MasukArga menegang seketika begitu mendengar kalimat yang dibisikkan istrinya. Hembusan napas Alya yang terasa begitu dekat menimbulkan getaran hebat yang menjalar langsung ke seluruh pusat sarafnya. Mata elang pria itu menggelap penuh tanda tanya, menatap lekat raut wajah Alya yang merona di bawah pendar temaram lampu tidur. "Cara lain ...?" ulang Arga dengan suara baritonnya yang kian berat dan serak, menahan sesak gairah yang kian membakar. Pria itu sedikit menegakkan tubuhnya, menatap Alya dengan kening berkerut penasaran. "Apa yang mau kamu lakukan, Sayang?" Alya tidak menjawab lewat kata-kata. Sebuah senyuman manis nan penuh arti terukir tipis di bibirnya. Tanpa ragu, jemari Alya yang halus terulur memegang pinggiran kaus polos yang dikenakan Arga, lalu perlahan mengangkatnya ke atas. Arga menurut tanpa bantahan, mengangkat kedua tangannya biarkan sang istri menanggalkan kausnya hingga terlepas sepenuhnya. Dada bidang Arga yang berotot tegap kini terekspos bebas, naik turun se
"Non Dina tidak apa-apa?" tegur Pak Birowo cemas saat melihat jari-jari Dina gemetar meremas foto di tangannya. Dina memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menetralkan gemuruh di dadanya. Rasa nyeri itu kembali menusuk, melihat Fatan berdiri begitu dekat dengan Karina dalam foto tersebut. "Saya ... saya tidak apa-apa, Pak Birowo. Terima kasih," jawab Dina pelan, mencoba tersenyum. Ia melangkah keluar menuju mobil yang hendak mengantarnya. Di dalam perjalanan, Dina membuka lembaran kertas laporan kepolisian yang turut dilampirkan dalam amplop. Matanya meneliti setiap baris tulisan resmi itu. Di sana tertulis jelas bahwa insiden penyerangan di apartemen murni dilakukan oleh orang-orang suruhan mantan suami Karina dan Fatan hanya bertindak sebagai penolong. Dina mengusap sudut matanya yang basah. Kebenarannya memang seperti ini ... Fatan tidak bersalah, batin Dina getir. Tapi melihat betapa mudahnya Karina berada di dekatnya, melihat Fatan tersenyum padanya ... aku
"Untuk apa kamu ke sini, Karina?" tanya Fatan dingin, menatap wanita di hadapannya dengan raut wajah datar. Karina menarik napas panjang, melangkah pelan mendekati Fatan sambil membawa tas pakaian milik perwira muda itu yang sempat tertinggal di apartemen. "Aku ke sini untuk membantumu pulang, Fatan. Aku tahu kamu sengaja tidak memberi tahu orang tuamu. Dan aku ... aku merasa sangat bertanggung jawab atas semua luka di tubuhmu ini." Fatan menghela napas berat, meraih tasnya dari tangan Karina dengan gerakan tegas. "Aku bisa pulang sendiri naik taksi, Karina. Kehadiranmu di sini hanya akan menambah kesalahpahaman jika ada orang lain yang melihat." "Fatan, listen to me!" panggil Karina lembut namun penuh penekanan. "Polisi sudah selesai memintaimu keterangan dari pihakku. Aku sudah menceritakan seluruh kebenarannya pada pihak berwajib dan aku juga sudah mengirimkan pesan penjelasan panjang pada Dina. Aku tidak ingin menjadi benalu lagi di dalam hidupmu." Fatan tertegun sejenak,
"Abaikan saja mereka. Kita langsung jalan," ucap Arga dingin, merapikan kancing jasnya tanpa sedikit pun menoleh ke arah pengawal pribadi yang berdiri siaga di hadapannya. Alya yang menggendong Baby Shaka dalam balutan selimut lembut mengusap lengan suaminya pelan. "Putra, setidaknya biarkan mereka melihat Shaka. Bagaimanapun juga, Pak Hendarman dan Bu Ratna sudah menunggu di luar sejak pagi." "Mereka yang memilih untuk berdiri di sana, Alya," potong Arga tegas, mengambil alih tas perlengkapan bayi dari tangan Dina. "Tugasku hari ini adalah membawa istri dan putraku pulang dengan aman tanpa ada gangguan emosional dari siapa pun. Dina, ayo." Dina hanya mengangguk pelan, berjalan menunduk mengiringi langkah Alya dan Arga menuju elevator khusus. Begitu rombongan keluarga Wardana keluar dari lobi utama Rumah Sakit Sentosa, jajaran pengawal berseragam hitam langsung membuat barikade rapat. Di seberang gerbang utama, tampak Bapak Hendarman dan Ibu Ratna berdiri dengan wajah tegang
"Bawa kembali semua bunga dan hadiah itu. Kami tidak menerimanya," ucap Arga dingin tanpa ragu sedikit pun, langsung mengembalikan kartu ucapan bertepi emas itu ke atas nampan perawat. Suasana di dalam ruang perawatan VIP seketika hening. Perawat dan kurir yang membawa kiriman mewah itu saling bertukar pandang dengan canggung, membeku di tempat. "T-tapi, Tuan Arga ..." ucap perawat itu ragu, suaranya gemetar menghadapi tatapan tajam dari pemilik RS Sentosa itu. "Pihak pengirim sudah membayar seluruh biaya pengiriman khusus ini dan sangat memohon agar hadiah ini bisa diterima oleh keluarga Anda." Alya menghela napas pelan dari atas ranjangnya, menatap suaminya dengan lembut. "Putra, tunggu sebentar ..." panggil Alya halus, mencoba meredakan emosi suaminya. Arga menoleh menatap istrinya dengan kening berkerut. "Ada apa, Alya? Kamu tahu sendiri apa yang sudah mereka lakukan pada Dina. Aku tidak butuh hadiah atau basa-basi dari keluarga itu." "Aku tahu, Sayang," balas Alya bijak
"Jangan halangi aku, Suster! Aku hanya ingin melihat keponakanku sebentar saja!" Suara parau Fatan terdengar dari luar pintu, napasnya tersengal-sengal menahan nyeri pada lengannya.Pintu ruang VIP itu terbuka makin lebar. Sosok Fatan berdiri gemetar di ambang pintu, bersandar payah pada sisi pintu.Wajahnya pucat, dengan kemeja pasien rumah sakit yang kedodoran dan perban tebal membungkus lengan atasnya. Setiap kali ia menggerakkan tubuhnya, cengkeraman jarum infus di punggung tangannya tampak memerah, menyalurkan rasa sakit yang luar biasa. Dina membeku di samping boks bayi. Matanya membelalak menatap pria yang beberapa jam lalu terkulai tak berdaya bersimbah darah di depannya. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk berlari mendekat dan memeluk pria itu, namun gengsi dan luka kesalahpahaman yang belum sepenuhnya sembuh kembali menahan langkah kakinya. Arga melangkah maju dengan wajah datar, berdiri tepat di depan Fatan sebelum pria itu melangkah lebih jauh ke dalam ruangan
Merasakan sulitnya bernapas, Alya memaki di dalam hati. Jangan-jangan… kekhawatiran adik laki-lakinya benar? Bahwa dia baru saja menyelamatkan orang berbahaya?! Sementara itu, dengan tatapan tajam dan penuh kewaspadaan, pria itu bertanya, “Siapa kamu?” Alya mengeryit, merasakan tulang lehernya
“Kak, ini serius nggak apa-apa dibawa ke dalam?” desis Rudi saat tiba di depan pintu masuk rumah. Di punggungnya, bertengger pria yang baru saja mereka temukan bersimbah darah di kebun pisang.“Sudah, jangan banyak bicara dan cepat rebahkan dia di ranjang,” balas Alya tegas dengan wajah serius.Beb
Sementara itu, Hendra menunduk, rahangnya mengeras menahan malu. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera meraih lengan ibunya. “Bu, ayo … kita pergi,” ucapnya pelan, tapi lebih tegas.Bu Dianti sempat memberontak, tapi tatapan orang-orang di ruangan itu membuatnya akhirnya mengalah. Dengan dengusan ke
Ucapan Bu Dianti membuat seisi ruangan hening. Kalimatnya yang tajam bak tamparan keras ke wajah Alya di depan umum.Alhasil, Dina, yang sejak tadi menahan diri karena merasa ini bukan urusannya, langsung meledak.“Dasar kalian keluarga nggak tahu terima kasih!” bentaknya, suaranya bergetar tapi ta







