LOGIN
Air mata itu aku usap dengan kasar saat kedua mataku harus menerima kenyataan menyakitkan itu. Beberapa detik yang lalu kupergoki laki-laki yang sudah 11 tahun menjadi kekasihku sedang meniduri perempuan muda yang tak lain adik tiriku sendiri.
Aku, Antonia Dior. Wanita yang berusia 30 tahun. Usia yang tidak muda lagi. Yang selama ini aku pertahankan demi satu laki-laki untuk menunggunya menikahiku. Namun apa yang aku dapat. Sebuah kenyataan yang memporak-porandakan mental sehatku. Dia mengkhianati kepercayaanku selama 11 tahun. Berselingkuh di belakangku dengan adik tiriku sendiri. “Argh!” Desahan itu membuat jantungku berhenti berdetak. Merasakan sakit dan nyeri yang tak ada ujungnya. Entah mengapa kakiku terasa kaku seperti lumpuh. Bahkan aku sama sekali tak bisa menggerakkannya hanya sekedar untuk berlari menjauhi tempat laknat itu. Di saat mereka sampai pada puncak kepuasan nafsu jahanam itu aku terisak. Sangat memalukan dan akhirnya waktu itu tiba juga. “Dior,” desis salah satu di antara mereka. Damian Atlas seketika melompat dari ranjang neraka itu. “Dior! Tunggu, akan aku jelaskan!” Aku berlari secepat yang bisa aku lakukan. Kakiku yang tadinya terasa seperti lumpuh tiba-tiba bergerak dengan liar. “Dior!” Damian berhasil menarik pergelangan tanganku. “Sakit,” ringisku dengan mata melotot marah. Ada cairan hangat yang mengembang di sana. Sudah dipastikan wajahku memerah darah. Marah dan rasanya ingin mencakar atau kalau bisa menyiram air keras wajah berengsek itu. “Dengarkan aku. Semua tidak seperti yang kamu lihat.” “Apa!” Rasanya aku ingin meludahi wajah sialan itu. “Kamu bilang tidak seperti yang aku lihat? Terus apa yang saat ini aku lihat? Kamu sedang bermain catur dengan Alexa? Bodoh!” Aku menepis tanganku dari pegangan kuatnya. “Bukan itu maksudku__ “Lantas apa, Damian? Kamu berputar-putar mencari pembelaan. Sudah jelas-jelas aku lihat perselingkuhan kamu dengan Alexa, adik tiriku sendiri. Bahkan kalian melakukan perbuatan menjijikkan itu di tempat yang selama ini aku jadikan tempat ternyaman aku bersama kamu! Dasar manusia tak bermoral. Bajingan kamu! Brengsek!” Segala sumpah serapah, caci maki dan kalimat kotor itu terdengar bertubi-tubi dari mulutku yang tak bisa diam. Ada amarah yang meledak seketika dan sudah tak bisa aku bendung lagi. Napasku turun naik hingga aku tersengal dan sulit untuk menghirup udara. Sedang pria berengsek itu masih mencoba untuk menenangkan aku. Seolah dia ingin merasa aku kasihani. “Dior, aku__ “Sudah, Damian! Cukup! Tidak perlu kamu susah payah mengatakan apapun. Mulai detik ini kita putus!” Bom! Mata Damian membelalak tak percaya mendengar apa yang dikatakan wanita yang sudah 11 tahun diperbudak cinta olehnya. Biasanya aku selalu Ouh kalau pria itu bersikap lembut dan memelas di depanku. Tapi kali ini aku bisa mengatakan tidak untuk mengampuni kesalahan fatalnya. “Baguslah! Itu akan lebih mempermudah Damian lepas dari wanita sok suci seperti kamu, Dior. Sudah lama Damian tersiksa dengan kebucinan yang kamu ciptakan untuknya. Apa kamu kira selama ini Damian mencintaimu? Kamu salah, Dior. Kamu hanya dijadikan tameng untuk keluarganya. Kamu hanya dimanfaatkan. Kamu wanita tua yang tidak layak untuk Damian yang punya kuasa.” Plak! Plak! Tamparan keras itu mendarat dengan mulus di kulit wajah Alexa. Membuat gadis itu terbelalak kaget. “Kamu berani menamparku?” “Kamu pantas mendapatkan itu, Alexa,” jawabku cepat. “Dasar wanita tua!” teriaknya lagi. “Aku memang wanita tua, Alexa. Tapi aku bukan wanita murahan seperti kamu yang merebut pacar kakaknya sendiri.” Kembali mataku berkilat marah. Wajahku menegang. “Kamu tidak pantas sama sekali menjadi pacar Damian, Dior. Sudah lama dia mengkhianati dan membohongi kamu. Bahkan kamu hanya jadi batu loncatan untuk mendapatkan apa yang dia mau termasuk mendapatkan aku.” Jantungku tidak aman. Aku merasakan detaknya berdenyut sakit. Kuraba perlahan dan meremasnya keras. Saat itu mataku kembali nanar dan berkilat merah. “Hebat kalian ini. Sudah jodoh memang. Pria berengsek dan wanita murahan! Lanjutkan saja perbuatan kalian! Aku bersumpah Tuhan akan membalas semua perbuatan kalian!” Masih aku dengar suara Alexa tertawa mengejek keterpurukanku. Jalanku terseok. Secepatnya aku ingin meninggalkan tempat itu. Tempat neraka yang selama ini aku ciptakan sendiri untuk mereka. Dendamku membara. Luka itu menganga seketika. Rasa benci itu muncul tanpa aku undang. Perasaan marah itu membawa langkahku. Dan___ “Dior, tunggu!” Aku menoleh mendapati sosok Damian yang masih mencoba mengejarku. “Mau apalagi kamu, Damian?” Suaraku serak “Aku tidak ingin kita putus. Aku tidak mau kamu meninggalkan aku.” Ingin sekali aku menampar pria itu tapi tanganku melemah saat merasakan tarikan sosok Alexa di depanku. Bahkan wanita itu mendorongku dan hampir saja aku jatuh. “Alexa! Apa-apaan kamu!” “Dam! Please! Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau wanita ini hanya batu loncatan kamu. Kamu tidak mencintainya, bukan?” Aku mengurai tawa sinis saat mendengar cicit Alexa yang pedas itu. Mataku menatap sepasang laki-laki dan perempuan ini. “Benar-benar kalian memang pasangan yang sangat serasi. Ternyata Tuhan menciptakan kamu bukan untukku, Damian. Tapi untuk wanita yang sama-sama berhati iblis seperti kamu.” Hampir saja tangan Alexa menyentuh kulit wajahku kalau saja tangan Damian tidak dengan cepat menahannya. “Dam!” “Sudah cukup, Alexa!” Tepuk tangan itu seketika memenuhi ruangan terbuka itu. Tepuk tangan dari kedua telapak tanganku. “Luar biasa kalian ini memerankan drama di hadapanku. Akan lebih baik kalian ikut casting dan main sinetron saja.” Mata Alexa melotot. Aku tak peduli lalu kembali melangkah meninggalkan tempat itu. Aku lihat sekilas Damian masih ingin mengejarku. Namun sepertinya Alexa berhasil menahannya. “Dam! Kamu apa-apaan sich? Bukannya memang kamu memang ingin menyingkirkan Dior?” “Itu nanti, Alexa. Kalau semua tujuanku tercapai. Kenapa kamu malah merusaknya? Aku belum mendapatkan surat warisan itu.” Alexa tertegun. “Aku bisa membantumu. Surat warisan itu Papaku yang menyimpannya. Kamu tenang saja aku akan mengambilnya nanti.” Senyum licik itu terbit dari bibir Damian. “Aku mengandalkanmu, Alexa. Saat ini kamulah milikku dan kita akan menjadi pasangan hebat.” Dan Alexa juga mendapati ada binar kegembiraan di kedua manik mata pria itu. Dia bergerak liar. Memeluk tubuh tegap berisi itu. Pria uang selama ini dia inginkan namun harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkan dan merebutnya dari kakak tirinya sendiri. Sedang aku berjalan dengan terseok meninggalkan tempat terkutuk itu. Tempat yang selama ini selalu aku impikan menjadi tempat bernaung aku dengan Damian menghabiskan sisa umur dan membangun rumah tangga. Namun ternyata aku terlekat oleh kenyataan terpahit setelah 11 tahun mati-matian aku mempertahankan hubungan yang tidak sehat itu. Ada air mata yang sepertinya sudah tidak sanggup aku tahan lagi. Aku menundukkan wajahku sedalam mungkin. Langkah kakiku yang sudah tidak terarah lagi hingga aku mendengar suara yang seharusnya tidak aku abaikan. Pimmmmmm! Brak!Saat aku buka mata aku yakin berada di ruangan yang tidak aku kenal. Wajahku sedikit merasakan pedih. Aku yakin saat aku pingsan dan tak sadarkan diri tadi mereka memaksa aku dan menyeret badanku. “Siapa yang sangat kejam dan tega melakukan ini?” tanyaku dalam hati. Namun pikiranku langsung tertuju pada sosok pria yang baru saja aku temui. “Apa dia lagi yang melakukannya?” Hatiku kembali bertanya. Mataku nanar melihat ke sekitar. Dan itu adalah sebuah ruko lantai atas yang terbuka. Saat aku melihat ke bawah terasa ada yang berdesir di dalam hatiku. Rupanya aku berada di ketinggian dan duduk di pinggir gedung dengan tangan terikat. “Tidak main-main rupanya,” gumamku.Beberapa orang datang dengan tubuh besar dan wajah sangar. Aku melihat ke arah mereka.“Sudah bangun?” Aku mendengus.“Siapa yang menyuruh kalian?” tanyaku penasaran. Ada suara tawa yang sangat aku benci. Suara tawa meledek bahkan mengejek.“Apa itu penting? Kami hanya ditugaskan untuk membawa kamu ke sini dan menerjunk
Rupanya pria matang dan separuh baya itu hanya menghela napas setelah mendengar perkataan dari sang puteri kecilnya. “Kalau memang yang dikatakan oleh Yiyi benar, itu artinya kita secepatnya melenyapkannya.” Keterkejutan itu jelas teringat dari wajah sosok yang tidak kalah dewasa dan matang. “Tapi Tuan. Dia adalah punggung Perusahaan Chalton yang Anda dirikan. Bahkan kalau dia mau dengan jentikan jarinya perusahaan itu dalam sekejap akan ambruk.” Kembali napas itu terdengar menahan beban berat. Tarikan napasnya begitu kasar membuat suasana lebih mencekam di sore hari itu. Namun rupanya pria dewasa itu menenangkan suasana itu dengan menyeruput teh hijaunya yang sudah siap dari tadi. “Lenyapkan dia tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Sudah saatnya bayi kecilku tampil sempurna di depan semua orang.” “Baik, Tuan.” Pria itu tersenyum dengan seringai yang cukup menyeramkan. Tak ada yang menyangka di balik ketenangan dan kedewasaannya itu tersimpan sebuah monster yang menakut
Laki-laki itu tersenyum saat perempuan muda yang berbeda usia hampir 10 tahun itu menyatakan perasaannya. Gadis muda itu seolah sudah sangat berpengalaman. Dia membalas elusan lembut itu dengan kakinya yang menjuntai ke lantai. Diangkatnya dan menelusuri tubuh tegap pria itu. Membuat sosok Gava menahan napas dan memejamkan mata meskipun hanya untuk menikmati sensasi yang diberikan oleh gadis dalam dekapannya itu. Melihat itu, sosok wanita muda itu menerbitkan senyum licik nya. “Ternayata benar yang dikatakan mama. Pria itu mudah sekali dicari kelemahannya. Gava. Aku pastikan kamu akan membayar setiap luka yang pernah kamu torehkan di hidup mamaku,” batinnya berucap keras dengan mata mengkilat. Namun ketika dia menyadari pria bernama Gava Chalton itu membuka matanya seketika kilatan itu meredup sayu. “Yiyi. Jangan seperti ini. Aku tidak ingin merusakmu. Jangan buat Pamanmu ini khilaf.” Kembali gadis muda yang berusia 20 tahun itu menerbitkan senyumnya. Kali ini senyum penuh dengan k
Aku menunggunya terbangun. Demam tinggi itu bisa dilewatinya semalaman penuh. Kondisi tubuhnya yang tiba-tiba drop membuatku panik sesaat. Namun dengan sedikit keahlianku, aku berusaha membuat demam itu turun tanpa memanggil dokter ke rumah. “Sayang.” Aku mengangkat kepalaku saat ada suara memanggil namaku. Apalagi tangan itu mengelus rambutku dengan lembut. “Sudah bangun rupanya.” Alpha memberikan gesture agar aku naik ke atas pembaringan. “Aku merepotkanmu?” Dengan cepat aku menggeleng. “Kenapa begitu pertanyaannya?” Alpha meraih kepalaku. Menyelundupkannya di leher panjang itu. Memberikan perlindungan dan kenyamanan yang tidak pernah aku temukan dari pria lain. “Tidak ada yang namanya merepotkan kalau sudah bersama seperti ini.” Laki-laki itu mendengus hangat. Napasnya terasa sampai di ubun-ubunku. “Hari ini kita ke Kantor Urusan Agama. Kita rujuk.” Aku hanya diam. Itu artinya aku menyetujuinya. Dan benar saja. Setelah kondisi badannya membaik dengan cepat dia mengurus
“Apa yang Kakek lakukan di sini?” Nada suara itu terdengar keras. Namun tak seorangpun berani mendekat termasuk dokter dan perawat rumah sakit. Aku sendiri membiarkan kedua orang itu saling bersiteru. Mencoba memahami situasi yang sesungguhnya hingga aku menemukan kelemahan dari sosok yang sekarang berdebat hebat dengan Alpha. “Alpha. Jangan menjadi cucu durhaka. Thalia adalah puteri semata wayangku. Dia masuk rumah sakit dan koma sudah sewajarnya aku menjengukmu.” Tiba-tiba tawa sinis terdengar jelas dari bibir Alpha. Membuat mau tidak mau mataku menatap ke arah mereka berdua. “Menjenguk? Bukankah mamaku di sini karena perbuatan Kakek. Kakek sengaja ingin membunuh Mama dengan alasan agar mama tidak memiliki hak atas harta warisan Kakek. Kakek sengaja melimpahkan semua kekuasaan dan kekayaan itu atas nama cucu haram Kakek, bukan?” Plak! Aku terkejut. Satu tamparan itu terdengar keras sudah mendarat dengan mulus di pipi putih Alpha. Namun pria tampanku itu bergeming. Mengum
Aku tertegun saat melihat sosok itu terlihat berdiri sempurna. Tidak ada sedikitpun cacat di tubuh kekar dan tegap itu. “Kamu tidak terkejut melihat aku?” tanyanya membuatku semakin bergeming. Bukankah memang ini sudah menjadi skenario kalian? Kalian semua berkonspirasi membohongi aku. Dan aku terlihat seperti orang bodoh menjadi boneka mainan kalian.” Mendengar jawabanku dengan kalimat panjang itu sosok tampan itu tertegun. “Maafkan aku, Dior.” Terdengar suara itu kembali. Aku tertawa kecil namun terdengar olehnya sangat sinis. “Aku yakin kali ini kamu sangat membenciku.” Mataku nanar melihatnya. “Kenapa kamu melakukan ini?” tanyaku dengan nada sangat dingin. Bahkan sekarang raut wajahku begitu menampakkan sinar kebencian. “Aku hanya ingin memilikimu. Tapi rupanya Alpha lebih licik. Memanfaatkan berita kematianku untuk menjadikannya sebagai ahli waris.” Sesungguhnya aku tersenyum dalam hati namun terselip satu pertanyaan yang tiba-tiba menggema di hatiku. “Kalian bena







