LOGINOn the night of her first shift,18 years old Selina Williams is bound by the moon Goddess to Julian Harlow.The most feared Alpha in the entire North America. He refuses to reject her or complete the mating bond,instead he drags her into the Goldenville pack where the glowing “golden veil aura” publicly exposes every pulse of their unwanted connection. Trapped in a cage of cruelty,forced proximity and raw chemistry,Selina must survive the man who both destroys and defines her,until the bond that is meant to break them becomes the only power strong enough to save them both.
View More"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!"
Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar. Sementara Maudy, sang CEO yang merupakan bos di tempat Bayu bekerja, hanya bisa diam tertunduk melihat perilaku suaminya. “Ini… apa… maksudnya Pak Rio?” tanya Bayu ingin memperjelas maksud dari suami bosnya tersebut. “Kurang jelas? Uang dalam cek ini akan menjadi milikmu, jika kamu bisa menghamili istriku! Kamu punya tubuh yang bugar dan atletis, aku yakin benihmu juga bagus. Tapi, jangan sekali kali kamu berani buka mulut soal ini!” tegas Rio. Beberapa hari lalu, di sebuah rumah sakit, Rio dan Maudy terpaksa harus melakukan test kesuburan organ reproduksi mereka. Bukan tanpa sebab semua itu dilakukan, karena sudah hampir tiga tahun mereka menikah, tetapi belum juga memiliki keturunan. Awalnya Rio menolak hal tersebut, karena sebagai pria harga dirinya akan runtuh jika diketahui mandul. Apalagi, selama ini Rio juga punya masalah dengan organ reproduksinya yang tidak bisa tahan lama, sehingga Maudy sempat mengira bahwa suaminya yang bermasalah. Pada akhirnya Rio menyetujui pemeriksaan itu, tetapi dia memilih untuk berangkat sendiri tanpa Maudy. Karena Rio hanya ingin mendengar hasil pemeriksaan seorang diri. "Saya sudah meninjau hasilnya berulang kali, Pak Rio, dan hasilnya sama. Kondisi ini... bersifat permanen. Secara medis, Anda tidak akan bisa memiliki keturunan," terang Sang Dokter tanpa ada keraguan akan hasil tersebut. Dunia di sekitar Rio seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam dadanya, menyisakan sesak yang luar biasa. Namun, di balik rasa syok yang melumpuhkan, ada ketakutan lain yang jauh lebih dingin merayap di benaknya. "Permanen? Maksud Dokter, benar-benar tidak ada peluang untuk sembuh? Dengan cara Operasi misalnya? Atau terapi hormon?" tanya Rio untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dokter Gunawan menggeleng perlahan. "Maafkan saya. Kerusakannya sudah terlalu sistemik," jelas Sang Dokter. Rio menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke langit-langit ruangan. “Mampus aku!” batinnya berteriak. Bayangan wajah Ayahnya yang kaku dan penuh tuntutan langsung melintas. Ayahnya menuntut keturunan sebagai penerus bisnisnya. Rio meratap. Tanpa seorang anak, dia tidak mendapat hak apapun atas semua perushaan dan rumah mewah itu. Semua fasilitas mewah, mobil sport, dan posisi owner yang hampir digenggamnya kini terasa menguap begitu saja. Rio tidak bisa tinggal diam, dia harus mencari cara agar dia dan Maudy punya anak. Apapun caranya, Maudy harus hamil. Sehingga muncul rencana jahat di otaknya dengan menyewa laki laki untuk menghamili istrinya, yang nantinya akan dia akui sebagai anak kandungnya. Dan Bayu, adalah laki laki sial yang menerima tawaran itu. Bayu pun terdiam usai mendengar perintah konyol itu. Itu bukanlah perintah yang mudah diterima begitu saja. Tapi saat mendengar nominal uang lima ratus juta, mendadak dia teringat pada Ibunya. “Ibu butuh uang ini, tapi…. Tugas ini terlalu konyol!” gumam Bayu di dalam hati. Satu minggu yang lalu Ibunya Bayu terbaring di rumah sakit dengan diagnosa gagal ginjal. Untuk kesembuhannya, perlu dilakukan transplantasi ginjal yang tentunya membutuhkan biaya yang besar. Bayu hampir frustasi mencari biaya operasi senilai 125 juta, bahkan sudah menyerah dan mempersiapkan diri jika harus kehilangan Ibunya. Akan tetapi, mendadak ada yang menawarkan dirinya tugas dengan upah yang besar. Bahkan tugasnya bisa dibilang sebuah kenikmatan dunia. “Menghamili Bu Maudy? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak berani membayangkan lekuk tubuhnya, dan sekarang aku malah nyata nyata dibayar untuk menghamilinya? Apa aku sedang beemimpi?” gumam Bayu di dalam hati sambil menepuk pelan pipinya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Sementara itu, Rio bukan tipe orang yang mau menunggu. Dia juga bukan sedang memberikan Bayu tawaran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak bisa ditolak. “Terima atau angkat kaki dari perusahaan ini. Dan nama kamu telah diblacklist dimana pun. Tidak ada instansi yang bersedia menerima kamu!” gertak Rio, dan seketika membuat Bayu terpaksa menyetujuinya. Selain karena digertak, dia juga memang butuh uang itu. “Ba..baik Pak Rio. Sayaaaa… saya akan menerima tugas ini,” jawab Bayu dengan terbata bata. Setelah memberikan jawaban pada Rio, otak Bayu berkelana. "Main sama Bu Maudy? Kira kira seperti apa ya rasanya? Dari luar aja tubuhnya kelihatan putih dan mulus, gimana kalau dilihat dari dalam? Apalagi bayangin kalau dia sedang bergoyang diatas ku? Huuuuh, pasti seruuuu!" celetuk Bayu di dalam hati. Otak mesumnya sudah membayangkan seperti apa aksi Maudy di ranjang. Rio tersenyum lega mendengar jawaban Bayu. Sungguh berbeda dengan raut wajah Maudy tertunduk lesu. Masih belum bisa dia terima keputusan suaminya yang nekat menyewa laki laki untuk menghamilinya. Apalagi laki laki yang dia pilih adalah seorang OB. Sejenak Maudy mengangkat pandangannya, lalu sekilas memperhatikan penampilan Bayu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan sialnya, saat pandangan Maudy tepat di wajah Bayu, pandangan keduanya tepat bertemu. Maudy segera membuang pandangan, sementara Bayu kembali menundukkan kepala. Tetapi, OB beruntung itu masih menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya. “Kenapa pandangan Bu Maudy padaku berbeda dari sebelumnya? Apa, jangan jangan dia sudah mulai tergoda denganku? Karena kan sebenarnya aku ini lebih ganteng dari pada suaminya, badanku juga lebih berotot dari pada Pak Rio yang kerempeng. Bisa jadi itunya juga kecil…” Bayu terkekeh membayangkan isi otaknya yang liar. Bahkan dia masih melanjutkan pikiran konyolnya itu “Setelah melihat fisik ku, pasti Bu Maudy sudah membayangkan aksi hebatku di ranjang. Sayangnya aja nasibku buruk harus pakai seragam OB ini. Coba kalau aku pakai jas dan sepatu kayak Pak Rio, pasti semua wanita tergila gila padaku.. Hahahahhahahah!” Bayu makin berbangga diri dengan fisiknya. Akan tetapi dengan cepat dia membuyarkan lamunannya itu agar tidak menimbulkan masalah dengan bosnya. Meski dia tergoda dengan tubuh Maudy, tetapi dia tetap harus sadar diri dan menghormati bosnya tersebut. Dan sebelum dia meninggalkan ruangan, Bayu menanyakan sesuatu kepada bosnya. “Maaf Pak Rio, apa saya boleh menanyakan sesuatu? “Katakan,” “Di dalam tugas ini, apa ada aturan tertentu yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dilanggar?” “Maksud kamu?” Rio balik bertanya dengan kening mengerut. “Emm, maksud saya. Apakah dalam melaksanakan tugas nanti, saya boleh memakai banyak gaya dengan durasi yang lama?” tanya Bayu dengan pelan dan sedikit ragu. Dan hal itu seketika membuat Rio dan Maudy membulatkan kedua bola mata mereka ke arah Bayu. Di satu sisi Maudy terkejut dengan kata kata Bayu. “Banyak gaya dan durasi lama”. Karena selama ini Maudy belum pernah merasakannya bersama dengan Rio. Sementara Rio sendiri, dia merasa tersindir dengan pertanyaan itu karena belum sampai mencoba banyak gaya, dia sudah tumpah duluan. “Jangan macam macam! Tugasmu hanya membuat istri saya hamil, jangan pikirkan hal lain!” bentak Rio sembari menggebrak meja di depannya hingga membuat Bayu gemetar. Tetapi dengan polosnya dia masih lanjut bertanya. “Maaf Pak Rio jika pertanyaan saya tadi lancang. Tapi jujur, saya tadi serius bertanya. Dalam melaksanakan tugas saya nanti, saya boleh pakai gaya apa saja? Takutnya, saya lancang dan tidak sopan.” Rio menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menahan diri. Dia tidak tau apakah Bayu benar benar bertanya atau sedang menyindirnya. “Kurang ajaarr! Anak ini kayaknya sengaja nyindir aku. Tapi nggak mungkin. Mungkin dia memang benar benar bertanya. Lagian soal ini kan hanya aku dan Maudy yang tahu. OB ini nggak mungkin tau kalau aku gak tahan lama dan gak bisa banyak gaya!”My father called for another test the next morning. He wanted to understand the fragment’s reaction to Cesar under controlled conditions, the same way we had tested Elara’s fragment days before.I was not looking forward to it.We gathered in the small chamber again. My father, Julian, Cesar, and me. Elara had asked to be present too, claiming she wanted to understand the third fragment better, though I suspected she simply wanted to watch.Julian stood close to me the entire time, his hand resting on my lower back like he needed the contact to stay calm.“We will start slow,” my father said. “Cesar, take three steps toward Selina and stop.”Cesar nodded and crossed the room carefully. I felt the fragment stir as the distance closed, a low hum building in my chest. He stopped exactly three steps away, and the hum settled into something steady, almost comfortable.“How does that feel?” my father asked me.“Manageable,” I said. “Like background noise.”“Cesar?”“The same,” he said. “Qui
Julian led me away from the courtyard without speaking. We walked through the side corridor until we reached our room, and only then did he turn to face me.“What was that,” he said. His voice was tight, controlled in the way that meant he was working hard to keep it that way.“What was what?”“You and Cesar. Standing there. Talking like…” He stopped himself and exhaled hard. “Like there was something between you.”“Julian,you saw how the fragment reacted. We were only trying to understand it.”“That is not what I saw.” He paced to the window and back. “I saw the way he looked at you. I saw the way you looked back. Do not tell me that was just about the fragment.”I felt my own temper rise to meet his. “Are you accusing me of something?”“No.” He stopped pacing and faced me directly. “I am telling you how it felt to watch my mate stand close to a stranger and have something pass between you that I could not touch.”The words landed harder than I expected. I thought of Elara, of the we
The morning after the vision, the pack gates opened for a visitor.I was crossing the courtyard with Julian when Hector came striding toward us, a wide smile on his face I had not seen from him before.“My nephew is here,” he said. “Cesar. He has been traveling for two years. I did not expect him until next month.”Julian raised an eyebrow. “The wanderer finally comes home.”“He always did things on his own schedule,” Hector said, already turning to walk toward the gate. “Come. You should meet him.”I followed, the fragment inside me strangely still, like it was holding its breath.The gate opened and a man stepped through leading a tired horse. He was tall and handsome with dark hair pulled back and a travel cloak dusted with road dirt. He looked around the compound with the calm attention of someone used to walking into unfamiliar places.Then his eyes found me.The fragment inside my chest exploded.I gasped and grabbed Julian’s arm. Pain shot through my ribs, sharp and sudden, lik
Two days passed.Elara kept her distance. She still came to meals. She still trained in the yard. But she did not seek me out and she did not seek Julian out either. She moved through the pack like someone working something out in her head.I tried not to watch her too closely. It was hard.The fragment inside me stayed quiet most of the time. But every so often, usually at night, it stirred. Not painfully. Just a slow turning, like it was trying to remember something.On the third night it woke me up completely.I sat up in bed gasping. Julian woke instantly beside me, his hand already on my arm.“Selina. What is it?”“I do not know.” My chest felt tight. Not from pain. From pressure. Like the fragment was pushing against something from the inside. “It feels different tonight.”“Different how?”“Like it wants out.”Julian was already pulling on a shirt. “I am getting your father.”My father arrived within minutes, hair messy, eyes sharp despite the hour. He sat on the edge of the bed
I woke up with a start, heart racing before my eyes even opened. The thin ceremony dress still clung to my body, wrinkled and smelling of the night before. My back pressed against cool sheets on a massive bed that definitely wasn’t mine. The room felt too big, too quiet, and far too cold.I looked
“Smile, girl. Tonight the Goddess will make you someone else’s problem.”My father’s voice hit like a slap. I forced my mouth into a smile even as my stomach knotted tight. Eighteen years of being the beta’s quiet, forgettable daughter, and this night was meant to fix everything. The mating ceremon
Rhoda found me before breakfast.I was moving through the main corridor toward the east hall when she appeared from a side passage like she had been waiting there, which she probably had. She fell into step beside me smoothly, the way someone does when they want the interaction to look accidental t
Morning light slipped gently through the window, soft and quiet, stretching across the floor in thin golden lines. The room felt still, almost too still, like time itself was holding its breath. I had barely settled into the silence, barely gathered my thoughts from the restless night before, when












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.