共有

Babak Akhir

last update 公開日: 2026-08-25 08:49:46

Denting gelas berkali-kali terdengar memecah keriuhan Ballroom Hotel Mulia malam itu. Rendra dan Arini berdiri anggun di atas pelaminan bertabur mawar putih, menyalami satu per satu tamu undangan yang tak henti-hentinya mengantre. Rendra, yang kini resmi kembali memegang kendali Mahardika Group, tampak mengikis habis sisa-sisa keangkuhannya, berganti dengan binar kebahagiaan yang tulus.

Di sudut area VIP, Bramantya berdiri sambil memangku baby Nathan yang sibuk mengunyah biskuit bayi. Jas hitam
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (5)

    Elano ngebut kemudian menghentikan kendaraannya tepat di samping motor matic yang dinaiki Natasya dan teman laki-lakinya. Pintu mobil sebelah kanan terbuka keras, dan Elano keluar dari sana dengan raut wajah dingin yang begitu menakutkan."Sya, turun," perintah Elano pendek, nada suaranya menusuk dan tak menerima bantahan.Natasya yang baru saja memegang tali helm tertegun di atas jok belakang. "Kak Elano? Kok Kakak bisa ada di sini?""Aku bilang turun sekarang, Natasya," ulang Elano dengan nada suara menekan yang memendam amarah.Laki-laki berseragam SMA putih-abu-abu di atas motor matic itu mengernyit bingung, membetulkan posisi spionnya. "Misi, Kak. Kakak ini siapa ya? Saya cuma mau anter Natasya pulang ke rumahnya."Elano melirik cowok SMA itu dengan amat tajam, tatapannya begitu mengancam seolah ingin menelan lawan bicaranya hidup-hidup saat itu juga. "Gua kakaknya. Mending lu pergi sekarang sebelum gua benar-benar hilang sabar.""Kak Elano, apa-apaan sih!" Natasya menghentakkan

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (4)

    Tanpa ragu sedikit pun, Bram langsung merangkul pundak Rendra yang basah kuyup, menuntun pria muda yang gemetar itu masuk ke dalam hangatnya ruang keluarga. Kiana yang mendengar keributan serta derap langkah kaki terburu-buru di lorong depan segera datang membawa selembar handuk hangat yang tebal dan secangkir teh manis panas yang uapnya masih membumbung tinggi."Minum dulu, Ndra. Pakai handuknya, lalu tenangkan pikiranmu," ucap Kiana dengan suara teramat lembut seraya menyerahkan cangkir dan handuk itu pada Rendra.Rendra mendudukkan dirinya bersandar pasrah di sofa empuk, jemarinya yang dingin gemetaran memegang erat cangkir keramik. Wajah tegap pangeran Mahardika Group yang biasa nampak berwibawa itu kini terlihat hancur dan berantakan. Di hadapannya, Bram duduk dengan tenang, menatap lekat-lekat pria muda yang sudah dianggapnya persis seperti anak kandungnya sendiri."Sekarang cerita pelan-pelan sama Om. Ada apa sebenarnya antara kamu sama Arini?" tanya Bram penuh perhatian perlah

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (3)

    Suara pintu gerbang besi yang berdecit nyaring membuat Elano refleks melepaskan pergelangan tangan Natasya. Bram melangkah keluar dari balik pagar rumahnya, postur tubuhnya tegap dengan kemeja santai yang digulung sebatas siku. Wajahnya tampak tenang, namun tatapan matanya yang tajam menembus langsung ke manik mata Elano."Elano? Ada perlu sama Om?" tanya Bram, suara beratnya yang penuh wibawa mengalun datar di udara sore yang sejuk.Elano menelan ludahnya kaku, berusaha keras menyembunyikan kegugupan yang mendadak melumpuhkan lidahnya. "Eh, enggak Om... ini cuma mau kasih gantungan kunci buat Natasya. Tadi kebetulan lewat daerah sini.""Oh," Bram mengangguk pelan, menyilangkan dadanya santai. "Makasih ya. Yaudah, masuk dulu kalau mau minum. Papamu baru aja pulang tadi.""Gak usah, Om, terima kasih banyak. Elano langsung pulang aja, udah mau magrib," pamit Elano cepat, tangannya bergetar sedikit saat meraih stang motornya. Ia melirik Natasya sekilas dengan binar penuh arti. "Sya, aku

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir (2)

    Dua hari setelah pesta pernikahan Rendra dan Arini yang meriah, suasana di kediaman Bram terasa begitu hangat dan menenangkan. Di ruang tengah yang dilapisi karpet bulu tebal, Bram sedang tengkurap santai, membiarkan baby Nathan menunggangi punggungnya seperti kuda-kudaan."Ayo Kuda Papa, jalan! Cepat, Papa!" seru Nathan riang sambil menepuk-nepuk bahu Bram."Aduh, anak Papa berat juga ya sekarang," pangkas Bram sembari tertawa terkekeh, mencoba merangkak pelan meski napasnya sedikit terengah-engah.Kiana melangkah anggun dari arah dapur membawa nampan berisi teh hangat dan potongan buah segar. Melihat suaminya yang berusia 40 tahun rela bergulingan di lantai demi menuruti kemauan anak balita mereka, senyum Kiana tak bisa dibendung."Sayang, ingat umur, siapa yang bilang tua ya kemarin?" goda Kiana seraya meletakkan nampan di atas coffee table. "Nanti pinggangnya kumat lagi baru kapok.""Siapa bilang aku tua?? Biarin, Sayang. Mumpung Nathan masih mau main sama Papanya," jawab Bram sem

  • Brondongku Psikopat   Babak Akhir

    Denting gelas berkali-kali terdengar memecah keriuhan Ballroom Hotel Mulia malam itu. Rendra dan Arini berdiri anggun di atas pelaminan bertabur mawar putih, menyalami satu per satu tamu undangan yang tak henti-hentinya mengantre. Rendra, yang kini resmi kembali memegang kendali Mahardika Group, tampak mengikis habis sisa-sisa keangkuhannya, berganti dengan binar kebahagiaan yang tulus.Di sudut area VIP, Bramantya berdiri sambil memangku baby Nathan yang sibuk mengunyah biskuit bayi. Jas hitam buatan penjahit Italia yang melekat di tubuh Bram tampak begitu pas, meski raut wajahnya tak lagi memancarkan ambisi tajam seperti beberapa tahun lalu."Papa, Nathan mau balon yang itu," celetuk anak balita dua tahun itu sambil menunjuk dekorasi di dekat panggung.Bram terkekeh pelan, menepuk lembut punggung anak bungsunya. "Itu balon dekorasi, Sayang. Nanti kalau ditarik, panggungnya jadi tidak bagus lagi."Kiana melangkah mendekat, mengusap bahu Bram dengan kelembutan yang selalu berhasil men

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika (8)

    Senin pagi yang melelahkan di lantai lima gedung Mahardika Group. Tidak ada lagi kemeja khusus buatan penjahit Italia atau ruang kerja luas ber-AC dingin. Rendra kini duduk di kubikel sempit staf pemasaran, berteman tumpukan berkas dan layar komputer tua yang sesekali berkedip."Hei, Rendra! Laporannya mana? Klien dari Surabaya udah nunggu dari tadi!" seru Bagas, kepala tim pemasaran yang terkenal sangat tegas, menepuk meja Rendra cukup kasar.Rendra mendongak, menyunggingkan senyum tulus tanpa sisa keangkuhan masa lalu. "Ini, Pak Bagas. Sudah saya revisi target pasarnya secara menyeluruh, lengkap sama analisis risikonya."Bagas meneliti lembaran kerja itu sejenak, lalu menatap Rendra keheranan. "Gila lu, ya... detail banget. Lu bekas Manajer di mana sih dulu?""Cuma orang biasa yang mau belajar dari nol, Pak," jawab Rendra pelan.Tidak ada yang tahu bahwa mantan direktur mereka kini menjadi staf paling bawah. Rendra bekerja dari jam delapan pagi hingga larut malam, tak pernah mengelu

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status