MasukDugaan Sabina tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Utami memang diam-diam masih merindukan Tuhan. Namun, dengan segitu banyak luka yang Tuhan goreskan ke dalam hatinya, rasa-rasanya Utami terlalu enggan untuk berurusan dengan rasa kecewa.
Sudah cukup!
Tidak lagi!
Utami ogah jika mesti berhadapan dengan getir. Hidupnya sudah terlalu pahit. Hidupnya sudah terlalu komplit.
Masalahnya, di sisi yang lain Utami juga tahu bila buah hatinya berhak untuk mendapatkan haknya sebagai manusia.
Memang, Utami tidak lagi mau berurusan dengan Tuhan. Akan tetapi, dia juga tak ingin putranya hidup tanpa arah. Toh, Tuhan hanya membuatnya kecewa, bukan Utama.
Siapa tahu Tuhan masih mau menolong putranya itu, demikianlah Utami berharap.
“Bu, kapan kita bertemu Bapak?!” tanya Utama ketika mereka menikmati makan malam bersama. Sabina sudah pulang saat itu. Hanya ada mereka berdua. Di meja kecil di pojok ruangan kontrakan yang menjadi tempat keduanya menikmati makanan.
Utami tidak langsung menjawab, dia mengelus kepala anaknya dengan penuh cinta. “Kamu harus belajar yang rajin. Nanti, kalau kamu sudah besar, kamu bisa bertemu Bapak.”
“Iya, tapi kapan? Tama sudah tidak sabar untuk menjadi besar!” jawab Utama kecil dengan agak dongkol. “Semua teman-teman di sekolah punya Bapak, hanya Tama yang tidak.”
“Kata siapa Tama tidak punya bapak? Tama punya bapak kok.”
“Mana? Bapak tidak pernah pulang. Apa jangan-jangan Bapak Tama sudah meninggal?”
Andai saja ayah kandung Utama memang sudah benar-benar mati, mungkin segalanya akan menjadi jauh lebih mudah.
Masalahnya, pria itu masih ada. Masih hidup di dunia. Bahkan gambarnya masih terpajang dengan jelas di papan iklan yang menyorot langsung ke tempat mereka duduk sekarang.
Ya, melalui jendela kayu yang terbuka malam itu, yang membawa aroma malam bercampur sisa dinginnya hujan, Utami bisa melihat senyuman lebar mantan kekasihnya sendiri di papan iklan.
Pria itu …, pria yang telah merenggut segalanya dari hidup Utami nyatanya masih bisa tersenyum seolah tak terjadi apa-apa. Nyatanya dia masih bisa menjadi idola banyak perempuan, seolah-olah tidak pernah menjadi tersangka utama dalam hancurnya kehidupan seorang perempuan.
Dan lebih pedih lagi, para perempuan di luar sana memuja pria itu dengan narasi-narasi penuh kebanggaan. Tanpa mereka ketahui, pria yang mereka puja adalah pria yang sama dengan yang menelantarkan seorang perempuan hamil di tengah hujan dua belas tahun yang lalu.
“Kalau memang Bapak sudah meninggal, Ibu tidak perlu berbohong. Ibu tunjukkan saja makan Bapak ke Tama.” Pernyataan Utama alih-alih menenangkan justru membikin batin Utami kian menjerit. “Tama tidak akan marah.”
🍂🍂
“Kenapa tidak kau bilang saja padanya kalau ayahnya sudah meninggal?”
Tidak akan! Utami tidak akan sampai hati membohongi buah hatinya sendiri. Bukan karena dia sok pahlawan, melainkan karena dia tahu persis rasanya dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, sekalipun atas nama kebaikan bersama.
Kebaikan bersama siapa? Kebaikan bersama ibunya yang telah menipu Utami selama bertahun-tahun? Yang tak mau jujur tentang asal-usul Utami sejak awal? Yang membikin Utami tak percaya pada siapapun?
Inilah Kenapa Utami tak ingin Utama menjadi dirinya jilid dua. Cukup dia saja yang terluka, anaknya jangan.
“Bapak masih hidup, Sayang. Percayalah pada Ibu, suatu hari nanti kamu akan bertemu dengan Bapak,” ujar Utami sebelum akhirnya menjatuhkan kecupan di kening Utama.
“Ibu tidak bohong, kan?” ulang Utama, memastikan.
Yang Utami jawab dengan, “Hanya bila kamu menjadi anak yang baik dan rajin belajar. Makanya, Utama harus menjadi anak yang baik dan menurut pada guru di sekolah. Oke?”
“Oke, Ibu!” Anak itu memberi dua jempol. “Tama janji, Tama akan menjadi siswa yang pintar. Tama akan lebih semangat belajar. Tama akan mengerjakan semua PR yang diberikan guru tepat waktu. Tama akan mencari Bapak dan bertemu Bapak di masa depan.”
“Anak Ibu memang pintar!” puji Utami. Bangga.
Tidak ada yang lebih bisa Utami syukuri dalam hidup selain bisa membesarkan anak sebaik dan semanis Utama. Sebab, siapa sangka perempuan jalang sepertinya mampu menjadi ibu dari anak seperti Utama? Anak yang tidak hanya selalu memberi kebahagiaan dan kebangaan bagi orang tua, tetapi juga berhari selembut sutera.
“Ibu, kapan kita jalan-jalan lagi? Tama sangat ingin pergi ke pantai lagi.”
“Nanti ya, kalau Ibu sudah punya uang yang cukup. Ibu janji, kita akan pergi ke pantai lagi.”
“Tama boleh naik perahu?”
“Tentu, tapi kita lihat dananya dulu ya. Takutnya, kalau uangnya kurang, kita nanti malah tidak bisa pulang.”
Melihat pernyataan sang ibu, Utama terkekeh. Lalu, kembali merespons dengan, “Jangan sampai kejadian dulu terulang kembali. Gara-gara dompet Ibu hilang di kereta, kita jadi harus menelepon Tante Sabina untuk menjemput.”
“Sekarang, Tante Sabina sudah tidak bersama kita. Tidak ada lagi yang bisa diandalkan.”
“Ada kok, Bu.”
“Siapa?”
“Kita kan punya Tuhan. Kita punya Allah yang akan selalu menolong kita apapun yang terjadi. Jadi, jangan pernah merasa sendirian.”
Terima kasih sudah membaca
Tami dan Juna saling menatap satu sama lain. Mereka tentu tidak pernah menyangka jika Ruben akan senekad itu. Mengirimkan foto dirinya dan Asya kepada Nyonya Anggara? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu? Apakah dia memang berniat membunuh sandiwara Tami dan Juna?"Mama kayaknya nggak bakal semudah itu percaya deh, Mas." Tami menyeka keringat dingin yang membasahi tubuhnya. "Bagaimanapun juga, setelah ini Mama pasti akan mencari tahu semuanya dengan jelas. Maksudku, siapa sih orang yang bakal dengan tegas mempercayai berita kayak begini?"Juna yang menyetir mobil akhirnya menghela napas panjang. "Kamu benar, Tam.""Terus, kita harus gimana, Mas?""Bagaimana kalau kita datangi saja dia?" "Kalau menurutku jangan." Tami menjawab dengan tegas. "Ruben yang sekarang bukan Ruben yang dulu aku kenal. Dia sudah sepenuhnya disetir oleh Gina.""Maksudmu?""Mas Jun," Tami menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu mungkin akan menganggap ini omong kosong tapi dia adalah pria yang bodoh. Ruben
"Bagaimana? Bajunya bagus, kan?" Tami menatap Viviane yang kini dibalut gaun putih pernikahan dengan kagum. Kulit putih dan badan yang tinggi jenjang itu seolah memang sengaja dirancang untuk seorang malaikat. Malaikat yang tentu saja wajar bila membuat Juna jatuh cinta. "Bagus banget, Ma." "Pilihan Mama memang nggak salah." Nyonya Anggara dengan bangga berdiri di samping Viviane. "Mama sengaja minta perancang busana ini untuk membuat gaun pernikahan kalian. Anjasmara pasti langsung kasmaran lihat kecantikan kamu, Vi." "Mama bisa saja." Viviane tertawa. Dia merangkul mertuanya. "Makasih ya Mama sudah mau menerimani aku cari gaun." "Iya, Nak." "Oh iya, Tam," Vivi menatap Tami dengan ekspresi dingin. "Kamu tolong ambilkan kain untuk seragam di depan ya. Yang warna biru." Tami mengangguk. Dia menuruti calon adik iparnya itu dengan sebaik mungkin. Sebenarnya, Tami tahu jika Vivi tak menyukainya. Barangkali Vivi sudah mengetahuinya. Soal kebohongannya. Namun, sejauh apa Vivi tahu, T
"Kamu kenapa sih pakai bilang begitu segala ke mereka?" Tami menerima segelas es krim dari tangan Paulino. Udara panas membakar keduanya, dari lantai dua sebuah toko es krim, kini duanya duduk berdua menyaksikan kota yang sibuk. Juna tersenyum lalu mendudukkan badannya di kursi tepat di seberang Tami. "Biar semakin meyakinkan, Tam. Kamu kan tahu sendiri kalau sekarang posisi kita makin terdesak. Mama kayaknya juga mulai curiga sama kita."Tami mengangguk. "Tapi nggak harus juga kan kamu memamerkan aku ke depan orang-orang dan ngaku aku istrimu?""Tapi, kan memang kamu istriku.""Istri sewaan!" ralat Tami. Juna diam sejenak tapi kemudian melanjutkan. "Kalau sendiri, bagaimana? Sudah mulai memikirkan mau buka laundry di mana?""Kan aku sudah bilang nggak usah.""Tami, kan aku sudah bilang kalau aku mau bantuin kamu ...." Juna kembali menekankan ucapannya. "Anggap saja ini bagian dari kewajibanku sebagai kompensasi untukmu.""Harus berapa kali aku bilang nggak usah?""Harus berapa kali
"Kami langsung berangkat ya, Ma!" Juna mencium pipi Nyonya Anggara, kemudian menggandeng tangan Tami. Keduanya keluar dari rumah, menaiki mobil dan hanya ditatap dengan senyuman tipis di wajah wanita tua itu.Nyonya Anggara sejujurnya tidak ingin berprasangka buruk pada anak dan menantunya, hanya saja dia masih heran dengan sang menantu sebab Tami terlalu banyak menyimpan rahasia, seolah ingin menyembunyikan segalanya darinya. Padahal jelas Nyonya Anggara penasaran. Kenapa? Ya, kenapa dia seolah tidak pernah mengenali keluarga menantunya sendiri. Bahkan paman dan bibi Tami, tidak dia kenali sama sekali.Lalu, dikeluarkannya ponsel dari dalam saku. Dia hendak menghubungi Viviane tapi mobil perempuan itu telanjur datang lebih dahulu."Ma? Tami mana?" tanya Viviane. Nyonya Anggara menjawab, "Ikut Juna ke acara peluncuran buku.""Di toko buku Gramedia?""Ya.""Ya ampun!" Viviane menghela napas panjang. "Terus gimana? Mama sudah bicara sama Tami?"Nyonya Anggara mengangguk. "Tapi, katanya
"Makan dulu," kata Juna sambil meletakkan piring berisi nasi goreng buatan ibunya ke samping ranjang Tami. "Udah nggak usah terlalu dipikirin. Nanti rumah sakit."Tami mengalihkan wajahnya dari Juna. "Enak banget kalau ngomong. Belum tahu ya rasanya disakitin, dikhianatin sampai segitunya sama pacaran dan sahabat sendiri.""Aku paham perasaan kamu. Meskipun kasus kita beda tapi rasanya tetap sama, gak beda jauh lah.""Ya bedalah, Mas. Kamu emang niat bikin mereka cemburu, kamu niat menjauhkan vivian dari kamu. Sementara aku? Semua yang kulakukan buat Ruben seolah-olah nggak ada harganya. Dia malah selingkuh di rumah kami. Kenapa sih harus sahabat aku sendiri? Cewek lain saja."Dunia tersenyum selalu menarik napas panjang. "Emangnya kalau ceweknya bukan Gina, buat kamu nggak masalah?""Ya tetap masalah sih, Mas. Tapi kan gak akan sesakit inilah saatnya.""Alasan." juna mencibir. "Terus rencana kamu sekarang apa?"Tami mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku bahkan gak punya bayangan a
Keesokan harinya kami berangkat ke rumah lamanya, tidak lupa dia membeli beberapa barang dari minimarket bagi oleh-oleh untuk sang kekasih. Semua ini dia lakukan juga sebagai permintaan maaf karena telah menyakiti perasaan Ruben, serta ingin dia kembangkan bisnis laundry yang selama ini dikembangkannya bersama pria itu. Sementara Juna, dia berada di rumah bersama Nyonya Anggara. Untungnya Juna bisa meyakinkan sang ibu jika Tami harus pergi keluar sebentar saja untuk bertemu dengan teman-temannya. "Aku nggak mau larang Tami, kalau dia memang mau ketemu teman-temannya Kenapa harus dilarang?""Kamu benar, Juna. Mama setuju dengan keputusan kamu. Karena meskipun kamu dan Tami sudah menikah, tetap saja Tami berhak memiliki kehidupannya sendiri di luar kamu.""Jadi Mas Juna nggak keberatan?" Begitulah akting Tami dan Juna untuk mengelabuhi wanita paruh baya itu. Dan tentu saja dengan senang hati nyonya Anggara menerima tawaran sang menantu untuk menjaga putranya. Sebagai orang tua tentu
“Saya nggak mau tahu, hal kayak begini nggak boleh sampai kejadian lagi karena kalau sampai dewan sekolah dengar kita bisa dalam masalah besar. Kamu nggak mau kan keringanan uang sekolahmu dicabut? Anggap saja ini bayaran yang harus kamu tebus sebagai rasa terima kasih karena orang tua mereka telah
Masih terang kami jelas di kepala Utami bagaimana pertemuan pertamanya dengan ayah putranya itu. Adalah masa remajanya yang begitu indah, yang tidak akan pernah Utami sangka akan membawanya pada ujung penderitaan panjang sebagai manusia. Dulu Utami juga pernah hidup sebagai perempuan muda yang dipe
Tidak ada yang lebih diinginkan manusia selain bisa hidup bebas dengan tenang. Bukan tanpa rasa takut, melainkan dengan takut yang terkontrol. Sejujurnya, alasan yang Utami utarakan ke orang-orang tidak sepenuhnya salah meski jelas dengan sedikit bumbu kebohongan. Hidup di lingkungan prostitusi, d
SATU : UTAMI DAN KEHIDUPAN MALANGNYATahu apa yang lebih menakutkan dari menjadi manusia? Iyalah menjadi manusia yang kehilangan kemanusiaannya. Tiga puluh tahun tahun sudah Utami Saraswati hidup sebagai manusia yang dipaksa untuk berjalan di atas pecahan kaca. Tak peduli seberapa banyak luka yang







