LOGINIsolde Callen has always been different…hidden among humans, untouched by the Moon Mark that turns her kind into Lycans. But when her twin sister, Alara, is left in a coma after a brutal attack, Isolde is forced into a world of danger, power, and primal desire. The only clue to the attacker? One name: Cairos Veylan. Alpha. Ruthless. Deadly. And utterly intoxicating. From the moment she steps into his territory, he dominates her world…testing her limits, challenging her courage, and igniting a forbidden fire she never knew existed. Every glance, every touch, every whispered command leaves her trembling… torn between vengeance and desire. Isolde came seeking answers. She found heat, danger, and a hunger she can’t resist. Some bonds are deadly. Some desires are irresistible. And some alphas… will break you completely.
View More"Kamu senang jadi janda dua kali?"
Tadinya berniat mendiamkan semua omelan Ibu, aku terpaksa menoleh karena mendengar kalimat tadi. Gila. Tega sekali wanita yang sudah melahirkan aku itu berkata demikian?Memang, siapa yang suka jadi janda? Dua kali pula? Terlebih bukan janda yang ditinggal mati? Agak lain Ibuku ini.Jadi, hari ini Ibu dan Inara pulang dari luar negeri. Agenda tiap bulan, mengantar anak kesayangannya, si Inara itu untuk berobat. Kebetulan, pas mereka pulang, aku lagi ada di rumah. Bertemulah kami.Bukannya bertanya kabar, minimal bertanya habis berapa juta aku untuk biaya perceraian yang putusannya baru keluar dua hari lalu, Ibu malah marah-marah ndak jelas.Tadinya, sumpah, aku ingin diam saja. Sadar diri karena nantinya akan menumpang lagi di rumah Ibu, sudah kuputuskan untuk menerima saja semua wejangan wanita itu. Akan aku tahan apa pun yang dia katakan.Mau dibilang tak becus jadi istri, terlalu banyak tingkah jadi perempuan, sampai tuduhan selingkuh kalau perlu, aku sudah berjanji akan menerimanya dengan hati lapang, selapang-lapangnya. Namun, sungguh, kalimat barusan sama sekali enggak kuantisipasi.Tega sekali, ya, mengatai anak sendiri begitu. Menuduh aku senang karena sudah jadi janda dua kali. Wah, aku sampai enggak punya tenaga untuk geleng-geleng takjub karena terlampau terperangah."Kamu ini maunya apa, sih, Anesya? Mau sampai kapan kamu begini? Apa susahnya serius sama hidupmu sendiri?"Ibu sudah akan meraih lenganku, mungkin akan ia lipat-lipat, sampai suara Inara terdengar. Perempuan lemah lembut dengan kemeja coklat itu mencegah Ibu menyentuhku."Buk, sudahlah. Jangan terlalu keras sama Kak Nesya. Dia pasti masih sedih sekarang.""Sedih apanya? Kamu tidak lihat dia bisa makan keripik?" Ibu menunjuk keripik di pangkuanku.Aku langsung mengerutkan dahi. "Memangnya kalau baru cerai, enggak boleh makan keripik? Orang sedih pantang makan keripik? Ini keripik malang bener jadi barang terlarang?"Kulihat Ibu sudah akan membuka mulut. Mungkin, kali ini bukan cuma akan mengeluarkan kalimat panjang penuh amarah, Ibuku itu juga akan mengeluarkan semburan api. Jadi, aku buru-buru menyela.Aku berdiri, menaruh kedua tangan di depan wajah, alhasil plastik keripikku jatuh berserakan di karpet. Haduh! Sayangnya."Kan jatuh!" sungutku menyalahkan Ibu."Anesya!" Ibu memekik murka, aku langsung balik kanan, lalu kabur ke kamar.Nanti saja dilanjutkan makan keripiknya, setelah suasana lebih aman. Lagipula, sepertinya aku masih menyimpan dua bungkus keripik pisang rasa coklat di kamar. Sengaja kubeli banyak kemarin, setelah pulang dari pengadilan.Pintar, 'kan, aku?***Sejak tadi ponselku terus berdenting. Ingat tak punya urusan pekerjaan selama beberapa hari ke depan, aku mengabaikannya. Namun, makin dibiarkan dia malah makin menjadi.Malas-malasan aku bangun dari ranjang. Tak lupa melipat halaman buku novel yang sejak tadi kubaca, kemudian meraih ponsel. Banyak sekali pesan masuk."Oalasu!" Aku mengumpat kencang.Ini Inara kurang kerjaan atau gimana? Kenapa mengirimi banyak sekali pesan? Dia kan masih di rumah Ibu?Kubaca deretan pesan yang datang itu. Kebanyakan pertanyaan soal kondisiku, Inara agaknya mengalami gejala amnesia. Dia yang punya sakit jantung, kenapa malah sok cemas pada kondisiku? Aku ini manusia kuat. Dipukul pakai ikat pinggang saja aku enggak mati.Salah satu pesannya bertanya soal kapan aku datang ke rumahnya. Heleh! Banyak sekali energi wanita ini sampai memikirkan sesuatu yang remeh-temeh begini. Memang di rumahnya ada apa?Ada kamar tidur? Di sini juga ada. Di kamar kosku juga ada. Semua yang ada di rumahnya pasti juga ada di rumah Ibu. Ah, satu yang pasti ada di sana, tetapi enggak ada di mana pun.Si Gatan. Si gatal. Sianjing!Suasana hatiku jadi buruk, segera kulempar ponsel itu ke kasur. Lanjut rebahan, lanjut baca-baca. Peduli apa sama pesannya Inara?"Kak Anes?"Aku menaruh buku di atas wajah, lalu menggelepar bersemangat. Ketukan dan panggil di pintu makin sering, rasanya aku ingin mengunyah orang hidup-hidup.Apa Inara saja yang kukunyah?"Apa?" tanyaku sedang senyum kuda usai membukakan pintu untuk Inara.Perempuan dengan bulu mata lentik itu tersenyum. Ululu, manis sekali. Benar juga, ya. Dia lebih mirip Ibu daripada aku. Bulu mataku enggak lentik, tetapi lurus macam habis direbonding."Kakak udah makan? Inara buatkan mi, turun, yuk. Makan sama Inara."Wajah cantik, senyum manis, perangai dan tutur kata sempurna, penuh sopan santun. Aku mengangguk-angguk di tempat. Pantas banyak cowok yang tegila-gila pada Inara ini, ya? Pantas semua cowok yang kutaksir atau dekat denganku, akhirnya lebih memilih dia."Enggak, ah. Aku kenyang." Pintu sudah kudorong, tetapi Inara menahannya dengan tangan.Kalau enggak ingat dia ini ringkih sejak kecil, aku mungkin akan mendorong lebih kuat. Biar tangannya terjepit sekalian. Namun, enggaklah. Nanti bisa kena penjara. Ibu bisa ngamuk-ngamuk, ngatain aku udah janda dua kali, masuk bui pula.Akhirnya aku manut diajak turun ke meja makan. Kami makan, Inara sibuk berceloteh. Dia menerangkan soal perkembangan kondisinya di pembukaan."Doain, Kak. Semoga Inara nggak perlu operasi lagi."Aku mengangguk saja. Sebenarnya, enggak perlu dia kasih tahu, aku juga bakalan dapat info dari Ibu. Ibu kan enggak pernah absen memberitahu aku. Katanya, biar aku update perkembangan Inara dan seandainya Inara butuh bantuan aku siap sedia.Aku curiga Ibu melakukan itu untuk menyuruhku bersiap-siap siapa tahu Inara butuh mengambil jantungku untuk dicangkok.Selanjutnya, Inara cerita soal suaminya. Di sepanjang topik itu, aku menunduk ke arah mangkuk mi. Meresapi rasa kuah dan mi sebaik-baiknya, berusaha mendistorsipikiran dari ocehan Inara.Bukan apa-apa. Aku, tuh, sensitif sama topik itu. Aku dan suaminya Inara enggak akur. Jadi, sepet kalau dengar berita soal dia. Sialnya, Inara membutuhkan waktu hampir 20 menit untuk menceritakan suaminya. Aku hampir buang air besar di celana karenanya."Kak," panggil Inara sesudah beberapa saat diam.Aku menengok dengan wajah lempeng."Kapan Kakak main ke rumahku? Sekali aja, Kak. Inara juga pengen kayak adik-adik yang lain. Dikunjungin Kakaknya."Kepalaku mengangguk cepat."Serius, Kak. Jangan nunda-nunda lagi. Inara udah menikah empat tahun, tapi sekali pun Kakak belum pernah nginjak rumahku."Kali ini wajah ramahku hilang. Alisku mengait. "Memang, sepenting apa aku nginjak rumahmu? Apa urgensinya?"Senyum Inara tampak sedih. Aku curiga sebentar lagi dia akan menangis. Haduh, segera kupakai sandal rumah. Harus bersiap untuk kabur, kalau-kalau Ibu datang ke sini. Aku bisa dituduh sudah membuat anak kesayangannya menangis.Padahal, aku enggak salah apa-apa."Inara butuh yakin kalau Kakak nggak benci Inara lagi, setelah permintaan terakhir yang pernah kubuat waktu itu.""Bohong banget aku enggak benci kamu?" sahutku tanpa menutup-nutupi.Dia mengangguk, masih dengan senyum yang kelihatan enggak lepas. "Maafnya Inara belum cukup?""Aku bencinya dulu. Sekarang udah enggak. Udah biasa aja." Aku meneguk air dari gelas. Rasanya ingin cepat-cepat mengakhiri percakapan ini."Inara akan percaya itu, kalau Kakak datang ke rumahku. Jadi, Inara tunggu, Kak. Datanglah ke rumah, biar Inara bisa ngehapus rasa bersalah ke Kakak."ISOLDES POVMy breath came out shaky.“I don’t know how to control anything!” I snapped. “I just got here .. I don’t know what this is!”“That doesn’t matter,” Cairos said, steady, unshaken even with that thing right in front of him. “It’s already part of you.”“I didn’t sign up for this!”“No one does.”“Great!”The thing moved again.Not fast this time.Slow. Careful.It was studying me now instead of attacking.Its head tilted slightly.“…There you are,” it whispered.A chill ran down my spine.“What does that mean?” I asked, my voice smaller now.It didn’t answer me.Instead, it took one step closer.And the air between us warped.I felt it again— That pull.But different this time.Not dragging. Calling.Like it expected me to come to it.My body leaned forward slightly before I even realized it.“No—” I caught myself quickly, stepping back. “Nope. Not happening.”Cairos’ voice came low behind me. “Don’t resist it like that.”I turned to him sharply. “Which one do you want me to
ISOLDES POVMy breath came out uneven.I couldn’t look away.His eyes… They were the same.The same red I saw this morning.The same red I thought I imagined.Except now.. I wasn’t imagining anything.“…You lied,” I whispered.Cairos didn’t answer immediately.His gaze stayed locked on the thing on the stairs, his body tense, like he was holding something back.“I didn’t lie,” he said finally, voice low. “I just didn’t tell you everything.”“That’s the same thing!” I snapped, my heart racing.The thing laughed again.“She’s mad…mad at you…”“Shut up!” I yelled, my voice cracking now.My head was spinning.Nothing made sense anymore.Alara. The hospital.This town. Him.Everything felt like it was breaking apart at the same time.“Isolde,” Cairos said, sharper now. “Focus.”“Don’t tell me to focus!” I shot back. “You’ve been hiding things from me since I got here!”“And you haven’t?” he fired back instantly.That shut me up.For half a second.Because he was right.The thing took anoth
ISOLDES POVMy chest felt tight. Too tight.Like breathing was becoming go hard to do.“What is it?” I asked again, louder this time. “What the hell is that thing?!”Anna didn’t look at me. Her hands stayed raised, voice still moving through those strange words.Cairos answered instead.Low. Careful.“…It’s not supposed to have a form.”I blinked. “That’s your answer?!”“It means,” he continued, eyes fixed on the thing, “it’s using something it knows you’ll respond to.”My stomach twisted.Alara.Of course.The thing on the stairs smiled again…like it heard every thought in my head.“You miss me,” it said softly.My breath hitched.“No,” I whispered, shaking my head. “You’re not her.”It tilted its head slightly.“Then why did you call me?”I clenched my fists. “I didn’t call you!”“You did,” it said gently. “You always do.”A sharp crack split through the room again.Another stone at the base of the stairs fractured.Anna’s voice faltered for half a second. “Cairos—!”“I see it,” he
ISOLDES POVThe moment the words left my mouth, the air shifted again.Not just heavy this time…Like it was about devour everything in its way..The whisper from the stairs changed.It wasn’t soft anymore.It sharpened.Like it had heard me.Like it felt me.“Oh God…” I breathed, my chest tightening painfully.Cairos moved closer instantly, his voice low and urgent. “Don’t panic.”“I’m not panicking,” I said quickly. “I’m just… very aware that something up there wants me!”“Not helping,” Anna snapped, her voice rising as her hands moved faster, tracing symbols in the air.The runes flared brighter under our feet.The pull inside my chest intensified.It hurt now.Like something was tugging at a thread tied deep inside me, trying to pull it loose.I gasped softly, my body tensing. “It’s… it’s pulling harder—”“I know,” Cairos said, stepping even closer. His hand hovered near my arm like he wanted to grab me but was holding himself back. “Stay with me, Isolde. Focus on me.”I looked at
ISOLDE POVWhat the hell was that? My hand stayed pressed to my chest as I stared outside, trying to catch my breath. Where had all those birds come from? My heart still thumped like it was trying to escape my ribs.I shook my head, forcing myself to focus. I step back into the house carefully, my
ISOLDE POVI swallowed hard, my fingers tightening by side.“Spanish?” I frowned, looking at him. “What do you mean Spanish? Why would I say the password in Spanish?”He dragged a hand down his face and let out a long, tired sigh, like I was testing the last bit of his patience.“Español,” he said
ISOLDE POV“Who are you,” he said slowly, his voice low and dangerous, “and why are you asking for Blackthorn Lane?”I just stared at him, swallowing hard. I couldn’t let him see how much I hated him. How much fear and anger churned in me.I forced myself to stand, forcing a smile that felt unnatur
ISOLDE POVMorning came slowly, gray and cold, slipping through the trees at the edge of Ravenmoor. I blinked against the weak sunlight streaming through the windshield. My body still ached from the night before.I hadn’t really slept. I spent the night awake, gripping the wheel, listening for sou






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.