Home / Romansa / Boss With Benefit / BOSS WITH BENEFIT - 4

Share

BOSS WITH BENEFIT - 4

Author: Pipit Chie
last update publish date: 2026-05-25 11:31:35

“Lo nggak ke apartemen gue, kan?” Naila memastikan Tere akan ke apartemennya atau tidak, karena kalau sahabatnya itu datang, rencana terpaksa berubah, Naila tidak bisa membiarkan Devan datang ke tempatnya.

”Nggak, Randi mau nginap di tempat gue,” jawab Tere sambil menunggu makanannya diantar. “Kenapa, sih? Dari tadi lo nanya itu mulu,” tanya Tere penasaran.

”Nggak, biar gue nggak syok kayak kemarin ngeliat ada yang make out di sofa gue, punya apartemen sendiri malah di tempat orang. Dasar nggak sopan!”

Tere tertawa tanpa merasa bersalah. “Tadinya dia nganterin gue doang, Nai. Sambil nunggu lo pulang, eh lo nggak pulang-pulang. Mula-mulanya make out lalu lama-lama, kok, enak? Makanya jadi—hahaha!” Tere tertawa saat Naila menoyor kepalanya.

“Parah, make out tanpa permisi di tempat orang."

”Ada angin apa si bos tadi ngasih masukan?” Gabriel tiba-tiba duduk sambil membawa piringnya.

”Tumben baik,” timpal Agus, ikut duduk di samping Naila.

”Nggak usah banyak bacot, udah dikasih arahan bukannya bersyukur malah pada ngomel, heran gue sama kalian.”

”Tapi aneh aja, Nai. Biasanya cuma bilang ‘pikir aja sendiri, kalian arsiteknya, kan?’ Lah, dia pikir dia bukan arsitek? Kadang-kadang pengen gue santet tapi nggak kenal dukun,” ujar Edo.

”Kenalnya cuma dukun beranak ‘kan, Do?” Tere tertawa.

”Itu juga Mas Edo ngutang sama dukunnya,” ledek Naila.

”Gila aja lo, ya kali bini gue beranak di dukun.” Edo meraih americano-nya, “tapi tetap kaget dia tiba-tiba jadi baik.”

”Berarti doa gue diijabah, doa orang teraniaya biasanya dikabulkan lebih cepat.” Agus menyeringai lebar.

”Tuhan juga ogah kali denger doa orang nggak pernah bersyukur kayak lo.”

”Tapi kalian jangan cepat puas dulu, selama yang gue tahu, si bos nggak pernah baik gitu aja,” ujar Naila. “Kita lihat aja sampai kapan dia baik ke kita. Menurut gue, bentar lagi juga bakal marah-marah kayak biasa.”

”Lo jangan gitu, dong. Ini mumpung kita semangat karena nggak diomelin tadi,” jawab Edo.

”Iya, Nai, malah nakutin.” Gabriel ikut angkat bicara.

Naila menghela napas sambil geleng-geleng kepala, sibuk menyuap sushi ke dalam mulutnya. “Terserah kalian,” ujarnya dengan mulut penuh.

”Lo makan sushi mulu, nggak bosan?” Agus menoleh ke piring Naila.

”Dia emang penggila sushi, lah elo makan soto mulu, nggak eneg?” balas Tere.

”Belajarlah dari soto. Walaupun terdiri dari banyak elemen, dia tetap menyatu dalam satu mangkok yang harmonis. Seperti kita semua.”

“Preeeet!” Semua temannya berteriak bersamaan, membuat Agus tertawa keras.

“Soto itu kayak hidup, kadang kuahnya bening, kadang keruh, tapi rasanya selalu bikin kangen,” sambung Edo tiba-tiba.

”Mabok lo, Mas?” Naila memandang bingung.

“Kuah soto itu seperti semangat hidup, harus terus mengalir biar semuanya terasa hangat.” Gabriel tiba-tiba ikut mengatakan kalimat random tentang soto.

Tere dan Naila saling berpandangan lalu keduanya mengerang jijik.

“Hidup tanpa soto itu—“

”Udah, udah!” Naila menutup mulut Agus dengan tisu, “lo makan aja nanti soto lo diembat Gaby.”

Agus tertawa sambil melirik Gabriel yang memang diam-diam mengincar mangkuk sotonya, pria itu berdehem cepat lalu mulai makan agar tidak direbut oleh Gabriel.

“Hai, guys, gue ikut gabung, boleh nggak?”

Semua mata tertuju pada seorang perempuan yang memegangi nampan berisi makanannya.

”Oh, Alexa, boleh, sini duduk di samping gue.” Gabriel menarikkan kursi untuk Alexa.

”Thanks.” Alexa tersenyum manis, “gue perhatiin kalian bareng terus setiap makan siang, seru banget.”

”Kenapa? Lo nggak punya temen?” tanya Tere sinis.

”Re, jahat bener.” Gabriel melotot.

Naila diam-diam menahan tawa sambil memasukkan sushi ke mulutnya.

”Duh, susah banget,” Alexa berusaha keras membuka tutup botol air mineralnya.

”Sini, gue bukain,” Agus mengambil alih botol itu dan membukanya dalam sekali gerakan.

”Thanks, keras banget soalnya.” Alexa tersenyum manis.

”Nggak sekalian lo suapin, Gus? Dia juga kayaknya susah mau pegang sendok karena kuku palsunya runcing banget.” Lagi-lagi Tere berujar sinis.

”Lo ada masalah sama gue, Re? Nggak suka gue duduk di sini? Kalau nggak suka nggak apa-apa, gue bisa cari meja lain.”

”Nggak usah dengerin dia, Lexa, lo duduk aja, dia emang begitu mulutnya. Pedesnya ngalahin gacoan level delapan.” Gabriel buru-buru menahan Alexa yang hendak berdiri, “Duduk aja, makan bareng.”

”Thanks, Gaby.” Alexa lagi-lagi memberikan senyum yang manis.

Tere membuat gelagat seperti akan muntah sementara Naila hanya tertawa saja. Sahabatnya itu memang sulit berpura-pura baik terhadap orang yang tidak disukainya.

”Makan siang lo sayuran doang?” Tere tidak tahan untuk bertanya.

”Iya, biasanya memang begini.”

”Sama dong kayak kambing peliharan engkong gue, cuma makan rumput doang. Sama-sama hijau kayak makanan lo.” Secara tidak langsung Tere mengatai Alexa seperti kambing.

Naila hampir tersedak oleh tawa dan sushi yang ada di dalam mulutnya, ia menyamarkan tawanya dengan batuk kecil, wanita itu meraih gelas ocha dan meminumnya sampai setengah.

“Minggu ini long weekend, kalian ada planing ngapain, guys?” Alexa bertanya sambil memasukkan salad ke dalam mulutnya, ia mengalihkan pembicaraan dan mengabaikan Tere sepenuhnya.

”Nggak ada, gue dikejar deadline, jadi bakal kerja di rumah,” jawab Agus.

”Gue ngurus anak,” sambung Edo.

”Gue mau ke Bandung, ketemu nyokap.” Gabriel ikut menjawab.

”Gue—“

”Kalau gue rencana mau Singapore, mau ketemu Opa.” Alexa menyela Tere sebelum wanita itu selesai bicara, membuat Tere memicing tajam.

Naila menendang kaki Tere di bawah meja, sejak awal Naila memang tidak berniat menjawab pertanyaan itu.

”Opa lo di Singapore?”

”Iya, stay di sana, sekarang udah jadi citizen Singapore, sih. Opa minta gue ikut stay di sana, tapi gue masih betah di Jakarta, masih suka kerja di sini.”

Naila dan Tere saling berpandangan sambil menahan raut jijik agar tidak terlalu kentara di wajah mereka.

”Cinta banget sama tanah air?”

“Dibilang cinta sih cinta, Gab. Cuma emang nyokap sama bokap gue masih sini, kecuali kalau mereka ikut pindah, gue juga bakal pindah.”

”Nggak nanya,” celetuk Tere.

Naila menopang dagu dengan telapak tangan, sudah menghabiskan sushi dan juga ocha-nya sejak tadi, ia menunggu Tere menghabiskan pastanya sebelum mereka kembali ke kantor. Kantin ini memang berada di gedung yang sama dengan kantor mereka, berada di lantai dua Renaldi Corp. Alexa masih sibuk menceritakan perihal keluarganya yang akan ke Singapore untuk bertemu sang kakek, mereka rutin mengunjungi Singapore satu bulan sekali—begitulah menurut cerita Alexa yang tidak begitu didengar oleh Naila karena ia sibuk berkirim pesan dengan Devan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - TAMAT

    Agus tertawa, membayangkan perempuan sunda satu itu mengucapkan satu kata dalam bahasa jawa dengan wajah menggemaskan, membuat Agus yang tadinya masih bisa menahan rindu, kini sulit menahannya lagi. Ia menghela napas panjang, memeluk bantal. Ia harus bertahan paling tidak sampai besok sore. Ternyata berjauhan dengan pacar rasanya tidak enak. Pantas saja Devan tidak mau pergi tanpa membawa istri dan anaknya ikut serta. “Woi, ngapain lo tidur? Kerja!” panggil Gabriel dari sofa. ”Capek, ngantuk.” ”Lo dibayar ke sini bukan buat tidur, gue laporin Pak Dev, nih.” ”Laporin aja sana!” ”Idih, mentang-mentang sekarang iparan sama bos, ngelunjak lo ya.” ”Gue mau tidur bentar, ngantuk banget. Selesaikan aja kerjaan lo habis itu balik ke kamar lo sendiri.” Agus menutup kepalanya dengan bantal saat Gabriel terus memanggil-manggilnya dari sofa. Besok sorenya Agus melangkah cepat keluar dari Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Ma

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 149

    ”Tunggu, kita nggak pake kondom, kalau kamu hamil, gimana?””Kamu mau tanggung jawab, nggak?””Pasti.””Ya udah, kalau aku hamil, kamu tanggung jawab.””Tapi yang aku pikirin, apa kamu siap jadi ibu?””Kamu siap nggak jadi ayah?””Siap. Umurku juga udah matang banget, aku siap jadi ayah. Aku siap nikahin kamu. Tapi takutnya kamu yang belum siap jadi ibu dan belum siap nikah sama aku.”Maya berbalik, menatap Agus dengan tatapan lembut.”Kalau aku hamil, kita nikah, punya anak. Aku siap.” Ia menaiki tubuh pria itu dan duduk di atas paha Agus. “Kamu juga udah kenal banget sama Papa dan aku juga udah kenal sama mama kamu. Aku juga udah kenal sama papa kamu dan Tante Mulan. Yang belum kenal cuma sama adik-adik kamu aja.””Nanti aku kenalin sama Naila dan Memei.””Ya udah, kalau gitu, kita khawatirin apa lagi?””Nggak hamil pun aku mau nikahin kamu.””Kebelet nikah, Mas? Takut jomblo sampai tua?”Agus tertawa, “nggak, udah ketemu yang ak

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 148

    ”Takut kamunya nggak suka.” Jari-jari Agus membelai pipi Maya. “Nggak mau dibilang memanfaatkan kamu yang masih patah hati—“”Idih, siapa juga yang masih patah hati,” Maya berjinjit untuk mencium Agus lagi, “udah nggak patah hati, tuh.”Agus tersenyum lebar, mereka terus berciuman tanpa henti, tubuh yang awalnya menggigil dingin kini terasa begitu hangat. Maya menyusupkan tangannya ke dalam baju Agus, merasai perut kotak-kotak pria itu dengan kedua tangannya. Keduanya terus saja saling menyentuh dan berciuman untuk menghangatkan diri.”Udah reda, apartemen aku lebih dekat,” ujar Agus memakaikan helm di kepala Maya. Mereka meninggalkan bengkel dan pulang ke apartemen Agus. “Mandi aja di dalam, aku mandi di luar,” ujar Agus mendorong Maya dengan lembut ke kamar mandi yang ada di kamar. Ia mengambilkan handuk dan juga sikat gigit baru untuk wanita itu.Maya tersenyum kecil, melihat pantulan dirinya di kaca, bibirnya bengkak, wajahnya merona dan dadanya berdebar keras. I

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 147

    Aldi menatap Agus yang memang lebih tinggi darinya. Dari fisik, jelas Aldi kalah. Agus memiliki tubuh berotot, rahang yang tegas dan ketampanan khas yang sangat cocok dengan kulit tan-nya. Sementara Aldi hanya pria kurus kering yang penampilannya urakan.”Gue nggak butuh duit lo!” geram Aldi.”Terima saja, Maya memberinya bukan buat kamu. Tapi buat anak kamu.”Agus menarik Maya menjauh, wanita itu tersenyum lebar sambil menatap Aldi dengan senyum kemenangan. Aldi lagi-lagi mengejar dan menyentak tangan Maya.”Aw!”Punggung Aldi membentur dinding dengan sangat kuat, satu tangan Agus mencengkeram lehernya begitu kuat.”Sekali lagi kamu kasari pacar saya. Saya bikin kamu sekarat.” Agus bicara dengan nada yang begitu tenang namun penuh ancaman. “Kamu ngerti?” Ia menguatkan cengkeramannya hingga Aldi kesulitan bernapas, pria kurus itu segera mengangguk, Agus melepaskannya dan kali ini merangkul pinggang Maya untuk membawanya menjauh.”Thanks,” bisik Maya memel

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 146

    ”Heh, gue aduin Robert kalau lo godain cowok lain.””Si Aa ganteng soalnya, bikin gue kesemsem. Kulit tan-nya itu loh, mana kayaknya berotot—“”Gue telepon Robert, nih?” ancam Maya.Esti tertawa, “si Aa kalem banget kayak mas-mas jawa impiannya si Maya.””Gue tabok juga nih,” geram Maya.”Mau adat jawa atau sunda, A? Pilih aja. Maya pasti ngikut aja.””Halo, Bert, bini lo di sini—“ ucapan Maya terhenti saat teleponnya direbut Esti. Ia menatap layarnya yang benar-benar terhubung dengan suaminya, “halo, Sayang, ini aku sama Maya di resto, Maya bawa cowoknya, kamu nggak usah cemburu, ya. Nanti kita ketemu di rumah. Dah, Sayang.”Maya menghela napas, menerima ponselnya. “Lo pilihin aja makanan yang enak buat gue dan Agus, asal jangan diracun.”Esti tertawa, “Aa suka makan pedes, nggak?””Nggak bisa,” jawab Agus pelan.”Ah, kalo si Teteh ini juaranya pedes, aku bikinin makanan yang nggak pedes, ya, A.””Iya, terima kasih.””Lanjut aja ngobr

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 145

    “Kamu hebat, udah tiga tahun aku nggak ngelakuin ini.””Hah?” Maya menopang tubuh dengan kedua siku, menatap Agus yang sedang membuang kondom ke tong sampah yang pria itu temukan di sudut kamar, “serius? Emang kamu bisa nahan sampe selama itu?””Aku nggak aktif-aktif banget ngelakuin ini,” Agus mengancing celananya dan duduk di tepi ranjang, menatap Maya yang masih telanjang, tangan Agus bergerak menarik selimut menutupi tubuh wanita itu.Maya tersenyum dengan cara pria itu menutupi tubuhnya, padahal mereka tadi menyatu dengan begitu liar dan sekarang Agus malah bersikap begitu sopan.”Mau pulang?” Maya menoleh pada Agus yang meraih kemejanya.”Iya.””Gus,” Maya menarik tangan Agus sambil menyibak selimutnya, “aku masih punya satu kondom lagi, kamu nggak mau pake?”Kemeja terlepas dari tangan Agus saat Maya menarik pria itu ke atas ranjang, tanpa membuang kesempatan, Agus membuka kembali celananya, bibir mereka saling bertaut, ciuman mereka sama liarnya,

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 6

    Naila berdiri, keluar dari ruang meeting menuju ruang kerja Devan, ia mengetuk pintu dengan pelan. ”Masuk!” Terdengar sahutan dari dalam. Naila mendorong pintu. “Permisi, Pak.” ”Ada apa?” tanya Devan sambil sibuk menatap layar laptopnya. “Saya mau tanya soal desain yang barusan, salahnya di

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 5

    Naila: Tok tok Xoxo: Hmm? Naila: Udah makan siang? Xoxo: Belum, sebentar lagi. Ada apa? Naila: Nanya aja kali, Pak. Xoxo: Kamu di mana? Naila: Kantin. Xoxo: Aku titip makanan. Naila: Dih, ogah. Sini aja turun sendiri. Males jadi babu. Xoxo: Aku sudah berbaik hati ngasih tim kamu m

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 3

    Naila sedang menunggu flat white-nya bersama Agus, Edo dan Gabriel. ”Gue nggak tidur mikir revisian semalaman, memang anjing tuh bos,” umpat Agus dengan wajah kusut. ”Yang nyuruh lo mikir semalaman siapa? Tidur, makanya,” sahut Naila. ”Masalahnya kalau proyek ini dilempar ke tim lain, hilang h

  • Boss With Benefit   BOSS WITH BENEFIT - 2

    ”Shit!” Naila mengumpat lantang, Devan sudah berhasil melepaskan roknya, seluruh kancing kemejanya terbuka, memperlihatkan sepasang bukit kembar yang bagian branya juga sudah tidak terpasang sempurna, wanita itu mengenakan model bra dengan pengait di bagian depan, mempermudah Devan membukanya deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status