Share

4. Drunk

Author: Liachuu
last update publish date: 2022-01-01 14:48:51

Alkohol, rasanya tidak mungkin jika di acara seperti ini tak ada alkohol. Apalagi, acaranya di adakan di sebuah Beach club. Jelas alkohol adalah menu utama meski tepat di samping tempat ini adalah sebuah restoran. Namun, yang menjadi primadonanya di sini adalah alkohol itu sendiri. Bahkan, yang sedang meliuk-liuk menari sesuai irama musik pun memegang satu gelas alkohol di tangannya.

"Maaf karena mengantarku kau jadi terlambat datang kemari," Valeryn yang sejak tadi terdiam akhirnya membuka suara.

Vee menoleh pada Valeryn, lagi-lagi menunjukan senyumnya. Entah senyuman yang ke berapa sekarang. "Berhenti meminta maaf, Valeryn."

"Pasti aku mengganggu acaramu dengan temanmu, ya?" tanya Valeryn dengan raut wajah tak enaknya.

Vee menggeleng. "Tidak, tanpa aku juga mereka bisa menikmati acaranya."

"Baiklah, jangan tinggalkan aku kalau begitu," ucap Valeryn dengan tangan yang sudah meraih gelas di depannya.

Vee menatap Valeryn, menaikan satu alisnya di sana.

Tak mendengar jawaban dari Vee, Valeryn dengan cepat kembali menoleh pada Vee. Meluhat raut wajah yang Vee tunjukan membuatnya menggelengkan kepala dengan cepat. "Tidak, tidak. Maksudku tetap di sini bersamaku. Maksudnya, aku tidak mau sendiri di sini."

Vee tak merubah raut wajahnya sekalipun.

"Bagaimana, ya. Kau tidak mengerti maksudku? Begini, kau tahu 'kan aku tidak mengenal siapa pun di sini? Dan yang mengajaku kemari itu kau, jadi ya begitu," jelas Valeryn yang kini juga kebingungan bagaimana harus menjelaskan yang benar pada Vee. Dia tidak ingin ada kesalah pahaman.

Pada akhirnya, sebuah tawa terdengar dari Vee. Tawa yang terdengar begitu renyah. "Aku tahu, mengerti. Lucu sekali melihatmu panik seperti itu."

Valeryn memicingkan matanya. Kepalanya menggeleng. "Kau membuatku berpikir kalau aku mengatakan hal yang salah, Vee."

Vee menghentikan tawanya. "Habisnya kau terlihat gugup sekali. Nikmati saja waktumu di sini, jangan perdulikan orang lain atau memikirkan bagaimana orang lain akan memandangmu. Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan selama itu nyaman untukmu."

Valeryn terdiam, menatap Vee dengan kata-kata dari itu yang sedang dia cerna dengan baik. Selain wajah yang tampan, Vee juga ternyata memiliki pemikiran yang memukau.

"Mau temani aku menari, Vee?" tanya Valeryn dengan mata yang menunjuk pada kerumunan orang yang tengah menari di atas pasir pantai.

Sebuah senyuman yang terlihat bangga kini Vee tunjukan. Jelas senang kerika Valeryn mengajaknya seperti itu, terlebih dia melakukannya setelah apa yang dia katakan sebelumnya. "Sure, ayo menari bersamaku."

Keduanya bangkit dari duduknya, melangkah perlahan bersamaan untuk bergabung dengan orang-orang yang tengah menari di sana.

Jujur saja, Valeryn memang kembali gugup. Sempat merutuki dalam hati mengapa dia berucap demikian. Pun begitu, kembali memikirkan apa yang Vee katakan padanya tadi, tiba-tiba saja membuat keberaniannya muncul.

Melihat ke arah Vee yang sudah menari di depannya dengan santai membuat Valeryn perlahan bergerak. Tubuhnya meliuk ke sana kemari dengan perlahan, mengikuti irama musik yang terdengar. Sesekali tersenyum saat sorot matanya bertemu dengan mata Vee.

"Feel the music and enjoy it!" ucap Vee setengah berbisik pada telinga Valeryn saat dirinya masih melihat ada sisa kegugupan yang Valeryn tunjukan.

Valeryn tersenyum dan mengangguk. Kembali menari hingga rasa gugupnya menghilang begitu saja.

Penerangan yang minim membuat Valeryn sedikitnya menambah kepercayaan diri. Toh, orang lain juga mungkin tengah memfokuskan diri pada dentuman musik yang terdengar. Kecuali Vee yang membagi fokusnya pada musik dan sosok wanita yang ada di hadapannya.

"Vee?"

Mendengar panggilan itu beberapa menit setelah mereka menari, membuat keduanya menoleh secara bersamaan. Mendapati seorang pria yang kini berdiri di samping Vee.

"Oh, Jimmy?" Dengan cepat Vee langsung menghamburkan pelukan pada pria itu. Sebuah tepukan dilayangkan juga pada punggung satu sama lain.

"Kekasihmu?" tanya Jimmy pada Vee saat mendapati Valeryn yang kini ikut menghentikan tariannya.

Vee menggeleng. "Temanku, Jim."

"Oh, helo. Aku Jimmy, teman dekat Vee," ucap Jimmy dengan uluran tangan pada Valeryn.

Valeryn menyambut uluran tangan itu dengan senyuman. "Valeryn."

"Kau terlihat cantik sekali," puji Jimmy sengan senyuman yang dia tunjukan untuk Valeryn.

Valeryn tersenyum lebar. Jelas merasa senang dengan pujian seperti itu. Dia tak munafik, dia juga senang dengan pujian, membuat kepercayaan dirinya bertambah. "Terima kasih."

"Tidak membawa minuman, Vee?" tanya Jimmy saat melihat tangan keduanya kosong.

Vee menggeleng.

"Oh god!" Jimmy mendecak dengan gelengan di kepalanya. Sebelum akhirnya dia memanggil seseorang di sana, salah satu pelayan.

"Bawakan dua Long island iced tea untuk mereka berdua."

Satu kalimat itu akhirnya membuat pria yang sebelumnya menghampiri akhirnya kembali berlalu.

"Jim, kau tahu aku tidak terlalu suka alkohol," ucap Vee pada Jimmy.

Jimmy terekekeh. "Nikmati saja, aku sudah memberikan yang terbaik."

Vee mendecak dengan gelengan di kepalanya.

"Ah, aku harus meninggalkan kalian lagi. Anyways Happy birthday, Vee," ucap Jimmy dengan tepukan di bahu Vee sebelum akhirnya kembali pergi meninggalkan keduanya.

Valeryn yang sejak tadi memperhatikan keduanya mengerutkan kening menatap Vee. "Its your birthday?"

Vee terlihat mennggaruk pelipisnya, dengan cengiran kakunya. "Ya, begitulah."

"Astaga, kenapa tidak mengatakannya. Jangan bilang ini acara untuk ulang tahunmu? Aku pasti sangat mengganggu sekali." Valeryn menunjukan keterkejutannya. Di sisi lain juga merasa bersalah karena menahan Vee bersamanya.

"Tidak. Tidak masalah. Sama sekali tidak mengganggu. Aku juga tidak ingin acara yang seperti biasanya, aku bahkan mengatakan pada yang lain untuk tidak membahas ulang tahun, hanya saja Jimmy memang sulit diatur."

"Tapi tetap saja, bagaimana bis—"

"Minumannya," potong Vee saat pria yang tengah membawa dua gelas minuman pada mereka.

Vee meraih dua minuman itu dan memberikannya pada Valeryn setelah mengucapkan terima kasih pada pria yang kini sudah kembali pergi dari sana.

Valeryn masih menatap Vee di depannya. "Baiklah, tapi rasanya aku perlu mengatakannya. Happy birthday, Vee."

Vee tersenyum lebar dengan gelengan di kepalanya.

"Untuk ulang tahunmu, Vee." Valeryn menyodorkan gelasnya untuk bersulang.

Vee yang tertawa akhirnya melakukan hal yang sama. Membuat dentingan kedua gelas itu terdengar sebelumn akhirnya menyesap isi gelas tersebut.

Keduanya kembali menari, kali ini dengan gelas di tangannya masing-masing.

Musik, alkohol, Vee, semua hal ini membuat Valeryn terus menunjukan kesenangannya. Tidak bohong, Valeryn tengah berusaha melampiaskan kesedihannya dengan kesenangan yang seperti ini. Khususnya alkohol yang dia minum. Satu gelas ditangannya sudah habis, rasa pening yang mulai dirasakan di kepalanya tak dia perdulikan sama sekali.

Justru, isi gelas di tangan Vee pun dia ambil alih untuk dihabiskan. Katanya, 'dari pada dibuang, mending kuhabiskan saja.'

Vee yang melihat hanya menggelengkan kepalanya. Sama sekali tak keberatan dengan hal itu karena dia juga tidak berniat menghabiskannya. Sudah dikatakan sebelumnya jika dia tak begitu menyukai alkohol.

"Vee?" panggil Valeryn yang mendekatkan dirinya pada Vee untuk berbicara. Karena suara di sana semakin bising.

"Ya?" respon Vee cepat. Menatap Valeryn dengan satu alis yang terangkat.

"Mau hadiah yang bagus tidak?" tanya Valeryn dengan cengiran lebarnya.

Vee terkekeh melihat itu, dia tahu jelas jika Valeryn sudah mulai mabuk. Wajahnya sudah memerah. Sepertinya toleransi alkohol Valeryn rendah, atau bahkan kadar alkoholnya yang terlalu tinggi.

"Aku tidak butuh hadiah, Valeryn," jawab Vee masih dengan kekehannya.

Valeryn mengerucutkan bibirnya, cemberut dengan tubuh yang berhenti menari. "Hadiahnya jelek, ya. Pria itu maunya yang bagus saja, ya? Semua pria sama saja. Jahat semua!"

Vee tertawa setengah panik. Pasalnya Valeryn berucap dengan sedikit keras. "Baiklah, hadiah apa, Valeryn?"

"Aku. Hadiahnya aku," jawab Valeryn bersemangat. Tangannya sudah menunjuk dirinya sendiri.

"You already drunk, Valeryn. Melantur sekali." Vee tersenyum tipis dengan usakan di kepala Valeryn.

Valeryn menggelengkan kepalanya. "Tidak mabuk sepenuhnya, Vee. Aku masih sadar, kok, dengan apa yang kukatakan."

Vee mengerutkan hidungnya. "Kau mabuk. Ayo duduk dulu dan hilangkan mabukmu."

Valeryn menahan dirinya saat Vee menarik lengannya. Menatap Vee lekat. "Consent, aku memberikannya. So, would you?" Tubuh Valeryn semakin mendekat pada Vee, membuat keduanya saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat.

"Ayo, tidur bersama, Vee."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Cinta Satu Malam   27. Lingerie marun

    ​"Aku hanya terlambat makan, Tuan Vanderson. Asam lambungku naik karena harus membaca draf kontrak akuisisi dari perusahaanmu yang terlalu berbelit-belit itu."​Valeryn menarik napas dalam-dalam, menurunkan tangannya dari perut dengan gerakan sewajar mungkin. Dia menatap mata hitam Vee dengan tatapan paling dingin dan angkuh yang bisa dia pasang, mencoba menutupi debaran jantungnya yang masih bertalu liar akibat kepanikan instan tadi.​Vee tidak langsung menjawab. Pria itu menyipitkan matanya, meneliti setiap perubahan ekspresi di wajah pucat Valeryn sebelum akhirnya mendengus pelan. Seulas senyum sinis namun menawan kembali terukir di bibirnya.​"Asam lambung? Atau kau hanya mencari alasan untuk mengusirku karena kau tidak kuat berada terlalu dekat denganku, Val?" tanya Vee, melangkah satu ketukan lebih dekat hingga aroma maskulinnya kembali mengunci indra penciuman Valeryn.​"Jangan terlalu percaya diri, Tuan Vanderson," cibir Valeryn, menggeser tubuhnya dan melangkah tegas menuju p

  • Bukan Cinta Satu Malam   26. Kecurigaan

    "Aku tidak meragukan kemampuan kepemimpinan Nona Valeryn. Aku tahu persis seberapa keras kepala dan teguhnya dia saat mempertahankan apa yang menurutnya benar, termasuk saat dia mencoba melarikan diri dari sesuatu."Valeryn mengepalkan tangannya di bawah meja, merasakan sindiran tajam Vee menusuk tepat di harga dirinya.​Pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu akhirnya ditutup dengan kesepakatan awal untuk melanjutkan ke tahap uji tuntas (due diligence). Saat semua orang mulai berdiri dan saling bersalaman untuk meninggalkan ruangan, Vee tetap duduk di kursinya.​"Kalian semua bisa kembali ke hotel terlebih dahulu," perintah Vee kepada tim delegasinya, matanya tetap terkunci pada Valeryn. "Aku ingin melakukan diskusi privat empat mata dengan Direktur Utama untuk membahas klausul desain eksklusif."​Clara sempat ingin memprotes. "Tapi Vee, jadwal kita setelah ini—"​"Keluar, Clara," desis Vee tanpa menoleh.​Rose yang menyadari situasi yang semakin berbahaya ini memberikan tatapa

  • Bukan Cinta Satu Malam   25. Pertemuan dengan Vanderson

    ​"Kau gila, Val! Gaun ini terlalu ketat di bagian pinggang. Bagaimana kalau perwakilan Vanderson Group itu jeli dan menyadari sesuatu?"​Rose praktis merebut ritsleting gaun sutra hitam yang sedang dicoba Valeryn di dalam ruang ganti butik utama. Wajah desainer itu dipenuhi gundukan kecemasan yang nyata saat dia menekan lembut bagian perut sahabatnya.​"Ini ukuran standarku, Rose. Kalau aku mendadak memakai gaun longgar berpotongan oversized di pertemuan sepenting ini, tim pemasaran kita justru akan curiga," sahut Valeryn sambil mematut dirinya di depan cermin besar. Dia menarik napas dalam, menahan perutnya agar tetap terlihat rata. "Lagipula, kehamilanku baru berjalan satu bulan. Belum ada perubahan fisik yang mencolok."​"Satu bulan itu rentan, Val. Kau masih sering mual di pagi hari," Rose mengingatkan dengan nada berbisik yang ketat, matanya melirik ke arah pintu ruang ganti yang tertutup. "Dan jangan lupa, hari ini yang datang bukan cuma tim analis keuangan mereka. Kudengar dari

  • Bukan Cinta Satu Malam   24. Vanderson

    "Rose, aku butuh kau sekarang. Tolong datang ke rumahku, bawa beberapa potong kue manis dan, demi Tuhan, jangan tanya apa-apa sampai kau melihat apa yang ada di atas meja wastafelku."​Suara Valeryn bergetar, hampir habis di ujung kalimat. Di seberang telepon, suara bising khas butik mewah langsung teredam, digantikan oleh nada panik yang kentara dari sahabat sekaligus kepala desainer utamanya.​"Val? Kau menangis? Ada apa? Apa si berengsek mantan tunanganmu itu menerormu lagi? Katakan padaku, biar kusuruh sekuriti menghajar—"​"Bukan dia, Rose," potong Valeryn cepat, setetes air mata kembali lolos melintasi pipinya yang pucat. "Ini lebih rumit. Ini tentang...Hawaii. Tolong, datang saja sekarang."​Tidak butuh waktu lama bagi Rose untuk membelah kemacetan ibu kota. Kurang dari empat puluh menit, wanita berambut bob nyentrik itu sudah berdiri di depan pintu kamar Valeryn, masih mengenakan pita ukur kain yang melingkar di lehernya dan sebuah kotak kue premium di tangan kiri.​"Oke, aku

  • Bukan Cinta Satu Malam   23. Dua garis merah

    Tiga minggu telah berlalu sejak taksi membawa Valeryn membelah dini hari Oahu yang sunyi. Tiga minggu pula dia menenggelamkan diri dalam tumpukan sketsa, laporan keuangan, dan kain-kain sutra Valerie’s Secret. Di permukaan, semuanya tampak berjalan sempurna. Vee tidak pernah menghubunginya lagi—atau lebih tepatnya, tidak bisa, karena nomornya telah diblokir secara permanen. Pria itu tampaknya telah menyerah, atau mungkin sudah kembali sibuk mengurusi butik lokalnya dan konflik panjangnya dengan sang mantan istri, Clara.​Valeryn mengira dia telah menang. Dia mengira pelariannya kali ini berhasil tanpa meninggalkan luka baru.​Namun pagi itu, alarm jam dinding belum sempat berbunyi ketika Valeryn mendadak terbangun dengan rasa mual yang luar biasa hebat. Perutnya bergejolak hebat, seolah-olah seluruh isinya dipaksa untuk keluar. Dia menyibak selimut dengan tergesa-gesa, berlari ke kamar mandi dalam keadaan lemas, dan mencengkeram pinggiran wastafel sebelum akhirnya memuntahkan cairan b

  • Bukan Cinta Satu Malam   22. Kembali

    ​"Val? Sayang, kau di kamar mandi?" ​Vee meregangkan lengan kekarnya, meraba sisi ranjang di sebelahnya yang mendadak terasa begitu luas. Kosong. Matanya yang masih terasa berat dipaksa untuk terbuka sepenuhnya saat telapak tangannya hanya menyentuh permukaan seprai sutra yang sudah dingin. Tidak ada kehangatan tubuh Valeryn di sana. ​Vee langsung mendudukkan diri, selimut sutra merosot hingga ke pinggangnya, memamerkan dada bidangnya yang dipenuhi guratan otot kokoh. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar suite mewah yang kini diselimuti keheningan mencekam. ​"Valeryn!" panggilnya lagi, kali ini suaranya naik satu oktav. ​Tidak ada jawaban. Hanya deru halus pendingin ruangan yang menyambut suaranya. ​Vee melompat dari ranjang, tidak memedulikan tubuhnya yang polos saat dia melangkah lebar menuju kamar mandi. Pintu dikuak kasar. Kosong. Handuk dan jubah mandi satin yang kemarin mereka gunakan terlipat rapi di gantungan. Kamar mandi itu kering, menandakan tidak ada akti

  • Bukan Cinta Satu Malam   16. Tentang Clara

    Gerakan tangan Vee langsung terhenti seketika. Valeryn bisa merasakan bagaimana otot-otot dada pria itu kembali mengeras dalam sekejap. Suasana kamar yang tadinya hangat mendadak berubah menjadi sedingin es. ​Vee membuka matanya. Tatapan yang tadinya sayu penuh gairah kini berubah menjadi tajam da

  • Bukan Cinta Satu Malam   15. Siapa Clara?

    Gemercik air hangat yang membasuh tubuh Valeryn sama sekali tidak mampu meluruhkan ketegangan yang telanjur menyergap hingga ke sumsum tulangnya. Di bawah pancuran shower, dia memejamkan mata erat-erat. Kalimat ancaman di layar ponsel Vee seolah tercetak di balik kelopak matanya.​Clara akan datang

  • Bukan Cinta Satu Malam   14. Memanfaatkan

    ​"Berdiri di luar sini tanpa pakaian hangat bisa membuatmu masuk angin, Val." ​Suara berat dan serak khas orang bangun tidur itu mengejutkan Valeryn. Dia menoleh dan mendapati Vee sudah berdiri di ambang pintu balkon. Pria itu hanya mengenakan celana panjang hitam longgar tanpa atasan, memamerkan

  • Bukan Cinta Satu Malam   18. Menuju akhir

    ​Valeryn duduk dengan punggung tegak. Dia melipat kedua tangannya di atas meja dengan gestur yang santai namun kokoh. Tidak ada keringat dingin, tidak ada jemari yang meremas gaun, dan tidak ada binar mata yang goyah di balik kacamata hitam yang sengaja dia kenakan. Berbeda dengan perkiraan Clara.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status