Share

4. Beban Hidup

"Apa! Ayah akan menikah lagi?!"

Enam bulan telah berlalu, belum sembuh rasa trauma yang dirasa Evelyn. Kini Evelyn harus mendengarkan kabar buruk. Kabar buruk yang disampaikan oleh Ibunya sendiri tentang sang Ayah.

Amanda mengangguk pelan, "iya, sayang. Ayahmu akan menikah lagi."

"Lalu, kenapa Ibu memberitahuku akan hal itu?!"

"Ayahmu meminta Ibu untuk memberitahukan padamu juga Kakakmu, Elying. Ayahmu menyuruhmu untuk datang ke acara pernikahannya," jelas Amanda.

"Tidak!!!" teriak Evelyn, "aku tidak akan pernah datang ke acara pernikahan dia!" lanjut Evelyn.

Evelyn benar-benar menolak tawaran untuk hadir di acara pernikahan Ayahnya. Dia masih enggan untuk bertemu dengan Ayahnya ataupun bertatap muka langsung. Ya, Evelyn masih merasakan rasa sakit di hatinya. Dia benar-benar muak dengan Ayahnya sendiri. Amanda pun tidak bisa memaksakan kehendak kedua anaknya tersebut. Elying pun menolak undangan tersebut, dan sekarang gilirannya untuk memilih. Apakah wanita cantik itu akan datang ke acara pernikahan mantan suaminya. Bahkan permasalahan hak asuh Elying dan Evelyn masih di perdebatkan antara Amanda dan Anthony.

Tak heran jika Evelyn sangat tertekan, berbanding terbalik dengan Elying, gadis 15 tahun itu masih bisa mengalihkan permasalahan yang sedang dia hadapi. Sama halnya dengan Evelyn, sebenarnya Elying juga merasa tertekan dengan perceraian kedua orang tuanya, tapi Elying sangat pintar menutupinya.

"Bagaimana, Bu?" tanya Elying tiba-tiba.

Amanda merespon dengan menggelengkan kepalanya, "adikmu tidak mau datang ke acara pernikahan Ayahnya."

"Aku 'kan sudah memberitahukan ini pada Ibu," Elying membenarkan dan menjelaskan pada Ibunya, kalau Evelyn memang benar-benar sudah tidak ingin melihat Anthony, atau bahkan hanya sekedar bertemu.

"Lalu apa Ibu akan datang memenuhi undangannya?"

"Tidak!" ucap Amanda tegas. "Ibu tidak akan datang ke acara pernikahan Ayahmu!"

Elying menatap wanita berparas cantik di depannya. Ya, wanita dengan rambut blonde, bermata biru tersebut adalah Ibunya. Terlihat sangat jelas di raut wajahnya, masih ada rasa kecewa terhadap Anthony. Namun, Amanda sudah mulai menatap hati dan kehidupannya mulai dari awal. Kini, dia lebih fokus pada Elying dan Evelyn, tapi tak dipungkiri juga jika dia ingin seperti dulu mengejar karier dia.

__***__

Matahari telah kembali ke sarangnya, malam pun tiba menghampiri sebagian belahan dunia. Malam yang tampak cerah, bulan tampak menerangi langit malam itu, di temani bintang-bintang yang bertebaran di langit. Evelyn yang tengah duduk di balkon menyandarkan kepalanya pada sebuah kursi kayu. Kepalanya mendongak ke atas menatap gemerlapnya bintang-bintang di langit malam.

"Indahnya ...." Evelyn berdecak kagum. Sorot matanya tak lepas dari sebuah bintang yang  nampak berkedip-kedip.

"Aku ingin bebas ...." lirihnya. "Apakah aku bisa bebas?" lanjut Evelyn. Entah apa yang sedang dipikirkan Evelyn saat itu. Dia seperti terlihat putus asa.

"Aku ingin seperti kupu-kupu. Bisa terbang kesana kemarin tanpa beban masalah,"

Evelyn tak sadar, jika butiran bening mengalir dari pelupuk matanya. Entah terlihat tertekan  atau apa, tapi Evelyn benar-benar terlihat sangat menyedihkan ketika sedang duduk seorang diri. Mungkin Evelyn sedang berpikir masalah yang sedang terjadi dalam keluarganya. Dia memang masih muda, tapi sudah dihadapkan dengan masalah yang begitu besar. Ya, mungkin itulah beban hidup Evelyn.

Beban hidup merupakan hal yang tak bisa dihindari selama kita masih bernapas di muka bumi. Kita perlu menerima kesedihan yang dirasakan sembari merencanakan hal-hal yang bisa dikendalikan selanjutnya. Jika perlu, menemui ahli kejiwaan tentu dapat membantu. Hidup merupakan perjuangan dengan banyak kerikil ataupun duri yang tajam. Terkadang, beban hidup begitu menghimpit dan membuat kita tertatih-tatih dalam melangkah di lini masa kehidupan. Perlu diingat bahwa mustahil rasanya seseorang memiliki hidup yang datar tanpa hambatan. Untuk itu, ada beberapa kiat untuk meminimalkan luka akibat beban hidup yang menghimpit. Semua orang pasti memiliki mimpi-mimpi yang sangat ingin digapai. Namun, perjalanan untuk menggapai mimpi tersebut terkadang tidaklah mulus seperti yang diharapkan. Hal itu bisa memunculkan berbagai beban hidup yang bisa saja memiliki memberatkan.

Oleh karena itu, antisipasi yang harus dilakukan adalah melatih diri untuk dapat menerima segala beban hidup yang akan datang. Tidak perlu cara yang rumit, hal sepele pun sangat bisa membantumu dalam mengentaskan beban yang ada di hidupmu.

Merelakan yang harus direlakan. Ketika dirimu bisa menerima apapun keburukan yang harus kau hadapi, maka tidak akan ada beban hidup yang membelenggu hatimu. Kau hanya akan dihadapkan oleh rasa ikhlas yang begitu mendalam meskipun hal tersebut bisa saja menyakitimu. Ikhlas dalam menghadapinya dan harus bisa mengontrol diri, mungkin  hanya itu satu-satunya jalan. Akan tetapi, jangan sampai beban hidupmu itu membuatmu semakin lemah. Beban hidup bisa berasal dari mana saja dan kapan saja. Hal paling mendasar yang dapat menyebabkan beban hidup adalah sebuah kekecewaan begitu mendalam terhadap sesuatu. Sesuatu yang begitu dekat dan nyata. Nyata karena ada di depan mata dan benar-benar membekas dalam pikiran. Oleh karena itu, hal yang harus dilakukan adalah merelakan dan menerima apa yang telah terjadi. Namun, tidak semua orang bisa merelakan atau menerimanya.

Evelyn mengusap air mata yang mengalir, termenung sesaat, memikirkan apa yang sedang dia pikirkan. Evelyn bertekad, kelak dia ingin lebih baik dari orang tuanya. Namun, rasa sakit yang dia rasa ketika teringat akan kelakuan Ayahnya terhadap Ibunya. Evelyn terlihat sangat membenci Ayahnya. Evelyn menurunkan kakinya ke lantai, beranjak dari kursi kayu, dan kembali ke masuk ke dalam kamarnya. Setelah menutup pintu balkon, Evelyn melangkah dan duduk di depan sebuah cermin. Menatap dirinya sendiri dalam pantulan cermin yang ada di depannya. Tiba-tiba, Evelyn tersenyum sendiri.

"Aku tidak mau seperti Ibu!" ucapnya, "dan aku pun tidak mau seperti Ayah!" lanjutnya.

Evelyn mendadak tertawa sendiri, dia seperti mengajak bicara pada dirinya sendiri yang terpantul dicermin.

"Apa kau mau terus hidup seperti ini?" tanya pada gambar yang terpantul dicermin. "Kalau aku, aku tidak mau hidup seperti itu!" ucapnya tersenyum dengan tatapan aneh.

Evelyn begitu sangat asyik bercengkerama sendiri, selayaknya dia sedang curhat dengan seseorang. Terkadang dia tersenyum sendiri, tapi terkadang tiba-tiba dia menangis.

Evelyn memang berbeda dengan Elying. Keduanya memang sama-sama cantik, tapi Elying cenderung lebih penurut daripada Evelyn. Kebalikannya, Evelyn terlihat keras kepala. Kedua sama-sama ceria, tapi semenjak kedua orang tuanya sering bertengkar, Elying dan Evelyn berubah. Ini terlihat jelas dari Evelyn yang sering murung dan suka menjawab dengan asal.

Sebuah ketukan pintu membuat Evelyn tersentak kaget, setelah itu terdengar suara Nenek Pamela memanggil-manggil namanya.

"Evelyn, apa kau sudah tidur?" teriak nenek Pamela sembari mengetuk pintu kamar Evelyn.

Di dalam kamar, tampak Evelyn berjalan berjingkat-jingkat pelan menuju ranjang tidurnya ketika mendengar suara neneknya di balik pintu. Evelyn menyibakkan selimut, lalu naik ke atas ranjangnya.

"Aku harus pura-pura tidur, agar Nenek tidak menceramahiku lagi!" Evelyn merebahkan tubuhnya dan menarik selimutnya.

"Eveee ...." teriaknya lagi berusaha memastikan bahwa Evelyn sudah tidur. Teriakan ketiga kalinya, tidak ada jawaban atau respon dari Evelyn.

"Mungkin memang, anak itu sudah tidur," ucap nenek Pamela. "Aku sebenarnya sangat mengkhawatirkan mentalnya!" Terlihat jelas, bahwa nenek Pamela sangat mengkhawatirkan cucunya tersebut. Namun, wanita tua itupun hanya bisa menasihati Elying dan Evelyn. Terutama Evelyn yang memang masih membutuhkan perhatian extra.

Nenek Pamela memutar kenop pintu kamar Evelyn yang memang tidak dikunci dari dalam. Wanita tua tersebut masuk ke dalam kamar Evelyn, melangkah mendekati ranjang, dan duduk di tepi ranjang. Tangan keriputnya terulur menyentuh pipi Evelyn dan membelai rambutnya.

“Haruskan anak di usia seperti Evelyn ini menanggung beban hidup yang di akibatkan oleh kedua orang tuanya. Nenek akan merawatmu, Eve!” Pamela mendekatkan wajahnya, kemudian dia mencium lembut pipi Evelyn.

“Nenek hanya bisa berpesan, jangan sampai kau salah dalam mengambil keputusan untuk masa depanmu kelak,” sambungnya.

Pamela bukan menyalahkan anak semata wayangnya yang bernama Amanda, karena dia sudah gagal dalam berumah tangga. Pamela tak ingin kelak, jika Elying dan Evelyn dewasa akan mengalami hal serupa. Akan tetapi, alur hidup tidak ada yang mengetahui. Roda kehidupan terus berputar, kadang ada di atas, kadang juga berada di bawah. Semua akan mengalaminya, layaknya air yang pasang surut. Pamela beranjak dari ranjang tempat Evelyn terbaring, wanita 70 tahun itu melangkah keluar, menutup pintu, dan beralih ke arah pintu kamar yang berada di sebelah kamarnya. Pamela melangkah mendekat dan masuk ke dalam kamar tersebut. Dia melihat Amanda dan Elying sudah tertidur dengan pulasnya, dia menutup kembali pintu tersebut. Sesaat dia termenung, setelah itu dia kembali masuk ke dalam kamarnya.

Evelyn kembali membuka mata saat mengetahui sang Nenek telah pergi. Evelyn bangkit dari tidurnya, menyandarkan kepalanya di headboard, tampak Evelyn meresapi kata-kata Neneknya tadi.

“Aku tahu Nenek sangat menyayangiku, tapi disini akulah yang menentukan masa depanku. Aku pun juga tidak ingin seperti Ibu,” ucapnya lirih.

“Seandainya mereka tahu apa yang aku rasakan, aku juga masih membutuhkan kasih sayang dari seorang Ayah, tapi aku sangat membencinya!” 

Kembali Evelyn merasa sangat sedih, mengingat dia masih membutuhkan figur seorang Ayah.

“Sebenarnya, aku juga tidak ingin Ayah dan Ibu berpisah, tapi ini semua sudah keputusan mereka berdua,” 

Namun, disisi lain Evelyn juga membenci Ayahnya. Pria itu sering pulang dalam keadaan mabuk, bahkan kadang suka bermain kasar pada Ibunya. Adegan demi adegan kekerasan kerap dilihat Evelyn. Masih terekam dengan jelas di kepala Evelyn kejadian-kejadian tersebut. Bahkan Evelyn sering menjadi bahan bullyan di sekolahnya. Tempat keluh kesahnya hanya pada sang Nenek, karena itu Evelyn lebih betah tinggal dengan Neneknya. 

Evelyn kembali membaringkan badannya, dia memang sudah sangat ingin tidur. Namun, matanya tidak mau terpejamkan. Dalam pikirannya terlintas sesuatu. Sesuatu yang membuat berpikir jauh ke sana, entah kemana?

“Kau pasti bisa, Eve! Kau harus berjuang, kau tidak sendirian disini. Aku yakin, kau pasti bisa!” Evelyn menyemangati dirinya sendiri.

Hidup dipenuhi oleh banyak beban rasanya memang begitu berat, harus bisa menghadapi masalah demi masalah dalam hidup yang tidak pernah selesai. Setiap hari beban yang ada pun semakin besar dan itupun tidak semua orang mampu menghadapinya. Pikiran juga kadang terasa buntu saat mencari solusi dari setiap masalah. Bahkan ada yang sampai depresi dan mengakhiri hidupnya.

Itulah yang sedang dirasakan oleh Evelyn. Masalah yang dia alami berasal dari orang tuanya sendiri. Namun, mereka berdua tidak menyadarinya jika anak-anaknya yang menderita. Tapi itu semua sudah terjadi, bagaikan nasi sudah menjadi bubur, memutar balikkan waktu pun tidak bisa. 

Evelyn yang malang harus berusaha untuk tegar. Beruntung dia mempunyai nenek yang begitu sangat memperhatikan dia.

To be continue,

 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status