Home / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 3

Share

BOSS WITH BENEFIT - 3

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-05-25 11:29:08

Naila sedang menunggu flat white-nya bersama Agus, Edo dan Gabriel.

”Gue nggak tidur mikir revisian semalaman, memang anjing tuh bos,” umpat Agus dengan wajah kusut.

”Yang nyuruh lo mikir semalaman siapa? Tidur, makanya,” sahut Naila.

”Masalahnya kalau proyek ini dilempar ke tim lain, hilang harapan bonus gede, lo nggak mau bonus gede, apa?”

”Mau, sih.”

”Gue butuh banget,” timpal Edo, “kayaknya sekarang semua kerjaan yang menghasilkan duit bakal gue embat tanpa pikir panjang.”

”Gigolo tuh, gampang ngasilin duit,” sahut Gabriel.

Semuanya tertawa kecuali Edo.

”Anjing, tunggu aja cewek lo bunting, baru lo ngerasain yang gue rasain.”

”Stok kondom gue nggak pernah kurang,” balas Gabriel.

”Jadi gigolo bos aja, siapa tahu bisa bikin lo dipromosikan,” ujar Agus.

”Kalau dia butuh boti, gue siap mengajukan diri, gue bisa jadi boti, bisa jadi straight, tergantung kondisi.” Gabriel menyeringai lebar yang membuat ketiga temannya menoyor kepalanya.

”Ssstt, si bos tuh,” Edo menyikut lengan Agus dan Gabriel. Naila ikut menoleh, mendapati Devan memasuki cafe yang kebetulan ada di lobi utama kantor mereka. “Pagi, Pak,” sapa Edo.

Devan yang tadinya sibuk dengan ponsel, menoleh. “Pagi,” jawabnya datar.

”Beli kopi juga, Pak?” Gabriel mengeluarkan jurus basa basi yang sebenarnya memang sudah basi.

”Nggak goblok, beli cendol!” Agus yang menjawab dengan emosi yang tiba-tiba meninggi.

”Apa sih lo, anjing?!”

”Guys,” Naila menatap keduanya dengan tatapan lelah, “masih pagi.”

”Si anjing, Nai,” Gabriel berpindah posisi untuk memeluk lengan Naila, “pagi-pagi emosi, siang-siang emosi, sore juga emosi. Heran gue.”

”Kurang kawin,” jawab Naila sambil tertawa.

”Nah, Gus, kata gue mending lo ML, deh. Biar nggak stress-stress amat.” Gabriel tersenyum miring.

”Sialan!”

Naila dan Gabriel tertawa, wanita itu menerima flat white-nya dan masih tetap di sana menunggu teman-temannya yang lain.

”Pak, nggak mau kasih bocoran soal … desain yang Bapak mau gimana? Tolong lah, Pak,” Agus mulai memelas, “biar kami bisa kerjakan hari ini.”

Devan menoleh, menatap keempat karyawannya—tiga di antara mereka sedang menampilkan wajah memelas, hanya satu yang terlihat biasa saja. Naila sepertinya tidak terlalu peduli pada proyek kali ini.

”Naila, mungkin kamu bisa kasih masukan di proyek kali ini,” ujar Devan tiba-tiba.

Naila melongo. “Loh, kok saya, Pak?”

”Kamu yang kelihatannya paling santai, siapa tahu ternyata diam-diam kamu menyimpan kreativitas yang tinggi.”

Rasa ingin mengumpat tapi Naila tahan, memang sialan si Devan, sengaja melemparkan kalimat itu padanya mungkin karena tahu Naila yang paling sedikit menyumbang ide.

”Ide saya nggak begitu banyak, Pak,” kilah Naila. “Mas Edo tuh yang kalo ngasih ide selalu oke.” Naila melemparnya kepada Edo.

”Gus, sebagai team leader, kamu boleh lah sesekali gali ide di kepala Naila lebih banyak, soalnya dia biasanya suka ngasih banyak ide secara tiba-tiba.” Devan tersenyum misterius sambil membawa kopinya menjauh.

Brengsek! Pria itu sedang menyindir karena Naila sering merekomendasikan berbagai posisi saat mereka sedang tidur bersama? Itu tidak bisa disamakan dengan desain bangunan.

”Kok Pak Devan bilang lo suka ngasih ide tiba-tiba? Kapan itu terjadi?” Gabriel menuntut jawaban.

”Ada gilanya tuh orang,” maki Naila, “sejak kapan otak gue punya banyak ide? Yang ada gue makin stress setiap hari.”

Agus tertawa, merangkul Naila dengan akrab. “Kayaknya lo mesti tunjukin keahlian lo yang lain sama dia, keahlian di ranjang misalnya?”

Sudah sering, sahut Naila dalam hati.

”Biar dia nggak ngeremehin lo, Nai,” Gabriel ikut memanasi.

”Tahu ah, pengin resign tapi masih butuh duit.”

”Gue punya satu ide.” Gabriel tiba-tiba menahan mereka semua yang hendak masuk ke dalam lift.

”Apa?”

”Lo.” Tunjuk Gabriel kepada Naila.

”Gue?” Naila memandang bingung pada Edo dan Agus yang juga bingung. “Gue kenapa?”

”Lo coba rayu si bos, biar dia bisa terima desain kita, rayu pake apa kek, terserah. Dada lo mantep tuh, bokong juga seksi abis, boleh lah—“ Mulut Gabriel dijentik oleh Agus.

”Lo mau jual temen, gitu?”

Naila, Edo dan Agus menatap Gabriel dengan mata melotot sementara pria itu hanya menyeringai.

”Ya, siapa tahu berhasil,” jawabnya sambil terkekeh.

”Goblok, ini nih definisi temen laknat yang sesungguhnya!” Agus menoyor kepala Gabriel, “minta dirajam lobang pantatnya.”

Naila tertawa, memukul kepala Gabriel lalu mengikuti Agus dan Edo yang masuk ke dalam lift.

”Gue bercanda kali,” sungut Gabriel, “tapi kalau emang berhasil, kenapa nggak?”

”Lo aja gih, siapa tahu bos butuh boti,” sahut Edo. Ketiganya tertawa keras, membuat Gabriel melayangkan tatapan kesal.

***

“Gimana?” Devan mendekati Agus, Naila, Edo, Gabriel dan Erni yang sedang sibuk membahas mengenai desain terbaru di studio desain. “Deadline sudah hampir di depan mata,” Devan menarik sebuah kursi. “Kalau kalian memang nggak bisa, saya lempar ke tim lain.”

”Jangan, Pak!” sahut Edo cepat, “tolong kasih waktu sedikit lagi,”

”Udah banyak waktu dari kemarin, jadi sebenarnya kalian mampu atau nggak?”

Naila menghela napas. “Pak, kasih waktu sedikit lagi, kita pasti bisa.”

”Dari dua minggu lalu tapi nggak ada satupun desainnya yang oke,” omel Devan.

Naila meraih ponsel diam-diam, membawanya ke bawah meja.

Naila: Serius, Dev. Kasih waktu sedikit lagi, proyek ini penting banget, terlebih buat Edo. Please.

Devan menatap ponsel, membaca sebaris pesan yang Naila kirimkan, pria itu sama sekali tidak melirik Naila, hanya terus menampilkan wajah yang datar.

Xoxo: Bisa, sih. Tapi ada syaratnya.

Naila: Apa?

Xoxo: Malam ini tiga kali, gimana?

Naila menahan umpatan, melirik Devan yang masih tampak begitu santai, dalam hati Naila memaki kencang. Pria itu tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengajak Naila tidur bersama.

Xoxo: Gimana? Mau nggak?

Naila: Nggak bisa yang lain? Pinggang aku masih sakit karena kamu kemarin.

Xoxo: Berarti nggak mau?

Naila: Kalau aku mau, berarti desain kali ini nggak bakal ditolak?

Xoxo: Tergantung.

Naila: Nggak ada jaminan berarti nggak serius.

Xoxo: Kalau ternyata masih belum sesuai harapan, nggak bisa aku iyain gitu aja.

Naila: Makanya kasih masukan, kek, jangan kami aja yang disuruh mikir. Udah capek otak mikir mulu!

Xoxo: Namanya juga kerja, kalau nggak mau jadi arsitek, nggak usah kerja di perusahaan arsitektur.

Naila: Sinting! Kalau nggak mau bimbing anak buah, nggak usah jadi bos!

Xoxo: Gimana? Mau? Tergantung kamu mau apa nggak. Aku sih bisa aja lempar proyeknya ke yang lain.

Naila: Kasih dulu masukan, bos tuh harusnya kasih masukan ke anak buah, jangan cuma bisanya marah-marah aja.

Xoxo: Anak buah tuh harusnya kreatif, jangan minta disuap terus.

Naila: Devaaaaan! Aku serius, kasih arahan, dong. 🥹

Xoxo: Syaratku masih kayak yang aku bilang tadi.

Naila: Oke fine! Tiga kali. Tapi jangan kuat-kuat kalau nggak besok aku terpaksa cuti karena sakit pinggang.

Naila melirik sebal pada Devan yang tersenyum samar.

Xoxo: Iya, tenang aja. Tempat aku atau tempat kamu?

Naila: Tempat aku aja, biar aku bisa langsung istirahat.

Xoxo: Jadi aku dibolehin nginap?

Naila: Nggak, lah. Kamu pulang begitu selesai. Ingat perjanjian kita, nggak ada acara saling nginap.

Xoxo: Oke.

Naila menyipit, mengapa ia merasa janji Devan tidak bisa dipercaya? Pria itu liciknya seperti rubah.

”Oke, gini, saya kasih gambaran, kalian dengarkan baik-baik ….”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Tika Mokodompit
dijanjiin 3 kali baru dikasih masukan cobaaaa wkwkwkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - TAMAT

    Agus tertawa, membayangkan perempuan sunda satu itu mengucapkan satu kata dalam bahasa jawa dengan wajah menggemaskan, membuat Agus yang tadinya masih bisa menahan rindu, kini sulit menahannya lagi. Ia menghela napas panjang, memeluk bantal. Ia harus bertahan paling tidak sampai besok sore. Ternyata berjauhan dengan pacar rasanya tidak enak. Pantas saja Devan tidak mau pergi tanpa membawa istri dan anaknya ikut serta. “Woi, ngapain lo tidur? Kerja!” panggil Gabriel dari sofa. ”Capek, ngantuk.” ”Lo dibayar ke sini bukan buat tidur, gue laporin Pak Dev, nih.” ”Laporin aja sana!” ”Idih, mentang-mentang sekarang iparan sama bos, ngelunjak lo ya.” ”Gue mau tidur bentar, ngantuk banget. Selesaikan aja kerjaan lo habis itu balik ke kamar lo sendiri.” Agus menutup kepalanya dengan bantal saat Gabriel terus memanggil-manggilnya dari sofa. Besok sorenya Agus melangkah cepat keluar dari Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Ma

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 149

    ”Tunggu, kita nggak pake kondom, kalau kamu hamil, gimana?””Kamu mau tanggung jawab, nggak?””Pasti.””Ya udah, kalau aku hamil, kamu tanggung jawab.””Tapi yang aku pikirin, apa kamu siap jadi ibu?””Kamu siap nggak jadi ayah?””Siap. Umurku juga udah matang banget, aku siap jadi ayah. Aku siap nikahin kamu. Tapi takutnya kamu yang belum siap jadi ibu dan belum siap nikah sama aku.”Maya berbalik, menatap Agus dengan tatapan lembut.”Kalau aku hamil, kita nikah, punya anak. Aku siap.” Ia menaiki tubuh pria itu dan duduk di atas paha Agus. “Kamu juga udah kenal banget sama Papa dan aku juga udah kenal sama mama kamu. Aku juga udah kenal sama papa kamu dan Tante Mulan. Yang belum kenal cuma sama adik-adik kamu aja.””Nanti aku kenalin sama Naila dan Memei.””Ya udah, kalau gitu, kita khawatirin apa lagi?””Nggak hamil pun aku mau nikahin kamu.””Kebelet nikah, Mas? Takut jomblo sampai tua?”Agus tertawa, “nggak, udah ketemu yang ak

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 148

    ”Takut kamunya nggak suka.” Jari-jari Agus membelai pipi Maya. “Nggak mau dibilang memanfaatkan kamu yang masih patah hati—“”Idih, siapa juga yang masih patah hati,” Maya berjinjit untuk mencium Agus lagi, “udah nggak patah hati, tuh.”Agus tersenyum lebar, mereka terus berciuman tanpa henti, tubuh yang awalnya menggigil dingin kini terasa begitu hangat. Maya menyusupkan tangannya ke dalam baju Agus, merasai perut kotak-kotak pria itu dengan kedua tangannya. Keduanya terus saja saling menyentuh dan berciuman untuk menghangatkan diri.”Udah reda, apartemen aku lebih dekat,” ujar Agus memakaikan helm di kepala Maya. Mereka meninggalkan bengkel dan pulang ke apartemen Agus. “Mandi aja di dalam, aku mandi di luar,” ujar Agus mendorong Maya dengan lembut ke kamar mandi yang ada di kamar. Ia mengambilkan handuk dan juga sikat gigit baru untuk wanita itu.Maya tersenyum kecil, melihat pantulan dirinya di kaca, bibirnya bengkak, wajahnya merona dan dadanya berdebar keras. I

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 147

    Aldi menatap Agus yang memang lebih tinggi darinya. Dari fisik, jelas Aldi kalah. Agus memiliki tubuh berotot, rahang yang tegas dan ketampanan khas yang sangat cocok dengan kulit tan-nya. Sementara Aldi hanya pria kurus kering yang penampilannya urakan.”Gue nggak butuh duit lo!” geram Aldi.”Terima saja, Maya memberinya bukan buat kamu. Tapi buat anak kamu.”Agus menarik Maya menjauh, wanita itu tersenyum lebar sambil menatap Aldi dengan senyum kemenangan. Aldi lagi-lagi mengejar dan menyentak tangan Maya.”Aw!”Punggung Aldi membentur dinding dengan sangat kuat, satu tangan Agus mencengkeram lehernya begitu kuat.”Sekali lagi kamu kasari pacar saya. Saya bikin kamu sekarat.” Agus bicara dengan nada yang begitu tenang namun penuh ancaman. “Kamu ngerti?” Ia menguatkan cengkeramannya hingga Aldi kesulitan bernapas, pria kurus itu segera mengangguk, Agus melepaskannya dan kali ini merangkul pinggang Maya untuk membawanya menjauh.”Thanks,” bisik Maya memel

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 146

    ”Heh, gue aduin Robert kalau lo godain cowok lain.””Si Aa ganteng soalnya, bikin gue kesemsem. Kulit tan-nya itu loh, mana kayaknya berotot—“”Gue telepon Robert, nih?” ancam Maya.Esti tertawa, “si Aa kalem banget kayak mas-mas jawa impiannya si Maya.””Gue tabok juga nih,” geram Maya.”Mau adat jawa atau sunda, A? Pilih aja. Maya pasti ngikut aja.””Halo, Bert, bini lo di sini—“ ucapan Maya terhenti saat teleponnya direbut Esti. Ia menatap layarnya yang benar-benar terhubung dengan suaminya, “halo, Sayang, ini aku sama Maya di resto, Maya bawa cowoknya, kamu nggak usah cemburu, ya. Nanti kita ketemu di rumah. Dah, Sayang.”Maya menghela napas, menerima ponselnya. “Lo pilihin aja makanan yang enak buat gue dan Agus, asal jangan diracun.”Esti tertawa, “Aa suka makan pedes, nggak?””Nggak bisa,” jawab Agus pelan.”Ah, kalo si Teteh ini juaranya pedes, aku bikinin makanan yang nggak pedes, ya, A.””Iya, terima kasih.””Lanjut aja ngobr

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 145

    “Kamu hebat, udah tiga tahun aku nggak ngelakuin ini.””Hah?” Maya menopang tubuh dengan kedua siku, menatap Agus yang sedang membuang kondom ke tong sampah yang pria itu temukan di sudut kamar, “serius? Emang kamu bisa nahan sampe selama itu?””Aku nggak aktif-aktif banget ngelakuin ini,” Agus mengancing celananya dan duduk di tepi ranjang, menatap Maya yang masih telanjang, tangan Agus bergerak menarik selimut menutupi tubuh wanita itu.Maya tersenyum dengan cara pria itu menutupi tubuhnya, padahal mereka tadi menyatu dengan begitu liar dan sekarang Agus malah bersikap begitu sopan.”Mau pulang?” Maya menoleh pada Agus yang meraih kemejanya.”Iya.””Gus,” Maya menarik tangan Agus sambil menyibak selimutnya, “aku masih punya satu kondom lagi, kamu nggak mau pake?”Kemeja terlepas dari tangan Agus saat Maya menarik pria itu ke atas ranjang, tanpa membuang kesempatan, Agus membuka kembali celananya, bibir mereka saling bertaut, ciuman mereka sama liarnya,

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 4

    “Lo nggak ke apartemen gue, kan?” Naila memastikan Tere akan ke apartemennya atau tidak, karena kalau sahabatnya itu datang, rencana terpaksa berubah, Naila tidak bisa membiarkan Devan datang ke tempatnya. ”Nggak, Randi mau nginap di tempat gue,” jawab Tere sambil menunggu makanannya diantar. “Ken

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 2

    ”Shit!” Naila mengumpat lantang, Devan sudah berhasil melepaskan roknya, seluruh kancing kemejanya terbuka, memperlihatkan sepasang bukit kembar yang bagian branya juga sudah tidak terpasang sempurna, wanita itu mengenakan model bra dengan pengait di bagian depan, mempermudah Devan membukanya deng

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 1

    Xoxo: Tempat aku apa tempat kamu? Naila melirik ponsel yang menampilkan pop up chat dari seseorang, ia diam-diam membawa ponsel ke bawah meja untuk membuka chat yang masuk, setelah membaca sebaris kalimat itu, lirikannya melayang kepada si pengirim pesan yang kelihatannya sedang fokus mendengarkan

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 6

    Naila berdiri, keluar dari ruang meeting menuju ruang kerja Devan, ia mengetuk pintu dengan pelan. ”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam. Naila mendorong pintu. “Permisi, Pak.” ”Ada apa?” tanya Devan sambil sibuk menatap layar laptopnya. “Saya mau tanya soal desain yang barusan, salahnya di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status