LOGIN[Maaf, malam ini aku harus kembali ke rumah Kakek. Istirahatlah] Alya menatap layar ponselnya yang menyala di atas nakas dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya. Biasanya, semarah apapun dia, Arga Putra selalu memiliki cara untuk meluluhkan hatinya. Mungkin dengan dekapan hangat, sentuhan lembut, atau sekadar tatapan mata yang menenangkan. Namun, kali ini semuanya berbeda. Putra justru memilih pergi dan meninggalkannya sendirian di tengah kecamuk ketakutan pasca insiden penyerangan tadi. Air mata Alya kembali luruh, mengalir begitu saja membasahi pipinya. Semakin lama ia merenung, semakin bulat pula keyakinan di dalam hatinya bahwa dirinya memang tidak pernah menjadi sesuatu yang penting bagi sang perwira. Bayangan wanita anggun yang mengaku sebagai calon istri Putra kembali berkelebat di kepalanya. Jika benar pada akhirnya wanita itulah yang akan bersanding secara resmi dengan Putra di hadapan keluarga dan negara, lalu apa arti keberadaannya sekarang? "Mungkin ... sudah sa
"Siapa yang mengirim kalian berdua, hah?!" bentak suara bariton yang menggelegar, terdengar dominan di tengah malam yang begitu sepi. Alya, yang sejak tadi memejamkan mata rapat-rapat bersiap menerima hantaman telak, perlahan membuka matanya. Di hadapannya, bayangan tegap itu bergerak secepat kilat. Itu adalah Arga Putra. Masih dengan pakaian militernya, pria itu langsung melayangkan hantaman fisik yang brutal dan terarah kepada dua pria berpenampilan pegawai kantoran yang tadi menyerangnya. Dalam hitungan detik, salah satu penyerang tersungkur mencium aspal akibat tendangan telak di bagian perut. Namun, di tengah situasi yang kacau dan saat Putra bersiap melumpuhkan pria kedua untuk menginterogasi tujuan mereka, kedua penyerang itu mendadak memanfaatkan celah sempit. Mereka bangkit tergopoh-gopoh dan langsung kabur melarikan diri menyusup ke dalam gelapnya gang sempit, meninggalkan Putra tanpa sempat mendapatkan jawaban apa pun. Putra mendengus kasar, mengepalkan tangannya erat
"Calon istri?" batin Alya. Naura mengucapkan kalimat itu dengan sangat yakin. Suaranya terdengar arogan dan cukup keras. Mendengar itu Alya akhirnya mengurungkan niatnya untuk melangkah keluar. Ia terdiam mematung di ambang pintu, berusaha mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir wanita itu. "Menikah dengan pemilik Rumah sakit ini? Siapa? Cucu Kakek ada dua. Putra dan Panca. Tapi di foto itu Putralah yang berdua dengan wanita itu," pikir Alya. Tak lama berselang, ia mendengar Naura dengan pongah mengancam akan langsung melangkah menuju bagian direksi rumah sakit untuk melakukan komplain besar-besaran. Meski hatinya terasa remuk redam dan hancur berkeping-keping oleh kenyataan pahit tersebut, Alya berusaha untuk tidak memperlihatkan kesedihannya. Ia sedang bekerja dan harus profesional. Alya menarik napas dalam-dalam, menutup matanya sejenak, mengumpulkan sisa-sisa kewarasan dan integritasnya sebagai seorang dokter. Begitu keributan di luar mereda, Alya kembali duduk di
Alya terkejut bukan main. Namun ia berusaha menarik napas dalam-dalam. Mencoba untuk tetap bersikap profesional, memasang wajah setenang mungkin seolah-olah ia tidak mengenali wanita muda yang berdiri di hadapannya itu. Dua wanita yang menjadi pasiennya hari itu ternyata adalah ibu dan anak. Sang ibu paruh baya berpenampilan glamour itu duduk di kursi pasien, sementara wanita muda berparas cantik , yang dipastikan adalah wanita di dalam foto bersama Putra itu berdiri anggun di sisinya. "Selamat pagi, Ibu. Silakan duduk," sapa Alya dengan suara yang diusahakan selazim dan seramah mungkin, menatap berkas rujukan di atas meja. "Berdasarkan surat rujukan ini, pasien atas nama Ibu Dora ya? Mari kita periksa keluhannya." Ibu Dora mengangguk sopan. Ia baru saja dirujuk oleh dokter spesialis penyakit dalam ke departemen bedah umum untuk segera menjadwalkan tindakan operasi pengangkatan batu empedu. Alya mulai menjelaskan prosedur medis yang harus ditempuh dengan bahasa yang santai dan
Mereka mulai menikmati sarapan pagi itu dalam keheningan. Alya memang sudah tidak menangis, namun ia masih tampak pendiam dan tidak banyak bicara. Putra, yang masih melihat sisa-sisa kesedihan dan kekecewaan di manik mata istrinya, merasa suasana hati Alya belum sepenuhnya pulih. Ia tahu persis, jika ia memaksakan diri untuk mengulang momen intim seperti di kolam renang kemarin, itu bukanlah waktu yang tepat. Sebagai gantinya, Putra mencoba mencairkan suasana dengan cara lain. "Alya, bagaimana kalau kita memanfaatkan sisa waktu pagi ini untuk latihan bela diri lagi?" tawar Putra di sela-sela kunyahannya. Ia berusaha bersikap lebih ceria. "Masih ada waktu sebelum kita harus bersiap ke tempat tugas masing-masing." Putra melirik arlojinya. Mendengar ajakan itu, sorot mata Alya sedikit berbinar. Ia mengangguk antusias. "Boleh! Aku setuju." Akhirnya, selepas sarapan dan membereskan meja, keduanya melangkah menuju ruang olahraga indoor di ujung lorong apartemen. Sesi latihan pagi
"Jadi, karena hal ini kamu sedih ?" tanya Arga Putra dengan nada suara yang terdengar tegas namun ada kelegaan di dalamnya. Pria itu melangkah mendekati ruang makan, lalu menyodorkan benda pipih milik Alya. Layar ponsel itu masih menyala terang, menampilkan foto dirinya dan Naura yang sedang duduk bersama di dalam mobil. Alya, yang saat itu sedang sibuk menyiapkan piring dan cangkir di meja makan sontak menoleh. Begitu melihat layar ponselnya sendiri terpampang nyata di hadapan wajahnya, seketika darahnya berdesir naik. Wajahnya langsung memerah padam menahan rasa gugup yang luar biasa. Hatinya mencelos; ia merasa tertangkap basah karena cemburu. Dan rasa malu itu mendadak menguasai seluruh akal sehatnya. Ia tidak ingin suaminya tahu bahwa ia begitu terusik karena foto itu. Ia juga tidak ingin Putra tau bahwa ia sangat mencintai suaminya itu hingga jatuh pada titik serapuh ini. "T-tidak! Sudah kubilang dari tadi, aku hanya kangen sama almarhum Ayahku!" bantah Alya dengan suara
“Kakak punya utang ke Juragan Surya? Sejak kapan?” Rudi lanjut bertanya. “Kenapa nggak bilang?“Rud, nanti dulu,” balas Dina. “Kak Alya berdarah. Kita obati dulu dia.”Alya diajak ke ruang keluarga, tempat kotak obat disimpan. Sempat ia menoleh ke arah Putra dan menyuruh pria itu agar berbaring dan
“Geledah rumahnya! Bawa semua barang yang berharga!”Tangan kanan Juragan Surya memberikan instruksi, yang langsung diikuti seruan dari para anak buahnya, tampak girang karena bisa mengacak-acak kediaman Alya.Sementara itu, Putra diam di tempat persembunyiannya. Sesuai janji, ia tidak boleh membia
“Udah berapa hari ini, Hen? Apa masih belum ada kabar dari perempuan sial itu!?”Di kediamannya, Bu Dianti sedang mengomel tepat ketika beliau melihat Hendra keluar kamar untuk makan. Sudah lebih dari tiga hari berlalu sejak keributan di klinik, tapi Bu Dianti tidak mendapatkan kabar apa-apa soal p
Hendra mencoba melangkah masuk, tapi Alya langsung menghadang tubuh pria itu. “Kamu mau apa?” tanya Alya dingin. “Siapa di dalam?” “Nggak ada siapa-siapa. Tolong pergi.” “Nggak! Aku yakin aku dengar sesuatu dari dalam. Kamu ada tamu sepagi ini?” “Ya, mantan tunanganku yang sekarang sedang mem







