Share

Rendra Mahardika

Penulis: KaoruTheLovers
last update Tanggal publikasi: 2026-08-06 08:18:38

Napas Bram terembus berat. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku celana. Baginya, proyek triliunan itu hanyalah angka. Ketenangan Kiana, Natasya dan Nathan jauh lebih berharga dari segalanya.

Ia berbalik hendak masuk ke kamar, namun langkahnya terhenti saat melihat pintu geser kaca balkon terbuka pelan.

"Sayang?"

Kiana berdiri di sana, mengusap matanya yang masih kuyu. Gaun tidur tidurnya berayun pelan ditiup angin malam.

"Kok belum tidur, Sayang? Nathan bangun?" tanya Bram lembut, langsung m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Brondongku Psikopat   Penyelamatan Arini (2)

    DOR!Suara letusan senjata memekakkan telinga. Bau mesiu menyengat beradu dengan debu gudang tua yang mengepul.Bram tidak merasakan peluru itu menembus dadanya. Namun, jeritan tertahan yang memilukan terdengar tepat di balik punggungnya."Ugh..."Tubuh Arini melemas, ambruk dalam pelukan Bram. Baju luarnya yang kusam seketika basah oleh noda darah merah pekat yang merembes cepat di bagian perut sampingnya. Wanita itu telah mendorong Bram di detik terakhir demi menahan timah panas yang seharusnya bersarang di dada Bram!"Arini!" jerit Bram histeris. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Pria itu dengan cepat menangkap tubuh Arini yang terkulai lemah. "Arini! Buka matamu! Arini!""Hahaha! Mampus kalian berdua!" teriak Peter histeris dari lantai dengan tangan memegang pistol yang masih berasap. "Kalau aku nggak bisa bunuh kamu, biarkan wanita ini mati di tanganmu, Bramantya!"Brak!Pintu besi gudang didobrak paksa dari luar. Puluhan personel polisi bersenjata lengkap membanjiri ruangan,

  • Brondongku Psikopat   Penyelamatan Arini

    "A-apa?! Arini diculik?!" jerit Kiana, menyambar ponsel dari genggaman Bram yang mematung. Matanya membelalak melihat foto Arini terikat dengan bibir berdarah. "T-tapi... kenapa Arini, Bram?!""Anak Hendrawan," sahut Bram dingin, rahangnya mengerasa hingga urat-urat di lehernya menonjol. "Peter. Pria itu mengancam akan membunuh Arini dalam dua jam kalau Hendrawan nggak dikeluarkan dari penjara."Kiana menelan ludah, tubuhnya bergetar hebat. "Bram... Arini udah banyak bantu kita. Dia yang merawat kamu pas kamu amnesia! Kita nggak bisa biarin dia mati!""Tenang, Kiana. Aku nggak bakal biarin Peter melakukan apapun lagi ke Arini," potong Bram tegas. Ia langsung merogoh ponselnya dan menekan tombol panggilan cepat."Jeremy! Siapkan tim keamanan terbaik Mahardika sekarang juga, jangan lupa lapor polisi juga! Lacak lokasi nomor asing yang baru saja mengirimkan pesan ke ponselku. Waktu kita cuma dua jam!" perintah Bram tanpa jeda."Siap, Bram! Aku langsung bergerak!" jawab Jeremy dari sebera

  • Brondongku Psikopat   Kembalinya Bramantya (3)

    "Mulai hari ini Mahardika akan melakukan pembersihan pada jajaran komisaris," ucap Bram dengan suara berat yang mengintimidasi. "Sepertinya ada komisaris nakal selain Pak Hadi seperti waktu itu."Hendra dan Jeremy saling pandang dengan raut pucat. Suasana di ruang kerja luas berornamen kayu mahal itu terasa membeku."Jer, kumpulkan seluruh riwayat log akses server selama tiga bulan terakhir, semenjak aku tidak ada dikantor!" perintah Bram tajam. "Aku mau nama orang yang pakai stempel digital itu ada di mejaku dalam waktu sepuluh menit.""Siap, Bram! Aku laksanakan sekarang," jawab Jeremy sigap. Pria itu langsung berbalik dan setengah berlari keluar ruangan.Bram mengalihkan tatapan dinginnya ke arah Hendra. "Dan kamu, Hendra... panggil seluruh jajaran komisaris untuk rapat darurat jam sepuluh pagi ini. Jangan kasih alasan apa pun.""Tapi, Pak Bram... Pak Hendrawan, Komisaris Utama, sedang ada di luar kota..""Paksa dia pulang!" potong Bram menekan. "Kalau dia menolak, bilang saya send

  • Brondongku Psikopat   Kembalinya Bramantya (2)

    "Bram! Kamu kenapa?!" Kiana panik. Tangannya gemetar mencoba menahan tubuh Bram yang mendadak oleng di balkon.Bram tak menjawab. Kedua tangannya mencengkeram kepala erat-erat. Pelipisnya berdiet hebat, seolah ada beribu jarum yang menusuk otak secara bersamaan. Nafasnya memburu, berat dan patah-patah.Ckiieeeek! BRAK!Bukan cuma suara rem truk boks di persimpangan jalan basah empat bulan lalu yang berputar di kepalanya. Bukan cuma dentuman keras saat tubuhnya terlempar ke aspal dingin, bersimbah darah malam itu.Ada kilasan memori lain dari malam kelam itu yang mendadak terbuka terang benderang.Malam di mana ia melarikan diri ke kontrakan pinggiran kota. Malam di mana ia bermaksud menghilang dari hidup Kiana demi menyembunyikan sisi gelapnya. Malam di mana jemarinya merogoh saku dalam jaket kulitnya dan menemukan selembar memo merah muda beraroma parfum Kiana.“Kamu pikir dengan bersembunyi dan bisa lari dari aku, Bram? Kamu lupa siapa yang paling tahu isi kepalamu? Berhentilah berb

  • Brondongku Psikopat   Kembalinya Bramantya

    Suasana di koridor RSD Harapan Kasih membeku saat ucapan Kiana menggantung di udara. Arini menahan napasnya, menatap Arya dengan tatapan pasrah. Ia tahu, rumah sakit ayahnya selamat hanya jika Arya menyetujui syarat itu.Arya memejamkan mata sejenak. Denyutan hebat di kepalanya mereda, menggantikan kebingungan dengan ketegasan yang utuh. Saat matanya kembali terbuka, sorot mata 'Arya' yang lugu telah sepenuhnya sirna, berganti menjadi tatapan tajam dan dingin milik Bramantya Yudha."Baik, Kiana," ucap Arya, atau Bram, dengan suara berat yang dalam. "Aku ikut kamu pulang ke Jakarta sekarang."Kiana mendesah lega, meski hatinya sedikit tercubit melihat betapa dinginnya tatapan sang suami.Bram berbalik perlahan, menatap Arini yang berdiri menunduk di belakangnya. "Arini, Pak Dharma... terima kasih atas semuanya. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian di sini.""Arya..." bisik Arini lirih, air matanya akhirnya menetas."Panggil saya Bramantya," potong Bram singkat, memutus hara

  • Brondongku Psikopat   Dua Pilihan (3)

    Malam yang melelahkan itu akhirnya berganti pagi. Namun, ketenangan di RSD Harapan Kasih hancur total saat fajar baru saja menyingsing.Arini baru keluar dari ruang jaga dengan mata yang masih sembap ketika Suster Rina berlari terengah-engah menghampirinya. Wajah perawat muda itu pucat pasi, memegang ponsel dengan tangan gemetar."Dokter Arini! Dokter... bahaya, Dok!" seru Suster Rina panik.Arini mengerutkan dahi, menghentikan langkahnya. "Ada apa, Suster Rina? Kenapa panik begitu?""Video Dokter kemarin malam... video Dokter sama Mas Arya di koridor viral di sosial media!"Arini membeku. "Viral? Video apa?"Suster Rina menyodorkan ponselnya. Di layar kaca, terpampang potongan video yang direkam secara diam-diam dari ujung koridor gelap semalam. Video yang memperlihatkan Arya menyapu air mata Arini dengan begitu intim, disertai narasi huruf kapital tebal:'SKANDAL DOKTER DESA PEREBUT SUAMI ORANG: DUA MINGGU SEMBUNYIKAN SUAMI PENGUSAHA KAYA BRAMANTYA YUDHA!'"Bukan cuma itu, Dok..." s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status