MasukTidak ada yang lebih diinginkan manusia selain bisa hidup bebas dengan tenang. Bukan tanpa rasa takut, melainkan dengan takut yang terkontrol.
Sejujurnya, alasan yang Utami utarakan ke orang-orang tidak sepenuhnya salah meski jelas dengan sedikit bumbu kebohongan.
Hidup di lingkungan prostitusi, di rumah susun yang disediakan, rasanya tidak cukup untuk membuat hidup Utami merasa tenang.
Belum lagi hutang demi hutang, semuanya seperti air mengalir di sini. Dan sebagai talent, Utami sudah sangat muak hidup di bawah ketiak orang lain.
Dia ingin lebih merdeka. Setidaknya dengan uang tabungan yang dia punya, Utami berencana menyewa kontrakan sederhana, membuka usaha kecil-kecilan untuk menghidupi dirinya sendiri dan Utama.
“Tidak perlu mewah, tapi paling tidak kita tinggal di atas tanah.” Begitulah permintaan Utama selama ini. “Atau, kalaupun tidak di atas tanah juga tidak apa-apa. Yang jelas, Tama ingin bisa mengajak teman sekolah Tama main ke rumah.”
Permintaan yang sangat sederhana, bukan?
Tapi rasanya terlalu mewah untuk Utama. Mengingat, tinggal di distrik remang-remang memaksa Utami harus menyembunyikan posisi putranya di depan orang-orang. Lagi pula, apa jadinya kalau teman-teman utama di sekolah mengetahui kondisinya? Anak dari seorang perempuan penghibur? Yang tidak jelas asal usulnya?
Utami tak ingin putranya jadi bahan perundungan anak-anak lain di sekolah.
Maka, tak peduli seberapa keras Madam Erin memaksanya tinggal, Utami sudah memutuskan. “Saya tidak bisa, Madam.”
“Tapi kenapa? Kalau alasanmu hanya ingin tinggal di tempat lain, kan kamu tetap bisa berkarir di sini?”
Memang. Tapi menurut Utami, setidaknya untuk saat ini, dia ingin benar-benar bisa menjadi kebanggaan anaknya.
Utami tidak mau terus-menerus menjadi ibu yang memaksa anaknya menyembunyikan fakta tentang profesinya sendiri.
Dia ingin dibanggakan sama seperti ibu-ibu lainnya. Bukan berarti dia bilang semua orang yang berada di posisinya otomatis jahat akan tetapi –apa yang bisa dibanggakan dengan bekerja menjadi simpanan? Bercinta dengan suami orang sepanjang malam?
“Kamu tidak usah sok cuci seperti adikmu,” ujar Madam Erin, kemudian. “Mentang-mentang sudah punya suami ustaz, lalu sekarang seenaknya sendiri menyalah-nyalahkan orang lain. Padahal, ketika dunia menolak, akulah yang menampung kalian semua.”
“Saya bukan ingin sok suci, Madam.”
“Lalu apa?”
“Saya hanya ingin mencari pengalaman lain,” jelas Utami mesti terdengar dibuat-buat. “Lagipula, Tama juga semakin besar. Kalau saya terus-terusan di sini, akan sulit mencari sekolah lanjutan buat dia. Belum lagi sebentar lagi dia SMP. Saya mesti dapat SMP LB untuk dia.
“Madam tahu sendiri, kan, keadaan anak saya seperti apa?! Dia tidak bisa sekolah di sekolah umum biasa.”
🍂🍂🍂
Begitulah kemudian Utami bisa meninggalkan kehidupan lamanya.
Sebulan sebelum pergantian tahun, Utami memboyong putranya ke rumah baru.
Sesuai rencananya, dengan dibantu Sabina, Utami mencari tempat tinggal yang cocok. Yang sekiranya dekat dengan sekolah lanjutan untuk putranya nanti. Dan seolah semesta merestui, akhirnya Utami bisa mendapatkan kontrakan yang cocok.
Rumah tapak tanah, posisinya bagus, dekat dengan fasilitas umum, jadi yang paling penting tidak langganan banjir. Harga sewanya pun lumayan bersahabat. Membuat Utami yakin selama pemiliknya masih mengizinkan, dia pasti bisa membayar uang kontrakannya.
“Rumahnya bagus, Bu!” kata Utama saat pertama kali mereka tiba di sana. “Dekat Masjid juga.”
“Iya. Nanti kamu bisa sekalian mengaji di sana ya.”
Pernyataan Sabina sontak membuat Utami mendelik. Bukan apa, dia hanya tak ingin Utama terlalu banyak berharap. Dengan kondisinya, tidak banyak orang yang bisa menerima. Apalagi tempat belajar seperti sekolah dan masjid. Tak banyak guru yang bisa mengajar anak-anak spesial.
“Tenang!” Sabina malam menepuk bahu Utami sambil tersenyum sangat lebar. “Aku kenal dengan pengurusnya. Beliau teman Mas Alif. Aku sedang menceritakan kondisi Tama padanya. Dan beliau bersedia mengajari Tama.”
“Tapi –”
“Mereka punya guru bahasa isyarat,” tambah Sabina. “Kalau kamu tidak percaya, ikutlah ke sana. Mereka juga membuka kelas untuk orang dewasa.”
Apa-apaan ini?
Utami mendengkus pelan, kemudian melanjutkan aksinya beres-beres rumah. Menata barang-barang yang telah dia bawa sebelumnya ke kontrakan tiga petak itu.
Memang, Sabina dan Alif lah yang mencarikan tempat ini untuk mereka. Akan tetapi, Utami tidak menyangka kalau sahabatnya itu akan sedemikian keras menariknya kembali ke jalan yang dia sebut kebenaran itu.
“Tante akan lebih sering ke sini?”
“Ya. Rumah Tante berada tidak jauh dari sini. Kamu bahkan bisa ke sana sendiri. Nanti Tante tunjukkan rutenya.”
Utami bisa melihat betapa semringah wajah Utama ketika berbicara dengan Sabina di ruang tengah. Tempat yang rencananya bakal Utami ubah menjadi tempat tidur dia dan putranya itu. Tempat yang hari itu masih kosong sebab kasur belum dipindah.
Hanya ada tikar plastik, dan beberapa buku yang Utama keluarkan sendiri dari dalam kardus hendak dia tata ke dalam rak plastik yang juga mereka bawa dari rumah sebelumnya.
Ya, tapi tak bisa mendengar, tapi Utama mengenal dunia lebih luas dari yang bisa Utami bayangkan. Cinta Utama pada buku seperti cermin yang menampar Utami ke kehidupan masa lalunya.
Terima kasih sudah membaca sejauh ini.
Tami dan Juna saling menatap satu sama lain. Mereka tentu tidak pernah menyangka jika Ruben akan senekad itu. Mengirimkan foto dirinya dan Asya kepada Nyonya Anggara? Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu? Apakah dia memang berniat membunuh sandiwara Tami dan Juna?"Mama kayaknya nggak bakal semudah itu percaya deh, Mas." Tami menyeka keringat dingin yang membasahi tubuhnya. "Bagaimanapun juga, setelah ini Mama pasti akan mencari tahu semuanya dengan jelas. Maksudku, siapa sih orang yang bakal dengan tegas mempercayai berita kayak begini?"Juna yang menyetir mobil akhirnya menghela napas panjang. "Kamu benar, Tam.""Terus, kita harus gimana, Mas?""Bagaimana kalau kita datangi saja dia?" "Kalau menurutku jangan." Tami menjawab dengan tegas. "Ruben yang sekarang bukan Ruben yang dulu aku kenal. Dia sudah sepenuhnya disetir oleh Gina.""Maksudmu?""Mas Jun," Tami menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu mungkin akan menganggap ini omong kosong tapi dia adalah pria yang bodoh. Ruben
"Bagaimana? Bajunya bagus, kan?" Tami menatap Viviane yang kini dibalut gaun putih pernikahan dengan kagum. Kulit putih dan badan yang tinggi jenjang itu seolah memang sengaja dirancang untuk seorang malaikat. Malaikat yang tentu saja wajar bila membuat Juna jatuh cinta. "Bagus banget, Ma." "Pilihan Mama memang nggak salah." Nyonya Anggara dengan bangga berdiri di samping Viviane. "Mama sengaja minta perancang busana ini untuk membuat gaun pernikahan kalian. Anjasmara pasti langsung kasmaran lihat kecantikan kamu, Vi." "Mama bisa saja." Viviane tertawa. Dia merangkul mertuanya. "Makasih ya Mama sudah mau menerimani aku cari gaun." "Iya, Nak." "Oh iya, Tam," Vivi menatap Tami dengan ekspresi dingin. "Kamu tolong ambilkan kain untuk seragam di depan ya. Yang warna biru." Tami mengangguk. Dia menuruti calon adik iparnya itu dengan sebaik mungkin. Sebenarnya, Tami tahu jika Vivi tak menyukainya. Barangkali Vivi sudah mengetahuinya. Soal kebohongannya. Namun, sejauh apa Vivi tahu, T
"Kamu kenapa sih pakai bilang begitu segala ke mereka?" Tami menerima segelas es krim dari tangan Paulino. Udara panas membakar keduanya, dari lantai dua sebuah toko es krim, kini duanya duduk berdua menyaksikan kota yang sibuk. Juna tersenyum lalu mendudukkan badannya di kursi tepat di seberang Tami. "Biar semakin meyakinkan, Tam. Kamu kan tahu sendiri kalau sekarang posisi kita makin terdesak. Mama kayaknya juga mulai curiga sama kita."Tami mengangguk. "Tapi nggak harus juga kan kamu memamerkan aku ke depan orang-orang dan ngaku aku istrimu?""Tapi, kan memang kamu istriku.""Istri sewaan!" ralat Tami. Juna diam sejenak tapi kemudian melanjutkan. "Kalau sendiri, bagaimana? Sudah mulai memikirkan mau buka laundry di mana?""Kan aku sudah bilang nggak usah.""Tami, kan aku sudah bilang kalau aku mau bantuin kamu ...." Juna kembali menekankan ucapannya. "Anggap saja ini bagian dari kewajibanku sebagai kompensasi untukmu.""Harus berapa kali aku bilang nggak usah?""Harus berapa kali
"Kami langsung berangkat ya, Ma!" Juna mencium pipi Nyonya Anggara, kemudian menggandeng tangan Tami. Keduanya keluar dari rumah, menaiki mobil dan hanya ditatap dengan senyuman tipis di wajah wanita tua itu.Nyonya Anggara sejujurnya tidak ingin berprasangka buruk pada anak dan menantunya, hanya saja dia masih heran dengan sang menantu sebab Tami terlalu banyak menyimpan rahasia, seolah ingin menyembunyikan segalanya darinya. Padahal jelas Nyonya Anggara penasaran. Kenapa? Ya, kenapa dia seolah tidak pernah mengenali keluarga menantunya sendiri. Bahkan paman dan bibi Tami, tidak dia kenali sama sekali.Lalu, dikeluarkannya ponsel dari dalam saku. Dia hendak menghubungi Viviane tapi mobil perempuan itu telanjur datang lebih dahulu."Ma? Tami mana?" tanya Viviane. Nyonya Anggara menjawab, "Ikut Juna ke acara peluncuran buku.""Di toko buku Gramedia?""Ya.""Ya ampun!" Viviane menghela napas panjang. "Terus gimana? Mama sudah bicara sama Tami?"Nyonya Anggara mengangguk. "Tapi, katanya
"Makan dulu," kata Juna sambil meletakkan piring berisi nasi goreng buatan ibunya ke samping ranjang Tami. "Udah nggak usah terlalu dipikirin. Nanti rumah sakit."Tami mengalihkan wajahnya dari Juna. "Enak banget kalau ngomong. Belum tahu ya rasanya disakitin, dikhianatin sampai segitunya sama pacaran dan sahabat sendiri.""Aku paham perasaan kamu. Meskipun kasus kita beda tapi rasanya tetap sama, gak beda jauh lah.""Ya bedalah, Mas. Kamu emang niat bikin mereka cemburu, kamu niat menjauhkan vivian dari kamu. Sementara aku? Semua yang kulakukan buat Ruben seolah-olah nggak ada harganya. Dia malah selingkuh di rumah kami. Kenapa sih harus sahabat aku sendiri? Cewek lain saja."Dunia tersenyum selalu menarik napas panjang. "Emangnya kalau ceweknya bukan Gina, buat kamu nggak masalah?""Ya tetap masalah sih, Mas. Tapi kan gak akan sesakit inilah saatnya.""Alasan." juna mencibir. "Terus rencana kamu sekarang apa?"Tami mengangkat kedua bahunya. "Entahlah. Aku bahkan gak punya bayangan a
Keesokan harinya kami berangkat ke rumah lamanya, tidak lupa dia membeli beberapa barang dari minimarket bagi oleh-oleh untuk sang kekasih. Semua ini dia lakukan juga sebagai permintaan maaf karena telah menyakiti perasaan Ruben, serta ingin dia kembangkan bisnis laundry yang selama ini dikembangkannya bersama pria itu. Sementara Juna, dia berada di rumah bersama Nyonya Anggara. Untungnya Juna bisa meyakinkan sang ibu jika Tami harus pergi keluar sebentar saja untuk bertemu dengan teman-temannya. "Aku nggak mau larang Tami, kalau dia memang mau ketemu teman-temannya Kenapa harus dilarang?""Kamu benar, Juna. Mama setuju dengan keputusan kamu. Karena meskipun kamu dan Tami sudah menikah, tetap saja Tami berhak memiliki kehidupannya sendiri di luar kamu.""Jadi Mas Juna nggak keberatan?" Begitulah akting Tami dan Juna untuk mengelabuhi wanita paruh baya itu. Dan tentu saja dengan senang hati nyonya Anggara menerima tawaran sang menantu untuk menjaga putranya. Sebagai orang tua tentu
“Saya nggak mau tahu, hal kayak begini nggak boleh sampai kejadian lagi karena kalau sampai dewan sekolah dengar kita bisa dalam masalah besar. Kamu nggak mau kan keringanan uang sekolahmu dicabut? Anggap saja ini bayaran yang harus kamu tebus sebagai rasa terima kasih karena orang tua mereka telah
Masih terang kami jelas di kepala Utami bagaimana pertemuan pertamanya dengan ayah putranya itu. Adalah masa remajanya yang begitu indah, yang tidak akan pernah Utami sangka akan membawanya pada ujung penderitaan panjang sebagai manusia. Dulu Utami juga pernah hidup sebagai perempuan muda yang dipe
ang paling menakutkan dari kehidupan adalah saat kita merasa tidak punya siapa-siapa, kesepian bukan hanya sendirian, tanpa pegangan. Utami sudah pernah merasakan semua itu, dan kini dia tidak ingin lagi merasakannya. Meskipun terkadang dia masih sering menjerit akibat rasa takut kehilangan, tapi p
Dugaan Sabina tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak sepenuhnya benar. Utami memang diam-diam masih merindukan Tuhan. Namun, dengan segitu banyak luka yang Tuhan goreskan ke dalam hatinya, rasa-rasanya Utami terlalu enggan untuk berurusan dengan rasa kecewa. Sudah cukup! Tidak lagi!Utami ogah ji







