Mag-log inPertanyaan dari Valeryn mampu membuat Vee terdiam. Batinnya saling berargumen untuk menentukan jawaban yang akan diberikan pada Valeryn. Sorot matanya menatap sosok yang kini menahan tangannya, menggigit bibir bagian dalamnya, Vee mendekatkan wajahnya pada Valeryn. Membisikkan sesuatu di sana.
Kini giliran Valeryn yang terdiam setelah mendengar apa yang Vee bisikan. Menatap pria itu dengan tangan yang mulai dia lepaskan dari Vee.
"Ayo," ajak Vee. Berg
"Rose, aku butuh kau sekarang. Tolong datang ke rumahku, bawa beberapa potong kue manis dan, demi Tuhan, jangan tanya apa-apa sampai kau melihat apa yang ada di atas meja wastafelku."Suara Valeryn bergetar, hampir habis di ujung kalimat. Di seberang telepon, suara bising khas butik mewah langsung teredam, digantikan oleh nada panik yang kentara dari sahabat sekaligus kepala desainer utamanya."Val? Kau menangis? Ada apa? Apa si berengsek mantan tunanganmu itu menerormu lagi? Katakan padaku, biar kusuruh sekuriti menghajar—""Bukan dia, Rose," potong Valeryn cepat, setetes air mata kembali lolos melintasi pipinya yang pucat. "Ini lebih rumit. Ini tentang...Hawaii. Tolong, datang saja sekarang."Tidak butuh waktu lama bagi Rose untuk membelah kemacetan ibu kota. Kurang dari empat puluh menit, wanita berambut bob nyentrik itu sudah berdiri di depan pintu kamar Valeryn, masih mengenakan pita ukur kain yang melingkar di lehernya dan sebuah kotak kue premium di tangan kiri."Oke, aku
Tiga minggu telah berlalu sejak taksi membawa Valeryn membelah dini hari Oahu yang sunyi. Tiga minggu pula dia menenggelamkan diri dalam tumpukan sketsa, laporan keuangan, dan kain-kain sutra Valerie’s Secret. Di permukaan, semuanya tampak berjalan sempurna. Vee tidak pernah menghubunginya lagi—atau lebih tepatnya, tidak bisa, karena nomornya telah diblokir secara permanen. Pria itu tampaknya telah menyerah, atau mungkin sudah kembali sibuk mengurusi butik lokalnya dan konflik panjangnya dengan sang mantan istri, Clara.Valeryn mengira dia telah menang. Dia mengira pelariannya kali ini berhasil tanpa meninggalkan luka baru.Namun pagi itu, alarm jam dinding belum sempat berbunyi ketika Valeryn mendadak terbangun dengan rasa mual yang luar biasa hebat. Perutnya bergejolak hebat, seolah-olah seluruh isinya dipaksa untuk keluar. Dia menyibak selimut dengan tergesa-gesa, berlari ke kamar mandi dalam keadaan lemas, dan mencengkeram pinggiran wastafel sebelum akhirnya memuntahkan cairan b
"Val? Sayang, kau di kamar mandi?" Vee meregangkan lengan kekarnya, meraba sisi ranjang di sebelahnya yang mendadak terasa begitu luas. Kosong. Matanya yang masih terasa berat dipaksa untuk terbuka sepenuhnya saat telapak tangannya hanya menyentuh permukaan seprai sutra yang sudah dingin. Tidak ada kehangatan tubuh Valeryn di sana. Vee langsung mendudukkan diri, selimut sutra merosot hingga ke pinggangnya, memamerkan dada bidangnya yang dipenuhi guratan otot kokoh. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar suite mewah yang kini diselimuti keheningan mencekam. "Valeryn!" panggilnya lagi, kali ini suaranya naik satu oktav. Tidak ada jawaban. Hanya deru halus pendingin ruangan yang menyambut suaranya. Vee melompat dari ranjang, tidak memedulikan tubuhnya yang polos saat dia melangkah lebar menuju kamar mandi. Pintu dikuak kasar. Kosong. Handuk dan jubah mandi satin yang kemarin mereka gunakan terlipat rapi di gantungan. Kamar mandi itu kering, menandakan tidak ada akti
"Kau mau membawaku kemana lagi, Vee? Aku belum mandi," protes Valeryn saat pria itu menariknya turun dari ranjang, bahkan sebelum dia sempat menyisir rambutnya yang kusut. Vee terkekeh, mengecup pundak polos Valeryn yang masih terbalut jubah mandi longgar. "Mandinya nanti saja. Kita mandi di air terjun tersembunyi di Lembah Waipio. Hanya ada kau, aku, dan alam. Tanpa selembar benang pun kalau kau mau." "Dasar mesum," umpat Valeryn, namun dia tidak bisa menahan senyumannya saat Vee kembali mengecup bibirnya dengan intensitas yang manis namun menuntut. Dua hari berikutnya berlalu seperti pusaran halusinasi yang indah, penuh dengan gairah yang tidak pernah benar-benar padam. Vee menepati janjinya untuk menebus kesalahan dengan cara yang paling manis, sekaligus paling melelahkan bagi fisik Valeryn. Pria itu berubah menjadi pemandu wisata pribadi yang super posesif, memastikan setiap detik waktu Valeryn hanya dihabiskan untuk menatap wajahnya. "Ini luar biasa," napas Valeryn terta
Valeryn perlahan membuka matanya. Rasa pegal yang samar langsung menyengat tubuhnya, terutama di bagian paha bagian dalam. Saat dia mencoba menggeser tubuhnya, sebuah pelukan yang begitu erat dan protektif menahannya. Valeryn menoleh sedikit dan mendapati wajah Vee berada begitu dekat dengan wajahnya. Pria itu tidak lagi menampilkan raut wajah dingin, datar, atau penuh amarah seperti kemarin. Sepasang matanya yang semalam menyala gelap kini menatap Valeryn dengan tatapan yang begitu sayu, lembut, dan sarat akan penyesalan yang mendalam. Kedua lengan kekarnya melingkar posesif di sekeliling pinggang Valeryn, menarik tubuh wanita itu tanpa celah hingga punggung Valeryn menempel erat pada dada bidangnya. "Kau sudah bangun?" bisik Vee, suaranya terdengar sangat serak khas orang bangun tidur, namun ada nada kecemasan yang tersirat di sana. Dia menyurukkan wajahnya ke ceruk leher Valeryn, menghirup aroma tubuh wanita itu dalam-dalam seolah takut Valeryn akan menghilang jika dia melon
Begitu mobil berhenti di parkiran privat, Vee tidak bersuara sedikit pun. Dia turun, memutari mobil, dan mencengkeram pergelangan tangan Valeryn dengan remasan yang cukup kuat hingga menyisakan rona merah di kulit mulusnya. Pria itu menuntunnya—atau lebih tepatnya menyeretnya—masuk melewati lobi, naik menggunakan lift privat, hingga akhirnya pintu kamar suite mewah mereka tertutup dan terkunci dengan dentuman keras yang bergema di langit-langit ruangan. "Vee, kau sak—" Kalimat Valeryn terputus saat tubuhnya didorong kasar hingga membentur daun pintu yang kokoh. Sebelum dia sempat memprotes, tubuh besar Vee sudah mengungkungnya, menekan seluruh bobot tubuhnya pada Valeryn. Kacamata hitam yang bertengger di wajah Valeryn terlepas, jatuh mencium lantai kayu dan terabaikan begitu saja. "Kau mengatakannya dengan sangat mudah, huh?" desis Vee, napasnya memburu panas di depan wajah Valeryn. Matanya yang sehitam jelaga kini menyala oleh kobaran amarah, frustrasi, dan sesuatu yang jauh







