Home / Romansa / Bukan Cinta Buta / Tiga: Membebaskan Diri Dari Belenggu

Share

Tiga: Membebaskan Diri Dari Belenggu

Author: Nandreans
last update publish date: 2022-03-14 16:57:42

ang paling menakutkan dari kehidupan adalah saat kita merasa tidak punya siapa-siapa, kesepian bukan hanya sendirian, tanpa pegangan. 

Utami sudah pernah merasakan semua itu, dan kini dia tidak ingin lagi merasakannya. Meskipun terkadang dia masih sering menjerit akibat rasa takut kehilangan, tapi paling tidak keberadaan Utama bisa menjadi obat paling indah. Obat yang tidak hanya membuatnya mengenal rumah, tapi juga memberinya semangat hidup yang belum pernah Utami rasakan selama menjadi manusia. 

Dia ingat hari itu, hari di mana akhirnya anak yang telah dia kandung selama 9 bulan keluar dari rahimnya. Di balik rumah petak yang dia dan Sabina sewa, Utami terbaring di atas tikar plastik tipis. Menahan nyeri luar biasa akibat kontraksi yang terus terjadi. 

Utama kecil sudah tidak sabar ingin keluar, tapi sayangnya, dengan uang yang tersisa mustahil bagi Utami dan Sabina untuk pergi ke rumah sakit. Mereka bahkan tak punya satupun identitas pada masa itu. Bukan karena tidak pernah mengurus, melainkan kontrakan mereka baru saja kemalingan. 

Semua barang dan dompet mereka lenyap, lengkap dengan semua barang-barang yang ada di dalamnya. 

Sabina menangis menggenggam, menyesali nasib malang mereka. “Maafkan aku ya, Tam. Mestinya aku tidak membiarkan rumah kita kemalingan. Mestinya kamu dibawa ke dokter.”

Tapi, Utami yang meringis kesakitan justru menjawab, “Jangan salahkan dirimu sendiri! Aku baik-baik saja!” Bukan karena dia tidak merasakan sakit, melainkan karena ia tak mau membiarkan sahabatnya semakin terpuruk. “Anak ini akan segera keluar. Aku yakin dia anak yang kuat. Kamu sendiri kan yang bilang, kalau anakku akan kuat seperti aku.”

Sabina mengangguk sambil menyeka air mata di wajahnya sendiri dengan punggung tangan kirinya. “Kalian akan baik-baik saja. Aku tidak akan meninggalkan kalian berdua. Aku bersumpah untuk itu.”

Dan memang benar, selama bertahun-tahun berikutnya, Sabina ikut membesarkan Utama. Menjadi orang tua kedua bagi putra kandung Utami. 

Setidaknya, meskipun Utama tidak punya ayah, tapi dia tetap punya dua ibu. Dua perempuan yang membesarkannya sepenuh cinta. 

“Bukankah itu yang lebih diinginkan oleh seorang anak?” Begitulah Sabina dulu selalu meyakinkan Utami. “Mereka tidak butuh ayah ibunya bersama, mereka hanya perlu dicintai dengan cinta yang sama.”

Kalimat yang  setelah dipikir-pikir hanyalah usaha mereka meyakinkan diri bahwa keduanya cukup pantas untuk menjadi orang tua. 

🍂🍂🍂

“Memang siapa Yang pantas menilai seseorang pantas menjadi orang tua atau tidak?” Giliran Utami yang mengatakannya kepada seorang junior yang dia temui di tempatnya bekerja. 

Sambil menghisap rokok di tangan, Utami melirik gadis muda bergaun biru di sebelahnya sebentar. Kemudian berkata lagi, “Menjadi orang tua itu tidak semudah yang dipikirkan, tapi juga tidak bisa menyeramkan yang disangka kebanyakan orang. Karena cepat atau lambat, satu-satunya yang akan membantu kita menjadi orang tua yang baik ialah waktu, dan anak kita sendiri.”

“Tapi apa aku mampu membesarkan anak ini, Mbak?” Tina, gadis remaja sembilan belas tahun itu buru-buru mencegah air yang jatuh di pipinya. 

Utami kembali menghisap batang lintingan tembakau di tangannya sebelum menjawab, “Kalau untuk itu, hanya kamu sendirilah yang bisa menjawabnya. Tapi secara naluriah, semua makhluk hidup harusnya bisa membesarkan anak mereka.”

“Tapi manusia berbeda,” sahut Sekar, perempuan berambut cepak yang baru datang. Dia langsung duduk di samping Utami, mengambil batang rokok dari tangan sahabatnya itu, kemudian mematikannya. “Dasar bodoh! Kau tidak seharusnya meracuni janin yang tidak berdosa.”

Utami diam, pasrah sebab dia tahu kesalahannya.  Ya, meskipun Tina belum tahu apakah dia akan melanjutkan atau menggugurkan kandungannya, tetap saja anak itu adalah manusia, bukan? 

Dia berhak mendapat ruang udara bebas, bahkan jikalaupun takdirnya adalah kematian. 

“Berbeda dengan binatang lain,” Sekar menoleh ke arah Tina. Menatapnya serius. “Manusia punya moralitas dan etika yang lebih rumit. Itulah kenapa terkadang banyak sekali manusia yang gagal menjadi orang tua.”

“Maksud, Mbak Sekar?”

“Aku tidak bilang aborsi adalah keputusan yang tepat, tapi melanjutkan kehamilan artinya kamu harus siap dengan semua yang ada di masa depan.” Kali itu Sekar tidak memberi jeda pada Tina. Tatapannya jauh lebih serius dari sebelumnya. “Coba kau tanya pada Utami, apa yang dia rasakan sebelum dan setelah anaknya lahir? 

“Memiliki anak tidak sama dengan memiliki binatang peliharaan. Kamu tidak bisa lari setelah anakmu ada. Jadi sebelum memutuskan untuk melahirkannya ke dunia, kau perlu memikirkan semuanya matang-matang.”

“Apalagi kita hidup di dunia yang seperti ini,” tambah Utami tanpa berniat menggurui. “Dunia tidak pernah benar-benar muda untuk anak-anak yang tinggal di tempat seperti yang sekarang kita tinggali.”

“Paling tidak, kau harus yakin pada dirimu sendiri bahwa suatu hari kau akan membawanya keluar dari sini!” tegas Sekar. “Bagaimana dengan rencanamu? Apa kau sudah bulat?”

Sebenarnya, Utami tidak senang bila orang lain membahas masalah pribadinya. Tapi menurut Sekar, keputusan Utami kali ini bukan hanya tentang dirinya sendiri. Melainkan juga harapan yang menyala di tengah kegelapan bagi orang-orang di sekitarnya. 

“Aku senang jika kau benar-benar ingin keluar,” tambah Sekar melunak. Berbeda dengan caranya bicara pada Tina sebelum ini, Sekar melembut ketika bicara dengan Utami. “Jika perlu, aku bisa meminjamkan sedikit uang padamu.”

Utami menggeleng, tegas. “Tidak perlu. Uangku sudah cukup.”

“Apa keputusan Mbak pergi ada hubungannya dengan Mbak Sabina?” Tina gantian bertanya. 

“Tentu tidak!” Jawaban Utami penuh dusta. Bohong kalau keputusan yang diambil sama sekali tak ada kaitannya dengan Sabina. Karena bagaimanapun juga, salah satu hal yang membuatnya ingin berhenti menjadi perempuan sewaan ialah tak lain dan tak bukan demi buah hatinya. 

Utami tidak ingin Utama tumbuh di tempat gelap selamanya. Dia ingin putranya mendapat kehidupan yang lebih layak. Sebagaimana yang dia katakan pada Tina barusan. 

Namun, mengakuinya bukanlah sesuatu yang bagus. Setidaknya begitulah pikir Utami. “Aku ingin pergi karena sudah lelah,” katanya. “Kupikir tempat ini sudah terlalu ramai. Rusunnya disediakan juga sudah terlalu kotor. Tidak terlalu layak untuk dipertahankan. Ditambah, hutang hutangku ke Madam Erni juga sudah lunas. Jika aku tetap di sini, aku takut tidak akan bisa bebas lagi.”

Nandreans

Terima kasih

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Cinta Buta   Bagaimana?

    Tami dan Juna saling menatap satu sama lain. Mereka tentu tidak pernah menyangka jika Ruben akan senekad itu. Mengirimkan foto dirinya dan Asya kepada Nyonya Anggara? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu? Apakah dia memang berniat membunuh sandiwara Tami dan Juna?"Mama kayaknya nggak bakal semudah itu percaya deh, Mas." Tami menyeka keringat dingin yang membasahi tubuhnya. "Bagaimanapun juga, setelah ini Mama pasti akan mencari tahu semuanya dengan jelas. Maksudku, siapa sih orang yang bakal dengan tegas mempercayai berita kayak begini?"Juna yang menyetir mobil akhirnya menghela napas panjang. "Kamu benar, Tam.""Terus, kita harus gimana, Mas?""Bagaimana kalau kita datangi saja dia?" "Kalau menurutku jangan." Tami menjawab dengan tegas. "Ruben yang sekarang bukan Ruben yang dulu aku kenal. Dia sudah sepenuhnya disetir oleh Gina.""Maksudmu?""Mas Jun," Tami menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu mungkin akan menganggap ini omong kosong tapi dia adalah pria yang bodoh. Ruben

  • Bukan Cinta Buta   Viviane Tahu?

    "Bagaimana? Bajunya bagus, kan?" Tami menatap Viviane yang kini dibalut gaun putih pernikahan dengan kagum. Kulit putih dan badan yang tinggi jenjang itu seolah memang sengaja dirancang untuk seorang malaikat. Malaikat yang tentu saja wajar bila membuat Juna jatuh cinta. "Bagus banget, Ma." "Pilihan Mama memang nggak salah." Nyonya Anggara dengan bangga berdiri di samping Viviane. "Mama sengaja minta perancang busana ini untuk membuat gaun pernikahan kalian. Anjasmara pasti langsung kasmaran lihat kecantikan kamu, Vi." "Mama bisa saja." Viviane tertawa. Dia merangkul mertuanya. "Makasih ya Mama sudah mau menerimani aku cari gaun." "Iya, Nak." "Oh iya, Tam," Vivi menatap Tami dengan ekspresi dingin. "Kamu tolong ambilkan kain untuk seragam di depan ya. Yang warna biru." Tami mengangguk. Dia menuruti calon adik iparnya itu dengan sebaik mungkin. Sebenarnya, Tami tahu jika Vivi tak menyukainya. Barangkali Vivi sudah mengetahuinya. Soal kebohongannya. Namun, sejauh apa Vivi tahu, T

  • Bukan Cinta Buta   Kenapa?

    "Kamu kenapa sih pakai bilang begitu segala ke mereka?" Tami menerima segelas es krim dari tangan Paulino. Udara panas membakar keduanya, dari lantai dua sebuah toko es krim, kini duanya duduk berdua menyaksikan kota yang sibuk. Juna tersenyum lalu mendudukkan badannya di kursi tepat di seberang Tami. "Biar semakin meyakinkan, Tam. Kamu kan tahu sendiri kalau sekarang posisi kita makin terdesak. Mama kayaknya juga mulai curiga sama kita."Tami mengangguk. "Tapi nggak harus juga kan kamu memamerkan aku ke depan orang-orang dan ngaku aku istrimu?""Tapi, kan memang kamu istriku.""Istri sewaan!" ralat Tami. Juna diam sejenak tapi kemudian melanjutkan. "Kalau sendiri, bagaimana? Sudah mulai memikirkan mau buka laundry di mana?""Kan aku sudah bilang nggak usah.""Tami, kan aku sudah bilang kalau aku mau bantuin kamu ...." Juna kembali menekankan ucapannya. "Anggap saja ini bagian dari kewajibanku sebagai kompensasi untukmu.""Harus berapa kali aku bilang nggak usah?""Harus berapa kali

  • Bukan Cinta Buta   Ini Istri Saya

    "Kami langsung berangkat ya, Ma!" Juna mencium pipi Nyonya Anggara, kemudian menggandeng tangan Tami. Keduanya keluar dari rumah, menaiki mobil dan hanya ditatap dengan senyuman tipis di wajah wanita tua itu.Nyonya Anggara sejujurnya tidak ingin berprasangka buruk pada anak dan menantunya, hanya saja dia masih heran dengan sang menantu sebab Tami terlalu banyak menyimpan rahasia, seolah ingin menyembunyikan segalanya darinya. Padahal jelas Nyonya Anggara penasaran. Kenapa? Ya, kenapa dia seolah tidak pernah mengenali keluarga menantunya sendiri. Bahkan paman dan bibi Tami, tidak dia kenali sama sekali.Lalu, dikeluarkannya ponsel dari dalam saku. Dia hendak menghubungi Viviane tapi mobil perempuan itu telanjur datang lebih dahulu."Ma? Tami mana?" tanya Viviane. Nyonya Anggara menjawab, "Ikut Juna ke acara peluncuran buku.""Di toko buku Gramedia?""Ya.""Ya ampun!" Viviane menghela napas panjang. "Terus gimana? Mama sudah bicara sama Tami?"Nyonya Anggara mengangguk. "Tapi, katanya

  • Bukan Cinta Buta   Hiburan

    "Makan dulu," kata Juna sambil meletakkan piring berisi nasi goreng buatan ibunya ke samping ranjang Tami. "Udah nggak usah terlalu dipikirin. Nanti rumah sakit."Tami mengalihkan wajahnya dari Juna. "Enak banget kalau ngomong. Belum tahu ya rasanya disakitin, dikhianatin sampai segitunya sama pacaran dan sahabat sendiri.""Aku paham perasaan kamu. Meskipun kasus kita beda tapi rasanya tetap sama, gak beda jauh lah.""Ya bedalah, Mas. Kamu emang niat bikin mereka cemburu, kamu niat menjauhkan vivian dari kamu. Sementara aku? Semua yang kulakukan buat Ruben seolah-olah nggak ada harganya. Dia malah selingkuh di rumah kami. Kenapa sih harus sahabat aku sendiri? Cewek lain saja."Dunia tersenyum selalu menarik napas panjang. "Emangnya kalau ceweknya bukan Gina, buat kamu nggak masalah?""Ya tetap masalah sih, Mas. Tapi kan gak akan sesakit inilah saatnya.""Alasan." juna mencibir. "Terus rencana kamu sekarang apa?"Tami mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku bahkan gak punya bayangan a

  • Bukan Cinta Buta   Putus

    Keesokan harinya kami berangkat ke rumah lamanya, tidak lupa dia membeli beberapa barang dari minimarket bagi oleh-oleh untuk sang kekasih. Semua ini dia lakukan juga sebagai permintaan maaf karena telah menyakiti perasaan Ruben, serta ingin dia kembangkan bisnis laundry yang selama ini dikembangkannya bersama pria itu. Sementara Juna, dia berada di rumah bersama Nyonya Anggara. Untungnya Juna bisa meyakinkan sang ibu jika Tami harus pergi keluar sebentar saja untuk bertemu dengan teman-temannya. "Aku nggak mau larang Tami, kalau dia memang mau ketemu teman-temannya Kenapa harus dilarang?""Kamu benar, Juna. Mama setuju dengan keputusan kamu. Karena meskipun kamu dan Tami sudah menikah, tetap saja Tami berhak memiliki kehidupannya sendiri di luar kamu.""Jadi Mas Juna nggak keberatan?" Begitulah akting Tami dan Juna untuk mengelabuhi wanita paruh baya itu. Dan tentu saja dengan senang hati nyonya Anggara menerima tawaran sang menantu untuk menjaga putranya. Sebagai orang tua tentu

  • Bukan Cinta Buta   Empat: Kehidupan Baru Utami

    Tidak ada yang lebih diinginkan manusia selain bisa hidup bebas dengan tenang. Bukan tanpa rasa takut, melainkan dengan takut yang terkontrol. Sejujurnya, alasan yang Utami utarakan ke orang-orang tidak sepenuhnya salah meski jelas dengan sedikit bumbu kebohongan. Hidup di lingkungan prostitusi, d

  • Bukan Cinta Buta   Gadis Kecil 6

    “Saya nggak mau tahu, hal kayak begini nggak boleh sampai kejadian lagi karena kalau sampai dewan sekolah dengar kita bisa dalam masalah besar. Kamu nggak mau kan keringanan uang sekolahmu dicabut? Anggap saja ini bayaran yang harus kamu tebus sebagai rasa terima kasih karena orang tua mereka telah

  • Bukan Cinta Buta   Lima: Sahabat itu Bernama Sabina

    Masih terang kami jelas di kepala Utami bagaimana pertemuan pertamanya dengan ayah putranya itu. Adalah masa remajanya yang begitu indah, yang tidak akan pernah Utami sangka akan membawanya pada ujung penderitaan panjang sebagai manusia. Dulu Utami juga pernah hidup sebagai perempuan muda yang dipe

  • Bukan Cinta Buta   Dua: Tuhan, masihkah Engkau Ada?

    Dugaan Sabina tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak sepenuhnya benar. Utami memang diam-diam masih merindukan Tuhan. Namun, dengan segitu banyak luka yang Tuhan goreskan ke dalam hatinya, rasa-rasanya Utami terlalu enggan untuk berurusan dengan rasa kecewa. Sudah cukup! Tidak lagi!Utami ogah ji

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status