تسجيل الدخولPintu balkon terbuka beberapa saat kemudian. Erlan kembali masuk ke ruang tengah sambil mengakhiri panggilan teleponnya. Ia sempat melirik Melissa yang berdiri di dekat sofa, tetapi baru menyadari ada sesuatu yang tidak beres ketika melihat ponselnya berada di tangan perempuan itu.“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya.Melissa perlahan mengangkat wajah. Matanya tertuju pada Erlan, sementara tangan yang memegang ponsel itu tampak sedikit menegang. “Jelaskan apa maksudnya ini? Kenapa kau masih menyimpan fotonya?”Erlan mengerutkan kening. “Apa yang kau katakan?” tanyanya dengan bingung. Melissa mengangkat ponsel tersebut, memperlihatkan foto Audrey yang masih terbuka di layar. “Aku tanya sekali lagi kenapa kau masih menyimpan foto-fotonya?”Ekspresi Erlan berubah seketika, untuk sesaat, pria itu tidak langsung menjawab. Tatapannya berpindah dari layar ponsel ke wajah Melissa, seolah-olah sedang mempertimbangkan jawaban yang paling tepat.“Kenapa kau membuka ponselku?” tanyanya pada
Malam itu, suasana apartemen Erlan terasa lebih sunyi daripada biasanya. Hanya terdengar suara televisi yang menyala pelan di ruang tengah, menayangkan sebuah acara bisnis yang sejak tadi tidak benar-benar diperhatikan oleh pemiliknya. Erlan duduk di sofa dengan kemeja kerja yang lengannya telah digulung hingga siku. Sebuah gelas berisi air mineral berada di atas meja, sementara ponselnya tergeletak di samping paha.Hari itu cukup melelahkan baginya. Sejumlah pekerjaan di kantor menuntut perhatian lebih, ditambah beberapa urusan yang harus diselesaikannya menjelang pernikahan dengan Melissa. Namun, alih-alih menikmati waktu istirahat, pikirannya justru kembali dipenuhi oleh satu hal yang belakangan ini sulit ia abaikan.“Sulit sekali mencari informasi tentangnya. Aku yakin dia bukanlah orang biasa,” gumamnya seraya menggaruk kepalanya yang bahkan tak terasa gatal. “Sial, mereka benar-benar membuatku sakit kepala!”Erlan meyakini bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Nareza. Erlan hany
Pagi itu, suasana kantor tampak lebih sibuk daripada biasanya. Para karyawan mulai memenuhi area kerja masing-masing, sebagian sibuk mempersiapkan berkas untuk rapat pagi, sementara yang lain memanfaatkan waktu sebelum jam kerja untuk menikmati secangkir kopi. Di antara kesibukan tersebut, sebuah kabar kecil mulai menyebar dari satu meja ke meja lainnya. Hari ini, tim perencanaan perusahaan akan kedatangan anggota baru. Namun, entah bagaimana, pagi itu kabar mengenai anggota baru tersebut justru berhasil menarik perhatian sejumlah karyawan perempuan, terutama setelah mereka mendengar bahwa pria itu merupakan lulusan baru dengan latar belakang pendidikan yang cukup mengesankan.“Katanya, anggota baru tim perencanaan kita mulai masuk hari ini, ya?” tanya seorang perempuan kepada rekannya sambil menyesap kopi.“Iya. Aku dengar dia lulusan universitas ternama. Nilainya juga bagus.”“Sudah punya pacar belum, ya?”Pertanyaan terakhir itu langsung disambut tawa kecil oleh beberapa perempuan
Di tempat lain, sebuah mobil hitam berhenti di depan kediaman keluarga Ravendra. Lavina turun dengan wajah muram. Sejak meninggalkan restoran siang tadi, kemarahannya belum juga mereda. Ia masih tidak bisa menerima bagaimana Nareza membentaknya di hadapan perempuan lain, seolah-olah dirinya sama sekali tidak memiliki arti dalam kehidupan pria itu.Padahal, kedua keluarga mereka telah menyepakati pertunangan tersebut dan bahkan mulai membicarakan rencana masa depan mereka. Bagi Lavina, penolakan Nareza bukan sekadar persoalan hubungan pribadi, melainkan juga penghinaan terhadap harga dirinya. Lavina merasa seolah-olah dirinya tidak cukup baik untuk dipilih, padahal selama ini ia telah meyakini bahwa suatu hari nanti mereka akan menikah. Namun, setelah sekian lama menghilang tanpa kabar, Nareza justru muncul bersama perempuan lain dan melindungi perempuan itu seolah-olah keberadaannya jauh lebih penting daripada pertunangan yang telah direncanakan keluarga mereka.Dengan langkah cepat,
Lavina akhirnya meninggalkan restoran setelah beberapa kali beradu mulut dengan Nareza. Perempuan itu sempat menatap Audrey dengan sorot mata penuh kebencian sebelum berbalik dan melangkah pergi. Pintu restoran tertutup di belakangnya, tetapi ketegangan yang ditinggalkannya masih terasa di antara meja-meja yang sempat menjadi pusat perhatian para pengunjung.Nareza berdiri diam selama beberapa saat, berusaha meredam amarah yang masih menguasai dirinya. Ia kemudian menoleh kepada Audrey yang masih duduk dengan pakaian basah. Melihat keadaan perempuan itu, ekspresi wajahnya seketika berubah. Rasa kesal yang tadi memenuhi dadanya perlahan berganti dengan penyesalan.“Aku … aku benar-benar minta maaf. Atas apa yang terjadi tadi, aku benar-benar tak mengira dia akan berhasil menemukanku.”Audrey mengangkat wajahnya. Ia tidak segera menjawab, hanya mengambil beberapa lembar tisu tambahan untuk mengeringkan rambutnya.“Aku benar-benar minta maaf,” lanjut Nareza sambil menarik kursi di sampin
Mereka berjalan berdampingan menuju restoran kecil yang tadi ditunjuk Audrey. Jaraknya tidak terlalu jauh dari kantor, hanya beberapa menit berjalan kaki. Restoran itu berada di sudut jalan yang cukup ramai, tetapi suasananya jauh lebih tenang dibandingkan kawasan perkantoran di sekitarnya.Begitu memasuki restoran, seorang pelayan segera menyambut mereka dan mengarahkan keduanya ke salah satu meja di dekat jendela. Audrey duduk lebih dahulu, kemudian Nareza mengambil tempat di hadapannya.“Aku sebenarnya masih heran kenapa kau mau mengikuti saranku,” ujar Audrey sambil membuka daftar menu. “Kupikir setelah melihat prosesnya tadi, kau akan berubah pikiran.”Nareza tersenyum tipis, lalu mengedikkan bahu santai. “Entahlah, mungkin aku hanya ingin mencoba keberuntunganku?” jawabnya asal.Audrey mengangguk kecil. Ia kemudian mulai memperhatikan daftar makanan di tangannya.Tak lama kemudian, pelayan datang untuk mencatat pesanan. Setelah memilih makanan dan minuman, Audrey meletakkan menu







