เข้าสู่ระบบAudrey mengira semuanya akan berjalan mudah setelah berhasil membuat Erlan terdiam. Ia hanya perlu bertahan sampai pesta pertunangan itu selesai, kemudian pulang bersama Nareza. Setelah itu, ia bisa kembali menjalani hidup seperti biasa tanpa harus memikirkan tatapan orang-orang yang sejak tadi sibuk memperhatikan mereka.
Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Baru beberapa langkah meninggalkan Erlan, Audrey sudah dihampiri beberapa kenalan lama. Mereka datang dengan senyum penuh rasa ingin tahu, tetapi tatapan mereka tidak pernah benar-benar lepas dari Nareza. "Audrey!" Audrey menoleh dan menemukan dua orang teman lama dari masa kuliahnya berdiri di hadapan mereka. "Ternyata benar-benar kau!" seru salah seorang dari mereka. "Aku kira kau tidak akan datang hingga aku mengira kau orang lain." Audrey tersenyum sopan dan melambaikan tangannya. "Hai, semua, aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian di sini.” "Kau datang bersama pria yang sangat tampan, apalagi kau begitu cantik hari ini, Erlan pasti menyesal sudah bercerai denganmu," kata yang lainnya lagi. Audrey hampir tersedak mendengar pujian itu. Sementara itu, Nareza justru tampak santai seolah tidak terganggu sedikitpun. Temannya itu langsung mengalihkan perhatian kepada Nareza. "Ini siapa, Re? Aku tidak pernah melihatnya sebelum ini. Apa dia pacarmu yang baru?" tanyanya setengah berbisik di akhir kalimat. Audrey sempat membuka mulut, tetapi Nareza lebih dulu mengulurkan tangan. "Nareza, pacar Audrey. Senang bertemu denganmu." "Oh, ya, senang juga bertemu denganmu." Wanita itu menjabat tangannya sambil tersenyum lebar. "Pacarnya Audrey? Sudah berapa lama kalian berhubungan?" Audrey sempat melirik Nareza. Pria muda itu juga menoleh kepadanya, seolah sedang menunggu jawaban yang harus mereka sepakati. Akhirnya Audrey tersenyum. "Iya, dia memang pacarku." Jawaban singkat itu langsung disambut tatapan antusias. "Sejak kapan kau memulai hubungan baru, Re? Apa setelah bercerai dengan Erlan? Aku tidak menyangka kau akan begitu cepat memulai hubungan baru." “Iya, jika aku jadi kau. Aku akan menangis dan mengurung diri di dalam kamar. Tapi kau dan Erlan memang unik, belum genap sebulan kalian bercerai, kalian sudah menggandeng pasangan baru.” Audrey mulai merasa kepalanya berdenyut saat mendengar celotehan kedua teman kuliahnya itu, sementara Nareza yang berdiri di sampingnya terlihat menahan tawa. "Kau menjadi buah bibir di pesta pertunangan mantan suamimu. Coba bayangkan apa yang akan dipikirkan dia jika tahu tamu-tamunya lebih melirikmu dibandingkan dengannya,” bisik Nareza pelan. Audrey hanya mampu tersenyum kaku saat melihat Nareza yang menahan tawa, seolah-olah kisah asmaranya adalah candaan bagi pria itu. Audrey segera mencubit lengannya pelan. Nareza menoleh. "Auw, kenapa kau mencubitku?" "Jangan tersenyum atau aku akan memotong bayaranmu nanti," bisik Audrey setengah mengancam. "Aku tidak tersenyum." Nareza menegakkan punggungnya. "Kau tersenyum tadi. Ingat, ya, kau harus bersikap profesional. Jangan membuatku malu." Nareza kemudian berdehem pelan, lalu menatap Audrey. “Sayang, seperti kau lelah. Bagaimana jika kita pulang sekarang?” tanyanya sambil mengusap pipi Audrey dengan lembut dan tersenyum hangat. Audrey yang terkejut dengan sikap manis Nareza yang tiba-tiba itu mendadak terasa canggung sementara dua orang wanita di hadapan mereka tertawa. "Ya ampun! Dia romantis sekali! Audrey, kau sangat beruntung." Audrey ikut tersenyum, meskipun dalam hati ingin sekali menginjak kaki Nareza. Pria ini benar-benar mulai keterlaluan. Mereka akhirnya berhasil melepaskan diri setelah beberapa menit menjawab pertanyaan yang menurut Audrey terlalu pribadi. Begitu sampai di area yang lebih sepi, Audrey langsung melepaskan tangannya dari lengan Nareza. "Kau sengaja, ya?" Nareza mengangkat alis. "Sengaja apa? Kau sendiri yang memintaku untuk bersikap profesional." "Kau sengaja bersikap seperti itu di hadapan mereka." "Aku hanya bersikap profesional, bertindak seperti pacar yang amat mencintai kekasihnya," balas Nareza santai. "Tetap saja, kau seharusnya memberitahuku dulu.” Nareza menahan tawa. "Baiklah, Sayang?" ledeknya, puas melihat Audrey menahan kesal karena sikapnya. "Sudah cukup!" Audrey membalikkan badan berniat untuk pergi, tetapi langkahnya terhenti. Ia segera membalikkan badan menghadap Nareza.” Audrey hendak membuka mulut, tetapi tidak menemukan kata yang tepat untuk membalas. Nareza tersenyum puas. “Kenapa? Mau protes? Aku sudah bertindak profesional seperti permintaanmu.” Audrey memutar mata. "Tidak, aku hanya ingin mengingatkanmu untuk terlalu terbawa peran." "Aku justru sedang menjalankan peranku,” balas Nareza santai sambil mengedikkan bahunya. Audrey menatapnya tajam. "Bagus jika kau paham, jalankan peranmu dengan normal." "Baik, Nona." Audrey hendak berjalan pergi ketika Nareza tiba-tiba memanggilnya. "Audrey." "Apa lagi?" Nareza menunjuk ke arah tangan Audrey. Ia mengikuti arah pandangannya dan baru menyadari bahwa sejak tadi tangannya masih menggenggam tangan Nareza. Entah kapan ia melakukannya. Nareza tertawa kecil sementara Audrey kemudian memilih berdiri di dekat meja minuman. Ia mengambil segelas air putih dan meneguknya perlahan. Dari tempat itu, ia bisa melihat hampir seluruh ruangan. Erlan sedang berbicara dengan beberapa tamu, sementara Melissa berdiri di sampingnya. Wanita itu tampak cantik malam ini. Gaun yang dikenakannya terlihat elegan, rambutnya ditata dengan rapi, dan senyum di wajahnya tidak pernah benar-benar hilang. Audrey menatap mereka beberapa saat. Tidak ada rasa sakit yang dulu pernah ia rasakan. Tidak ada keinginan untuk berada di posisi Melissa ataupun berharap agar Erlan membatalkan pertunangannya. Anehnya, yang muncul justru rasa lega. Mungkin memang benar. Audrey sudah melepaskan Erlan. Hanya saja, harga dirinya yang membuatnya datang ke tempat ini. "Kau terus saja melihatnya. Apa kau masih mencintainya?" Suara Nareza membuat Audrey langsung menoleh. "Aku tidak melihat siapa-siapa,” sahutnya ketus. Nareza berdiri di sampingnya. "Jelas-jelas kau menatap mantan suamimu itu dari tadi," katanya sambil mengambil segelas jus dan meminumnya. "Aku hanya kebetulan melihat ke arah sana." Audrey mengelak, ia tak boleh membiarkan Nareza menang. "Padahal tak apa-apa jika kau ingin mengakui perasaanmu sendiri. Kau juga manusia, kau berhak untuk merasa kecewa, dikhianati dan sedih," ujar Nareza tiba-tiba yang langsung membuat Audrey menoleh ke arahnya. “Aku sungguh tidak merasa apa-apa sekarang, aku sudah melupakannya,” kata Audrey berbohong. Nareza tersenyum tipis, lalu menatap perempuan di sampingnya itu lekat-lekat. “Tapi matamu berkata lain,” gumamnya pelan. “Apa yang kau katakan?” Audrey mengernyit tipis. “Memangnya kau cenayang yang bisa membaca perasaan orang lain hanya dari tatapan matanya?” Nareza meletakkan gelas jusnya dan sedikit mencondongkan tubuhnya tepat ke arah Audrey. “Apa kau tidak tahu? Tatapan mata seseorang menunjukkan perasaan mereka yang sesungguhnya, kau hanya perlu memahaminya lebih jauh agar bisa membaca perasaan mereka.” Audrey mengerjapkan mata beberapa kali lalu tertawa pelan untuk menutupi rasa gugupnya. "Astaga, kau lucu sekali." Nareza kembali berdiri tegak, menatap Audrey dalam diam. Perempuan itu berdehem beberapa kali sebelum akhirnya berkata dengan tegas, "Kau hanyalah pacar kontrakku. Jangan bersikap seolah-olah kau memahamiku."Setelah acara wisuda berakhir, halaman kampus perlahan mulai lengang. Para wisudawan yang sebelumnya memenuhi tempat itu kini berpencar bersama keluarga dan teman-teman mereka. Sebagian masih sibuk mengambil foto terakhir dengan toga dan ijazah di tangan, sementara yang lainnya mulai meninggalkan kampus untuk melanjutkan perayaan di tempat masing-masing.Audrey dan Nareza berjalan berdampingan menuju sebuah taman kecil di belakang gedung fakultas. Tempat itu jauh lebih tenang dibandingkan halaman utama. Pepohonan yang rindang menaungi beberapa bangku yang tersebar di sepanjang jalan setapak, membuat suasana di sana terasa damai setelah hiruk-pikuk acara wisuda.Nareza masih membawa kotak hadiah yang diberikan Audrey sebagai hadiah kelulusannya. Sejak tadi, ia hanya membawanya tanpa berniat membukanya.Audrey yang menyadari hal itu akhirnya menoleh. “Kenapa tidak kau buka sekarang?”Nareza menoleh lalu tersenyum kecil sambil menggeleng. “Aku sudah bilang ingin membukanya di tempat yan
Akhir pekan itu, Audrey sama sekali tidak memiliki rencana untuk pergi ke mana pun. Setelah beberapa hari terakhir yang cukup melelahkan, ia merasa rumah adalah tempat terbaik untuk menghabiskan hari. Sejak pagi, perempuan itu sudah mengenakan pakaian rumahan yang nyaman dan menghabiskan waktunya di sofa sambil menonton acara televisi. Nareza yang sejak tadi memperhatikannya hanya bisa menggelengkan kepala. “Kau benar-benar tidak mau keluar hari ini, Nona?” Audrey bahkan tidak mengalihkan pandangan dari layar televisi. “Tidak.” “Yakin?” “Sangat.” “Tapi cuacanya bagus untuk jalan-jalan.” Audrey tetap bergeming di sofa. Matanya masih tertuju pada layar televisi yang sejak tadi menjadi pelariannya dari segala hal. “Ya, cuacanya memang bagus untuk orang yang mau keluar jalan-jalan.” Nareza terkekeh mendengar jawaban itu. Ia menatap Audrey yang tampaknya benar-benar tidak memiliki niat meninggalkan apartemen hari ini. “Kau bahkan belum melihat cuacanya.” “Aku bisa merasakann
Malam itu, suasana di rumah Erlan jauh dari kata tenang. Sejak beberapa menit lalu, suara perdebatan terdengar memenuhi ruang tengah. Melissa berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan dada, sementara Erlan tampak berusaha mempertahankan kesabarannya.“Aku sudah bilang, aku hanya datang untuk berbicara dengan Audrey,” ujar Erlan, mulai lelah menghadapi Melissa yang akhir-akhir ini begitu posesif terhadapnya. “Berbicara?” Melissa tertawa sinis. “Kau datang ke apartemen mantan istrimu tanpa memberitahuku lebih dulu, dan hanya sekadar berbicara katamu? Apa yang kau bicarakan dengannya?”Erlan menghela napas panjang beberapa kali, lalu mengusap wajahnya kasar. “Astaga,” keluhnya mulai lelah. Mereka baru saja bertunangan. Seharusnya malam-malam seperti ini diisi dengan pembicaraan tentang persiapan pernikahan dan kehidupan yang akan mereka jalani bersama. Namun, belakangan ini perhatian Erlan justru berkali-kali terseret kembali kepada Audrey. Melissa tentu saja tidak menyukai hal itu
“Nona? Kenapa kau berada di luar?” Audrey menoleh dengan terkejut saat mendengar suara itu. “Astaga! Kau mengagetkanku saja!” sentaknya pelan seraya menenangkan debaran jantungnya sendiri. Nareza menatapnya dari atas hingga ke bawah, lalu menelisik wajah Audrey yang tampak pias. “Nona, kau sakit?” tanyanya. Lalu tanpa sadar, satu tangannya terangkat menyentuh dahi Audrey. “Ti-tidak!” seru Audrey menepis tangan Nareza dari dahinya. Jujur saja, ia terkejut bukan main. “Aku baik-baik saja!” Dengan tergesa, Audrey membuka pintu apartemennya sambil menjinjing semua barang belanjaannya. Duduk di sofa, is menghela napas lelah. Semua kejadian hari ini benar-benar menguras tenaganya. Nareza segera masuk setelah Audrey membuka pintu. Ia memperhatikan perempuan itu yang sejak tadi tampak tidak seperti biasanya. Wajah Audrey masih terlihat pucat, bahkan gerakannya ketika meletakkan kantong belanja di atas meja pun tampak lebih berat dari biasanya.“Ada apa, Nona?” tanya Nareza akhirnya. “Kau
Sepanjang perjalanan pulang, Audrey lebih banyak diam. Pemandangan Nareza yang berbicara dengan perempuan cantik di pusat perbelanjaan tadi terus berputar di kepalanya. Ia sudah berulang kali mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa tidak ada alasan baginya untuk merasa terganggu.Nareza bukan suaminya. Bukan pula kekasih sungguhan.Hubungan mereka hanya bermula dari sebuah kontrak. Namun, semakin Audrey mencoba mengabaikannya, semakin rasa penasaran itu justru muncul.Audrey menghela napas panjang ketika memasuki area parkir apartemennya. Ia bahkan merasa kesal kepada dirinya sendiri karena memikirkan hal yang seharusnya tidak penting.“Sudahlah,” gumamnya pelan. “Aku tidak peduli.”Setidaknya, itulah yang ingin ia percayai. Audrey kemudian mengambil beberapa barang dari dalam mobil, kemudian berjalan menuju lobi apartemen. Namun, baru beberapa langkah menaiki tangga menuju lantai tempat unitnya berada, pikirannya kembali teringat pada Nareza.Tanpa sadar, ia membayangkan bagaimana ji
Siang itu, Nareza pergi menemui seorang perempuan di sebuah pusat perbelanjaan usai mendapat spam chat. “Ada apa lagi, sih? Bukannya aku dah kasih tahu kamu, ya? Jangan hubungi aku lagi, Na.” Nareza menatap perempuan cantik di depannya dengan kesal. “Kita juga dah nggak ada hubungan apapun lagi, kamu sendiri yang mengakhiri hubungan kita 1 bulan yang lalu.” Lavina menatap pria itu tak berkedip lalu berucap pelan. “Kamu sudah berubah, ya, Za? Kamu sudah nggak seperti dulu lagi. Padahal, aku masih sayang banget sama kamu. Tapi kenapa kamu harus kayak gini, sih?” Nareza tertawa sinis. “Kenapa? Kamu kecewa karena aku memilih keluar dari rumah itu? Atau kamu takut aku nggak bisa mewarisi harta papa aku?” tanyanya telak, menyindir Lavina hingga batas kesabarannya habis.Lavina terlihat ingin menangis, namun ditahannya sekuat tenaga, ia tidak boleh menunjukkan bahwa ia masih berharap pria itu akan kembali ke keluarganya. “Stop, Za. Kamu jahat!” katanya dengan kecewa. “Seenggaknya kalau b







