MasukDesain pakaian yang di sediakan di tempat Vee ini memang luar biasa. Mampu membuat Valeryn kalap sendiri, hingga membeli beberapa pakaian yang sebenarnya juga memang sangat dia butuhkan untuk satu minggu ini selama masa liburannya. Valeryn yang berkali-kali berdecak kagum mampu membuat senyum Vee tak luntur sekalipun. Tentu saja senang dan merasa bangga secara bersamaan.
"Kau bisa menitipkan barangmu di sini kalau kau akan pergi dulu ke tempat lain," tawar Vee karena melihat beberapa pakaian yang Valeryn beli. Pasti akan sangat merepotkan jika membawanya.
"Tidak perlu, lagi pula aku akan kembali ke hotel saja." Sebuah senyuman dia tunjukan, tangannya bergerak meraih beberapa kantung berisi pakaian yang baru saja dia bayar. Sisanya, Vee lebih dulu meraihnya, membantu.
"Oh? Ke hotel? Tidak ke tempat lain?" Cukup terkejut untuk Vee.
Dia sudah berbincang dengan Valeryn soal liburan wanita itu. Tidak menyangka ketika hari masih sore, Valeryn mengatakan hanya akan kembali ke hotel.
Valeryn mengangguk. "Kalau begitu aku permisi, Tuan Vee. Terima kasih."
Valeryn hendak meraih kantung belanjaan yang berada di tangan Vee karena mereka bahkan sudah berada di luar. Namun, Vee justru menghindari raihan tangan Valeryn. Membuat wanita itu menatap Vee kebingungan.
"Apa kau tidak berniat mendatangi tempat yang lain?" tanya Vee tiba-tiba.
"Aku masih belum memiliki tujuan lain. Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku tidak merencanakan liburan di sini dengan matang, aku tidak tahu tentang tempat apa saja yang bisa kudatangi," jawab Valeryn dengan kedua bahu yang terangkat.
Vee terlihat menusukan ujung lidahnya pada pipi bagian dalam. Menatap Valeryn dengan satu alis yang terangkat. "Jika kau berkenan, kau boleh datang pada acaraku yang di adakan di dekat pantai."
"Ah, terima kasih atas tawaranmu, Tuan Vee. Tapi sepertinya akan terlalu canggung untukku kalau datang ke sana. Aku bahkan tidak mengenal siapa pun di sini," Valeryn berucap dengan sopan. Menolak ajakan Vee dengan halus.
"Wow, kau tidak menganggapku? Lagipula acaranya juga di adakan untuk umum. Siapa saja boleh datang, hanya sebuah party biasa. Bukan acara besar yang formal."
Valeryn menggeleng cepat. "Maksudku bukan seperti itu. Baiklah, jam berapa acaranya di mulai?" Valeryn menyerah. Vee sendiri terlihat seperti tipe yang tidak akan mudah menyerah di sini. Selain itu, sepertinya tidak buruk juga, sekalian untuk mencari udara segar. Vee juga sepertinya orang yang baik dan dapat di percaya.
Vee tersenyum penuh kemenangan. Melihat pada Rolex yang ada di pergelangan tangannya untuk memastikan waktunya. "Sekitar tiga puluh menit lagi."
"Ah, sebentar lagi, ya? Sepertinya aku akan datang terlambat, apa tidak masalah? Aku harus menyimpan semua ini terlebih dulu supaya lebih tenang." Valeryn menunjuk semua pakaiannya.
"Dimana hotelmu?" tanya Vee.
"Sky light hotel."
Vee menggerakkan rahangnya, menunjuk sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berada. "Ayo, aku antarkan."
"Ya?" Valeryn membulatkan matanya. Kebingungan dengan maksud Vee.
"Aku akan mengantarmu, Nona Valeryn." Vee melangkangkan kakinya untuk menuju mobil hitam di sana. Mendahului Valeryn yang pasti akan langsung mengekor di belakang.
Baiklah, Valeryn benar-benar mengikutinya. Dia sendiri sebenarnya cukup heran ketika merasa Vee dan dirinya cepat sekali dekat. Mungkin setelah putus dari kekasih, jiwa sosial Valeryn menjadi lebih unggul karena sebelumnya yang diutamakan adalah pasangannya.
Benar, Valeryn jadi teringat kembali soal mantan kekasihnya. Rasanya keputusannya untuk datang bersama Vee sekarang cukup tepat. Dia bisa menghabiskan malam tanpa memikirkan kesedihan yang dia rasakan. Dia hanya perlu bersenang-senang dan melakukan apapun yang dia inginkan selama ini. Menjadi Valeryn yang sesungguhnya, menjadi Valeryn yang berbeda dari yang sebelumnya.
_____
Langit yang kini sudah mulai menggelap menjadi teman saat dua orang itu baru saja turun dari mobil hitam milik salah satunya.
Valeryn dan Vee berjalan berdampingan, membuat beberapa pasang mata yang berada di sana melirik dan berbisik diam-diam.
Valeryn akui, dia cukup gugup sekarang. Dia bukanlah tipe orang yang mudah bergaul selama ini. Bukan juga orang yang menyukai keramaian. Terlebih perhatian orang lain yang dia dapatkan saat ini, mungkin karena dia tengah berjalan dengan Vee, yang memang Valeryn akui ketampanannya.
"Tuan Vee, kau yakin tidak masalah aku ikut datang kemari?" tanya Valeryn setengah berbisik pada Vee di sampingnya. Jujur, dia semakin gugup saat mereka mulai mendekati sebuah Beach club yang ada di pinggir pantai.
Vee yang baru saja menyapa seseorang di depan sana akhirnya menoleh pada Valeryn. Memberikan sebuah senyuman padanya. "It's okay, memangnya kau pikir akan terjadi masalah apa?"
Valeryn menggelengkan kepalanya. "Apa saja yang mungkin terjadi. Dari tadi tatapan yang lain terlihat aneh padaku, kurasa mereka tak menyukai kehadiranku di sini." Valeryn lagi-lagi berbisik. Dia tidak ingin orang-orang yang sekarang dia bicarakan justru mendengarnya. Bisa-bisa terjadi masalah sungguhan nantinya.
Vee terlihat terkekeh, sebelum akhirnya mendekat pada telinga Valeryn, berbisik di sana. "Mereka hanya iri dengan kecantikanmu, Nona Valeryn."
Pening. Rasanya seperti tiba-tiba saja rasa pening dirasakan oleh Valeryn setelah Vee berbisik di telinganya. Bukan hanya soal suaranya saat berbisik tepat di telinga, tapi juga kalimat yang dia ucapkan. Valeryn jadi berpikir jika pria yang tengah bersamanya ini pandai sekali untuk menggoda seseorang, pasti mudah membuat para wanita bertekuk lutut padanya.
Hal itu pastinya tidak berlaku untuk Valeryn. Meski dia memang tiba-tiba saja merasa pening akan bisikan Vee, tapi dia tidak jatuh begitu saja padanya. Karena pada dasarnya, dia masih berada dalam fase patah hatinya. Dimana nama pria yang mengkhianatinya itu masih terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Ah, berhenti memanggil satu sama lain dengan embel-embel nona dan tuan. Panggil saja aku Vee, hanya Vee dan aku memanggilmu Valeryn, tidak masalah bukan?" Vee yang kembali menjauhkan wajahnya dari Valeryn kini bertanya dengan suara yang normal, tak lagi berbisik.
Valeryn sempat mengangkat kedua alisnya sebelum pada akhirnya menganggukan kepala. "Baiklah, Vee?"
Vee sekali lagi tersenyum. "Ayo, kita temui teman-temanku. Mereka sudah menunggu di depan sana," ucap Vee dengan rahang yang sudah dia gunakan untuk menunjuk kumpulan orang yang berada di depan meja bartender.
Baiklah, Valeryn merasakan kembali kegugupannya. Ini bukan lagi seperti rasa gugup saat melakukan interview saat melamar pekerjaan. Rasanya lebih dari itu karena dia akan dikenalkan pada orang asing oleh orang yang baru saja di kenalnya. Dia takut tidak bisa diterima dengan baik, karena teman Vee juga pasti tak nyaman saat ada orang asing yang tiba-tiba saja ikut berkumpul bersama mereka.
"Hei, Vee!" Sapa salah satu pria yang kini mulai berjalan mendekat, atau memang mereka sudah sampai di sana. Valeryn terlalu sibuk dengan isi pikirannya sendiri sampai tak sadar.
Vee nampak langsung bersalaman dengannya, salaman khas antara teman pria.
"Vee, pantas saja kau terlambat. Siapa itu?" tanya seorang pria yang kini bangkit dari duduknya. Menghampiri mereka.
"Ah, kenalkan ini Valeryn. Valeryn, kenalkan ini George, itu Billy," ucap Vee memperkenalkan tiga orang yang kini bersamanya termasuk Valeryn.
"Halo," ucap Valeryn dengan senyuman pada dua pria yang baru saja Vee sebutkan namanya. Oke, memang sapaan yang terkesan canggung.
"Halo, Valeryn. Sekarang aku mengerti kenapa Vee akhir-akhir ini sulit sekali dihubungi. Jelas ada yang lebih penting ternyata." Billy berucap dengan satu tepukan pada bahu Vee.
"Ya?" tanya Valeryn karena dia benar-benar tak memahami maksud dari apa yang Billy katakan. Tidak mengerti konteksnya.
Vee hanya terkekeh dan menepuk punggung Billy di sana. "Nope, Billy. Tidak ada hubungannya dengan Valeryn."
"Aku ke sana dulu," tambah Vee sembari menunjuk kursi kosong di pojok tepat di depan bartender.
Kedua teman Vee mengangguk, sembari menunjukan senyuman yang Valeryn sendiri tak mengerti maksudnya. Membuatnya hanya bisa menunjukan senyum dan akhirnya berjalan dengan Vee.
Melihat suasana yang ada di sana, jujur saja Valeryn memang suka. Mungkin memang rasanya canggung saat berada di kerumunan orang, tapi entah kenapa dia suka. Akankah ini hanyalah perasaan seseorang yang tidak ingin kesepian di saat patah hatinya?
"Aku hanya terlambat makan, Tuan Vanderson. Asam lambungku naik karena harus membaca draf kontrak akuisisi dari perusahaanmu yang terlalu berbelit-belit itu."Valeryn menarik napas dalam-dalam, menurunkan tangannya dari perut dengan gerakan sewajar mungkin. Dia menatap mata hitam Vee dengan tatapan paling dingin dan angkuh yang bisa dia pasang, mencoba menutupi debaran jantungnya yang masih bertalu liar akibat kepanikan instan tadi.Vee tidak langsung menjawab. Pria itu menyipitkan matanya, meneliti setiap perubahan ekspresi di wajah pucat Valeryn sebelum akhirnya mendengus pelan. Seulas senyum sinis namun menawan kembali terukir di bibirnya."Asam lambung? Atau kau hanya mencari alasan untuk mengusirku karena kau tidak kuat berada terlalu dekat denganku, Val?" tanya Vee, melangkah satu ketukan lebih dekat hingga aroma maskulinnya kembali mengunci indra penciuman Valeryn."Jangan terlalu percaya diri, Tuan Vanderson," cibir Valeryn, menggeser tubuhnya dan melangkah tegas menuju p
"Aku tidak meragukan kemampuan kepemimpinan Nona Valeryn. Aku tahu persis seberapa keras kepala dan teguhnya dia saat mempertahankan apa yang menurutnya benar, termasuk saat dia mencoba melarikan diri dari sesuatu."Valeryn mengepalkan tangannya di bawah meja, merasakan sindiran tajam Vee menusuk tepat di harga dirinya.Pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu akhirnya ditutup dengan kesepakatan awal untuk melanjutkan ke tahap uji tuntas (due diligence). Saat semua orang mulai berdiri dan saling bersalaman untuk meninggalkan ruangan, Vee tetap duduk di kursinya."Kalian semua bisa kembali ke hotel terlebih dahulu," perintah Vee kepada tim delegasinya, matanya tetap terkunci pada Valeryn. "Aku ingin melakukan diskusi privat empat mata dengan Direktur Utama untuk membahas klausul desain eksklusif."Clara sempat ingin memprotes. "Tapi Vee, jadwal kita setelah ini—""Keluar, Clara," desis Vee tanpa menoleh.Rose yang menyadari situasi yang semakin berbahaya ini memberikan tatapa
"Kau gila, Val! Gaun ini terlalu ketat di bagian pinggang. Bagaimana kalau perwakilan Vanderson Group itu jeli dan menyadari sesuatu?"Rose praktis merebut ritsleting gaun sutra hitam yang sedang dicoba Valeryn di dalam ruang ganti butik utama. Wajah desainer itu dipenuhi gundukan kecemasan yang nyata saat dia menekan lembut bagian perut sahabatnya."Ini ukuran standarku, Rose. Kalau aku mendadak memakai gaun longgar berpotongan oversized di pertemuan sepenting ini, tim pemasaran kita justru akan curiga," sahut Valeryn sambil mematut dirinya di depan cermin besar. Dia menarik napas dalam, menahan perutnya agar tetap terlihat rata. "Lagipula, kehamilanku baru berjalan satu bulan. Belum ada perubahan fisik yang mencolok.""Satu bulan itu rentan, Val. Kau masih sering mual di pagi hari," Rose mengingatkan dengan nada berbisik yang ketat, matanya melirik ke arah pintu ruang ganti yang tertutup. "Dan jangan lupa, hari ini yang datang bukan cuma tim analis keuangan mereka. Kudengar dari
"Rose, aku butuh kau sekarang. Tolong datang ke rumahku, bawa beberapa potong kue manis dan, demi Tuhan, jangan tanya apa-apa sampai kau melihat apa yang ada di atas meja wastafelku."Suara Valeryn bergetar, hampir habis di ujung kalimat. Di seberang telepon, suara bising khas butik mewah langsung teredam, digantikan oleh nada panik yang kentara dari sahabat sekaligus kepala desainer utamanya."Val? Kau menangis? Ada apa? Apa si berengsek mantan tunanganmu itu menerormu lagi? Katakan padaku, biar kusuruh sekuriti menghajar—""Bukan dia, Rose," potong Valeryn cepat, setetes air mata kembali lolos melintasi pipinya yang pucat. "Ini lebih rumit. Ini tentang...Hawaii. Tolong, datang saja sekarang."Tidak butuh waktu lama bagi Rose untuk membelah kemacetan ibu kota. Kurang dari empat puluh menit, wanita berambut bob nyentrik itu sudah berdiri di depan pintu kamar Valeryn, masih mengenakan pita ukur kain yang melingkar di lehernya dan sebuah kotak kue premium di tangan kiri."Oke, aku
Tiga minggu telah berlalu sejak taksi membawa Valeryn membelah dini hari Oahu yang sunyi. Tiga minggu pula dia menenggelamkan diri dalam tumpukan sketsa, laporan keuangan, dan kain-kain sutra Valerie’s Secret. Di permukaan, semuanya tampak berjalan sempurna. Vee tidak pernah menghubunginya lagi—atau lebih tepatnya, tidak bisa, karena nomornya telah diblokir secara permanen. Pria itu tampaknya telah menyerah, atau mungkin sudah kembali sibuk mengurusi butik lokalnya dan konflik panjangnya dengan sang mantan istri, Clara.Valeryn mengira dia telah menang. Dia mengira pelariannya kali ini berhasil tanpa meninggalkan luka baru.Namun pagi itu, alarm jam dinding belum sempat berbunyi ketika Valeryn mendadak terbangun dengan rasa mual yang luar biasa hebat. Perutnya bergejolak hebat, seolah-olah seluruh isinya dipaksa untuk keluar. Dia menyibak selimut dengan tergesa-gesa, berlari ke kamar mandi dalam keadaan lemas, dan mencengkeram pinggiran wastafel sebelum akhirnya memuntahkan cairan b
"Val? Sayang, kau di kamar mandi?" Vee meregangkan lengan kekarnya, meraba sisi ranjang di sebelahnya yang mendadak terasa begitu luas. Kosong. Matanya yang masih terasa berat dipaksa untuk terbuka sepenuhnya saat telapak tangannya hanya menyentuh permukaan seprai sutra yang sudah dingin. Tidak ada kehangatan tubuh Valeryn di sana. Vee langsung mendudukkan diri, selimut sutra merosot hingga ke pinggangnya, memamerkan dada bidangnya yang dipenuhi guratan otot kokoh. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar suite mewah yang kini diselimuti keheningan mencekam. "Valeryn!" panggilnya lagi, kali ini suaranya naik satu oktav. Tidak ada jawaban. Hanya deru halus pendingin ruangan yang menyambut suaranya. Vee melompat dari ranjang, tidak memedulikan tubuhnya yang polos saat dia melangkah lebar menuju kamar mandi. Pintu dikuak kasar. Kosong. Handuk dan jubah mandi satin yang kemarin mereka gunakan terlipat rapi di gantungan. Kamar mandi itu kering, menandakan tidak ada akti
Valeryn duduk dengan punggung tegak. Dia melipat kedua tangannya di atas meja dengan gestur yang santai namun kokoh. Tidak ada keringat dingin, tidak ada jemari yang meremas gaun, dan tidak ada binar mata yang goyah di balik kacamata hitam yang sengaja dia kenakan. Berbeda dengan perkiraan Clara.
Alkohol, rasanya tidak mungkin jika di acara seperti ini tak ada alkohol. Apalagi, acaranya di adakan di sebuah Beach club. Jelas alkohol adalah menu utama meski tepat di samping tempat ini adalah sebuah restoran. Namun, yang menjadi primadonanya di sini adalah alkohol itu sendiri. Bahkan, yang s
Valeryn menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Hari ini sudah pukul empat pagi. Dia baru saja terbangun setelah tertidur begitu saja begitu tubuhnya dibaringkan di atas ranjang. Terasa seperti sebuah mimpi tentang apa yang terjadi kem
"Baby, kau sudah pulang?" Valeryn tersenyum. Baru saja dia membuka pintu dan berjalan masuk. Kekasihnya sudah bertanya dengan tubuh yang dia bangkitkan dari duduknya. Merentangkan tangan untuk menyambut kedatangan Valeryn. Kekasih yang sudah lama tidak dia temui. "I miss you so much, By," ucap V







