Mag-log inThalia Sinclair never thought her quiet admiration for Asher Vaughn Caldwell would lead to marriage. He was the golden boy of their youth, and she was a shadow in the crowd. Years later, an unexpected reunion, one night, and a life-changing twist brought them together in a marriage without love. She thought their story was over when she asked for a divorce—until the day she saw the storm in his eyes. Could it be that the man who seemed so distant had been hiding his true feelings all along?
view moreZeva meraup udara di sekitar. Dia mengedarkan pandangan, merasa mimpi dirinya bisa terbebas dari jeruji besi yang mengekang hidupnya selama ini. Hal pertama yang dia ingin lakukan selepas dari tahanan adalah, memeluk seorang wanita. Lima tahun dipenjara membuat dia kehilangan kesempatan itu.
Namun, wanita mana yang bisa dia peluk? Statusnya sebagai mantan napi membuat dia ragu untuk menjalin hubungan serius. Prasangka buruk itu semakin menjadi saat dia mencoba menghubungi mantan kekasihnya Savana, tapi Savana menolak walau hanya sekadar bertemu.
Zeva memasukan kembali ponsel yang sempat dia buka barusan. Nomer Savana masih yang lama, masih bisa dihubungi. Namun wanita itu sudah berubah sejak Zeva ditangkap oleh polisi. Bagi Zeva, prilakuan Savana masuk akal karena wanita mana yang mau menjadi kekasih seorang pria yang sudah menghabiskan masa mudanya di tahanan. Kecuali, wanita tersebut sama brengseknya dengan dirinya.
Zeva tidak pulang ke rumah. Meskipun sudah bebas tapi rumah seperti di neraka, ketika dia mengingat dua saudara kandungnya sudah berhasil membuat orang tua bangga dengan gelar dan pekerjaan yang baik. Dia hanya akan jadi sampah di antara dua berlian yang bersinar.
Bermodal tidak tahu diri dan tak tahu malu, Zeva dengan lancang menumpang di rumah Leon yang ukurannya kecil jika dibanding dengan rumah ayahnya. Namun, karena dia sudah terbiasa di hidup di penjara, tidak menjadi masalah walau tinggal di kontrakan yang sempit. Toh, hanya sementara, sebelum dirinya dapat tempat tinggal sendiri.
"Lagi ngapain Bang Zev? Serius amat!" tanya Leon sambil diam-diam mengamati mantan bos besarnya dulu mengutak-atik ponsel.
"Lagi cari yang open BO!"
Leon mendengus. "Bapak kasih uang bukannya buat cari kerja 'kan? Bukan nyari PSK!"
Zeva tidak menjawab. Dia berjanji akan pulang ke rumah jika sudah bekerja. Entahlah, dia sendiri bingung cari kerja ke mana gara-gara sempat menjadi napi. Dia malas menulis lamaran karena merasa akan sia-sia juga. Sementara, dirinya pun tidak diijinkan masuk ke perusahaan ayahnya dengan alasan sering membuat ulah dan masalah.
"Susah juga ya, cari wanita malam," celetuk Zeva.
"Susah apanya? Di ibukota banyak banget PSK."
"Susah, karena rata-rata mukanya gak sesuai dengan imajinasi gua."
Leon memberanikan diri mengintip ponsel Zeva, hanya untuk melihat wanita yang menawarkan diri via medsos di aplikasi kencan. "Cantik-cantik, kok."
"Iya, cantik. Tapi wajahnya ngeselin."
Leon berpikir keras, tapi tetap saja dia bingung wajah yang ngeselin itu seperti apa. "Ya sudah, Bang. Saat hubungan jangan lihat wajahnya aja. Yang penting badannya sexy 'kan?"
"Gak bisa, gua harus lihat wajahnya jelas."
Begadang sampai lewat tengah malam hanya untuk mencari wanita bayaran yang sesuai dengan imajinasinya. Akhirnya Zeva mendapatkan satu yang sesuai. Lalu akhirnya Zeva mulai mengirim WA karena tertera nomer WA langsung di situ.
"Open BO? Fix jadi besok malam."
"Maaf, saya sudah gak open BO. Maaf postingannya belum sempat dihapus."
"Besok malam, fix. Please."
Zeva mengumpat, mengabsen nama kebun binatang di tengah malam yang sunyi. Beberapa kali Leon terperanjat dari tidurnya karena mendengar suara Zeva yang gaduh. Untungnya, Leon berhasil tidur lagi.
Dia tidak menyerah, terus membujuk wanita degan nama akun Vianca. Tentu saja dengan taktik jitu buaya darat yang dia miliki, karena dia takut malah diblokir jika memperlihatkan sifat asli dirinya yang tempramen.
Zeva menulis pesan teks untuk kesekian kalinya. Hingga menawar tinggi. "Gua bisa bayar lo berkali lipat. Serius gua tertarik banget sama lo."
Wanita itu tidak membalas. Dan Zeva tidak suka penolakan wanita yang bernama Vianca itu. Baginya penolakan itu adalah penghinaan besar. Zeva lantas mengirim pesan kembali, untuk terakhir kali di malam ini.
"Vianca, save nomer gua! Siapa tahu lo butuh bantuan gua kapan-kapan."
Komunikasi mereka berakhir malam itu. Zeva pun tidak mencari wanita lain karena dia hanya ingin Vianca. Wanita yang masih kalah cantik dibanding dengan mantan Zeva. Vianca tidak secantik Savana, hanya saja wajahnya sesuai dengan imajinasi yang Zeva inginkan, menenangkan hati dengan senyuman yang tulus.
Tentu saja imajinasi seperti itu sangat sulit didapatkan Zeva, karena pada umumnya penampilan wanita malam itu glamor dan menantang.
***Zeva sudah mengantongi setiap medsos Vianca baik F*, IG, maupun Tiktok. Dia meminta bantuan Leon untuk mendapatkannya. Setiap hari dia melihat postingan Vianca, sambil berharap Vianca akan kena musibah dan memilih menjual diri kembali, tapi sudah satu bulan berlalu nampaknya Vianca hidup dengan biasa-biasa saja.
Hingga akhirnya, dia melihat status WA wanita incarannya itu memasang emoticon menangis. Zeva akhirnya memilih untuk mengirim pesan.
"Hallo Vianca! Kenapa statusnya sedih gitu?"
"Lagi ada masalah aja."
Zeva tersenyum, dia tidak berani bertanya blak-blakan untuk menghindari pemblokiran nomer. Hanya saja, dia sangat berharap bahwa Vianca mendapat kesulitan keuangan, dan tidak bisa mendapat jalan keluar selain menyerahkan diri pada dekapan Zeva.
Zeva mengirim pesan kembali."Sesuai janji gua sama lo, lo bisa minta bantuan sama gua dalam hal apa pun. Emang ada masalah apa? Cerita aja."
"Lagi pusing aja, belum dapat pekerjaan," balas Vianca.
"Sabar aja, nanti juga dapat. Jangan dulu putus asa."
Sebenarnya, Zeva juga pengangguran 'kan? Tapi melalui harta ayahnya Zeva tidak terlalu khawatir. Dia hanya tinggal bilang belum ada pekerjaan yang cocok, nanti akan dikirim uang oleh ayahnya. Lain halnya dengan Vianca yang tidak memiliki nasib sebagus Zeva. Walau sudah setengah mati kirim lamaran dan mengikuti berbagai tes. Tapi akhirnya gagal juga, kalah dengan orang yang bawa uang untuk menyogok pekerjaan.
Vianca selalu mendapat nilai tes yang sempurna. Baik tes tulisan maupun interview. Namun saat akan medical cek up biasanya tidak ada kejelasan. Dan tahu-tahu, orang yang sudah gagal interview sudah diterima di perusahaan tersebut. Vianca tahu, orang itu punya orang dalam sementara dirinya tidak. Dia sering melamun karena hal itu.
Vianca akhirnya mengeluarkan unek-unek pada pria yang baru saja dia kenal lewat chat. "Saya kesal, gara-gara gak ada uang sogokan jadi susah cari kerja."
"Lo bisa kerja kaya dulu lagi, Vi."
"Enggak, ah. Capek kaya gitu terus."
"Lo tenang aja! Gua akan lakuinnya pelan-pelan. Jadi nanti gak bakal cape."
"Astaga! Bukan itu maksudnya. Maksud saya, cape hidup gak berkah terus." Vianca membalas chat Zeva dengan menambahkan emoticon wajah datar yang banyak.
Zeva terkekeh atas balasan Vianca yang membuat layar ponselnya dipenuhi emoticon tersebut. "Sementara aja, Vi! Sambil cari pekerjaan, open BO lagi aja, nanti gampang bisa tutup lagi 'kan? Please, jangan dulu taubat!"
Zeva menatap layar ponsel, tidak ada balasan lagi dari Vianca. Untuk pertama kalinya Zeva merasa bodoh menunggu balasan sampai tidak bisa menjauhkan mata dari layar ponsel seperti ini. Dan ini sangat menyiksa batinnya. Dia hanya ingin bersenang-senang tapi kenapa harus seribet ini.
Mata Zeva membulat saat ada notifikasi masuk dari Vianca. Nyaris saja ponsel di tangannya dia lempar karena terlalu senang. Harapannya tidak musnah, karena Vianca setuju untuk diajak bertemu.
Zeva merasa puas dengan kebodohan Vianca. Dia membaca kembali pesan wanita itu.
"Saya bersedia bertemu, tapi mau dikasih bayaran 7 kali lipat. Maaf, soalnya nyogok kerja jaman sekarang gak ada yang murah, semuanya seakan mencekik leher. Boleh 7 kali lipat?"
"Fix! Tapi syarat dan ketentuan berlaku kalau mau 7 kali lipat. Jangan pernah mau lagi layani pria lagi selain gua."
Habang nasa biyahe sina Thalia at Nathan papunta sa kabilang siyudad, tahimik lang si Thalia, nakatingin sa labas ng bintana. Kahit anong gawin niya, hindi niya maalis sa isip ang nangyari kanina sa opisina—lalo na ang presensya ni Asher.Nang makita niya itong personal na iniabot ang tseke, para siyang binuhusan ng malamig na tubig. Walang kahit isang salita ang lumabas sa bibig nila. Alam niyang wala na siyang karapatang umasa, pero bakit ganoon kasakit?Napansin ni Nathan ang pananahimik ni Thalia kaya nagdesisyon siyang magpatawa. "Uy, Thalia, mukha kang nawalan ng dalawang milyon ah. Sabagay, literal naman talaga!" sabay tawa niya.Napangiti si Thalia nang bahagya pero hindi ito tumagal. "Hindi ko inasahan na siya mismo ang mag-aabot ng tseke," mahina niyang sabi."Kaya nga nagulat din ako," sagot ni Nathan. "Pero at least, tapos na ‘yan. Nakuha mo na ‘yung dapat sa’yo. Iwanan mo na sa nakaraan."Tumango lang si Thalia pero hindi siya sigurado kung kaya niyang gawin iyon. Mas lal
Kakatapos lang ng call at biglang kumatok si Nathan sa pintuan ni Thalia. Malakas ang pagkatok niya, na para bang nagmamadali o may mahalagang sasabihin."Thalia, bumangon ka na! Kailangan natin umalis ngayon din," sigaw niya mula sa labas.Medyo groggy pang binuksan ni Thalia ang pinto, suot ang simpleng oversized na t-shirt at pajama. "Ano bang problema? Para namang may nangyayaring masama," reklamo niya habang hinihikab.Napakamot sa batok si Nathan at diretsong sinabi, "Ngayon na pala ibibigay ang compensation mula sa kontrata. Kailangan nating pumunta agad."Nanlaki ang mata ni Thalia at biglang napawi ang antok niya. "Ha? Akala ko ba sa susunod na linggo pa ‘yon?""Hindi na raw. Pinapapunta na tayo ngayon sa opisina para kunin."Napakurap si Thalia at unti-unting napuno ng kaba ang dibdib niya. "Nandun ba si Asher?"Saglit na tumigil si Nathan bago umiling. "Wala raw," sagot niya, pero may kung anong hindi siya sigurado sa sinabi niya.Napabuntong-hininga si Thalia at tumango. "
Tahimik na pumasok si Nathan sa kusina at kumuha ng baso ng tubig. Saglit siyang tumigil, tila nag-iisip kung paano magsisimula."Alam mo, Thalia, hindi ko madalas ikwento 'to sa iba," panimula niya habang iniikot ang tubig sa baso. "Pero since ikaw naman ang nagbukas ng puso mo sa'kin, siguro panahon na para ibahagi ko rin ‘yung sa akin."Napatingin si Thalia sa kanya, nag-aabang."Lumaki akong hindi talaga marangya ang buhay. Sa totoo lang, mahirap lang kami noon," pag-amin ni Nathan. "Tatlo kaming magkakapatid, at ako ang panganay. Hindi madali ang buhay dahil simula pagkabata, kinailangan kong tumulong sa mga magulang ko. Madalas, ako ang tagabantay ng mga kapatid ko habang si Mama at Papa nagtatrabaho."Tahimik na nakikinig si Thalia, nakatuon ang pansin sa kanya."Madalas akong mabugbog noon," patuloy ni Nathan, bahagyang napangiti na tila sinusubukang gawing magaan ang usapan. "Alam mo na, lumaki ako sa isang lugar na hindi ka dapat nagpapakita ng kahinaan. Konting mali, suntok
Habang nakaupo sa sofa at naghahati ng fried chicken, sinimulan nilang panoorin ang pelikulang pinili ni Nathan. Isa itong action-comedy film na puno ng eksena ng habulan, suntukan, at mga eksaheradong reaksyon ng mga tauhan.Nagsimula nang lumubog si Thalia sa kwento, pero hindi niya mapigilan ang sarili na maalala ang mga nangyari sa kanya at kay Asher.Sa eksena kung saan nagkaroon ng matinding dramang pagtatapat ang dalawang bida, biglang sumingit sa isip ni Thalia ang mga huling sandali nila ni Asher—ang mga yakap nito, ang pag-aalaga, at ang sakit ng pagkakatuklas niya sa lihim nitong tinatago.Napalunok siya at hindi mapakali. Pakiramdam niya ay naiinitan siya kahit hindi naman ganoon kainit sa loob ng bahay."Mainit," mahina niyang sabi sabay tayo. Kinuha niya ang unan sa gilid at niyakap iyon, saka lumipat ng upuan sa malapit sa bentilador.Hindi ito pinansin ni Nathan noong una, pero nang mapansing medyo tahimik si Thalia, iniligay nito ang plato at tinapik ang braso niya. "
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
RebyuMore