LOGIN"Suster Rita, cepat siapkan tabung oksigen cadangan dan bantu saya memapah beliau kembali ke ranjang sekarang juga!" teriak Alya panik, berlari menangkap tubuh Kakek Kusuma yang nyaris ambruk di ambang pintu VVIP. Pria sepuh itu merintih tertahan, tangan keriputnya mencengkeram dada kirinya dengan sangat kuat. Wajahnya membiru, napasnya terdengar berbunyi dan sangat pendek. "T-tapi Dokter Alya, Tuan Kusuma tadi tiba-tiba meronta dan memaksa keluar saat—" Suster Rita tampak sangat pucat dan kebingungan, kedua tangannya bergetar menahan tubuh Kakek Kusuma. "Nanti saja penjelasannya, Suster! Fokus pada pernapasan pasien!" potong Alya cepat, menahan bobot tubuh Kakek Kusuma yang semakin memberat di bahunya. "Kakek, tolong bertahan! Jangan tutup mata Kakek!" "Arga ... Alya ... kenapa cucuku dibawa pergi ...?" rintih Kakek Kusuma terputus-putus, matanya menatap nanar ke arah lorong kosong tempat kursi roda Putra menghilang. "Apa salah Arga ...?" "Kakek tidak boleh banyak bicara du
"Tunggu dulu, Jenderal!" sela Prof. Handoko dengan suara lantang, melangkah maju menengahi mereka. "Saya Prof. Handoko, Direktur Utama rumah sakit ini! Anda tidak bisa membawa pasien saya begitu saja!" Sang Jenderal menoleh dengan sorot mata meremehkan. "Ini urusan internal militer, Profesor. Anda tidak punya hak untuk ikut campur." "Saya punya hak penuh atas keselamatan pasien di Rumah Sakit ini!" bantah Prof. Handoko tak gentar. "Komandan Arga baru saja menjalani operasi besar di kepalanya semalam! Jika terjadi guncangan selama perjalanan, perdarahan di kepalanya bisa kembali pecah dan itu berakibat fatal! Sebagai dokter, saya menolak menandatangani surat kepulangan paksa ini!" "Kami tidak butuh surat izin sipil Anda, Profesor," jawab Sang Jenderal dingin. "Komandan Arga akan dipindahkan ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat sekarang juga. Di sana ada fasilitas ruang perawatan medis khusus yang tersambung langsung dengan sel isolasi tahanan militer. Dokter militer kami yang akan
"Hukum kemiliteran tidak mengenal belas kasihan bagi seorang perwira yang mengkhianati sumpah jabatannya, sekalipun dia sedang meregang nyawa di atas brankar rumah sakit!" Suara bariton Jenderal Sudirman terdengar sangat jelas di lobi Rumah Sakit Sentosa itu, membungkam setiap mulut yang berada di sana. Langkah sepatu larsnya yang tegap dan berat berdentum di atas lantai marmer. Di belakangnya, mengikuti barisan Polisi Militer yang bergerak serentak membentuk formasi pengamanan. "Jenderal! Saya mohon kebijaksanaan Anda!" Fatan nekat menghadang langkah atasannya itu, merentangkan kedua tangannya dengan wajah pucat pasi. "Komandan Arga baru saja melewati masa kritis pasca operasi besar di kepalanya, kurang dari dua belas jam yang lalu! Beliau belum bisa dipindahkan dari ruang rawat!" "Minggir, Letnan Fatan!" bentak Sang Jenderal dengan mata menyalang tajam. "Atau kau ingin kuseret ke mahkamah militer sekarang juga atas tuduhan menyembunyikan kejahatan atasanmu?!" "Siap, tidak
"Selamat pagi, Prof ... Ada apa memanggil saya pagi-pagi sekali?" sapa Santi, suaranya mulai bergetar menyadari atmosfer ruangan yang terasa seperti ruang eksekusi. "Duduklah, Dokter Santi. Dan serahkan id card serta pager rumah sakit Anda di atas meja sekarang juga," perintah Prof. Handoko tanpa basa-basi. "M-maksudnya apa, Prof? Kenapa saya harus menyerahkan id card saya?" Santi berdiri kaku, jantungnya mulai berpacu liar. Salah satu anggota Komite Etik melemparkan sebuah map tebal ke hadapan Santi. "Tadi malam, sistem audit keamanan kami menerima rentetan bukti yang sangat memberatkan Anda, Dokter Santi. Bukti mutasi rekening dari vendor farmasi ilegal, bukti rekaman CCTV saat Anda memanipulasi data dosis obat pasien enam bulan lalu, dan bukti pemalsuan absensi shift jaga." Mata Santi terbelalak seakan mau keluar dari kelopaknya. Kakinya lemas hingga ia terhempas ke kursi. Wajahnya yang tadi berseri-seri kini seputih kertas."I-ini... ini pasti salah paham! Ini fitnah!"
"Bagi seorang komandan pasukan elite, pembalasan paling mematikan bukanlah peluru yang menembus dada, melainkan kehancuran yang datang tanpa suara," batin Putra geram. Arga Putra melepaskan pelukannya perlahan, menatap kedua mata Alya yang masih basah oleh air mata, dengan sorot penuh janji. Ia mengusap pipi istrinya untuk terakhir kalinya sebelum membiarkan wanita itu kembali ke ruang istirahat, di bawah pengawasan ketat pasukannya dari jarak jauh. Begitu pintu kamarnya tertutup rapat, suasana di dalam ruang VVIP militer itu seketika memanas. Putra duduk di tepi ranjang, mencengkeram seprai dengan rahang mengeras. "Fatan!" panggil Putra dengan suara bariton yang berat dan dingin "Siap, Komandan!" Fatan melangkah maju, berdiri tegap dengan sikap sempurna di hadapan atasannya. "Aku ingin karier dokter itu tamat. Malam ini juga." "Maksud Anda Dokter Santi, Komandan?" "Siapa lagi?!" geram Putra. "Aku tidak ingin melihat wajahnya menginjakkan kaki di rumah sakit ini besok p
"Anda yang membuatnya memburuk, Dokter Santi!" balas Alya tak kalah keras, matanya menyorotkan amarah yang menyala. "Saya khawatir gara-gara ucapan provokasi dan fitnah Anda barusan, kondisi jantung Kakek Kusuma jadi drop lagi! Jika terjadi sesuatu padanya malam ini, Anda yang harus bertanggung jawab!" Santi tertawa sinis, tawanya jelas meremehkan peringatan dari Alya. "Tanggung jawab? Percaya diri sekali Anda, Alya! Anda pikir Tuan Kusuma akan terkena serangan jantung hanya karena kehilangan harapan untuk menjadikan perempuan seperti Anda sebagai menantunya?" Santi melirik Kakek Kusuma sekilas, lalu kembali menatap Alya dengan senyum mengejek. "Tuan Kusuma adalah konglomerat terhormat. Beliau pasti punya banyak pilihan perempuan baik-baik, terhormat, dan berasal dari keluarga berkelas untuk dijodohkan dengan Komandan Arga. Bukan perempuan bersuami dari kelas bawah yang pandai merayu sepertimu." "Anda benar-benar keterlaluan ..." desis Alya, menahan air matanya yang nyaris tumpa
“Kak, ini serius nggak apa-apa dibawa ke dalam?” desis Rudi saat tiba di depan pintu masuk rumah. Di punggungnya, bertengger pria yang baru saja mereka temukan bersimbah darah di kebun pisang.“Sudah, jangan banyak bicara dan cepat rebahkan dia di ranjang,” balas Alya tegas dengan wajah serius.Beb
Sementara itu, Hendra menunduk, rahangnya mengeras menahan malu. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera meraih lengan ibunya. “Bu, ayo … kita pergi,” ucapnya pelan, tapi lebih tegas.Bu Dianti sempat memberontak, tapi tatapan orang-orang di ruangan itu membuatnya akhirnya mengalah. Dengan dengusan ke
Ucapan Bu Dianti membuat seisi ruangan hening. Kalimatnya yang tajam bak tamparan keras ke wajah Alya di depan umum.Alhasil, Dina, yang sejak tadi menahan diri karena merasa ini bukan urusannya, langsung meledak.“Dasar kalian keluarga nggak tahu terima kasih!” bentaknya, suaranya bergetar tapi ta
“Aku nggak peduli kamu mau jual tubuhmu atau peras semua pasienmu. Yang jelas, minggu depan, utang ayahmu itu harus lunas!” Kalimat juragan Surya masih terngiang di kepala Alya saat dia menatap laci klinik yang terbuka di depannya. Tidak cukup. Uang yang Alya miliki bahkan tidak mendekati seteng







