Share

Dendam Mantan

last update publish date: 2026-07-20 09:01:37

"KIANA!!!"

Jeritan Bram menggema, menyayat keheningan gudang itu. Dunianya runtuh dalam satu detik saat suara letusan senjata api itu menembus pelantang suara ponsel Jeremy.

Akan tetapi, tubuh Bram tidak lagi peduli pada rasa sakit atau tali yang baru saja dilepas kasar. Menggunakan sisa adrenalin yang membakar dadanya, Bram menerjang maju. Dia melompati meja kaca, menggunakan seluruh berat badannya untuk merobohkan Jeremy Baran.

Bruk! Prang!

Meja kaca itu bergeser, botol dan gelas wine mahal h
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika (7)

    Rendra terduduk kaku di lantai apartemennya yang dingin. Kalimat Arini yang terekam secara tak sengaja di ponselnya tadi pagi terus bergema di kepalanya:"Mas Rendra... tolong jangan menyerah dulu. Tolong buktikan kalau dokumen itu... bukan Mas yang buat.""Arini benar," gumam Rendra parau. Tangannya yang gemetar mengusap wajahnya yang pucat. "Kalau gue cuma pasrah dan diam, Bram bakal makin percaya kalau gue ini penjahatnya. Gue harus bersihin nama gue!"Dengan menahan perih luar biasa di lengan kanannya yang berbalut perban, Rendra merangkak mendekati meja dan membuka laptop pribadinya. Layar menyala terang, menampilkan puluhan riwayat obrolan dan dokumen yang pernah dikirimkan Alana kepadanya.Mata Rendra menatap tajam ke arah file draf eksekusi saham yang dilemparkan Alana ke meja Arini tadi pagi."Gue emang pernah tergiur ikut rencana Alana di awal..." bisik Rendra pada diri sendiri. "Tapi waktu gue sadar dan mau mundur, Alana malah ngirim draf baru tanpa persetujuan gue!"Jemari

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika (6)

    Koridor Rumah Sakit Harapan Kasih mendadak hening. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung, bercampur dengan bau amis darah yang masih menetes pelan dari lengan kemeja Rendra. Jejak-jejak kekacauan yang ditinggalkan Alana terasa begitu pekat menyelimuti udara."Ayo, Arini. Kita pulang," panggil Bramantya pelan. Suaranya dingin tanpa emosi, melangkah mendahului tanpa sekali pun menoleh ke belakang.Arini menghentikan langkahnya sejenak di ambang pintu. Jemarinya meremas kain jas dokter yang dipakainya. Ia menatap Rendra yang masih terduduk kaku di lantai, menunduk dalam dengan bahu bergetar."Mas Rendra..." bisik Arini pelan.Rendra mendongak perlahan. Matanya merah, basah, dan penuh dengan keputusasaan yang teramat sangat. "Arini... maafkan aku. Demi Tuhan, aku...""Jangan minta maaf sama Arini, Mas," potong Arini lembut, namun ada jarak tak kasat mata yang terbentang di antara mereka. "Rasa sakit di tangan Mas bisa disembuhkan pakai perban. Tapi kebohongan... gak ada obatnya.""Rin,

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika (5)

    "Bram, naik helikopter aja sekarang! Kalau pakai mobil jalurnya macet, butuh tiga jam lebih buat sampai ke sana!" pangkas Jeremy cepat sembari memegang gagang telepon darurat.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Bram, Jeremy, dan Rendra berlari menuju helipad di atap gedung Mahardika Group. Baling-baling helikopter eksekutif meraung kencang, membelah angin menuju Rumah Sakit Harapan Kasih.Di dalam kabin helikopter yang bising, wajah Rendra sepucat kertas. Pikirannya kacau balau. Ia mencengkeram lututnya rapat-rapat, berdoa dalam hati agar Arini baik-baik saja. Bram dan Jeremy memperhatikan perubahan wajah dari Rendra yang biasanya hanya terlihat dingin, oleh karena itu mereka hanya diam.Sementara itu, di Rumah Sakit Harapan Kasih, suasana pagi terasa tenang dan hangat. Arini sedang merapikan beberapa berkas rekam medis di meja kerjanya saat pintu ruang pemeriksaannya diketuk pelan."Permisi... Dokter Arini?"Seorang wanita berpenampilan sangat anggun dengan gaun bermerek dan kacama

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika (4)

    "Ada apa, Ren? Kenapa kamu mendadak ngerem begini?" suara Bram sontak membuyarkan lamunan Rendra, membuat mobil SUV mewah itu tersentak pelan di tengah lampu merah.Rendra buru-buru mengatur napasnya, menyembunyikan kepanikan yang sempat merajalela di dadanya. "Ah, maaf, Pak Bram. Tadi ada motor nyelonong dari gang sebelah," alibinya cepat sambil kembali menginjak pedal gas. “Dan kenapa kamu manggil aku Pak? Sejak kapan?” Rendra hanya tersenyum canggung dalam diam.Di kursi belakang, Kiana membuka matanya perlahan, melirik suaminya lalu kembali merapikan selimut tipis yang ia sampirkan ke tubuhnya. Suasana kabin kembali hening, namun tidak bagi kepala Rendra. Peringatan keras dari Alana terus berdengung di telinganya bagaikan alarm bahaya.24 jam. Waktu yang diberikan Alana sangat singkat, dan wanita itu bukanlah tipe gertak sambal. Jika Alana benar-benar membongkar rahasia liciknya kepada Bramantya, bukan hanya 30% saham Mahardika yang melayang, tapi seluruh kerja kerasnya selama ini

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika (3)

    Pagi yang cerah di kediaman Bramantya tak mampu mengikis canggung yang mengendap di dada Arini. Hampir dua bulan ia menumpang di rumah megah ini, dirawat, dan dijaga bak keluarga sendiri. Namun, garis batas di hatinya menolak untuk terus menjadi beban.Di sudut taman samping, Arini melipat pakaiannya yang sudah rapi ke dalam tas kain sederhana. Kiana melangkah mendekat dengan nampan berisi teh hangat, matanya membelalak melihat tumpukan barang Arini."Arini? Kamu mau ke mana?" tanya Kiana, meletakkan nampan ke meja taman dengan panik. "Kenapa barang-barang kamu dikemas begini?"Arini tersenyum tipis, tatapannya lembut namun penuh tekad. "Mbak Kiana... Arini udah hampir dua bulan di sini. Luka fisik Arini udah sembuh berkat Mbak Kiana dan Pak Bram. Arini ngerasa gak enak kalau terus-terusan numpang di sini.""Numpang gimana, sih? Kamu tuh udah aku anggap seperti adik aku sendiri!" bentak Kiana pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu gak punya siapa-siapa lagi di sana, Arini...""Arini

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika (2)

    Bram bersandar di kursi kerjanya, menatap keluar jendela kaca raksasa yang memperlihatkan gemerlap Jakarta. Kalimat Rendra di basemen tadi masih berputar liar di kepalanya.“Ya cukup beri saya saham lagi hingga saya punya hak mengelola Mahardika!”Bram menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Pria itu benar-benar jenuh. Ia muak dengan siklus tak berujung ini, balas dendam dari para keturunan orang-orang jahat yang pernah ia dijebloskan ke penjara. Rendra, Peter, Adrian... siapa lagi besok?"Mahardika ini kayak kena kutukan," gumam Bram pelan pada diri sendiri. "Tiap kali mau tenang, ada aja benalu yang mau ngerusak."Pintu ruang kerja terdorong pelan. Jeremy melangkah masuk membawa map tebal."Bram, Adrian udah ditangani polisi," kata Jeremy, lalu mengamati raut wajah sahabatnya. "Lo kenapa? Muka lo kayak orang abis nanggung beban dunia.""Jer," potong Bram cepat. "Gue mau bagi ulang saham Mahardika."Jeremy terperanjat. "Maksud lo apa?!""Gue capek, Jer. Gue mau lepas ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status