MasukHelikopter pribadi milik keluarga Wijaya mendarat mulus di pelataran atap gedung Grand Ballroom Universitas Nusantara. Juna melangkah turun dari pintu helikopter dengan gerakan tegap, merapikan jas eksklusif hitamnya secara satset.
Ibu Arini Kusuma bersama Clarissa Wijaya dan Aurel berjalan anggun di sisi kiri dan kanan sang mahasiswa kedokteran.
Suasana di dalam Grand Ballroom tampak sangat megah, dipadati ribuan dokter spesialis, peneliti farmasi, d
Lampu kristal gantung di ruang rapat utama lantai tiga puluh lima penthouse memancarkan cahaya keemasan yang hangat. Aroma seduhan jamu sakti berpadu wangi dupa melati keraton menyelimuti meja oval marmer hitam, tempat seluruh wanita tercantik dan paling berpengaruh di tanah air duduk melingkar.Juna berdiri kokoh di ujung meja mengenakan setelan kemeja sutra hitam bergaris perak, memancarkan wibawa Tingkat Dewa Pengasihan yang sangat kental.Ibu Arini Kusuma duduk berdampingan di sisi kanan Juna, memangku jemari lenturnya yang kini telah berhias cincin berlian emas berkilau.Clarissa Wijaya, Madam Elena, Aurel, Nyai Sekar, Mbak Ratna, dan Siska Anastasya menatap lurus ke arah sang juragan muda dengan berbagai ekspresi penuh antisipasi."A-Aa... anu, semuanya! S-Su-Sumpah, Juna kumpulin kalian semua di meja ini mau mengumumkan hal paling sakral dalam hidup Juna!" cicit Juna pura-pura gugup diawal.
Angin malam berembus sejuk menyapa hamparan ribuan bunga mawar putih dan melati keraton di taman atap penthouse lantai tiga puluh lima. Gemerlap lampu kota metropolitan terbentang luas bagaikan permadani intan di bawah langit berbintang bersih.Juna melangkah tegap menggandeng jemari lentur Ibu Arini Kusuma keluar dari lift pribadi menuju gazebo kaca beratap rimbunan tanaman anggur keemasan.Ibu Arini Kusuma berjalan berdampingan mengenakan gaun malam sutra hijau zamrud tanpa lengan, membiarkan kain sutra tipis itu meliuk mencetak panggul sintalnya.Sepasang melon montok milik sang guru idola membusung kencang di balik belahan dada gaun, memancarkan pesona matang yang teramat harum.Clarissa Wijaya bersama Madam Elena dan Aurel mengamati dari balik pintu kaca teras, menjaga suasana privat agar tidak terganggu."A-Aa... anu, Bu Arini! S-Su-Sumpah, taman atap ini beneran Juna ranca
Pintu ganda ruang meditasi kedap suara di lantai paling atas rumah sakit tertutup rapat secara satset. Asap dupa kayu gaharu berpadu kemenyan madu mengepul halus dari bejana tembaga, menyebarkan aroma mistis yang menenangkan saraf di sekeliling lantai marmer hitam.Juna duduk bersila di atas bantalan sutra emas, menahan gejolak panas dingin yang membakar jalur meridian panggulnya.Nyai Sekar duduk bersimpuh tepat di hadapan Juna, mengibaskan selendang hijau zamrudnya seraya membacakan bait mantra pengunci cakra.Keringat dingin keemasan menetes dari pelipis Juna, membasahi kerah kemeja sutra hitamnya yang terbuka lebar di bagian dada."A-Aa... anu, Nyai Sekar! S-Su-Sumpah, perut bawah Juna rasanya seperti mau meledak disiram lahar mendidih!" cicit Juna pura-pura panik diawal."Tahan napas Gusti dan pusatkan batin ke cakra pusar sekarang!" sahut Nyai Sekar khusyuk menempelkan cerm
Pita sutra merah berhias untaian melati emas terbentang megah di depan lobi marmer Rumah Sakit Utama Arjuna Dewangga. Gedung pencakar langit setinggi dua puluh lantai itu berdiri kokoh di pusat distrik medis ibu kota, memamerkan arsitektur modern berpadu ukiran gebyok kayu jati nusantara.Juna berdiri di tengah pelataran lobi mengenakan jas putih dokter kehormatan berpadu kemeja sutra hitam, memegang gunting emas berpita perak.Ibu Arini Kusuma mendampingi di samping kanan dengan kebaya modern hijau zamrud, memancarkan pesona keibuan yang sangat anggun dan memesona.Clarissa Wijaya bersama Madam Elena, Aurel, Nyai Sekar, Mbak Ratna, dan Siska Anastasya berdiri berjajar mengapit panggung kehormatan.Lautan manusia yang terdiri dari ribuan pasien lokal, pejabat kementerian, hingga warga negara asing tampak memadati pelataran rumah sakit sejak subuh."A-Aa... anu, Ibu Dekan Amanda! S-Su-Sumpah, antrean nomor pendaftaran pasien di loket luar itu beneran sudah tembus lima ribu orang?!" cic
Hawa sejuk pegunungan membelai lembut teras marmer kaca vila kepresidenan milik keluarga Wijaya di kawasan Puncak. Kolam air hangat tanpa batas memancarkan uap harum bertabur kelopak mawar merah dan sedap malam, berlatar pemandangan gemerlap lampu lembah yang membentang luas.Juna duduk santai di kursi malas kayu jati berukir emas mengenakan jubah sutra hitam terbuka, menyesap secangkir jamu sakti racikan khusus.Di sekelilingnya, seluruh wanita tercantik dan paling berkuasa di tanah air berkumpul mengenakan gaun tidur sutra tipis yang memamerkan kemolekan raga masing-masing.Clarissa Wijaya menuangkan anggur fermentasi herbal ke cangkir kristal, tersenyum bangga memandang sosok dokter muda kebanggaannya."A-Aa... anu, Kak Clarissa! S-Su-Sumpah, vila puncak seluas lima hektare ini beneran disewa privat cuma buat pesta malam kita?!" cicit Juna pura-pura lugu diawal."Vila ini bukan disewa, Arjuna... keluarga Wijaya sudah membelinya secara tunai sebagai hadiah kelulusan doktermu!" pangk
Langkah tegap Juna memimpin iring-iringan memasuki gedung auditorium agung Universitas Nusantara yang dipadati sepuluh ribu pasang mata. Karpet beludru merah terbentang megah menuju podium utama, diiringi dentuman musik prosesi agung dan gemuruh tepuk tangan ribuan wisudawan.Juna mengenakan jubah toga sutra hitam berkerah emas murni, memancarkan wibawa Tingkat Dewa Pengasihan yang tiada tanding.Ibu Arini Kusuma berjalan anggun tepat di samping kanan Juna, memukau seisi ruangan dengan kebaya hijau zamrud emas yang memancarkan aura permaisuri agung.Clarissa Wijaya bersama Madam Elena, Aurel, Nyai Sekar, Siska Anastasya, dan Mbak Ratna duduk di barisan kehormatan keluarga inti.Rektor universitas bersama Dekan Fakultas Kedokteran Ibu Amanda melangkah maju, memindahkan tali kuncir toga di topi wisuda Juna secara satset."A-Aa... anu, Pak Rektor! S-Su-Sumpah, toga ini beneran resmi bikin Juna bergelar dokter?!" cicit Juna pura-pura lugu diawal."Hari ini sejarah mencatatmu sebagai Dokte
Pak Broto terbelalak syok, matanya nyaris keluar melihat kelancangan murid melarat di depannya yang berani merangkul aset berharga sekolah.Clarissa Wijaya pun membeku seketika, napasnya tertahan saat punggungnya menempel pas pada dada bidang Juna yang terasa hangat menembus seragam.Gejolak energi
Siska Anastasya berdiri dengan berkacak pinggang, matanya melotot menatap Juna dan Ibu Arini bergantian. "Kak Juna kok malah berduaan sama Bu Arini di depan toilet sihhh...?" tanya Siska dengan nada manja yang dibuat-buat.Juna menelan ludah kesat, keringat dinginnya mengalir semakin deras melintas
Juna panik setengah mati melihat tubuh Ibu Arini Kusuma yang tergeletak kaku di atas lantai toilet yang sedikit basah.“Duh, Gusti! Kalau beliau mati di sini, aku pasti dituduh melakukan malapraktik atau lebih parah lagi dituduh berbuat mesum sama mayat!” batin Juna dengan keringat dingin yang meng
"Arini! Saya tahu kamu di dalam! Buka pintunya!" teriak Pak Broto dari luar toilet dengan nada mengancam.Juna membeku di tempat, tangannya gemetaran hebat hingga botol jamu di keranjangnya beradu menimbulkan bunyi denting yang berisik.“Mampus... mampus... kalau Pak Broto lihat aku di sini sama Bu







