Se connecter"Abaikan saja mereka. Kita langsung jalan," ucap Arga dingin, merapikan kancing jasnya tanpa sedikit pun menoleh ke arah pengawal pribadi yang berdiri siaga di hadapannya. Alya yang menggendong Baby Shaka dalam balutan selimut lembut mengusap lengan suaminya pelan. "Putra, setidaknya biarkan mereka melihat Shaka. Bagaimanapun juga, Pak Hendarman dan Bu Ratna sudah menunggu di luar sejak pagi." "Mereka yang memilih untuk berdiri di sana, Alya," potong Arga tegas, mengambil alih tas perlengkapan bayi dari tangan Dina. "Tugasku hari ini adalah membawa istri dan putraku pulang dengan aman tanpa ada gangguan emosional dari siapa pun. Dina, ayo." Dina hanya mengangguk pelan, berjalan menunduk mengiringi langkah Alya dan Arga menuju elevator khusus. Begitu rombongan keluarga Wardana keluar dari lobi utama Rumah Sakit Sentosa, jajaran pengawal berseragam hitam langsung membuat barikade rapat. Di seberang gerbang utama, tampak Bapak Hendarman dan Ibu Ratna berdiri dengan wajah tegang
"Bawa kembali semua bunga dan hadiah itu. Kami tidak menerimanya," ucap Arga dingin tanpa ragu sedikit pun, langsung mengembalikan kartu ucapan bertepi emas itu ke atas nampan perawat. Suasana di dalam ruang perawatan VIP seketika hening. Perawat dan kurir yang membawa kiriman mewah itu saling bertukar pandang dengan canggung, membeku di tempat. "T-tapi, Tuan Arga ..." ucap perawat itu ragu, suaranya gemetar menghadapi tatapan tajam dari pemilik RS Sentosa itu. "Pihak pengirim sudah membayar seluruh biaya pengiriman khusus ini dan sangat memohon agar hadiah ini bisa diterima oleh keluarga Anda." Alya menghela napas pelan dari atas ranjangnya, menatap suaminya dengan lembut. "Putra, tunggu sebentar ..." panggil Alya halus, mencoba meredakan emosi suaminya. Arga menoleh menatap istrinya dengan kening berkerut. "Ada apa, Alya? Kamu tahu sendiri apa yang sudah mereka lakukan pada Dina. Aku tidak butuh hadiah atau basa-basi dari keluarga itu." "Aku tahu, Sayang," balas Alya bijak
"Jangan halangi aku, Suster! Aku hanya ingin melihat keponakanku sebentar saja!" Suara parau Fatan terdengar dari luar pintu, napasnya tersengal-sengal menahan nyeri pada lengannya.Pintu ruang VIP itu terbuka makin lebar. Sosok Fatan berdiri gemetar di ambang pintu, bersandar payah pada sisi pintu.Wajahnya pucat, dengan kemeja pasien rumah sakit yang kedodoran dan perban tebal membungkus lengan atasnya. Setiap kali ia menggerakkan tubuhnya, cengkeraman jarum infus di punggung tangannya tampak memerah, menyalurkan rasa sakit yang luar biasa. Dina membeku di samping boks bayi. Matanya membelalak menatap pria yang beberapa jam lalu terkulai tak berdaya bersimbah darah di depannya. Ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk berlari mendekat dan memeluk pria itu, namun gengsi dan luka kesalahpahaman yang belum sepenuhnya sembuh kembali menahan langkah kakinya. Arga melangkah maju dengan wajah datar, berdiri tepat di depan Fatan sebelum pria itu melangkah lebih jauh ke dalam ruangan
"Selamat, Tuan Arga! Bayinya laki-laki, sangat sehat dan tampan!" seru dokter spesialis kandungan dengan senyuman lebar, membawa tubuh mungil yang basah itu ke atas dada hangat Alya. Tangisan kencang bayi laki-laki itu terdengar di seluruh sudut ruang bersalin Rumah Sakit Sentosa. Hingga ketegangan yang sejak tadi menyelimuti ruangan seketika lenyap. Oekk ...! Oekk ...! Oekk ...! Alya terkulai lemas di atas ranjang bersalin dengan napas tersengal-sengal. Pelipis dan rambutnya basah oleh keringat, namun bibirnya yang pucat menyunggingkan senyuman paling bahagia saat merasakan kehangatan tubuh mungil sang buah hati menempel di dadanya. "Anak kita, Putra ... anak kita sudah lahir ..." bisik Alya parau, air mata haru menetes pelan dari sudut matanya. Arga yang masih berdiri di samping kepala Alya membeku seketika. Pria yang terkenal dingin, tegas, dan tak pernah gentar menghadapi bahaya apa pun di dunia militer maupun bisnis itu kini merasakan tubuhnya gemetar. Dadanya bergemuru
"Pendarahan berhasil dihentikan. Beruntung luka tusuk di lengannya tidak mengenai pembuluh darah utama, namun ia kehilangan cukup banyak darah," ujar dokter residen bedah yang menangani Fatan. Dokter itu baru saja keluar dari pintu ruang penanganan UGD Rumah Sakit Sentosa.Dina yang berdiri menyandar di dinding lorong langsung menegakkan tubuhnya, sementara Alya mengembuskan napas lega. Arga merangkul bahu Alya pelan, lalu menatap dokter muda itu. "Bagaimana dengan kondisi kesadarannya sekarang?" "Pasien sudah sadar, Tuan. Hanya saja kondisinya masih sangat lemah dan perlu istirahat total. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan," jawab sang dokter sebelum berlalu kembali ke dalam. Arga menoleh ke arah istrinya yang tampak sangat pucat. "Alya, kamu tunggu di ruang tunggu saja bersama perawat. Jangan berdiri terus, kamu bisa kelelahan." "Aku tidak apa-apa, Putra. Aku hanya ingin memastikan Dina bisa menemani Fatan," balas Alya lembut, tersenyum kecil menenangkan suaminya.
Fatan tidak memberikan jawaban sepatah kata pun. Matanya menatap nyalang bagaikan singa kelaparan. Tanpa memberi kesempatan lawan untuk bersiap, Fatan melompat menerjang maju dengan kecepatan kilat! Bugh! Sebuah tendangan memutar yang sangat keras menghantam dada pria berpisau itu hingga terpental menabrak meja kaca sampai hancur berkeping-keping. Dua pria lainnya berusaha mengeroyok dari sisi kiri dan kanan, namun Fatan dengan lincah menepis pukulan mereka, mengunci lengan salah satu pengeroyok, lalu membantingnya keras-keras ke lantai semen. Baku hantam sengit terjadi di ruang tamu yang sempit itu. Meski Fatan berhasil menumbangkan dua pengeroyok hingga pingsan tak berdaya, pimpinan preman yang terluka mendadak bangkit kembali dan menyambar sebuah pecahan kaca tajam di lantai.Dengan sisa tenaganya, pria itu menerjang beringas ke arah Karina yang terikat di sudut ruangan. "Karina, awas!" teriak Fatan refleks melompat pasang badan melindungi Karina. Sret--! Ujung pecaha
“Kak, ini serius nggak apa-apa dibawa ke dalam?” desis Rudi saat tiba di depan pintu masuk rumah. Di punggungnya, bertengger pria yang baru saja mereka temukan bersimbah darah di kebun pisang.“Sudah, jangan banyak bicara dan cepat rebahkan dia di ranjang,” balas Alya tegas dengan wajah serius.Beb
Sementara itu, Hendra menunduk, rahangnya mengeras menahan malu. Tanpa banyak bicara lagi, ia segera meraih lengan ibunya. “Bu, ayo … kita pergi,” ucapnya pelan, tapi lebih tegas.Bu Dianti sempat memberontak, tapi tatapan orang-orang di ruangan itu membuatnya akhirnya mengalah. Dengan dengusan ke
Ucapan Bu Dianti membuat seisi ruangan hening. Kalimatnya yang tajam bak tamparan keras ke wajah Alya di depan umum.Alhasil, Dina, yang sejak tadi menahan diri karena merasa ini bukan urusannya, langsung meledak.“Dasar kalian keluarga nggak tahu terima kasih!” bentaknya, suaranya bergetar tapi ta
“Aku nggak peduli kamu mau jual tubuhmu atau peras semua pasienmu. Yang jelas, minggu depan, utang ayahmu itu harus lunas!” Kalimat juragan Surya masih terngiang di kepala Alya saat dia menatap laci klinik yang terbuka di depannya. Tidak cukup. Uang yang Alya miliki bahkan tidak mendekati seteng







