LOGIN
Xoxo: Tempat aku apa tempat kamu?
Naila melirik ponsel yang menampilkan pop up chat dari seseorang, ia diam-diam membawa ponsel ke bawah meja untuk membuka chat yang masuk, setelah membaca sebaris kalimat itu, lirikannya melayang kepada si pengirim pesan yang kelihatannya sedang fokus mendengarkan concept presentation dari karyawannya. Tatapan pria itu fokus ke depan, tidak ada yang tahu kalau baru saja si bos mengirimkan pesan kepada karyawannya sendiri. Naila: Bagusnya di mana? Tempat aku? Atau hotel aja biar cepet? Naila melirik pria itu menatap ponsel, wajahnya datar tanpa ekspresi. Xoxo: Hotel aja kalau begitu. Aku yang pesan kamarnya. Langsung aja setelah selesai meeting ini. Naila: Nggak sabaran banget? Xoxo: Iya, udah keras dari tadi. Naila: Nggak sabar banget pengen masukin aku? Xoxo: Iya, nggak sabar mau enakin kamu. Lagi-lagi Naila melirik wajah sang atasan yang sedatar papan penggilingan, namun pesan yang dikirimnya begitu cabul. Ck, bisa-bisanya pria itu mengetikkan pesan seperti itu dengan wajah yang biasa saja, sementara Naila yang membacanya sudah merasa begitu gelisah, gerah dan juga … mulai basah. “Oke, cukup. Saya nggak suka desainnya. Ganti dan mulai dari awal,” pria itu berdiri dan keluar dari ruang meeting tanpa menunggu respon karyawan-karyawannya. ”Bangke,” maki Agus pelan, “capek banget gue.” ”Revisi yang ke berapa, Gus?” ledek Gabriel. ”Empat, nggak ada satu pun desain kita yang cocok sama dia, kita bisa minta ganti bos, nggak, sih?” Naila dan Erni tertawa. ”Lo pada jangan ketawa-ketawa aja, kita satu tim, ingat?” ”Iya, lupa,” Naila terkekeh sambil berdiri, “pulang aja, yuk. Capek banget, udah jam tujuh, nih.” ”Jadi ini gimana revisiannya?” ”Besok aja lanjut, kita juga butuh istirahat,” Gabriel menepuk bahu Agus, “pulang aja sekarang, mumet gue, pengin resign.” ”Gue juga,” sahut Agus. ”Anak gue baru lahir,” timpal Edo, “baru sebulan, gue baru tahu harga susu formula semahal itu. Astaga, sumpah, rasanya kayak hidup di dunia lain, belum lagi popok, belum lagi perlengkapannya yang lain, kalian kalau belum siap mental dan financial, jangan punya anak dulu, deh. Pusing!” Semua orang di dalam ruangan berpandangan, lalu tertawa, “Itu gunanya kondom diciptakan, Mas Bro. Siapa suruh lo ML nggak pake protection?” Agus menepuk-nepuk bahu Edo yang sibuk membereskan berkas-berkasnya, “Inget, jangan buntingin bini lo lagi, nanti setelah empat puluh hari malah lo hajar lagi.” ”Anjing.” Hanya itu jawaban Edo. Naila merasa ponsel di saku roknya bergetar, buru-buru wanita itu membukanya. Xoxo: Aku sudah di jalan ke hotel, kamu buruan. ”Ck, nggak sabaran banget,” gumam Naila sambil membalas pesan itu dengan kata ‘sabar’. ”Siapa, Nai? Pacar lo?” Agus tiba-tiba merangkul bahunya. “Naila punya pacar? Kiamat kali.” Gabriel ikut melangkah di samping wanita itu, “Siapa lagi korban lo kali ini, Nai?” ”Korban? Sejak kapan gue jadi tersangka?” Naila tertawa lebar, “yang ada gue korbannya.” Gadis itu mengerling, “gue duluan, ya. Bye.” ”Nai, ingat kata Edo, jangan bunting, susu sama popok mahal.” Naila membalasnya dengan mengacungkan jari tengah, membuat teman-teman satu timnya tertawa. Wanita itu mengambil tas lalu turun ke lobi, karena hari ini sengaja tidak membawa mobil dan sudah memesan taksi online, gadis itu buru-buru masuk ke taksi yang sudah menunggu di depan lobi. ”Hotel Kempinski, ya, Mbak,” driver memastikan tujuan sebelum melaju meninggalkan gedung kantor mewah ini. Tidak butuh waktu yang terlalu lama, Naila memasuki hotel. Pria itu sudah menunggu di lobi. ”Lama banget.” Keduanya masuk ke dalam lift, pria itu menekan Naila ke dinding untuk mencium bibirnya. ”Sabar dong, Dev. Tunggu sampai kamar.” Naila mendorong dada Devan menjauh. Devan Wijaya tidak memberi jarak, tetap berdiri lekat di depan Naila, membuat wanita itu mendongak dengan tangan yang mengelus benda keras di depannya dengan nakal. ”Ngerasain, kan?” Lift terbuka, Devan menarik Naila keluar dari lift dengan terburu-buru, wanita itu tertawa genit—tawa yang menghilang begitu mereka masuk ke sebuah kamar. Tawa yang terbungkam oleh ciuman. Prinsip Naila sejak dulu adalah tanpa ikatan dan tanpa paksaan, jangan pakai hati, main-main tidak perlu melibatkan hati, apalagi sampai jatuh hati. Jadi hubungan yang sudah ia jalani selama dua tahun bersama bosnya ini adalah definisi dari main-main tanpa ikatan dan tanpa paksaan yang sesungguhnya. Selagi belum ada yang bosan, maka mereka masih tetap sejalan. ”Wait, protection!” Naila menahan dada Devan dengan kedua tangan. ”Iya, ini mau pake,” pria itu merobek bungkus protection itu menggunakan gigi lalu memasangnya dan memastikan sudah benar-benar terpasang sempurna sebelum kembali mendekatkan dirinya kepada Naila.Handoko tertawa kecil, nada cemoohnya tetap sama. “Kamu tidak lihat siapa lawan bicaramu ini? Sopan sedikit, Anak Muda.”Devan maju selangkah, tubuhnya tegap, namun tetap terlihat tenang. “Memangnya siapa Anda?” tanya Devan dengan nada dingin. Kata-kata itu membuat Handoko terdiam. Matanya menyipit, menatap Devan dengan sorot penuh penilaian, tapi Devan tetap berdiri teguh di tempatnya. Naila hanya bisa menatap Devan dengan campuran rasa terkejut dan haru. Dia tidak pernah membayangkan ada seseorang yang akan berdiri di sisinya seperti ini, menghadapi pria yang selama ini menjadi bayang-bayang gelap dalam hidupnya.“Siapa kamu?” tanya Handoko dengan nada geram. “Aku harus bicara pada bosmu—“”Devan Wijaya,” sela Devan datar, membuat Handoko seketika bungkam. Mendengar nama keluarga Wijaya, Handoko menatap Devan lekat, cara pandangnya langsung berubah dari yang tadinya meremehkan menjadi sedikit bersahabat. “Untuk apa Anda datang ke kantor saya? Menjalin kerja sama dengan perusahaan s
“Kenapa Papa ninggalin Nai? Kenapa Papa nggak jemput Nai? Nai sendirian, Pa! Mama jahat! Jemput Nai, Pa!” Naila kecil terduduk di sudut kamar, bahunya berguncang hebat. Air mata mengalir deras di pipinya yang memerah, suaranya serak karena sudah terlalu lama menangis. “Papa! Papa!” jeritnya, berharap panggilannya akan sampai ke telinga pria yang begitu ia rindukan. Namun, keheningan kamar itu menjadi jawaban yang memilukan.Ibunya berdiri di ambang pintu, wajahnya penuh kelelahan. “Naila, sudah … Papa nggak akan datang. Papa kamu sudah punya keluarga baru. Kamu nggak perlu terus-terusan begini, berisik!” ucapnya dengan suara pelan, namun menusuk hati Naila.Mata gadis kecil itu melebar, napasnya tersengal. “Apa maksud Mama? Nai mau sama Papa!” serunya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. “Nai mau sama Papa! Telepon Papa, Ma. Jemput Nai!”Ibunya menarik napas dalam, lalu mendekat. Dia berlutut di hadapan Naila, “Dengar, Naila. Papa kamu itu … dia sudah punya istri lain, dan mereka puny
Hari pertama balik ke kantor setelah liburan panjang, Naila melangkah masuk dengan senyum tipis di wajah. Aroma kopi di pantry terasa lebih hangat dari biasanya, mungkin suasana hatinya masih terbawa sisa liburan bersama Devan.“Nah, akhirnya traveler kita balik juga!” suara Edo langsung menyambut begitu Naila menaruh tas di mejanya.Gabriel, yang lagi nongkrong di meja Agus, langsung nimbrung, “gimana liburannya?”Naila mendesah sambil beres-beres dokumen di meja. “Biasa aja,” jawabnya santai, meskipun ada senyum kecil di ujung bibirnya.“Yaelah, masa biasa aja? Sama pak bos gitu lho!” sahut Edo yang langsung melangkah mendekat. “Lo beneran nggak mau cerita? Mana upload video pak bos lagi main snowboarding. Sengaja ngasih bahan gibah dia. Atau sengaja mau pamerin pacarnya?” Naila hanya tertawa kecil sambil balik badan ke layar komputer. “Males ah cerita. Lo kebanyakan gosip sih,” jawabnya sambil menyalakan komputer, “terus kalau gue emang mau pamer, kenapa emangnya? Masalah buat kal
“Devan!” Naila berseru sambil tertawa, merentangkan kedua tangannya, menikmati sensasi terangkat dari tanah. Devan tersenyum nakal, melingkarkan tangannya lebih erat di tubuh Naila. Dengan lembut, Devan memutar tubuh Naila di udara. Naila tertawa lepas, wajahnya bersinar karena kebahagiaan. “Kamu nggak capek? Aku berat, loh,” katanya sambil tertawa riang.“Nggak, kamu ringan,” jawab Devan, semakin mempererat pelukannya. Dengan gerakan lembut, Devan meraih wajah Naila, menariknya dekat, dan tanpa kata, mereka mulai berciuman. Naila menutup matanya, menikmati setiap detik yang terlewati. Ia merasa begitu bahagia, impian yang sudah lama ia simpan akhirnya terwujud. Berdansa dengan orang yang ia cintai di bawah salju, dan kini, ciuman yang lembut dan penuh makna ini, menjadi hadiah yang lebih dari cukup untuknya. Bibir mereka bergerak dengan lembut, Devan mengesap bibir bawahnya dengan perlahan, dengan kelembutan yang membuat Naila memeluk lehernya lebih erat, saat pria itu ganti menyesap
Sambil tersenyum lebar, Devan membelai bokong itu dan kembali menghujam, membuat tangan Naila berpegangan pada dinding sementara pria itu menghentak masuk dari belakangnya dengan kuat.Esoknya, mereka menuju lereng ski. Naila mengenakan pakaian ski lengkap yang membuatnya tampak lucu dengan topi bulu. Devan tertawa kecil saat melihatnya mencoba berdiri dengan susah payah di atas papan ski.“Jangan ketawa, aku serius belajar ini,” protes Naila. “Kamu kan tahu aku nggak bisa main ski.”“Oke, oke,” Devan menahan tawanya dan berdiri di belakang Naila, membantunya menjaga keseimbangan. “Rileks, Sayang, aku nggak bakal biarin kamu jatuh.” Di lereng ski yang putih bersih, suara tawa Naila memenuhi udara dingin yang menggigit. Devan berdiri di dekatnya, memegang kedua lengan Naila yang bergetar entah karena dingin atau gugup. “Sayang, santai aja,” katanya sambil tertawa kecil, mencoba menenangkan wanita itu yang sudah terjatuh beberapa kali.“Ih susah banget!” keluh Naila sambil mencoba berdi
Devan dan Naila tiba di Jepang dengan udara dingin yang langsung menyambut mereka di luar bandara. Dari Tokyo, mereka melanjutkan perjalanan ke Hokkaido, tempat yang sudah direncanakan Devan untuk menjadi destinasi pertama mereka. Salju yang menyelimuti kota itu membuat Naila langsung terpana begitu mereka tiba.“Hokkaido itu kayak negeri dongeng,” gumam Naila sambil memandangi hamparan salju di sepanjang jalan dari dalam mobil menuju resort mereka. Devan yang duduk di sampingnya tersenyum. Mengusap kepala wanita itu yang ditutupi oleh beanie. Naila menoleh ke arah Devan, senyumnya kecil namun hangat. “Makasih udah ajak aku ke sini.”Devan hanya tersenyum kecil. “Apa pun buat kamu.”Setibanya di resort ski, Naila langsung terkagum-kagum melihat bangunan kayu bergaya tradisional Jepang yang dihiasi lentera-lentera kecil di sekelilingnya. Mereka bergegas check-in dan menuju kamar mereka yang hangat, dengan pemandangan pegunungan berselimut salju dari jendela besar di dalamnya, semuanya







