itu menahan gemetar ketika mendapat kenikmatan tanpa henti yang begitu keras dari Devan. “Devan!” Naila menjerit marah karena Devan bergerak kuat dengan sengaja, pria itu sangat suka menguji kesabaran Naila yang seperti selembar tisu yang disiram seember air. Bukannya memelankan gerakan, Devan seakan tidak terpengaruh sama sekali, pria itu tersenyum miring, senang bisa melihat Naila frustrasi seperti itu, bibirnya meraih bibir Naila untuk dicium, menyesapnya sekuat ia bergerak di bawah sana. ”Kamu … kayak … orang gila!” Naila mencengkeram bisep Devan dengan kedua tangannya,. ”Aku tahu kamu suka,” Devan menunduk, mencium ceruk leher Naila yang wangi. Devan terus bergerak, kian lama kian cepat, protes yang Naila layangkan tenggelam di bibirnya, Devan sengaja mencium Naila agar membuat wanita itu marah, semakin Naila marah, semakin membuatnya bersemangat. ”Oh!” Naila menggigit bibir Devan cukup kuat, dirinya terlonjak karena kepuasan yang meledak. Keduanya terbaring lemas tanpa tenaga, terengah-engah karena kegilaan yang baru saja terjadi. ”Dasar manusia gua!” Naila mendorong dada Devan dengan kedua tangan, pria itu tersenyum miring, bangkit berdiri dan membuang kondomnya ke tong sampah. Naila yang sudah kehabisan tenaga segera berbaring sambil memeluk selimut. “Aku tidur sebentar, ya. Jam sembilan bangunin.” ”Iya,” Devan memakai celananya, lalu duduk di sofa sambil bermain ponsel, tepat pukul setengah sembilan, Devan berdiri mendekati ranjang. “Nai,” pria itu membangunkan Naila. ”Hmm, jam berapa?” ”Setengah sembilan.” “Aku bilang jam sembilan, Dev.” ”Sekali lagi sebelum pulang,” Devan menyibak selimut. Mau tidak mau Naila membuka mata, menatap kesal, pria itu malah tersenyum lebar, melepaskan celananya lalu mengambil satu bungkus kondom lagi. “Lihat, kan? Udah keras lagi.” Tanpa menunggu jawaban Naila, Devan membalik tubuh wanita itu untuk tengkurap, tangannya menarik pinggang Naila ke atas, bibirnya mencumbu bahu Naila sementara tangannya membelai dengan lembut. Naila melenguh, meremas ujung bantal dengan kedua tangan. Jika Devan selalu bisa keras dengan cepat maka Naila juga bisa basah lebih cepat, Naila sudah membungkuk dan siap menerima Devan memasukinya. ”Pelan-pelan aja, pinggang aku rasanya mau patah—ugh! Aku bilang pelan-pelan!” ”Jangan marah,” Devan mengecup bahu wanita itu lagi, ia membuat kemarahan Naila menjadi racauan yang disertai rintihan. Naila terhempas ke kasur dengan rasa lelah sekaligus puas, saat ia melirik Devan yang masih berada di belakangnya, pria itu menyeringai puas sambil memisahkan dirinya. “Pinggang aku sakit,” Naila telentang, tidak peduli kemejanya begitu kusut sementara bagian bawahnya tidak ditutupi oleh apa pun. ”Kamu bawa mobil?” ”Nggak, aku naik taksi.”’ ”Aku antar sekarang atau masih mau istirahat dulu?” ”Sekarang aja lah, biar sekalian istirahat.” Naila memaksakan diri untuk bangkit, meraih celana dalamnya yang ada di ujung kasur, lalu memakai rok dan memperbaiki atasannya yang kusut tak berbentuk. “Ngomong-ngomong, kamu beneran nggak suka sama desain yang tadi?” Devan sedang memasang kembali sepatunya. “Hal pribadi nggak bisa dicampur sama kerjaan, Nai. Nanya itu besok di kantor.” ”Ck, cuma nanya aja, mau kamu tuh yang kayak gimana? Biar ada gambaran, sudah empat desain kamu tolak semua.” “Bukannya kamu yang bilang jangan ngurusin soal kerjaan di luar kantor?” Devan mengembalikan kata-kata yang pernah Naila lempar padanya dulu. ”Terserah, deh.” Tangannya meraih tas dan keluar kamar lebih dulu, Devan segera menyusulnya. Naila memasuki apartemennya dengan langkah lelah. “Oh shit!” Ia terkejut mendapati sepasang kekasih sedang sibuk bercinta di atas sofanya, Tere sedang menunggangi Randi dan keduanya juga terkejut melihat kehadiran Naila. “Kalian ngapain di apartemen gue?” Tere menarik selimut untuk membungkus tubuh mereka berdua. “Sorry, gue pikir lo masih lembur, bentar lagi selesai, kok.” Tidak habis pikir, wanita itu masuk ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Begitu Naila selesai membersihkan diri, Tere sudah berbaring di ranjangnya. ”Randi mana?” ”Gue suruh pulang.” Wanita itu menatap layar laptop dengan tatapan serius, “gue pikir lo masih di kantor.” ”Ngapain gue di kantor sampai jam sepuluh?” ”Soalnya tadi lo bilang lembur.” Naila ikut merebahkan diri, mengintip layar laptop Tere, Naila pikir sahabatnya itu sibuk bekerja tetapi malah menonton drama korea. Tere menoleh, matanya memicing melihat dada Naila. “Habis make out sama siapa lo?” ”Kepo,” Naila menyeringai. ”Pinter banget bikin cupang di dada dan bukannya leher, si Randi kalau nggak bikin cupang di leher gue kayak nggak puas, udah gue maki berkali-kali masih aja nggak berubah,” Tere menunjukkan bekas cupang memudar di lehernya. ”Udah ah, gue capek, mau tidur.” Naila menarik selimut. ”Main berapa ronde tadi?” ”Dua,” jawabnya dengan mata setengah terpejam. ”Siapa sih temen tidur lo? Kok nggak pernah cerita?” ”Bukan siapa-siapa, cowok random aja.” ”Lo … main sama cowok random?” ”Hmm,” Naila setengah menggumam dengan mata terpejam rapat. ”Cari pacar aja lah, Nai, lo tahu resiko sama cowok random, kan?” ”Males gue pacaran, ribet. Lo kalau nggak bisa diem mending nonton di luar, deh. Gue ngantuk.” ”Gue juga,” Tere menutup laptopnya dan menaruhnya ke atas meja, wanita itu ikut masuk ke dalam selimut. Keduanya terlelap dengan cepat.Tanpa sadar, air matanya mengalir. Isakannya mulai terdengar, pelan tapi cukup nyata hingga membuat dadanya terasa berat. Ia meraih ponselnya, menekan nomor Devan, berharap suaminya bisa memberinya sedikit ketenangan. Panggilan itu dijawab setelah beberapa detik. Wajah Devan muncul di layar melalui video call, ekspresinya langsung berubah panik begitu melihat mata Naila yang basah.“Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanyanya cepat, suaranya penuh kekhawatiran.Naila hanya terisak, menutupi wajahnya dengan satu tangan. “Aku … aku kangen sama kamu, Dev,” ujarnya lirih. “Aku nggak bisa tidur … aku terbiasa kamu ada di sini. Aku butuh kamu peluk.”Devan mengusap wajahnya sendiri, tampak frustasi karena jarak memisahkan mereka. “Sayang, aku juga kangen banget sama kamu. Tapi aku masih ada pekerjaan di sini. Aku nggak bisa pulang besok. Maafin aku, ya.”Naila menggeleng sambil terisak. “Aku ngerti kamu kerja. Tapi aku nggak tahu kenapa aku ngerasa sedih banget malam in
”Dev, mending kamu kerja, deh,” usir Naila mulai jengah karena Devan terus-terusan mengkhawatirkannya. “Kalau ada apa-apa aku bakal bilang sama kamu. Pergi sana.”Devan mengangguk, lalu berdiri untuk kembali ke ruangannya. Sebelum pergi, ia menatap Naila sekali lagi. “Jangan terlalu lama di depan laptop, nanti aku temani kalau kamu mau istirahat.””Devan Wijaya!” Naila melotot. Pria itu terkekeh dan membungkuk untuk mencium sisi kepala istrinya sebelum melangkah pergi. Naila menghela napas kesal, saat ia menoleh ke sekeliling, semua orang sedang tersenyum-senyum memandangnya.”Cuma lo yang bisa bentak bos tapi malah di kasih ciuman,” goda Gabriel.”Gue jantungan dengar lo bentak barusan, tapi waktu ingat lo lagi bentak suami lo, gue mau ketawa. Inget bini gue yang suka bentak gue begitu di rumah,” kekeh Edo.”Kenapa nggak di rumah aja? Lo tuh nggak kekurangan duit, kenapa masih kerja?” Agus menatapnya khawatir.”Bukan soal duit, tapi udah kebiasaan kerja. Kal
Naila tertawa kecil sambil mengulurkan tangannya. “Nggak apa-apa. Aku cuma mau lihat kamu masangin kutek buat aku. Hasilnya urusan belakangan.”Dengan ekspresi serius yang berlebihan, Devan membuka tutup botol kutek dan mulai bekerja. Tangannya yang biasanya tegas saat menggambar desain arsitektur kini bergerak perlahan-lahan, mencoba memoles kuku Naila dengan hati-hati. Sesekali ia mengernyit ketika kuteknya meleset sedikit dari kuku.“Kenapa susah banget, sih?” keluh Devan, membuat Naila tertawa hingga bahunya terguncang.“Pelan-pelan, dong, Mas,” goda Naila.Devan menghela napas panjang, mencoba lebih fokus. “Ini kayak bikin sketsa, tapi permukaannya kecil banget,” gumamnya, lalu kembali memoles kuku Naila dengan konsentrasi tinggi. Setelah selesai dengan satu tangan, Devan duduk tegak dan memamerkan hasil karyanya. “Tuh, selesai. Gimana?” tanyanya dengan senyum penuh kemenangan.Naila menatap kukunya yang kini berkilauan dengan warna pastel. Meski hasilnya se
Devan duduk di sofa, dengan sebuah laptop terbuka di meja kecil di depannya. Di telinganya, ponsel yang terjepit di antara bahu dan telinga terus memancarkan suara dari ujung telepon. Ia sedang dalam diskusi serius tentang desain sebuah rumah sakit di Kupang, berbicara dengan seorang klien yang membahas detail-detail teknis. Naila muncul dari dapur, mengenakan daster longgar yang nyaman. Perutnya yang mulai membuncit karena kehamilan terlihat jelas di balik kain. Ia membawa sepiring jeruk yang belum dikupas, ketika mencapai sofa, ia duduk di sebelah Devan, meletakkan piring itu di meja.Devan melirik Naila sekilas, memberi senyum kecil, meskipun ia tetap fokus pada percakapan telepon. “Ya, untuk bagian ruang rawat inap, saya rasa desainnya bisa disesuaikan dengan orientasi cahaya alami. Itu akan memberi kesan lebih segar bagi pasien,” katanya ke ponsel. Sementara itu, Naila mengambil salah satu jeruk dari piring, berniat mengupasnya. Namun, belum sempat ia memulai, tangan D
Devan memimpin meeting saat ponselnya bergetar. Nama Istri🖤 tertera di layarnya. “Tunggu sebentar, istri saya telepon,” ia menghentikan rapat dan menjawab panggilan dengan sedikit menggeser kursinya ke belakang. “Halo, Sayang.””Sayang, kamu masih meeting, ya?”“Iya, kenapa? Kamu butuh sesuatu?”Naila terdengar ragu di seberang sana.”Nai? Kamu mau apa? Bilang aja,” ujarnya dengan nada lembut.”Beneran nggak apa-apa? Tapi kamu lagi sibuk, kan?””Nggak, kok. Kamu mau makan apa?””Aku … pengin banget Rujak Pak Santo yang di deket kantor kita, dari tadi kebayang terus. Tapi kamu lagi meeting—“”Kamu mau rujak? Mau yang pedes atau nggak?””Mau yang pedes, banyakin mangganya.””Oke, aku beliin sekarang, aku antar ke rumah.””Tapi tunggu kamu selesai meeting aja, aku nggak apa-apa nunggu—“”Sekarang aja, kamu mau makan apa lagi? Biar aku sekalian bawain.””Boleh makan sushi, nggak?””Nggak, Sayang. Dokter bilang nggak boleh mak
Naila menyeruput teh itu perlahan, hangatnya mengalir di tenggorokan dan sedikit membuat perasaannya lebih nyaman. “Makasih, Sayang,” ucapnya pelan sambil memandang Devan dengan mata yang terlihat lelah tapi penuh rasa terima kasih.Devan tersenyum kecil, ia meraih kaki Naila dengan hati-hati, memijitnya lembut. “Jangan bilang makasih, aku bakal ngelakuin apa pun buat kamu,” katanya sambil terus memijat telapak kaki istrinya.Sentuhan Devan yang lembut membuat Naila merasa lebih rileks. Ia memandangi pria itu yang dengan sabar mengurusnya, bahkan di tengah rasa kantuknya sendiri. “Kamu nggak capek?” tanya Naila pelan, merasa sedikit bersalah.Devan menggeleng sambil tersenyum. “Buat kamu dan bayi kita, nggak ada yang bikin aku capek. Yang penting kamu nyaman.”Naila merasa dadanya hangat karena ucapan suaminya. Ia menyeruput teh lagi, sementara tangan Devan masih setia memijat kakinya. Meski mual melanda, Naila merasa tenang karena kehadiran suaminya yang begitu tulu
Naila berdiri, keluar dari ruang meeting menuju ruang kerja Devan, ia mengetuk pintu dengan pelan. ”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam. Naila mendorong pintu. “Permisi, Pak.” ”Ada apa?” tanya Devan sambil sibuk menatap layar laptopnya. “Saya mau tanya soal desain yang barusan, salahnya di
Naila: Tok tok Xoxo: Hmm? Naila: Udah makan siang? Xoxo: Belum, sebentar lagi. Ada apa? Naila: Nanya aja kali, Pak. Xoxo: Kamu di mana? Naila: Kantin. Xoxo: Aku titip makanan. Naila: Dih, ogah. Sini aja turun sendiri. Males jadi babu. Xoxo: Aku sudah berbaik hati ngasih tim kamu m
“Lo nggak ke apartemen gue, kan?” Naila memastikan Tere akan ke apartemennya atau tidak, karena kalau sahabatnya itu datang, rencana terpaksa berubah, Naila tidak bisa membiarkan Devan datang ke tempatnya. ”Nggak, Randi mau nginap di tempat gue,” jawab Tere sambil menunggu makanannya diantar. “Ken
Naila sedang menunggu flat white-nya bersama Agus, Edo dan Gabriel. ”Gue nggak tidur mikir revisian semalaman, memang anjing tuh bos,” umpat Agus dengan wajah kusut. ”Yang nyuruh lo mikir semalaman siapa? Tidur, makanya,” sahut Naila. ”Masalahnya kalau proyek ini dilempar ke tim lain, hilang h







