Beranda / Romansa / Brondongku Psikopat / Pangeran Mahardika (2)

Share

Pangeran Mahardika (2)

Penulis: KaoruTheLovers
last update Tanggal publikasi: 2026-08-21 09:29:47

Bram bersandar di kursi kerjanya, menatap keluar jendela kaca raksasa yang memperlihatkan gemerlap Jakarta. Kalimat Rendra di basemen tadi masih berputar liar di kepalanya.

“Ya cukup beri saya saham lagi hingga saya punya hak mengelola Mahardika!”

Bram menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Pria itu benar-benar jenuh. Ia muak dengan siklus tak berujung ini, balas dendam dari para keturunan orang-orang jahat yang pernah ia dijebloskan ke penjara. Rendra, Peter, Adrian... siapa lag
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika (5)

    "Bram, naik helikopter aja sekarang! Kalau pakai mobil jalurnya macet, butuh tiga jam lebih buat sampai ke sana!" pangkas Jeremy cepat sembari memegang gagang telepon darurat.Tanpa membuang waktu satu detik pun, Bram, Jeremy, dan Rendra berlari menuju helipad di atap gedung Mahardika Group. Baling-baling helikopter eksekutif meraung kencang, membelah angin menuju Rumah Sakit Harapan Kasih.Di dalam kabin helikopter yang bising, wajah Rendra sepucat kertas. Pikirannya kacau balau. Ia mencengkeram lututnya rapat-rapat, berdoa dalam hati agar Arini baik-baik saja. Bram dan Jeremy memperhatikan perubahan wajah dari Rendra yang biasanya hanya terlihat dingin, oleh karena itu mereka hanya diam.Sementara itu, di Rumah Sakit Harapan Kasih, suasana pagi terasa tenang dan hangat. Arini sedang merapikan beberapa berkas rekam medis di meja kerjanya saat pintu ruang pemeriksaannya diketuk pelan."Permisi... Dokter Arini?"Seorang wanita berpenampilan sangat anggun dengan gaun bermerek dan kacama

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika (4)

    "Ada apa, Ren? Kenapa kamu mendadak ngerem begini?" suara Bram sontak membuyarkan lamunan Rendra, membuat mobil SUV mewah itu tersentak pelan di tengah lampu merah.Rendra buru-buru mengatur napasnya, menyembunyikan kepanikan yang sempat merajalela di dadanya. "Ah, maaf, Pak Bram. Tadi ada motor nyelonong dari gang sebelah," alibinya cepat sambil kembali menginjak pedal gas. “Dan kenapa kamu manggil aku Pak? Sejak kapan?” Rendra hanya tersenyum canggung dalam diam.Di kursi belakang, Kiana membuka matanya perlahan, melirik suaminya lalu kembali merapikan selimut tipis yang ia sampirkan ke tubuhnya. Suasana kabin kembali hening, namun tidak bagi kepala Rendra. Peringatan keras dari Alana terus berdengung di telinganya bagaikan alarm bahaya.24 jam. Waktu yang diberikan Alana sangat singkat, dan wanita itu bukanlah tipe gertak sambal. Jika Alana benar-benar membongkar rahasia liciknya kepada Bramantya, bukan hanya 30% saham Mahardika yang melayang, tapi seluruh kerja kerasnya selama ini

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika (3)

    Pagi yang cerah di kediaman Bramantya tak mampu mengikis canggung yang mengendap di dada Arini. Hampir dua bulan ia menumpang di rumah megah ini, dirawat, dan dijaga bak keluarga sendiri. Namun, garis batas di hatinya menolak untuk terus menjadi beban.Di sudut taman samping, Arini melipat pakaiannya yang sudah rapi ke dalam tas kain sederhana. Kiana melangkah mendekat dengan nampan berisi teh hangat, matanya membelalak melihat tumpukan barang Arini."Arini? Kamu mau ke mana?" tanya Kiana, meletakkan nampan ke meja taman dengan panik. "Kenapa barang-barang kamu dikemas begini?"Arini tersenyum tipis, tatapannya lembut namun penuh tekad. "Mbak Kiana... Arini udah hampir dua bulan di sini. Luka fisik Arini udah sembuh berkat Mbak Kiana dan Pak Bram. Arini ngerasa gak enak kalau terus-terusan numpang di sini.""Numpang gimana, sih? Kamu tuh udah aku anggap seperti adik aku sendiri!" bentak Kiana pelan, matanya mulai berkaca-kaca. "Kamu gak punya siapa-siapa lagi di sana, Arini...""Arini

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika (2)

    Bram bersandar di kursi kerjanya, menatap keluar jendela kaca raksasa yang memperlihatkan gemerlap Jakarta. Kalimat Rendra di basemen tadi masih berputar liar di kepalanya.“Ya cukup beri saya saham lagi hingga saya punya hak mengelola Mahardika!”Bram menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang lelah. Pria itu benar-benar jenuh. Ia muak dengan siklus tak berujung ini, balas dendam dari para keturunan orang-orang jahat yang pernah ia dijebloskan ke penjara. Rendra, Peter, Adrian... siapa lagi besok?"Mahardika ini kayak kena kutukan," gumam Bram pelan pada diri sendiri. "Tiap kali mau tenang, ada aja benalu yang mau ngerusak."Pintu ruang kerja terdorong pelan. Jeremy melangkah masuk membawa map tebal."Bram, Adrian udah ditangani polisi," kata Jeremy, lalu mengamati raut wajah sahabatnya. "Lo kenapa? Muka lo kayak orang abis nanggung beban dunia.""Jer," potong Bram cepat. "Gue mau bagi ulang saham Mahardika."Jeremy terperanjat. "Maksud lo apa?!""Gue capek, Jer. Gue mau lepas ke

  • Brondongku Psikopat   Pangeran Mahardika

    Suasana di area pemakaman umum tampak begitu kelam dibalut gerimis tipis. Tanah merah tempat peristirahatan terakhir Pak Dharma masih basah berhiaskan taburan bunga mawar. Pak Dharma tidak berhasil diselamatkan setelah serangan jantung mendadak yang menghantamnya di koridor rumah sakit malam itu.Di sudut pemakaman, Arini duduk di atas kursi roda dengan pakaian serba hitam. Wajahnya sangat pucat, dan luka tembak di perutnya, yang belum sepenuhnya sembuh, masih terasa menutut napasnya."Ayah..." bisik Arini parau, air matanya menetes tanpa henti menembus tanah merah. "Kenapa Ayah ninggalin Arini sendirian...?"Bram berdiri di belakang kursi roda Arini bersama Kiana. Rasa bersalah menghantam dada Bram begitu dalam. Arini baru saja siuman dua hari setelah operasi berat dan transfusi darah dari Kiana. Namun, alih-alih kedamaian, kabar duka atas kepergian sang ayah menjadi pil pahit pertama yang harus ditelannya."Arini... maafkan aku," gumam Bram penuh penyesalan. "Kalau bukan karena aku,

  • Brondongku Psikopat   Penyelamatan Arini (2)

    DOR!Suara letusan senjata memekakkan telinga. Bau mesiu menyengat beradu dengan debu gudang tua yang mengepul.Bram tidak merasakan peluru itu menembus dadanya. Namun, jeritan tertahan yang memilukan terdengar tepat di balik punggungnya."Ugh..."Tubuh Arini melemas, ambruk dalam pelukan Bram. Baju luarnya yang kusam seketika basah oleh noda darah merah pekat yang merembes cepat di bagian perut sampingnya. Wanita itu telah mendorong Bram di detik terakhir demi menahan timah panas yang seharusnya bersarang di dada Bram!"Arini!" jerit Bram histeris. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Pria itu dengan cepat menangkap tubuh Arini yang terkulai lemah. "Arini! Buka matamu! Arini!""Hahaha! Mampus kalian berdua!" teriak Peter histeris dari lantai dengan tangan memegang pistol yang masih berasap. "Kalau aku nggak bisa bunuh kamu, biarkan wanita ini mati di tanganmu, Bramantya!"Brak!Pintu besi gudang didobrak paksa dari luar. Puluhan personel polisi bersenjata lengkap membanjiri ruangan,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status