Compartir

Musuh Baru

last update Fecha de publicación: 2026-08-05 09:28:22

"Delapan minggu, Dok?!"

Suara Bram menggema di ruang klinik yang tenang. Matanya membelalak, menatap hasil cetakan USG kecil di genggamannya. Antara syok dan bahagia, tangannya sampai gemetaran.

Dokter terkekeh pelan. "Iya, Pak Bram. Selamat ya. Di usia Bu Kiana yang 43 tahun ini, kehamilan ini memang keajaiban. Tolong dijaga ketat, jangan sampai stres atau terlalu lelah. Karena mengandung di usia yang sudah kepala empat butuh penanganan ekstra."

Kiana masih membisu. Tangannya mengusap perutnya
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Brondongku Psikopat   Rendra Mahardika (2)

    Aroma steak wagyu yang terpanggang sempurna dan pasta truffle yang gurih memenuhi ruangan VIP Suite di Hotel Kempinsky. Di meja makan panjang yang berhias lilin aromaterapi, Natasya dan Elano duduk berdampingan. Di hadapan mereka, tersaji berbagai makanan kesukaan yang terasa aneh berada di sana."Makanlah, Natasya. Spaghetti carbonara-nya masih hangat. Elano, steak-mu juga akan dingin kalau cuma dilirik," ujar Rendra Mahardika ramah, memotong daging di piringnya dengan sangat elegan.Natasya menggenggam erat jemari Elano di bawah meja. "Om Rendra siapa? Kenapa tahu makanan kesukaan Tasya sama Kak El?"Rendra terkekeh pelan, meletakkan pisau dan garpunya. Matanya yang dingin menatap kedua anak di depannya. "Saya kenal baik dengan Papa kalian berdua. Sangat kenal, ya anggap aja keponakan jauh. Sayangnya, Om Bram dan Om Jeremy terlalu sibuk untuk sekadar menerima telepon atau ajakan minum kopi dari saya. Jadi... saya harus mengajak 'tamu special mereka' agar mereka mau datang.""Om menc

  • Brondongku Psikopat   Rendra Mahardika

    Napas Bram terembus berat. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku celana. Baginya, proyek triliunan itu hanyalah angka. Ketenangan Kiana, Natasya dan Nathan jauh lebih berharga dari segalanya.Ia berbalik hendak masuk ke kamar, namun langkahnya terhenti saat melihat pintu geser kaca balkon terbuka pelan."Sayang?"Kiana berdiri di sana, mengusap matanya yang masih kuyu. Gaun tidur tidurnya berayun pelan ditiup angin malam."Kok belum tidur, Sayang? Nathan bangun?" tanya Bram lembut, langsung mendekat dan merangkul bahu istrinya.Kiana menggeleng. "Nathan nyenyak banget. Tadi aku dengar suara kamu bicara di telepon... Ada masalah di kantor ya?""Bukan apa-apa, Sayang. Cuma urusan kecil," dalih Bram manis, lalu mendaratkan kecupan hangat di kening Kiana. "Yuk, masuk. Nanti kamu masuk angin."Kiana menatap mata Bram lekat-lekat. Ia mengenal suaminya luar dalam. ada riak ketegangan yang coba disembunyikan di balik senyum hangat itu. Tapi Kiana memilih tak bertanya lebih lanjut. Ia hanya

  • Brondongku Psikopat   Musuh Baru

    "Delapan minggu, Dok?!"Suara Bram menggema di ruang klinik yang tenang. Matanya membelalak, menatap hasil cetakan USG kecil di genggamannya. Antara syok dan bahagia, tangannya sampai gemetaran.Dokter terkekeh pelan. "Iya, Pak Bram. Selamat ya. Di usia Bu Kiana yang 43 tahun ini, kehamilan ini memang keajaiban. Tolong dijaga ketat, jangan sampai stres atau terlalu lelah. Karena mengandung di usia yang sudah kepala empat butuh penanganan ekstra."Kiana masih membisu. Tangannya mengusap perutnya yang masih rata. Ada getaran aneh yang membuncah di dadanya."Bram... kita mau punya bayi lagi?" bisik Kiana halus. Matanya berkaca-kaca.Bram langsung merengkuh Kiana ke dalam pelukannya. Ia mengecup puncak kepala istrinya berkali-kali tanpa peduli ada dokter di depan mereka. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih..."Begitu kembali ke rumah pantai, berita bahagia itu langsung disambut heboh oleh Laura dan Jeremy."Demi apa?! Kiana hamil lagi?!" jerit Laura histeris sambil memeluk Kiana erat-erat

  • Brondongku Psikopat   Keluarga Baru

    Tawa renyah Natasya masih menyisa di tepi pantai, meski matahari sudah berganti dengan deretan bintang. Angin malam berembus lembut, membawa aroma laut yang menenangkan.Bram berlutut di pasir, menyamakan tingginya dengan Natasya yang sibuk mengoleskan sisa kue ke hidungnya sendiri."Papa, nanti kalau Tasya bobo, Papa hilang lagi nggak?" bisik Natasya polos, jemari kecilnya memegang erat kerah kemeja linen Bram.Hati Bram serasa diremas. Ia merengkuh tubuh mungil itu, mencium pipi gembilnya gemas. "Nggak akan, Sayang. Papa bakal ada di samping Tasya dan Mama. Setiap hari, setiap mau tidur, dan setiap Tasya bangun.""Janji?" Natasya menyodorkan jari kelingkingnya."Janji," sahut Bram mantap, menautkan kelingking besarnya.Kiana yang berdiri tak jauh dari sana menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Bahagia yang begitu membuncah menyelimuti dadanya."Tante Laura! Om Jeremy!" seru Natasya tiba-tiba saat melihat pasangan itu berjalan mendekat membawa seorang anak laki-laki berus

  • Brondongku Psikopat   Pernikahan Putih

    "KIANA!"Raungan Bram membelah suara gemuruh si jago merah yang makin beringas. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, Bram menerobos halaman rumah kayu yang kini meranggas dilalap api.Pintu depan kayu yang rubuh merintangi jalan. Bram menyambar balok kayu besar yang belum terbakar penuh, mengibaskannya untuk menyingkirkan puing-puing berapi. Tangannya tergores, kulit jemarinya melepuh terpapar panas, tapi rasa sakit itu tak ada artinya dibanding ketakutan kehilangan Kiana dan Natasya.Suara tangisan Natasya terdengar sayup-sayup dari balik kobaran api di area tengah."Sya! Natasya!" Bram berteriak histeris. "Om di sini, Nak! Bertahanlah!"Bram melompati sisa ambang pintu yang berasap. Di dalam, pandangannya tertutup asap tebal yang merasuk ke tenggorokan. Ia terbatuk-batuk hebat, dadanya serasa terbakar."Kiana! kamu di mana?!""Bram...?" Suara Kiana terdengar lemah dari arah sudut dekat kamar. "Bram... tolongin Natasya dulu..."Mata Bram membelalak saat melihat Kiana terbari

  • Brondongku Psikopat   Rumah Tepi Laut

    Lantai kamar VIP terasa begitu dingin, persis seperti hati Bram saat ini. Surat dari Kiana masih tergeletak di sampingnya, menjadi saksi bisu kehancuran pria yang baru saja meruntuhkan kekaisaran Hadiwijaya itu."Bram, bangun! Lu nggak bisa gini terus!" Jeremy menarik paksa lengan Bram.Bram menggeleng lemah, tatapannya kosong memandangi lantai marmer. "Gue kalah, Jer. Uang, kekuasaan, Mahardika Group... semuanya sampah kalau Kiana sama Natasya nggak ada.""Tapi Kiana baru sembuh! Dia bawa Natasya yang masih kecil di tengah malam! Kalo terjadi apa-apa sama mereka di jalan gimana?!" bentak Jeremy gemas.Kata-kata Jeremy menampar kesadaran Bram. Pria itu mendongak, matanya merah menahan sesak. "Tapi gue udah janji nggak bakal ngekang dia lagi, Jer...""Bukan ngekang, bego! Pastiin aja mereka aman!" Jeremy menyodorkan ponselnya. "Gue minta anak buah gue lacak rekaman CCTV lalu lintas tanpa bikin Kiana curiga. Lu mau ikut mastiin keberadaan mereka atau cuma mau meratapi nasib di sini?"Br

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status