LOGINDua hari setelah pesta pertunangan Erlan, Audrey akhirnya bertemu dengan Evelyn di sebuah kafe yang biasa mereka datangi. Sejak duduk di sana, Audrey sudah beberapa kali tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian malam itu. Bukan karena masih memikirkan Erlan, melainkan karena ia tidak menyangka rencananya benar-benar berhasil.
Evelyn yang duduk di hadapannya segera menyadari perubahan ekspresi sahabatnya. "Jangan bilang semuanya berjalan sesuai rencana." Audrey mengangkat alis, lalu bertanya pelan dengan senyum tipis terangkat. "Kenapa? Apakah terlihat di wajahku" Evelyn menganggukan kepala. "Wajahmu itu terlihat seperti orang yang baru memenangkan pertandingan." Audrey tertawa kecil sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau tidak akan percaya apa yang terjadi di sana, Eve." "Ada hal menarik apa? Ceritakanlah! Aku penasaran!" Audrey kemudian menceritakan semuanya. Mulai dari saat ia dan Nareza memasuki pesta hingga bagaimana seluruh tamu langsung memperhatikan mereka. Ia juga menceritakan ekspresi Erlan yang terkejut ketika melihatnya datang bersama pria muda tersebut, percakapan dengan mantan ibu mertuanya, hingga bagaimana Nareza berhasil memainkan perannya dengan begitu meyakinkan. Evelyn mendengarkan sambil sesekali menahan tawa. "Jadi, Nareza benar-benar menggenggam tanganmu di depan Erlan? Astaga, sulit dipercaya. Sepertinya kau puas karena berhasil membuat mereka tercengang." Audrey mengangguk. "Aku puas sekali melihat ekspresi Erlan yang tampak tak percaya itu." “Pria brengsek itu pasti merasa kecewa.” Evelyn menimpali sambil tertawa pelan. "Tapi, aku tidak suka dengan sikap Nareza itu. Dia itu …." Evelyn meletakkan gelas minumannya dan menepuk lengan Audrey pelan. "Tapi setidaknya kau berhasil membungkam semua orang tanpa harus mengatakan apa-apa. Tidak perlu terlalu dipikirkan, dia bersikap " Audrey tersenyum. "Setidaknya mereka tidak lagi memandangku seperti perempuan yang belum move on." "Bagus. Memang itu tujuan awal kita." Audrey mengangguk. "Tapi aku akui, Nareza benar-benar pandai memainkan peran." "Sudah kubilang, jasa peran pengganti itu sangat bisa diandalkan. Mereka profesional dalam bekerja. Lain kali, jika kau membutuhkan jasa pacar bayaran lagi, kau bisa menghubunginya lagi." Audrey terkekeh pelan, lalu menggeleng. "Tidak, cukup hanya kali ini saja aku menyewa peran pengganti itu. Selebihnya tidak akan lagi.” Mereka kembali tertawa. Suasana di antara keduanya terasa ringan. Audrey bahkan mulai merasa bahwa keputusan yang awalnya dianggapnya konyol ternyata tidak seburuk yang ia bayangkan. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama saat seseorang tiba-tiba berhenti di samping meja mereka. Audrey yang sedang memegang cangkir kopi tidak langsung menyadarinya. "Erlan? Mau apa kau di sini? Jangan bilang kau mau mengganggu Audrey lagi." Suara Evelyn membuat Audrey menoleh. Melihat wajah mantan suaminya di san, senyum di wajahnya seketika menghilang dan berganti dengan ekspresi kebencian. Erlan berdiri di samping meja mereka dengan ekspresi serius. Ia tidak terlihat seperti seseorang yang kebetulan lewat dan ingin menyapa. "Audrey, ikut aku. Ada hal yang harus kita bicarakan." Sebelum Audrey menyahut, Evelyn lebih dulu menyela. "Mau membicarakan apa? Bicarakan saja di sini agar aku juga mendengarnya. Untuk apa mengajaknya bicara berdua? Ingat, Erlan. Kalian sudah tidak memiliki hubungan apa-apa.” "Jangan ikut campur, Eve, aku ingin bicara dengan Audrey. Ini penting." Erlan masih bersikeras, menatap Evelyn jengkel. "Hal penting apa? Bicara saja di sini." Erlan tidak menjawab, malas menghadapi Evelyn yang selalu ikut campur dalam urusan dan hubungannya dengan Audrey. Ia justru meraih lengan Audrey dan memaksanya untuk ikut. Pegangannya cukup kuat hingga Audrey terkejut dan tak sempat menolak. "Lepas, Lan! Sakit?" "Kita harus bicara! Ini penting!” katanya sambil tetap menarik Audrey agar mau mengikuti langkahnya. Audrey menggeleng kuat dan menarik lengannya sendiri, ia bahkan sudah tak peduli dengan tatapan beberapa pengunjung yang menatap ke arah mereka. "Erlan! Hentikan! Lepaskan Audrey sekarang juga.” Evelyn langsung bangkit dari kursinya dan mencoba melepaskan cekalan tangan Erlan pada lengan Audrey. “Kau sudah gila, ya? Erlan! Lepaskan Audrey!” Namun, Erlan seperti orang tuli yang tak mau mendengarkan. Ia tetap menarik lengan Audrey. “Kau itu tuli, ya? Lepaskan pacarku!”Erlan seperti orang tuli yang tidak mau mendengarkan. Alih-alih melepaskan Audrey, ia justru semakin mengeratkan pegangannya pada lengan wanita itu dan menariknya menjauh dari meja."Kau itu tuli, ya? Lepaskan pacarku!" Suara Nareza terdengar tegas dari belakang mereka. Erlan langsung menoleh dan mendapati pria muda itu sudah berdiri dengan ekspresi serius.“Lepaskan dia Erlan!" sentak Evelyn yang sejak tadi berdiri di sisi Audrey, bersiap menjaga sahabatnya itu dari pria seperti Erlan. Erlan menatap Evelyn dengan kesal. "Sudah kukatakan, ini urusan aku dan Audrey. Jangan ikut campur.""Urusan kalian, tapi bukan berarti kau boleh menariknya seenaknya." Evelyn masih terlihat emosi. Sementara itu, Nareza yang berada di sana masih menunggu situasi di mana ia bisa bersikap sebagai pahlawan, melawan pria yang ia ketahui mantan suami Audrey itu dengan tepat. Audrey kembali berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Erlan. "Erlan, lepaskan aku!" Namun, Erlan tetap mempertahankan pega
Dua hari setelah pesta pertunangan Erlan, Audrey akhirnya bertemu dengan Evelyn di sebuah kafe yang biasa mereka datangi. Sejak duduk di sana, Audrey sudah beberapa kali tersenyum sendiri ketika mengingat kejadian malam itu. Bukan karena masih memikirkan Erlan, melainkan karena ia tidak menyangka rencananya benar-benar berhasil. Evelyn yang duduk di hadapannya segera menyadari perubahan ekspresi sahabatnya. "Jangan bilang semuanya berjalan sesuai rencana." Audrey mengangkat alis, lalu bertanya pelan dengan senyum tipis terangkat. "Kenapa? Apakah terlihat di wajahku" Evelyn menganggukan kepala. "Wajahmu itu terlihat seperti orang yang baru memenangkan pertandingan." Audrey tertawa kecil sebelum menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kau tidak akan percaya apa yang terjadi di sana, Eve." "Ada hal menarik apa? Ceritakanlah! Aku penasaran!" Audrey kemudian menceritakan semuanya. Mulai dari saat ia dan Nareza memasuki pesta hingga bagaimana seluruh tamu langsung memperhatikan mereka. Ia j
Audrey mengira semuanya akan berjalan mudah setelah berhasil membuat Erlan terdiam. Ia hanya perlu bertahan sampai pesta pertunangan itu selesai, kemudian pulang bersama Nareza. Setelah itu, ia bisa kembali menjalani hidup seperti biasa tanpa harus memikirkan tatapan orang-orang yang sejak tadi sibuk memperhatikan mereka. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Baru beberapa langkah meninggalkan Erlan, Audrey sudah dihampiri beberapa kenalan lama. Mereka datang dengan senyum penuh rasa ingin tahu, tetapi tatapan mereka tidak pernah benar-benar lepas dari Nareza. "Audrey!" Audrey menoleh dan menemukan dua orang teman lama dari masa kuliahnya berdiri di hadapan mereka. "Ternyata benar-benar kau!" seru salah seorang dari mereka. "Aku kira kau tidak akan datang hingga aku mengira kau orang lain." Audrey tersenyum sopan dan melambaikan tangannya. "Hai, semua, aku tidak menyangka akan bertemu dengan kalian di sini.” "Kau datang bersama pria yang sangat tampan, apalagi kau begitu c
Sejak pagi, Audrey sudah menerima beberapa pesan dari teman-temannya yang mengingatkan mengenai acara tersebut. Bahkan Celine sempat mengirim pesan agar Audrey tidak lupa membawa "pacar misteriusnya". Audrey hanya membalas dengan emoji kesal. Ia sebenarnya tidak ingin memikirkan acara ini terlalu banyak, tetapi semakin dekat waktunya, semakin ia menyadari bahwa keputusan spontan yang dibuatnya di pesta ulang tahun rekannya telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Hari ini, ia benar-benar harus datang bersama seorang pria, dan pria itu bukan sekadar teman. Nareza adalah kekasih kontraknya."Jangan terlalu tegang. Ini hanya pesta pertunangan biasa, kan?"Suara Nareza dari balik kemudi membuat Audrey menoleh. "Aku tidak tegang!" balas Audrey tak terima.Nareza meliriknya sekilas, kemudian kembali memusatkan perhatian pada jalan. "Tapi jari Nona mengetuk-ngetuk tas sejak tadi."Audrey langsung menghentikan gerakannya. Ia menatap jemarinya sendiri yang memang sejak tadi m
Audrey terus memandangi layar ponselnya, memastikan bahwa ia sudah terlalu lama menunggu. Ia mulai berdecak pelan saat seseorang yang ingin ditemuinya tak kunjung datang.“Sudah kuduga, mereka itu pasti hanya penipu yang menginginkan uang. Profesional katanya. Huh! Menurutku mereka adalah orang-orang yang tidak punya pekerjaan.” Audrey mulai mengoceh sendiri. Ia meraih tasnya dan berniat untuk meninggalkan kafe itu saat tiba-tiba seorang pria muda yang tampan, gagah dan tinggi semampai tiba-tiba mendatangi mejanya dengan napas terengah-engah. “Ma-maaf, aku terlambat. Ban motorku kempes,” kata pria itu dengan nada tersengal. Pria itu kemudian menatap Audrey dan mengulurkan tangannya. “Nona Audrey, kan?” Audrey mengangguk, menatap pria muda dengan penampilan yang mirip preman itu dari atas hingga ke bawah, memastikan bahwa ia tidak salah orang. “Ya, benar. Silakan duduk,” kata Audrey ketus, terlanjur kesal karena sudah dibuat menunggu. “Kita langsung saja, tidak perlu basa-basi kare
Sejak meninggalkan restoran malam itu, Audrey tidak bisa berhenti memikirkan satu kesalahan fatal yang telah ia buat. Audrey sudah mencoba mengabaikannya. Ia pergi bekerja seperti biasa, menghadiri rapat, menyelesaikan beberapa dokumen yang menumpuk, bahkan sengaja menyibukkan diri agar tidak memiliki kesempatan memikirkan persoalan tersebut. Namun, semakin ia berusaha melupakannya, semakin jelas pula masalah itu terasa.“Astaga, apa yang sudah kau lakukan, Audrey?! Bodoh! Kau bodoh sekali!” rutuk Audrey pada dirinya sendiri. Ia menatap layar ponselnya, membaca pesan-pesan yang dikirimkan rekan kerjanya. Mereka semua menanyakan hal yang sama. Tak tahan, ia mengusap wajahnya frustrasi. Bagaimana mungkin ia bisa sebodoh itu?Audrey memang ingin membuktikan bahwa dirinya sudah move on. Ia ingin menunjukkan bahwa kabar pernikahan Erlan tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupannya.Tetapi ia tidak pernah berpikir bahwa untuk membuktikannya, ia harus menciptakan seorang kekasih yang bah







