Share

Bab 2. Ragu

Penulis: Ai
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-05 08:02:15

Kegelisahan itu jelas tampak dalam hatiku. Menimbang dan mengingat semua perkataan sosok itu.

“Aku Alpha Benjamin. Usiaku 26 tahun. Baru tinggal di sini beberapa waktu lalu. Kebetulan aku adalah keponakan pria berengsek yang sudah menjadi kekasihmu 11 tahun lamanya. Aku memberimu waktu sampai besok jam empat sore untuk mempertimbangkan saran yang aku berikan padamu.”

Masih terngiang semua perkataan pria muda bernama Alpha Benjamin itu. Membuat kepalaku berdenyut hebat.

“Siapa sebenarnya cowok itu? Kenapa bisa tahu semua tentang aku dan Damian? Apa benar dia keponakan pria berengsek itu?” Berjuta pertanyaan itu menyerang kepalaku dan membuatnya semakin berdenyut sakit.

Bahkan pria itu tahu apa yang terjadi antara aku dan Damian. Yang lebih mengherankan lagi dia menawarkan sesuatu yang tidak masuk akal sama sekali. Yang lebih membuat aku tak bisa berkata-kata. Ternyata dia adalah keponakan Damian. Itu artinya__

“Kamu ingin balas dendam bukan?”

Kembali ucapan itu terngiang. Bahkan dia yang menabrakku. Menolongku juga mengatakan ingin menikahiku.

Laki-laki bernama Alpha itu sudah tahu banyak tentang aku sebelum aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Jujur tidur lalu malam ini tidak nyenyak sama sekali. Membuat mata pandaku terlihat menyeramkan.

Ketika pagi tiba aku terlihat linglung. Sedikit kesiangan namun aku yakin tidak terlambat pergi ke kantor.

Agak terburu dan tergesa aku masuk ke dalam pintu lift yang sudah hampir penuh itu. Tercium aroma maskulin rasa vanila yang membuat aku sejenak terlena menghidunya. Harum bau parfum pria itu memang seolah menghipnotis siapapun yang mencium aromanya.

Ting!

Terdengar suara pintu lift terbuka. Sekali lagi aku tergesa berjalan keluar dari pintu lift tersebut tanpa menyadari ada seseorang yang sudah memperhatikan semua gerak-gerikku sejak tadi.

“Dior. Kamu kenapa?” tanya Chalondra, sahabat baikku yang sekaligus bekerja satu devisi denganku. “Mata panda kamu parah banget. Kamu tidak bisa tidur semalaman?” Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaan wanita yang usianya setara denganku itu. “Apa ada yang terjadi?” tanyanya masih belum menyerah karena rasa penasarannya yang begitu kuat. Aku menoleh lantas menjawab dengan telak.

“Pria 11 tahunku tidur dengan adik tiriku. Sebaiknya apa yang harus aku lakukan?” Chalondra tampak terkejut bukan main.

“Apa?” Hanya itu yang keluar dari bibir merah jambunya itu. Membuat aku sedikit kesal.

“Akh, sudahlah! Seharusnya aku tak pernah menceritakan ini padamu,” ucapku sibuk menyiapkan berkas untuk rapat pagi ini.

“Kamu putuskan saja dia. Laki-laki brengsek seperti itu pantasnya dibuang.” Aku tertegun sejenak. Menghentikan aktivitas tanganku yang sedari tadi sibuk menyiapkan semua berkas pekerjaanku.

Benar kata Chalondra. Aku memang harus mengakhiri hubungan tidak sehat ini. Sudah jelas-jelas pria itu mengkhianatiku di depan mataku. Untuk apalagi aku harus mempertahankannya.

“Kamu benar, Cha. Aku harus memutuskan hubungan ini.” Chalondra tampak berbinar. Dia cukup senang karena ide dan pendapatnya aku terima.

“Oke. Kita fokus ke pekerjaan kita. Dengar-dengar dari sekertaris wakil direktur, CEO perusahaan kita hari ini sudah datang dan akan memimpin perusahaan fashion kita.”

Kali ini aku yang terkejut. Namun tiba-tiba sudut bibirku melengkung membentuk senyuman penuh kemenangan.

“Damian Atlas. Hari ini adalah awal kehancuranmu. Kekuasaan yang selama ini kamu banggakan akan segera berganti pada orang yang tepat yang memang seharusnya menempati posisinya,” batinku berkata menggelora membangunkan sebagian adrenalin yang kemarin sempat tumpah terlampiaskan pada sosok muda itu.

Tiba-tiba aku teringat Alpha Benjamin. Bodohnya aku tidak meminta nomor kontak pria itu. Mungkin saja aku akan menyetujui tawaran yang dia berikan padaku. Menikahi pria muda itu untuk membalas dendam pada pria brengsekku itu.

“Dior. Bawa semua berkas ke ruang rapat. Sebentar lagi, Tuan Damian akan datang.” Aku terhenyak mendengar perintah itu.

Jelas-jelas jabatanku tidak setara dengan wanita muda itu. Bisa-bisanya dia memerintahku seenak jidatnya sendiri seolah dia yang menggaji aku. Namun aku hanya terdiam dan menatapnya penuh kebencian. Terlihat dia sangat cantik dan penampilannya memang masih sangat muda. Mendadak di dalam hatiku ada rasa minder yang menjelma.

“Mungkin saja Damian berselingkuh dengannya karena aku sudah jelek. Sudah tua dan tidak secantik daun muda. Akh!”

Pikiran kotor itu menjeratku dalam bayang-bayang semu yang menakutkan. Seketika kepercayaan diriku hancur lebur merusak otak warasku.

Hubunganku dengan Damian memang sangat rahasia. Selama 11 tahun ini dia tidak pernah ingin mempublikasikan siapa aku yang sesungguhnya. Aku satu kantor dengannya. Bahkan beberapa tahun ini dialah yang menjadi atasanku. Dulunya akulah yang selalu dia percaya untuk menjadi asisten pribadinya. Namun semenjak kedatangan Alexa Prasasti ke kantor ini bahkan menjadi bagian dari keluarga Dior hidupku menjadi berantakan.

Belum ada setahun kematian mamaku, papa tersayangku menikahi wanita berstatus janda dengan anak satu. Dan anak itu adalah Alexa Prasasti. Wanita muda yang usianya setara dengan Alpha Benjamin.

Kedudukanku naik menjadi seorang pimpinan CFO yang bertanggung jawab sebagai pimpinan keuangan. Segala yang berangkutan dengan keuangan perusahaan itu menjadi urusanku dan aku bertanggung jawab atas segala resiko yang terjadi di perusahaan termasuk kehilangan dana ataupun adanya Money loundry dan korupsi perusahaan yang dilakukan seluruh pegawai perusahaan tersebut.

“Selamat Pagi, Pak Damian.” Aku mendongak mendengar semua pegawai kantor menyapa wakil direktur datang. Terlihat tampan dan masih sangat segar meskipun usia Damian tidak beda jauh denganku. Hanya berselisih dua tahun. Dia menginjakkan usia ke 32 tahun beberapa bulan lagi.

“Semua ke ruang rapat, ya. Hari ini pimpinan besar kita CEO perusahaan ANT sudah kembali.” Semua pegawai mengangguk termasuk aku.

Dan tak beberapa lama kami semua yang rapat sudah berada di satu ruangan khusus untuk meeting.

“Kita akan menyambut kedatangan CEO kita sebentar lagi. Aku harap kalian memberikan performance yang baik.”

Baru saja Damian berkata demikian tiba-tiba terdengar pintu ruangan rapat itu terbuka. Semua mata menoleh dan memandang ke arah pintu tersebut. Seolah menantikan apa yang baru saja di katakan Damian .

Berbeda denganku yang sibuk menata perasaanku saat terlihat di mataku selintas genggaman tangan Alexa pada tangan kekar milik Damian.

“Haruskah semencolok itu? Di depan semua pegawai dia berani mempertontonkan kemesraan mereka.”

Hatiku teriris. Menangis dan bahkan air mata itu hampir saja jatuh.

“Di. Kamu kenapa? Kok wajahmu mendadak sedih begitu?” Orang pertama kali yang menyadari perubahanku adalah Chalondra. Dia mengikuti arah pandangan mataku yang masih tertuju pada kedua tangan yang berbeda itu.

“Apa kamu iga penasaran dengan hubungan mereka? Beberapa waktu lalu aku juga memergoki mereka sedang berpelukan di pantry.”

“Apa!”

Kepalaku berdenyut. Dadaku bergemuruh kuat. Jantungku bukan lagi berdetak. Melainkan seolah terkena serangan mematikan. Sakit. Nyeri bahkan terasa pedih saat mendengar apa yang dikatakan oleh Chalondra.

“Jadi selama ini cuma aku yang terlambat menyadarinya?” Kembali hatiku berkata sedih.

“Selamat datang, Tuan Muda dan Nyonya Besar.”

Suara itu menghentakkan lamunanku. Aku seka air mata yang hampir tumpah ke pipiku itu. Kedua mataku mengerjap dan memberikan gelengan pada Chalondra yang masih fokus denganku.

“Aku tidak apa-apa, Cha. Hanya merasakan sakit di kepalaku. Mungkin kurang tidur,” jawabku. Chalondra tersenyum lantas menggenggam jemariku.

“Fokus, ya. Pimpinan besar kita sudah datang,” ucapnya sambil memberikan isyarat bahwa di depan pintu masuk ada sepasang laki-laki dan perempuan sudah berdiri di sana. Dan semua pegawai perusahaan membungkuk hormat kepada mereka.

Aku menoleh dan ternyata serangan jantung itu tidak berhenti di sini. Bahkan aku sempat tersedak melihat siapa yang baru saja datang. Semua orang mengalihkan pandangan mereka. Mendongak dan menatapku heran saat aku terbatuk. Termasuk sosok itu. Mata kami saling beradu. Bertemu dan menerbitkan keterkejutan yang luar biasa. Aku dan dia sama-sama terkejut ketika dipertemukan dalam ruangan ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 41. Penculikan

    Saat aku buka mata aku yakin berada di ruangan yang tidak aku kenal. Wajahku sedikit merasakan pedih. Aku yakin saat aku pingsan dan tak sadarkan diri tadi mereka memaksa aku dan menyeret badanku. “Siapa yang sangat kejam dan tega melakukan ini?” tanyaku dalam hati. Namun pikiranku langsung tertuju pada sosok pria yang baru saja aku temui. “Apa dia lagi yang melakukannya?” Hatiku kembali bertanya. Mataku nanar melihat ke sekitar. Dan itu adalah sebuah ruko lantai atas yang terbuka. Saat aku melihat ke bawah terasa ada yang berdesir di dalam hatiku. Rupanya aku berada di ketinggian dan duduk di pinggir gedung dengan tangan terikat. “Tidak main-main rupanya,” gumamku.Beberapa orang datang dengan tubuh besar dan wajah sangar. Aku melihat ke arah mereka.“Sudah bangun?” Aku mendengus.“Siapa yang menyuruh kalian?” tanyaku penasaran. Ada suara tawa yang sangat aku benci. Suara tawa meledek bahkan mengejek.“Apa itu penting? Kami hanya ditugaskan untuk membawa kamu ke sini dan menerjunk

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 40. Pertempuran Mematikan

    Rupanya pria matang dan separuh baya itu hanya menghela napas setelah mendengar perkataan dari sang puteri kecilnya. “Kalau memang yang dikatakan oleh Yiyi benar, itu artinya kita secepatnya melenyapkannya.” Keterkejutan itu jelas teringat dari wajah sosok yang tidak kalah dewasa dan matang. “Tapi Tuan. Dia adalah punggung Perusahaan Chalton yang Anda dirikan. Bahkan kalau dia mau dengan jentikan jarinya perusahaan itu dalam sekejap akan ambruk.” Kembali napas itu terdengar menahan beban berat. Tarikan napasnya begitu kasar membuat suasana lebih mencekam di sore hari itu. Namun rupanya pria dewasa itu menenangkan suasana itu dengan menyeruput teh hijaunya yang sudah siap dari tadi. “Lenyapkan dia tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Sudah saatnya bayi kecilku tampil sempurna di depan semua orang.” “Baik, Tuan.” Pria itu tersenyum dengan seringai yang cukup menyeramkan. Tak ada yang menyangka di balik ketenangan dan kedewasaannya itu tersimpan sebuah monster yang menakutk

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 39. Permainan Di Balik Rahasia

    Laki-laki itu tersenyum saat perempuan muda yang berbeda usia hampir 10 tahun itu menyatakan perasaannya. Gadis muda itu seolah sudah sangat berpengalaman. Dia membalas elusan lembut itu dengan kakinya yang menjuntai ke lantai. Diangkatnya dan menelusuri tubuh tegap pria itu. Membuat sosok Gava menahan napas dan memejamkan mata meskipun hanya untuk menikmati sensasi yang diberikan oleh gadis dalam dekapannya itu. Melihat itu, sosok wanita muda itu menerbitkan senyum licik nya. “Ternayata benar yang dikatakan mama. Pria itu mudah sekali dicari kelemahannya. Gava. Aku pastikan kamu akan membayar setiap luka yang pernah kamu torehkan di hidup mamaku,” batinnya berucap keras dengan mata mengkilat. Namun ketika dia menyadari pria bernama Gava Chalton itu membuka matanya seketika kilatan itu meredup sayu. “Yiyi. Jangan seperti ini. Aku tidak ingin merusakmu. Jangan buat Pamanmu ini khilaf.” Kembali gadis muda yang berusia 20 tahun itu menerbitkan senyumnya. Kali ini senyum penuh dengan k

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 38. Suasana Baru

    Aku menunggunya terbangun. Demam tinggi itu bisa dilewatinya semalaman penuh. Kondisi tubuhnya yang tiba-tiba drop membuatku panik sesaat. Namun dengan sedikit keahlianku, aku berusaha membuat demam itu turun tanpa memanggil dokter ke rumah. “Sayang.” Aku mengangkat kepalaku saat ada suara memanggil namaku. Apalagi tangan itu mengelus rambutku dengan lembut. “Sudah bangun rupanya.” Alpha memberikan gesture agar aku naik ke atas pembaringan. “Aku merepotkanmu?” Dengan cepat aku menggeleng. “Kenapa begitu pertanyaannya?” Alpha meraih kepalaku. Menyelundupkannya di leher panjang itu. Memberikan perlindungan dan kenyamanan yang tidak pernah aku temukan dari pria lain. “Tidak ada yang namanya merepotkan kalau sudah bersama seperti ini.” Laki-laki itu mendengus hangat. Napasnya terasa sampai di ubun-ubunku. “Hari ini kita ke Kantor Urusan Agama. Kita rujuk.” Aku hanya diam. Itu artinya aku menyetujuinya. Dan benar saja. Setelah kondisi badannya membaik dengan cepat dia mengurus

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 37. Permusuhan

    “Apa yang Kakek lakukan di sini?” Nada suara itu terdengar keras. Namun tak seorangpun berani mendekat termasuk dokter dan perawat rumah sakit. Aku sendiri membiarkan kedua orang itu saling bersiteru. Mencoba memahami situasi yang sesungguhnya hingga aku menemukan kelemahan dari sosok yang sekarang berdebat hebat dengan Alpha. “Alpha. Jangan menjadi cucu durhaka. Thalia adalah puteri semata wayangku. Dia masuk rumah sakit dan koma sudah sewajarnya aku menjengukmu.” Tiba-tiba tawa sinis terdengar jelas dari bibir Alpha. Membuat mau tidak mau mataku menatap ke arah mereka berdua. “Menjenguk? Bukankah mamaku di sini karena perbuatan Kakek. Kakek sengaja ingin membunuh Mama dengan alasan agar mama tidak memiliki hak atas harta warisan Kakek. Kakek sengaja melimpahkan semua kekuasaan dan kekayaan itu atas nama cucu haram Kakek, bukan?” Plak! Aku terkejut. Satu tamparan itu terdengar keras sudah mendarat dengan mulus di pipi putih Alpha. Namun pria tampanku itu bergeming. Mengum

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 36. Saat Dia Kembali Lagi

    Aku tertegun saat melihat sosok itu terlihat berdiri sempurna. Tidak ada sedikitpun cacat di tubuh kekar dan tegap itu. “Kamu tidak terkejut melihat aku?” tanyanya membuatku semakin bergeming. Bukankah memang ini sudah menjadi skenario kalian? Kalian semua berkonspirasi membohongi aku. Dan aku terlihat seperti orang bodoh menjadi boneka mainan kalian.” Mendengar jawabanku dengan kalimat panjang itu sosok tampan itu tertegun. “Maafkan aku, Dior.” Terdengar suara itu kembali. Aku tertawa kecil namun terdengar olehnya sangat sinis. “Aku yakin kali ini kamu sangat membenciku.” Mataku nanar melihatnya. “Kenapa kamu melakukan ini?” tanyaku dengan nada sangat dingin. Bahkan sekarang raut wajahku begitu menampakkan sinar kebencian. “Aku hanya ingin memilikimu. Tapi rupanya Alpha lebih licik. Memanfaatkan berita kematianku untuk menjadikannya sebagai ahli waris.” Sesungguhnya aku tersenyum dalam hati namun terselip satu pertanyaan yang tiba-tiba menggema di hatiku. “Kalian bena

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status