Share

Bab 3. Terkejut

Author: Ai
last update Last Updated: 2025-12-05 08:02:47

Uhuk!

“Di. Are you, okey?”

Chalondra tampak khawatir saat melihatku pucat dengan batuk yang tersedak. Aku mengangguk-angguk sambil menahan ringisan kesakitan di tenggorokan juga dadaku yang sesak.

Sementara sosok yang baru saja masuk dikawal oleh beberapa orang itu terlihat tenang tanpa ekspresi.

“Selamat Pagi. Hari ini kita adakan rapat darurat penyambutan CEO kalian yang baru bisa hadir di Perusahaan ANT. Kita sambut CEO kita Alpha Benjamin Atlas dengan sang Ibunda, Thalia Dinandra Atlas. Mereka menjabat sebagai CEO dan Presiden Direktur.”

Aku terdiam. Bahkan bergeming dan tertegun mendengar sederetan kalimat yang diucapkan oleh sekertaris kantor itu. Ternyata memang ini perusahaan keluarga. Semua ada di tempat ini. Pantas saja Alexa begitu ngebet dan nempel terus dengan sosok Damian. Ternyata ini tujuannya.

“Selamat Pagi Semua___

Dan akhirnya hari itu juga resmi sudah ibu dan anak itu berada di perusahaan ANT menempati posisi tertinggi. Aku melihat Damian sedikit kecewa. Namun pria itu bisa berbaur dan berinteraksi dengan keluarga dekatnya itu. Bahkan dia berbincang begitu akrab dengan sosok Thalia yang tak lain ibunya Alpha. Wanita yang berusia sekitar setengah abad itu masih tampak terlihat sangat cantik dan mempesona.

Bahkan aku masih ingat betul kalau wanita yang bernama Thalia Dinandra itu adalah orang lama yang pernah aku kenal. Aku tertunduk terpuruk namun beberapa detik kemudian kesadaranku pulih.

Tidak aku persoalkan ke mana suami wanita yang mempunyai pengaruh nomor satu di perusahaan tempat aku bekerja. Karena itu bukan ranahku. Saat ini yang aku butuhkan kenyamanan dan ketenangan aku bekerja. Namun sepertinya semua akan sirna dan hilang.

“Dior.”

Panggilan itu membuatku mendongak. Melihat sosok Alexa yang sudah mendatangiku. Entah apalagi perintah yang akan dia berikan padaku.

“Mau apa, Alexa?”

Mungkin pertanyaanku baginya terdengar lucu. Karena pada akhirnya dia menerbitkan senyum penuh kemenangan.

“Aku sudah membuktikan padamu. Kalau aku lebih unggul dan segalanya darimu. Termasuk merebut laki-laki 11 tahunmumi, ” bisiknya terang-terangan mengungkapkan skandal yang dia lakukan dengan Damian.

Tanganku keduanya mengepal kuat. Memperlihatkan kulitnya yang memutih. Wajahku sudah dipastikan memerah menahan amarah besar. Namun aku tidak bisa berbuat banyak. Karena kalau aku sampai kehilangan kendali itu sama saja mempermalukan diriku sendiri.

Tak ada orang yang tahu tentang hubunganku selama ini dengan Damian. Apalagi sudah 11 tahun lamanya. Aku selalu menjaga komitmen untuk menyimpan rahasia ini rapat-rapat demi karier Damian. Bodohnya aku ternyata hanya dijadikan alat kesuksesan pria itu.

Setelah berbicara seperti itu Alexa melangkah pergi.

“Ngomong apa dia? Selalu sirik sama kamu.” Chalondra menatap kepergian Alexa dengan mata bencinya. Aku hanya bisa menggeleng.

“Sebenarnya kamu ada hubungan apa dengan sekertaris Pak Damian, Di?” Aku menelan saliva seketika saat pertanyaan itu mampir di telingaku.

Chalondra menatapku. Menunggu jawaban dariku. Satu lagi yang tak pernah aku ungkapkan ke publik. Aku juga menyembunyikan hubungan status laku dengan Alexa. Itupun atas permintaan ibunya.

“Nggak,” jawabku pendek membuat Chalondra heran.

“Aku ke pantri dulu bikin teh hangat,” ucapku segera bangkit dari kursi kerjaku. Segera menghindari pertanyaan Chalondra berikutnya. Karena sepertinya sahabatku itu sudah curiga.

Baru saja aku membuka pintu dadaku terasa nyeri dan mau pecah. Pemandangan di depanku sungguh menjijikkan.

Mereka pun juga ikut terkejut. Namun terlihat ada senyum penuh ejekan kemenangan dari sudut bibir Alexa yang baru saja berciuman bibir dengan Damian.

“Damian,” desisku memanggil pria itu. Damian sibuk membersihkan sisa saliva yang membasahi bibir sensualnya.

“Beni puas juga kalian melakukan itu di tempat umum seperti ini. Ini kantor!” Suaraku hampir tercekik.

Pria itu bukan lagi terkejut. Namun tak menyangka aku akan memergoki perselingkuhannya untuk yang kedua kalinya.

“Sepertinya kita jangan pernah bertemu lagi, Dam,” ucapku lantas membalikkan badan dan meninggalkan tempat itu.

Ada sisa air mata yang tak ingin aku biarkan jatuh. Sudah cukup semua yang aku lakukan selama ini. Tersiksa dan menderita karena seorang Damian Atlas.

“Dior!”

Panggilan itu menggema di koridor pantri. Aku mempercepat langkahku agar keluar dari tempat terkutuk itu. Namun sepertinya Damian mengejarku dan akhirnya berhasil mencekalnelnganku.

“Sakit!” desisku marah. Kebuasan pria itu sekarang sekali main tangan.

“Aku jelaskan dulu!”

“Apalagi yang mau kamu jelaskan, Damian?”

“Kamu salah paham, Di. Aku sama Alexa tidak seperti yang ada dalam pikiran kamu.” Dengan sendirinya aku tertawa sinis bernada getir. Seolah aku mengejek diriku sendiri yang sedang terpuruk.

“Apa yang aku lihat kemarin rupanya belum cukup membaut kamu meyakini aku, Dam. Bahkan saat ini kamu kembali menunjukkan di depan mataku perbuatan menjijikkan ini, masih kamu bilang ini salah paham. Dasar iblis!” Hatiku menciut sakit. Suaraku seolah tercekik karena isak gabus yang aku tahan.

Bayangan kematian belum sempurna aku kubur jauh di dalam hatiku kini kembali ada tontonan gratis yang membuat perutku mual dan dadaku ingin meledak.

“Kamu memang selama ini menganggap aku ini hanya manusia bodoh, Dam. Rupanya belum cukup kamu memanfaatkan aku.”

Damian menggeliat marah saat mendengar kalimatku.

“Ini alasan aku menjauh dari kamu beberapa waktu terakhir ini. Supaya kamu instropeksi diri. Tapi nyatanya sifat kamu malah semakin menjadi.”

Kali ini aku tertawa lepas. Terdengar sinis membuat sosok Damian terkejut. Pria yang sudah 11 tahun aku temani dalam suka duka itu menatapku lama. Melihatku heran dan seolah takut saat perubahan itu terjadi padaku.

Lebih terkejut lagi saat dia melihat ada air mata jatuh deras di pipiku. Dan percayalah aku sangat menyesal kenapa harus menangisi laki-laki seperti itu.

“Damian. Kita jangan pernah bertemu lagi. Jangan ganggu aku lagi. Aku tahu kamu sudah berselingkuh dengan Alexa dalam waktu lama. Bahkan kamu menidurinya di tempat tinggal yang aku bayari.”

Duar!

Sudah bisa dipastikan wajah Damian memerah. Panas dan meradang. Antara malu atau tidak tahu diri.

Pria itu sedikit terhenyak. Lantas menatap wajahku dengan tatapan yang aneh. Heran dan terkejut.

“Tidak perlu tanya dari mana aku tahu semua, Damian. Aku tahu sudah sangat lama. Aku hanya diam. Berharap kamu bisa merubah semuanya. Namun ke sininya kamu semakin menjadi dan menggila. Jadi, mulai sekarang kita putus!”

Lagi-lagi Damian terkejut. Dia tak bisa menahan langkahku lagi. Yang bisa dia lakukan hanya menatapku sampai bayangan tubuhku menghilang dari tempat itu.

Bruk!

“Akh!” Aku mengusap keningku yang terasa sakit karena menabrak sesuatu.

“Lagi-lagi begini. Apa sudah menjadi kebiasaan kamu ceroboh seperti ini. Perasaan umur sudah tua.” Seketika aku melebarkan kedua mataku. Namun sosok di depanku itu hanya menatapku dengan dingin dan terlihat sangat tenang.

Sesaat aku terlibat dalam perdebatan diam dengan sosok itu.

“Ke ruanganku!” perintahnya membuatku tersadar. Bahwa mulai hari ini dia adalah atasanku. Pemimpin di Perusahaan ANT di mana aku bekerja.

“Baik,” jawabku sambil menunduk dan mengikutinya dari belakang. Tampak Chalondra terkejut melihatku seperti itu.

Kedua matanya mengisyaratkan sesuatu namun aku tidak mengerti. Lantas aku menutup pintu ruangan VIP itu dengan perlahan. Disambut dengan udara sejuk yang keluar dari air conditionar di ruangan itu. Semakin menambah sikap dinginnya sepeti pintu kulkas 7.

“Apa kamu sudah mempertimbangkan saran aku. Sudah bisa memberi jawaban?” Aku terpana sesaat. Menatap wajah tampannya yang masih muda.

Mulutku terkatup rapat. Lidahku tiba-tiba kelu tak mampu mengeluarkan kata-kata. Antara bingung dan takut.

Tiba-tiba pria itu mendatangiku. Mendekat tanpa jeda. Membuat dadaku berdegup keras.

“Dior, sadar. Dia itu atasan kamu dan usianya di bawah kamu jauh.” Hatiku sibuk berkata.

“Jawab bukan bengong.” Aku menggeliat keras saat kurasakan sentilan jari di kening.

“Wow. Sakit,” desisku sambil kembali mengusap keningku yang tadi tertabrak olehnya. Aku mendongak. Menatapnya dengan begitu jauh. Karena tinggi badannya hampir dua meter. Sedang aku satu meter setengah pun gak ada.

“Dijawab kalau ditanyai itu.” Wajahnya menunduk dan nyaris menyentuh wajahku. Seketika aku hampir terjerembap ke belakang. Kalau tangannya tidak cepat menangkap tubuhku. Kini aku ada dalam pelukannya. Dan itu semakin membuat tubuhku panas.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 41. Penculikan

    Saat aku buka mata aku yakin berada di ruangan yang tidak aku kenal. Wajahku sedikit merasakan pedih. Aku yakin saat aku pingsan dan tak sadarkan diri tadi mereka memaksa aku dan menyeret badanku. “Siapa yang sangat kejam dan tega melakukan ini?” tanyaku dalam hati. Namun pikiranku langsung tertuju pada sosok pria yang baru saja aku temui. “Apa dia lagi yang melakukannya?” Hatiku kembali bertanya. Mataku nanar melihat ke sekitar. Dan itu adalah sebuah ruko lantai atas yang terbuka. Saat aku melihat ke bawah terasa ada yang berdesir di dalam hatiku. Rupanya aku berada di ketinggian dan duduk di pinggir gedung dengan tangan terikat. “Tidak main-main rupanya,” gumamku.Beberapa orang datang dengan tubuh besar dan wajah sangar. Aku melihat ke arah mereka.“Sudah bangun?” Aku mendengus.“Siapa yang menyuruh kalian?” tanyaku penasaran. Ada suara tawa yang sangat aku benci. Suara tawa meledek bahkan mengejek.“Apa itu penting? Kami hanya ditugaskan untuk membawa kamu ke sini dan menerjunk

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 40. Pertempuran Mematikan

    Rupanya pria matang dan separuh baya itu hanya menghela napas setelah mendengar perkataan dari sang puteri kecilnya. “Kalau memang yang dikatakan oleh Yiyi benar, itu artinya kita secepatnya melenyapkannya.” Keterkejutan itu jelas teringat dari wajah sosok yang tidak kalah dewasa dan matang. “Tapi Tuan. Dia adalah punggung Perusahaan Chalton yang Anda dirikan. Bahkan kalau dia mau dengan jentikan jarinya perusahaan itu dalam sekejap akan ambruk.” Kembali napas itu terdengar menahan beban berat. Tarikan napasnya begitu kasar membuat suasana lebih mencekam di sore hari itu. Namun rupanya pria dewasa itu menenangkan suasana itu dengan menyeruput teh hijaunya yang sudah siap dari tadi. “Lenyapkan dia tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Sudah saatnya bayi kecilku tampil sempurna di depan semua orang.” “Baik, Tuan.” Pria itu tersenyum dengan seringai yang cukup menyeramkan. Tak ada yang menyangka di balik ketenangan dan kedewasaannya itu tersimpan sebuah monster yang menakut

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 39. Permainan Di Balik Rahasia

    Laki-laki itu tersenyum saat perempuan muda yang berbeda usia hampir 10 tahun itu menyatakan perasaannya. Gadis muda itu seolah sudah sangat berpengalaman. Dia membalas elusan lembut itu dengan kakinya yang menjuntai ke lantai. Diangkatnya dan menelusuri tubuh tegap pria itu. Membuat sosok Gava menahan napas dan memejamkan mata meskipun hanya untuk menikmati sensasi yang diberikan oleh gadis dalam dekapannya itu. Melihat itu, sosok wanita muda itu menerbitkan senyum licik nya. “Ternayata benar yang dikatakan mama. Pria itu mudah sekali dicari kelemahannya. Gava. Aku pastikan kamu akan membayar setiap luka yang pernah kamu torehkan di hidup mamaku,” batinnya berucap keras dengan mata mengkilat. Namun ketika dia menyadari pria bernama Gava Chalton itu membuka matanya seketika kilatan itu meredup sayu. “Yiyi. Jangan seperti ini. Aku tidak ingin merusakmu. Jangan buat Pamanmu ini khilaf.” Kembali gadis muda yang berusia 20 tahun itu menerbitkan senyumnya. Kali ini senyum penuh dengan k

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 38. Suasana Baru

    Aku menunggunya terbangun. Demam tinggi itu bisa dilewatinya semalaman penuh. Kondisi tubuhnya yang tiba-tiba drop membuatku panik sesaat. Namun dengan sedikit keahlianku, aku berusaha membuat demam itu turun tanpa memanggil dokter ke rumah. “Sayang.” Aku mengangkat kepalaku saat ada suara memanggil namaku. Apalagi tangan itu mengelus rambutku dengan lembut. “Sudah bangun rupanya.” Alpha memberikan gesture agar aku naik ke atas pembaringan. “Aku merepotkanmu?” Dengan cepat aku menggeleng. “Kenapa begitu pertanyaannya?” Alpha meraih kepalaku. Menyelundupkannya di leher panjang itu. Memberikan perlindungan dan kenyamanan yang tidak pernah aku temukan dari pria lain. “Tidak ada yang namanya merepotkan kalau sudah bersama seperti ini.” Laki-laki itu mendengus hangat. Napasnya terasa sampai di ubun-ubunku. “Hari ini kita ke Kantor Urusan Agama. Kita rujuk.” Aku hanya diam. Itu artinya aku menyetujuinya. Dan benar saja. Setelah kondisi badannya membaik dengan cepat dia mengurus

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 37. Permusuhan

    “Apa yang Kakek lakukan di sini?” Nada suara itu terdengar keras. Namun tak seorangpun berani mendekat termasuk dokter dan perawat rumah sakit. Aku sendiri membiarkan kedua orang itu saling bersiteru. Mencoba memahami situasi yang sesungguhnya hingga aku menemukan kelemahan dari sosok yang sekarang berdebat hebat dengan Alpha. “Alpha. Jangan menjadi cucu durhaka. Thalia adalah puteri semata wayangku. Dia masuk rumah sakit dan koma sudah sewajarnya aku menjengukmu.” Tiba-tiba tawa sinis terdengar jelas dari bibir Alpha. Membuat mau tidak mau mataku menatap ke arah mereka berdua. “Menjenguk? Bukankah mamaku di sini karena perbuatan Kakek. Kakek sengaja ingin membunuh Mama dengan alasan agar mama tidak memiliki hak atas harta warisan Kakek. Kakek sengaja melimpahkan semua kekuasaan dan kekayaan itu atas nama cucu haram Kakek, bukan?” Plak! Aku terkejut. Satu tamparan itu terdengar keras sudah mendarat dengan mulus di pipi putih Alpha. Namun pria tampanku itu bergeming. Mengum

  • Budak Cinta Berondong Nakal   Bab 36. Saat Dia Kembali Lagi

    Aku tertegun saat melihat sosok itu terlihat berdiri sempurna. Tidak ada sedikitpun cacat di tubuh kekar dan tegap itu. “Kamu tidak terkejut melihat aku?” tanyanya membuatku semakin bergeming. Bukankah memang ini sudah menjadi skenario kalian? Kalian semua berkonspirasi membohongi aku. Dan aku terlihat seperti orang bodoh menjadi boneka mainan kalian.” Mendengar jawabanku dengan kalimat panjang itu sosok tampan itu tertegun. “Maafkan aku, Dior.” Terdengar suara itu kembali. Aku tertawa kecil namun terdengar olehnya sangat sinis. “Aku yakin kali ini kamu sangat membenciku.” Mataku nanar melihatnya. “Kenapa kamu melakukan ini?” tanyaku dengan nada sangat dingin. Bahkan sekarang raut wajahku begitu menampakkan sinar kebencian. “Aku hanya ingin memilikimu. Tapi rupanya Alpha lebih licik. Memanfaatkan berita kematianku untuk menjadikannya sebagai ahli waris.” Sesungguhnya aku tersenyum dalam hati namun terselip satu pertanyaan yang tiba-tiba menggema di hatiku. “Kalian bena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status