Share

BAB 4

Dimas menatap iba ke arah Naomi, ia berkali-kali menggigit bibirnya dan terlihat tengah mempertimbangkan sesuatu. Sedangkan Naomi sudah yakin bahwa Dimas mengetahui sesuatu.

Di saat yang bersamaan asisten Dimas datang menghampiri mereka tanpa peduli apa yang sedang terjadi antara bosnya dengan Naomi. “Pak, Ibu Anda....” asisten itu membisikkan sisanya pada Dimas.

Dimas sontak terlihat panik dengan terpaksa ia melepaskan genggaman Naomi pada jasnya dengan kasar. “Maaf Nom, aku harus pergi.”

“Jawab aku dulu, kamu bahkan ga jawab pertanyaanku kemarin!” rutuk Naomi dengan deraian air mata di wajahnya.

Namun percuma saja Naomi tidak bisa mencegah Dimas pergi, pria itu tetap pergi begitu saja seperti sebelumnya tanpa menjawab kegelisahan Naomi dan dengan tatapan yang mencurigakan.

Naomi memungut kembali anting sialan itu. Sudah dua bukti mengarah pada Maya, parfum dan anting itu, tapi tidak ada satu pun bukti nyata yang ditemukan Naomi. Semua bukti yang terkumpul bisa dengan mudah di sanggah oleh Pandu jika Naomi mempertanyakan kecurigaannya pada pria itu.

Dan semua ini mulai menyesakkan.

Seperti hari sebelumnya Naomi memilih untuk kembali ke butik karena kondisi hati dan pikirannya terlalu kalut untuk pulang ke rumah. Selain itu Naomi juga tidak yakin ia bisa bersikap normal pada Pandu setelah apa yang ia temukan siang tadi.

Namun sikapnya membuat para karyawan mulai bertanya-tanya karena sebelumnya Naomi tidak pernah menginap di butik. Tidak peduli sebanyak apa pun pesanan, Naomi selalu pulang walaupun larut malam.

Tapi Naomi tidak peduli ia memilih untuk menyibukkan diri, menyiapkan setiap pesanan dari kliennya demi mengusir beban hati dan pikirannya.

Setelah menyelesaikan satu lagi pesanan tersisa, Naomi memilih untuk rehat sejenak. Ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di ruangan kerja dan membaringkan tubuhnya, mengistirahatkan sendi-sendinya yang sudah bekerja keras sejak pagi sampai malam hari.

Tak berselang lama dering berbunyi nyaring dari ponsel Naomi. Ada sebuah panggilan masuk dari Pandu. Naomi pun langsung mengangkatnya walaupun dengan setengah hati.

“Sayang, aku mendadak ada kerjaan ke Bali selama dua hari. Kamu jangan lupa makan ya, kunci pintu rapat-rapat kalau ada apa-apa telepon aku. Oh ya aku masak sesuatu buat kamu sebelum pergi, kamu tinggal angetin aja kalo mau makan,” terang Pandu di ujung sana.

Kening Naomi sontak berkerut, kecurigaan kembali menyelimuti hatinya. “Kok dadakan banget?”

“Ya, gatau nih bos emang ada-ada aja aku bahkan hampir telat nyampe bandara, bawa baju juga asal-asalan. Oh ya maaf ya Mi lemarinya jadi berantakan.”

“Oh ya udah hati-hati,” jawab Naomi seraya melihat jadwal penerbangan pesawat di internet.

Memang benar ada jadwal penerbangan menuju Bali sekitar satu jam lagi, tapi hal itu tidak lantas membuat Naomi percaya bahwa Pandu memang pergi untuk urusan pekerjaan.

Naomi pun kembali bangkit dari duduknya, mengambil sweaternya dan bergegas pergi meninggalkan butik.

‘Aku harus memastikannya sendiri.’

Selama ini Naomi hanya tahu kalau Pandu ada urusan pekerjaan ke luar kota atau ke luar negeri hanya dari mulut Pandu saja, tanpa tahu apa benar ia dikirim ke sana oleh atasannya atau itu hanya akal-akalannya saja.

“Ke Andromeda Star agensi ya Pak.” Pinta Naomi begitu ia menaiki sebuah taksi.

Setelah menempuh perjalanan 30 menit akhirnya Naomi tiba di tempat suaminya bekerja. Tempat itu masih ramai oleh lalu lalang wanita cantik dan pria-pria tampan yang tidak lain adalah para model di agensi tersebut.

Naomi memberanikan diri untuk masuk ke dalam gedung dan berjalan menuju meja penerimaan tamu. Naomi langsung di sambut oleh sapaan ramah dari seorang Wanita yang tengah berjaga.

“Saya sahabatnya Pandu Satya, saya ingin tau apa benar Pandu, fotografer di sini sedang ditugaskan ke luar kota?”

“Oh kak Pandu ya. Engga tuh, yang terakhir itu waktu ada acara di New York dua bulan lalu.”

Seketika wajah Naomi memutih, darahnya dari kepala seolah tersedot habis tak bersisa dan membuat kepalanya pening tak tertahankan. Pandu telah berbohong kepadanya. Kalau begitu di mana suaminya sekarang?

Kepala Naomi mulai berputar-putar dan membuatnya kehilangan keseimbangan beruntung seorang satpam segera membantu Naomi.

Ketika melihat satpam di hadapannya tiba-tiba saja Naomi teringat lagi akan sesuatu dan dengan segera berusaha menahan dirinya agar terlihat baik-baik saja.

“Pak, apa Pandu fotografer yang bekerja di sini dua hari lalu menginap di sini?” tanya Naomi tanpa memedulikan kondisi tubuhnya, ia lebih penasaran tentang Pandu saat ini.

“Oh beliau memang sempat datang sebentar sekitar 10 menit, lalu pergi lagi, beliau tidak menginap bahkan tidak pernah menginap di agensi.”

“Ya Pandu kerjanya super cepat jadi ga pernah ada lembur,” timpal wanita di balik meja.

 Deg!!! Hati Naomi mencelos mengetahui bahwa ternyata selama ini Pandu membohonginya tentang urusan pekerjaan dan kesibukannya. Bagaimana bisa pria itu tega melakukannya? Di saat Naomi selalu memberikan kepercayaan penuh padanya.

“Terima kasih Pak, kak, tolong jangan beritahu Pandu ya kalau saya bertanya tentang hal ini,” ucap Naomi dengan lemah kemudian ia beranjak keluar dari gedung agensi itu dengan langkah sempoyongan.

Pikiran Naomi benar-benar kacau, kekecewaan mulai mencekik Naomi seiring dengan kepercayaannya yang porak-poranda pada suami yang dicintainya itu.

Naomi terduduk di trotoar jalan dan berpikir ke mana kemungkinan suaminya pergi. Namun seolah tuhan ingin menunjukkan keburukan suaminya dan mengungkap rahasia kelam yang sebenarnya, tiba-tiba saja terdengar dua orang pria yang baru saja keluar dari gedung agensi bercakap-cakap membicarakan Pandu.

“Eh tadi sore gue liat orang mirip si Pandu di hotel Mutiara,” celetuk pria berbaju kotak-kotak.

“Ngarang lu ngapain si Pandu di sana? Ga ada kerjaan, rumahnya kan ga jauh-jauh amat dari hotel itu. Salah liat kali.”

“Tapi beneran mirip banget gila, lagian siapa tau dia lagi berantem sama istrinya terus di suruh tidur di luar.”

Naomi yang diam-diam menguping percakapan tersebut tanpa membuang banyak waktu segera bangkit dan bergegas menuju hotel yang dimaksud. Meskipun pernyataan pria itu tidak meyakinkan tapi Naomi tetap harus memeriksanya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status