Beranda / Romansa / Broken Flower / 68. Grassiela mission

Share

68. Grassiela mission

Penulis: Ikabelatrix
last update Tanggal publikasi: 2024-08-14 21:41:12
Pagi itu, sinar matahari lembut menyusup di antara dedaunan hijau, menciptakan bayangan yang menari-nari di atas meja bulat tempat Grassiela duduk. Di hadapannya, piring-piring kecil berisi beragam makanan khas Italia tersaji menggugah selera, aroma kopi espresso yang kuat menguar di udara. Namun, meski sarapan begitu melimpah, Grassiela menikmati semua hidangan tersebut sendirian, mengabaikan orang-orang yang tampak sibuk di sekitarnya.

Dia melirik sekilas ke arah James, suaminya, yang tampak
Ikabelatrix

Pokoknya kalau ada apa2 James yg tanggung jawab. "Kenapa kau selalu menyukai permainan yang berbahaya?" "Maksudmu, seperti pernikahan ini?" Aku suka bagian itu.. wkwk

| 2
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Broken Flower   Ekstra Part - At the Journey’s End

    Matahari pagi menembus kaca tinggi manor Gluzenskov, memantul di lantai marmer yang berkilau. Di aula utama, langkah para pelayan bergema pelan, sibuk dengan rutinitas harian—seorang menata vas bunga segar, yang lain menyusun peralatan makan perak di meja makan. Aroma masakan lezat tercium samar dari dapur.Grassiela turun perlahan dari tangga besar sambil menggendong bayi mungil yang kini berusia tujuh bulan—putra kecilnya yang memegang mainan untuk digigit.Para pelayan yang berpapasan berhenti sejenak, membungkuk hormat, lalu tersenyum kecil melihat pemandangan lembut itu. Sosok nyonya mereka yang dulu hanya dikenal anggun dan dingin, kini tampak hangat dengan bayi di dekapannya.“Selamat pagi, Nyonya,” sapa Mrs. Runova, kepala pelayan, terdengar. Wanita paruh baya itu melangkah mendekat sambil menyerahkan sebuah baki perak. Di atasnya, tertata rapi amplop-amplop bersegel mewah, sebagian bertinta emas. “Undangan untuk anda.”Grassiela mena

  • Broken Flower   133. Love Reclaimed - Ending

    Hamparan salju membentang luas, putih, sunyi, tak terjamah. Di tengah dinginnya udara pagi yang menusuk tulang di Zermatt, dunia seakan berhenti. Di tengah lanskap itu, Grassiela berdiri mengenakan gaun panjang berwarna putih bersih yang membalut tubuhnya dengan anggun. Setiap embusan angin membuat gaunnya berayun perlahan, seperti tarian yang halus. Rambut caramelnya digerai alami, sebagian berhias jepit berkilau sederhana. Pipinya sedikit memerah karena dingin, membuat kecantikannya justru semakin nyata. Dia berdiri sendirian, menatap ke kejauhan. Di sana, seseorang terlihat berjalan mendekat. James muncul dari balik kabut salju. Pakaian hitam pekat yang dikenakannya kontras dengan putihnya dunia, seolah ia adalah bayangan yang datang untuk menghisap cahaya. Jas panjangnya jatuh rapi, dengan kemeja dan dasi hitam yang membuatnya tampak seperti figur otoritas yang tak tergoyahkan. Rambut hitamnya sedikit berantakan diterpa angin, namun sorot mata kelabunya tetap tajam, penuh tekad.

  • Broken Flower   132. Embrace in Zermatt

    Matahari musim dingin memantul di salju yang berkilau, pemandangan Matterhorn tampak anggun dari jendela kamar suite mereka. Grassiela baru terbangun, tubuhnya masih terasa hangat di balik selimut tebal. Ia menoleh, tempat di sebelahnya kosong. Dari balik bulu mata lentiknya, ia dapat melihat James berdiri di balkon, mantel tidurnya terikat rapi, siluetnya tegap di bawah cahaya siang. Ponsel masih di tangannya, layar menyala redup—menandakan panggilan baru saja berakhir. Grassiela menggeliat, meraih selimut dan membungkus tubuhnya, lalu melangkah keluar ke balkon. Angin dingin menusuk kulitnya, namun ia lebih fokus pada ekspresi James yang serius. “Ada apa?” suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh desir angin Alpen. James menoleh padanya. “Kau sudah bangun?" Dia melirik sekilas. "Hanya soal bisnis,” ujarnya menepis pikiran yang semula rumit. Diam-diam Grassiela menelan salivanya, mengingat bahwa bisnis James kacau akibat ulahnya. Setelah ia membongkar bisnis ilegal itu, sebagian bes

  • Broken Flower   131. Shattered Control

    Suasana pagi di dalam chalet terasa lebih ramai dari biasanya. Para pelayan berlalu-lalang menyiapkan koper, sementara perawat sibuk memakaikan mantel hangat pada bayi mungil yang tersenyum di dalam boks bayi.Di kamar utama, seorang dokter sedang memeriksa Grassiela yang duduk bersandar di ranjang, dia masih terlihat pucat namun lebih tenang daripada semalam.James berdiri di samping ranjang dengan ekspresi serius, tangannya dilipat, matanya mengawasi setiap gerakan dokter.Tak lama kemudian, pintu kamar diketuk pelan.Helena muncul terlebih dahulu, disusul Alfonso di belakangnya. Keduanya mengenakan pakaian musim dingin, siap untuk pergi.“Grace…” Helena tersenyum lembut, mendekati ranjang dan menggenggam tangan putrinya, “kami berangkat dulu, ya?”Grassiela menatap mereka, sedikit terkejut. “Kalian… jadi pergi sekarang?”Alfonso mengangguk. “Kami hanya pergi ke bawah, ke lembah. Udara di sana lebih hangat dan cuc

  • Broken Flower   130. Shattered Affection

    Salju terus jatuh perlahan―halus dan membungkam. Di bawah langit malam Zermatt yang gelap dan membeku, James hanya berdiri terpaku. Ucapan Grassiela menggema di kepalanya, menusuk lebih dalam daripada peluru manapun yang pernah ia terima.Grassiela memeluk dirinya sendiri, menggigil bukan hanya karena dingin… tapi oleh sakit di dalam dadanya.“Cukup…” suaranya pecah di udara beku. “Aku… tak tahan lagi.”James membuka mulutnya, tapi tak ada satu kata pun keluar. Tatapannya penuh syok dan penyesalan saat mencermati wajah istrinya yang berlinang air mata.Grassiela menghapus air mata dengan punggung tangannya, namun tangis itu tak henti mengalir. “Aku tidak bisa terus bersamamu," bisiknya. “Setiap kali kau melakukan kekejaman… setiap kali kau menghukum seseorang… dan terlebih karena aku... semua itu membuatku merasa bersalah.”Ia menunduk, bahunya bergetar. “Membuatku frustasi karena dosa yang tidak kulakukan sendiri.”Air mata jatu

  • Broken Flower   129. Cruel Affection

    "Aku merindukan saat kita bersama."Ucapan James yang tenang dan dalam, membuat hati Grassiela terasa mencelos.Grassiela memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan gugup yang mulai merayap di tubuhnya.“Itu hanya dugaanmu,” ujarnya, nadanya terdengar lebih seperti pembelaan. Ia meletakkan nampan di atas meja kerja yang dipenuhi berkas.James menatapnya, mengamati setiap gerakan istrinya. “Ucapan terima kasih… sambil membawa kopi hangat dan sandwich buatan sendiri?” suaranya rendah, namun mengandung nada menggoda dan percaya diri.Grassiela tak menjawab. Ia sibuk merapikan lipatan rok tidurnya, menghindari tatapan James. Suasana ruangan diselimuti keheningan yang menegangkan.Perlahan James berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di belakangnya. Napas hangatnya menyentuh tengkuk Grassiela.“Kau datang ke sini karena kau merindukanku, kan?” bisiknya, nada suaranya tenang tapi penuh keyakinan.Grassiela

  • Broken Flower   70. Queen and a monster

    Paolo mengemudikan mobil dengan cepat melewati jalan-jalan kota yang mulai sepi. Di sampingnya, Grassiela duduk dengan mata terfokus ke depan, seolah-olah mencoba menembus kegelapan malam untuk menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Di dalam hatinya, ada kegelisahan yang sulit diabaikan.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Broken Flower   71. Game over

    Di sebuah ruangan redup dengan cahaya dari perapian yang hangat, James yang dikenal sebagai ahli strategi dengan otak tajam, duduk di ujung meja panjang, wajahnya tegang namun penuh determinasi. Alexsei, Fausto, dan Paolo duduk di sekelilingnya, memperhatikan dengan saksama peta yang terbentang d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Broken Flower   72. Long journey

    Setelah tubuh Borsellino tumbang, suasana menjadi semakin kacau. Para tamu mulai berdesakan untuk melarikan diri. James segera memberi sinyal kepada Fausto dan Alexsei untuk segera meninggalkan tempat itu, sementara dia sendiri mulai mundur ke arah pintu. Alexsei membuka akses agar James dapat kemba

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Broken Flower   69. Night shadows

    Kelab malam elit itu berkilauan dengan gemerlap lampu dan musik yang menggelegar. Para tamu yang berkelas, berpakaian mewah dan anggun, menikmati malam mereka tanpa tahu apa yang akan segera terjadi. Di tengah keramaian, sebuah kelompok yang tak dikenal bergerak dengan tenang. Mereka mengenakan paka

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status