LOGINNaila sedang menunggu flat white-nya bersama Agus, Edo dan Gabriel.
”Gue nggak tidur mikir revisian semalaman, memang anjing tuh bos,” umpat Agus dengan wajah kusut. ”Yang nyuruh lo mikir semalaman siapa? Tidur, makanya,” sahut Naila. ”Masalahnya kalau proyek ini dilempar ke tim lain, hilang harapan bonus gede, lo nggak mau bonus gede, apa?” ”Mau, sih.” ”Gue butuh banget,” timpal Edo, “kayaknya sekarang semua kerjaan yang menghasilkan duit bakal gue embat tanpa pikir panjang.” ”Gigolo tuh, gampang ngasilin duit,” sahut Gabriel. Semuanya tertawa kecuali Edo. ”Anjing, tunggu aja cewek lo bunting, baru lo ngerasain yang gue rasain.” ”Stok kondom gue nggak pernah kurang,” balas Gabriel. ”Jadi gigolo bos aja, siapa tahu bisa bikin lo dipromosikan,” ujar Agus. ”Kalau dia butuh boti, gue siap mengajukan diri, gue bisa jadi boti, bisa jadi straight, tergantung kondisi.” Gabriel menyeringai lebar yang membuat ketiga temannya menoyor kepalanya. ”Ssstt, si bos tuh,” Edo menyikut lengan Agus dan Gabriel. Naila ikut menoleh, mendapati Devan memasuki cafe yang kebetulan ada di lobi utama kantor mereka. “Pagi, Pak,” sapa Edo. Devan yang tadinya sibuk dengan ponsel, menoleh. “Pagi,” jawabnya datar. ”Beli kopi juga, Pak?” Gabriel mengeluarkan jurus basa basi yang sebenarnya memang sudah basi. ”Nggak goblok, beli cendol!” Agus yang menjawab dengan emosi yang tiba-tiba meninggi. ”Apa sih lo, anjing?!” ”Guys,” Naila menatap keduanya dengan tatapan lelah, “masih pagi.” ”Si anjing, Nai,” Gabriel berpindah posisi untuk memeluk lengan Naila, “pagi-pagi emosi, siang-siang emosi, sore juga emosi. Heran gue.” ”Kurang kawin,” jawab Naila sambil tertawa. ”Nah, Gus, kata gue mending lo ML, deh. Biar nggak stress-stress amat.” Gabriel tersenyum miring. ”Sialan!” Naila dan Gabriel tertawa, wanita itu menerima flat white-nya dan masih tetap di sana menunggu teman-temannya yang lain. ”Pak, nggak mau kasih bocoran soal … desain yang Bapak mau gimana? Tolong lah, Pak,” Agus mulai memelas, “biar kami bisa kerjakan hari ini.” Devan menoleh, menatap keempat karyawannya—tiga di antara mereka sedang menampilkan wajah memelas, hanya satu yang terlihat biasa saja. Naila sepertinya tidak terlalu peduli pada proyek kali ini. ”Naila, mungkin kamu bisa kasih masukan di proyek kali ini,” ujar Devan tiba-tiba. Naila melongo. “Loh, kok saya, Pak?” ”Kamu yang kelihatannya paling santai, siapa tahu ternyata diam-diam kamu menyimpan kreativitas yang tinggi.” Rasa ingin mengumpat tapi Naila tahan, memang sialan si Devan, sengaja melemparkan kalimat itu padanya mungkin karena tahu Naila yang paling sedikit menyumbang ide. ”Ide saya nggak begitu banyak, Pak,” kilah Naila. “Mas Edo tuh yang kalo ngasih ide selalu oke.” Naila melemparnya kepada Edo. ”Gus, sebagai team leader, kamu boleh lah sesekali gali ide di kepala Naila lebih banyak, soalnya dia biasanya suka ngasih banyak ide secara tiba-tiba.” Devan tersenyum misterius sambil membawa kopinya menjauh. Brengsek! Pria itu sedang menyindir karena Naila sering merekomendasikan berbagai posisi saat mereka sedang tidur bersama? Itu tidak bisa disamakan dengan desain bangunan. ”Kok Pak Devan bilang lo suka ngasih ide tiba-tiba? Kapan itu terjadi?” Gabriel menuntut jawaban. ”Ada gilanya tuh orang,” maki Naila, “sejak kapan otak gue punya banyak ide? Yang ada gue makin stress setiap hari.” Agus tertawa, merangkul Naila dengan akrab. “Kayaknya lo mesti tunjukin keahlian lo yang lain sama dia, keahlian di ranjang misalnya?” Sudah sering, sahut Naila dalam hati. ”Biar dia nggak ngeremehin lo, Nai,” Gabriel ikut memanasi. ”Tahu ah, pengin resign tapi masih butuh duit.” ”Gue punya satu ide.” Gabriel tiba-tiba menahan mereka semua yang hendak masuk ke dalam lift. ”Apa?” ”Lo.” Tunjuk Gabriel kepada Naila. ”Gue?” Naila memandang bingung pada Edo dan Agus yang juga bingung. “Gue kenapa?” ”Lo coba rayu si bos, biar dia bisa terima desain kita, rayu pake apa kek, terserah. Dada lo mantep tuh, bokong juga seksi abis, boleh lah—“ Mulut Gabriel dijentik oleh Agus. ”Lo mau jual temen, gitu?” Naila, Edo dan Agus menatap Gabriel dengan mata melotot sementara pria itu hanya menyeringai. ”Ya, siapa tahu berhasil,” jawabnya sambil terkekeh. ”Goblok, ini nih definisi temen laknat yang sesungguhnya!” Agus menoyor kepala Gabriel, “minta dirajam lobang pantatnya.” Naila tertawa, memukul kepala Gabriel lalu mengikuti Agus dan Edo yang masuk ke dalam lift. ”Gue bercanda kali,” sungut Gabriel, “tapi kalau emang berhasil, kenapa nggak?” ”Lo aja gih, siapa tahu bos butuh boti,” sahut Edo. Ketiganya tertawa keras, membuat Gabriel melayangkan tatapan kesal. *** “Gimana?” Devan mendekati Agus, Naila, Edo, Gabriel dan Erni yang sedang sibuk membahas mengenai desain terbaru di studio desain. “Deadline sudah hampir di depan mata,” Devan menarik sebuah kursi. “Kalau kalian memang nggak bisa, saya lempar ke tim lain.” ”Jangan, Pak!” sahut Edo cepat, “tolong kasih waktu sedikit lagi,” ”Udah banyak waktu dari kemarin, jadi sebenarnya kalian mampu atau nggak?” Naila menghela napas. “Pak, kasih waktu sedikit lagi, kita pasti bisa.” ”Dari dua minggu lalu tapi nggak ada satupun desainnya yang oke,” omel Devan. Naila meraih ponsel diam-diam, membawanya ke bawah meja. Naila: Serius, Dev. Kasih waktu sedikit lagi, proyek ini penting banget, terlebih buat Edo. Please. Devan menatap ponsel, membaca sebaris pesan yang Naila kirimkan, pria itu sama sekali tidak melirik Naila, hanya terus menampilkan wajah yang datar. Xoxo: Bisa, sih. Tapi ada syaratnya. Naila: Apa? Xoxo: Malam ini tiga kali, gimana? Naila menahan umpatan, melirik Devan yang masih tampak begitu santai, dalam hati Naila memaki kencang. Pria itu tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengajak Naila tidur bersama. Xoxo: Gimana? Mau nggak? Naila: Nggak bisa yang lain? Pinggang aku masih sakit karena kamu kemarin. Xoxo: Berarti nggak mau? Naila: Kalau aku mau, berarti desain kali ini nggak bakal ditolak? Xoxo: Tergantung. Naila: Nggak ada jaminan berarti nggak serius. Xoxo: Kalau ternyata masih belum sesuai harapan, nggak bisa aku iyain gitu aja. Naila: Makanya kasih masukan, kek, jangan kami aja yang disuruh mikir. Udah capek otak mikir mulu! Xoxo: Namanya juga kerja, kalau nggak mau jadi arsitek, nggak usah kerja di perusahaan arsitektur. Naila: Sinting! Kalau nggak mau bimbing anak buah, nggak usah jadi bos! Xoxo: Gimana? Mau? Tergantung kamu mau apa nggak. Aku sih bisa aja lempar proyeknya ke yang lain. Naila: Kasih dulu masukan, bos tuh harusnya kasih masukan ke anak buah, jangan cuma bisanya marah-marah aja. Xoxo: Anak buah tuh harusnya kreatif, jangan minta disuap terus. Naila: Devaaaaan! Aku serius, kasih arahan, dong. 🥹 Xoxo: Syaratku masih kayak yang aku bilang tadi. Naila: Oke fine! Tiga kali. Tapi jangan kuat-kuat kalau nggak besok aku terpaksa cuti karena sakit pinggang. Naila melirik sebal pada Devan yang tersenyum samar. Xoxo: Iya, tenang aja. Tempat aku atau tempat kamu? Naila: Tempat aku aja, biar aku bisa langsung istirahat. Xoxo: Jadi aku dibolehin nginap? Naila: Nggak, lah. Kamu pulang begitu selesai. Ingat perjanjian kita, nggak ada acara saling nginap. Xoxo: Oke. Naila menyipit, mengapa ia merasa janji Devan tidak bisa dipercaya? Pria itu liciknya seperti rubah. ”Oke, gini, saya kasih gambaran, kalian dengarkan baik-baik ….”Tanpa sadar, air matanya mengalir. Isakannya mulai terdengar, pelan tapi cukup nyata hingga membuat dadanya terasa berat. Ia meraih ponselnya, menekan nomor Devan, berharap suaminya bisa memberinya sedikit ketenangan. Panggilan itu dijawab setelah beberapa detik. Wajah Devan muncul di layar melalui video call, ekspresinya langsung berubah panik begitu melihat mata Naila yang basah.“Sayang, kamu kenapa? Ada yang sakit?” tanyanya cepat, suaranya penuh kekhawatiran.Naila hanya terisak, menutupi wajahnya dengan satu tangan. “Aku … aku kangen sama kamu, Dev,” ujarnya lirih. “Aku nggak bisa tidur … aku terbiasa kamu ada di sini. Aku butuh kamu peluk.”Devan mengusap wajahnya sendiri, tampak frustasi karena jarak memisahkan mereka. “Sayang, aku juga kangen banget sama kamu. Tapi aku masih ada pekerjaan di sini. Aku nggak bisa pulang besok. Maafin aku, ya.”Naila menggeleng sambil terisak. “Aku ngerti kamu kerja. Tapi aku nggak tahu kenapa aku ngerasa sedih banget malam in
”Dev, mending kamu kerja, deh,” usir Naila mulai jengah karena Devan terus-terusan mengkhawatirkannya. “Kalau ada apa-apa aku bakal bilang sama kamu. Pergi sana.”Devan mengangguk, lalu berdiri untuk kembali ke ruangannya. Sebelum pergi, ia menatap Naila sekali lagi. “Jangan terlalu lama di depan laptop, nanti aku temani kalau kamu mau istirahat.””Devan Wijaya!” Naila melotot. Pria itu terkekeh dan membungkuk untuk mencium sisi kepala istrinya sebelum melangkah pergi. Naila menghela napas kesal, saat ia menoleh ke sekeliling, semua orang sedang tersenyum-senyum memandangnya.”Cuma lo yang bisa bentak bos tapi malah di kasih ciuman,” goda Gabriel.”Gue jantungan dengar lo bentak barusan, tapi waktu ingat lo lagi bentak suami lo, gue mau ketawa. Inget bini gue yang suka bentak gue begitu di rumah,” kekeh Edo.”Kenapa nggak di rumah aja? Lo tuh nggak kekurangan duit, kenapa masih kerja?” Agus menatapnya khawatir.”Bukan soal duit, tapi udah kebiasaan kerja. Kal
Naila tertawa kecil sambil mengulurkan tangannya. “Nggak apa-apa. Aku cuma mau lihat kamu masangin kutek buat aku. Hasilnya urusan belakangan.”Dengan ekspresi serius yang berlebihan, Devan membuka tutup botol kutek dan mulai bekerja. Tangannya yang biasanya tegas saat menggambar desain arsitektur kini bergerak perlahan-lahan, mencoba memoles kuku Naila dengan hati-hati. Sesekali ia mengernyit ketika kuteknya meleset sedikit dari kuku.“Kenapa susah banget, sih?” keluh Devan, membuat Naila tertawa hingga bahunya terguncang.“Pelan-pelan, dong, Mas,” goda Naila.Devan menghela napas panjang, mencoba lebih fokus. “Ini kayak bikin sketsa, tapi permukaannya kecil banget,” gumamnya, lalu kembali memoles kuku Naila dengan konsentrasi tinggi. Setelah selesai dengan satu tangan, Devan duduk tegak dan memamerkan hasil karyanya. “Tuh, selesai. Gimana?” tanyanya dengan senyum penuh kemenangan.Naila menatap kukunya yang kini berkilauan dengan warna pastel. Meski hasilnya se
Devan duduk di sofa, dengan sebuah laptop terbuka di meja kecil di depannya. Di telinganya, ponsel yang terjepit di antara bahu dan telinga terus memancarkan suara dari ujung telepon. Ia sedang dalam diskusi serius tentang desain sebuah rumah sakit di Kupang, berbicara dengan seorang klien yang membahas detail-detail teknis. Naila muncul dari dapur, mengenakan daster longgar yang nyaman. Perutnya yang mulai membuncit karena kehamilan terlihat jelas di balik kain. Ia membawa sepiring jeruk yang belum dikupas, ketika mencapai sofa, ia duduk di sebelah Devan, meletakkan piring itu di meja.Devan melirik Naila sekilas, memberi senyum kecil, meskipun ia tetap fokus pada percakapan telepon. “Ya, untuk bagian ruang rawat inap, saya rasa desainnya bisa disesuaikan dengan orientasi cahaya alami. Itu akan memberi kesan lebih segar bagi pasien,” katanya ke ponsel. Sementara itu, Naila mengambil salah satu jeruk dari piring, berniat mengupasnya. Namun, belum sempat ia memulai, tangan D
Devan memimpin meeting saat ponselnya bergetar. Nama Istri🖤 tertera di layarnya. “Tunggu sebentar, istri saya telepon,” ia menghentikan rapat dan menjawab panggilan dengan sedikit menggeser kursinya ke belakang. “Halo, Sayang.””Sayang, kamu masih meeting, ya?”“Iya, kenapa? Kamu butuh sesuatu?”Naila terdengar ragu di seberang sana.”Nai? Kamu mau apa? Bilang aja,” ujarnya dengan nada lembut.”Beneran nggak apa-apa? Tapi kamu lagi sibuk, kan?””Nggak, kok. Kamu mau makan apa?””Aku … pengin banget Rujak Pak Santo yang di deket kantor kita, dari tadi kebayang terus. Tapi kamu lagi meeting—“”Kamu mau rujak? Mau yang pedes atau nggak?””Mau yang pedes, banyakin mangganya.””Oke, aku beliin sekarang, aku antar ke rumah.””Tapi tunggu kamu selesai meeting aja, aku nggak apa-apa nunggu—“”Sekarang aja, kamu mau makan apa lagi? Biar aku sekalian bawain.””Boleh makan sushi, nggak?””Nggak, Sayang. Dokter bilang nggak boleh mak
Naila menyeruput teh itu perlahan, hangatnya mengalir di tenggorokan dan sedikit membuat perasaannya lebih nyaman. “Makasih, Sayang,” ucapnya pelan sambil memandang Devan dengan mata yang terlihat lelah tapi penuh rasa terima kasih.Devan tersenyum kecil, ia meraih kaki Naila dengan hati-hati, memijitnya lembut. “Jangan bilang makasih, aku bakal ngelakuin apa pun buat kamu,” katanya sambil terus memijat telapak kaki istrinya.Sentuhan Devan yang lembut membuat Naila merasa lebih rileks. Ia memandangi pria itu yang dengan sabar mengurusnya, bahkan di tengah rasa kantuknya sendiri. “Kamu nggak capek?” tanya Naila pelan, merasa sedikit bersalah.Devan menggeleng sambil tersenyum. “Buat kamu dan bayi kita, nggak ada yang bikin aku capek. Yang penting kamu nyaman.”Naila merasa dadanya hangat karena ucapan suaminya. Ia menyeruput teh lagi, sementara tangan Devan masih setia memijat kakinya. Meski mual melanda, Naila merasa tenang karena kehadiran suaminya yang begitu tulu
Naila: Tok tok Xoxo: Hmm? Naila: Udah makan siang? Xoxo: Belum, sebentar lagi. Ada apa? Naila: Nanya aja kali, Pak. Xoxo: Kamu di mana? Naila: Kantin. Xoxo: Aku titip makanan. Naila: Dih, ogah. Sini aja turun sendiri. Males jadi babu. Xoxo: Aku sudah berbaik hati ngasih tim kamu m
“Lo nggak ke apartemen gue, kan?” Naila memastikan Tere akan ke apartemennya atau tidak, karena kalau sahabatnya itu datang, rencana terpaksa berubah, Naila tidak bisa membiarkan Devan datang ke tempatnya. ”Nggak, Randi mau nginap di tempat gue,” jawab Tere sambil menunggu makanannya diantar. “Ken
”Shit!” Naila mengumpat lantang, Devan sudah berhasil melepaskan roknya, seluruh kancing kemejanya terbuka, memperlihatkan sepasang bukit kembar yang bagian branya juga sudah tidak terpasang sempurna, wanita itu mengenakan model bra dengan pengait di bagian depan, mempermudah Devan membukanya deng
Xoxo: Tempat aku apa tempat kamu? Naila melirik ponsel yang menampilkan pop up chat dari seseorang, ia diam-diam membawa ponsel ke bawah meja untuk membuka chat yang masuk, setelah membaca sebaris kalimat itu, lirikannya melayang kepada si pengirim pesan yang kelihatannya sedang fokus mendengarkan







