Share

6. Apa Kamu Senang?

Penulis: Dinis Selmara
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-19 15:56:18

Abra terdiam sejenak, tatapannya datar ke arah Serayu.

“Sudahlah, Mas Abra pergi saja. Ibu Riani sudah menunggu, kan? Aku titip salam saja untuk Vera, katakan selamat ulang tahun,” kata Serayu akhirnya, lalu bersiap untuk keluar dari mobil.

Namun, Abra justru berkata, “Kamu ikut saya.”

Gerakan tangan Serayu seketika berhenti. Namun, belum sempat Serayu bereaksi lagi, Abra telah mengunci pintu mobil dan kembali melajukan mobilnya.

Tak ada sepatah kata pun yang keluar selama perjalanan. Serayu bingung dengan isi kepalanya sendiri. Sempat merutuki permintaannya pada Abra untuk tidak pergi ke makan malam ulang tahun adiknya sendiri.

Selama ini, memang bukan hanya Riani yang tak setuju dengan pernikahan Serayu dengan Abra, tetapi Vera, adik Abra, pun sama.

Begitu tiba di rumah keluarga Abra, suasana sudah cukup ramai. Banyak keluarga yang sudah hadir dengan pakaian rapi dan sedana untuk acara makan malam keluarga. Sementara Serayu dan Abra justru memakai pakaian kerja biasa.

“Mas, mereka semua pakai pakaian rapi. Seharusnya kita ganti baju dulu,” gumam Serayu rendah, ia merasa mungkin kemunculannya dengan pakaian seperti ini akan menambah cercaan dari ibu mertuanya.

“Peduli apa. Yang penting kita pakai baju,” jawabnya datar, seolah tak terusik.

Namun, baru berjalan beberapa langkah ke arah meja makan, Serayu langsung mendapat tatapan tajam dari Riani. Pandangannya menusuk penuh kebencian.

“Ah kalian datang juga akhirnya,” ujar Jay, ayah Abra, dengan senyum mengembang.

Abra hanya mengangguk singkat, sementara Serayu tersenyum ramah dan berkata, “Maaf kami terlambat dan pakai pakaian seperti ini.”

“Tidak apa, Serayu. Kalian pasti sibuk di rumah sakit seharian, kan,” jawab Jay penuh pengertian.

Makan malam itu akhirnya berlangsung dengan hangat. Serayu duduk bersebelahan dengan Abra, tepat di seberang Jay, Riani, dan Vera.

Tentu saja semua tak luput dari obrolan bisnis dan rumah sakit. Serayu lebih banyak mendengarkan, sesekali menjawab ketika Jay bertanya pendapatnya. Di sisi lain, Riani hanya menatap tanpa banyak bicara, tatapannya tetap keras setiap kali mata mereka berpapasan.

Setelah makan selesai, mereka pindah ke ruang tengah untuk memotong kue ulang tahun Vera. Suasananya lebih santai, Vera tertawa ketika lilin ditiup, dan semua orang ikut mengucapkan selamat. Serayu tersenyum, berusaha menikmati momen itu meski tetap merasa seperti tamu.

Ketika obrolan berlanjut dan semua orang sudah tidak lagi duduk di meja makan, Serayu berdiri untuk mengambil minum di meja kecil dekat jendela. Ia meraih pitcher jus, berniat menuang ke gelasnya sendiri.

Riani tiba-tiba ikut mendekat. Langkahnya cepat, geraknya terlalu dekat.

Dalam satu sentuhan, pitcher itu tersenggol.

Jus tumpah ke arah Serayu, membasahi bagian depan bajunya.

“Oh, maaf, Serayu,” ucap Riani datar, tanpa sedikit pun ekspresi menyesal.

Abra langsung bangkit, kursinya terseret pelan saat ia bergerak mendekati Serayu yang refleks meraih bagian bajunya yang basah. Wajahnya pucat, lebih karena malu daripada terkejut.

“Mama,” tegur Abra, nadanya tajam dan jelas tidak suka.

“Tidak sengaja,” sahut Riani lagi, ringan dan sama sekali tanpa penyesalan. Tatapannya hanya menelusuri Serayu sekilas sebelum ia pergi begitu saja, membawa gelas seolah kejadian barusan tak berarti apa-apa.

Sekitar mereka langsung hening. Serayu menunduk, mencoba menutupi noda basah itu dengan tangannya. Ia bisa merasakan pipinya panas, menahan rasa malu yang menggerogoti.

“Kita pulang,” ucap Abra tegas, rahangnya mengeras.

Tapi Serayu buru-buru menggeleng. Acara belum selesai, dan ia tidak ingin menambah masalah.

“Aku… ke kamar mandi dulu. Aku keringkan sebentar,” ucap Serayu pelan.

Abra hanya mengangguk dan mengantar sampai pintu kamar mandi. Tangannya membuka pintu, seolah akan ikut masuk memastikan kondisi Serayu.

“Mas,” bisik Serayu cepat, menahan lengannya. Wajahnya memerah karena situasi canggung itu. “Tunggu di luar saja.”

Abra akhirnya mengangguk pelan dan pergi meninggalkan Serayu di sana.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Serayu menghembus napas panjang. Ia bergerak cepat untuk mengelap noda, lalu menyalakan hair dryer, mencoba membuat bajunya layak dipakai lagi. Meski warnanya gelap, rasa lengket itu tetap membuatnya tidak tenang.

Baru setengah kering, tiba-tiba pintu dibuka keras. Jantung Serayu melonjak. Ia buru-buru membuka, mengira Abra sudah gelisah menunggu.

Namun yang muncul justru Riani.

Wanita itu langsung mendorong Serayu ke dalam, membuat Serayu hampir kehilangan keseimbangan.

“Kamu bilang apa ke Abra sampai dia berani meninggikan suara pada ibunya sendiri?” desis Riani, matanya penuh kemarahan.

“Saya… tidak bilang apa-apa—”

Kalimatnya terputus ketika rahangnya dijepit kasar. Serayu mengerjap, tubuhnya menegang.

“Jangan pura-pura suci. Kamu memang tidak pantas berdiri di samping Abra,” tukas Riani tajam.

“Mama… mohon, lepas,” lirih Serayu, suaranya bergetar.

“Diam!” bentak Riani. “Apa maumu? Uang? Status? Sebutkan saja. Saya bayar berapa pun, asal kamu tinggalkan dia. Ceraikan Abra.”

Serayu menggeleng cepat, panik merayap hingga ke dadanya. “Saya tidak pernah mengharapkan uang Mas Abra, Ma. Saya—”

Dorongan keras memotong ucapannya. Riani mendorongnya hingga ia mundur beberapa langkah, punggungnya membentur wastafel. Napas Serayu memburu, separuh takut, separuh tidak percaya ini benar terjadi.

Tiba-tiba Riani meraih jet shower. Sebelum Serayu sempat menutup wajahnya, semburan dingin menghantam langsung ke kulitnya.

“A—ah!” Serayu refleks menunduk, kedua tangannya terangkat, mencoba melindungi wajahnya.

“Hei! Lihat dirimu!” seru Riani, menyemprotnya lebih kuat. “Perempuan tidak tahu diri! Kamu pikir kamu bisa bertahan di keluarga ini?”

Air terus menghantam wajah dan rambut Serayu, membuat penglihatannya blur. Napasnya tersengal, tubuhnya bergetar hebat, bukan hanya karena dingin, tapi karena rasa terhina yang menyesakkan.

“Berhenti… tolong…” suaranya pecah, hampir tidak terdengar.

Namun Riani tidak mengindahkan. Semprotan itu justru semakin brutal, dan Serayu hanya bisa menahan diri, memeluk tubuh sendiri, menelan rasa takut dan sakit hati yang menumpuk di dadanya.

Hingga akhirnya sebuah tangan kuat menarik lengan Riani dari belakang.

Suara Abra meledak, dingin dan tajam, “Mama, ini sudah keterlaluan!”

“Apa? Kamu membela dia lagi?” balas Riani sengit. “Dia menuduh Mama sengaja menyiramnya! Mama datang mau membantu, malah dibentak. Mana Mama terima!”

Serayu hanya menggeleng kecil saat Abra menoleh padanya. Tubuhnya gemetar, wajahnya basah, dadanya naik turun menahan sisa syok.

Abra langsung meraih handuk, menepuk lembut wajahnya, lalu menyampirkan jasnya di bahu Serayu.

“Istri kamu ini tidak punya sopan santun, berbeda dengan Aileen—”

“Mama, cukup. Kami pamit pulang,” final Abra tegas.

“Pulang? Ini ulang tahun adikmu!” bentak Riani. “Kalau dia mau pulang, suruh saja naik taksi!”

Abra tetap membungkuk singkat. Sikap itu justru membuat Riani meledak, “Kamu keterlaluan! Memilih perempuan itu daripada keluargamu sendiri! Abra!”

Serayu menunduk dalam. Setiap kata itu menusuk, tapi ia terlalu takut untuk bicara, apalagi melihat rahang suaminya mengeras menahan amarah.

Di parkiran, mereka berpapasan dengan Sedanu. Lelaki itu langsung terkejut melihat keadaan Serayu yang kusut.

“Serayu—” panggil Sedanu yang tak mendapat tanggapan.

Abra menarik istrinya lebih dekat dan terus berjalan tanpa menoleh.

Mobil melaju cepat dari rumah keluarga besar itu. Kabin hening, kecuali detak jantung Serayu yang masih berantakan.

“Maafkan saya, Mas…” bisiknya pelan.

Tidak ada jawaban. Abra hanya fokus ke jalan. Sesampainya di apartemen, Serayu kembali mencoba, “Saya sungguh tidak bermaksud membuat masalah.”

“Cukup, Serayu,” potongnya, suara rendah tapi menusuk.

“Saya tidak menuduh Bu Riani,” lirih Serayu.

Abra menatapnya, dingin tapi penuh tekanan. “Kenapa kamu diam saja saat Mama memperlakukan kamu begitu?”

Serayu tersenyum getir, hampir seperti menyerah. “Saya sudah biasa tidak dianggap. Dan… sebentar lagi kita juga akan berpisah. Bu Riani pasti senang.”

Tatapan Abra menajam, membuat napas Serayu tercekat. Ia mendekat langkah demi langkah, sementara Serayu mundur hingga punggungnya menempel pada pintu kamarnya.

“Bagaimana dengan kamu?” suara Abra turun, berat. “Apa kamu juga senang kalau kita berpisah?”

Dinis Selmara

Hi... salam kenal dari sang mantan hihi ... disapa tuh dr. Abra senang tah?

| 35
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (22)
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
hadechhh ternyata c Aileen sekarang malah kerja d rumah sakit yang sama tambah gedek ajja sama c Abra.
goodnovel comment avatar
yesi rahmawati
Serayu harus punya kesabaran seluas lapangan ini. Tiap hari hatinya harus tertekan karena ulah mertuanya. Eh ini malah si mantannya abra ada di rumah sakit juga
goodnovel comment avatar
aku ini siapaaa?
oh iyyaa btw ortu Sedayu udah metong atau msih hdup kak thor ? kok blum pernh di spill yah
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   204. Pesan Meresahkan

    Tentu saja Abra tidak menyukai apa yang ia lihat. Lama ia menatap layar ponselnya, rahangnya mengeras pelan sebelum akhirnya ia mengetik sebuah pesan.“Saya mau ketemu,” tulisnya.Pesan itu ia kirim pada seseorang. Balasannya datang lebih cepat dari yang ia perkirakan.“Bisa saja. Kapan?”***Keesokan harinya …Pagi sekali Abra sudah kembali. Ia langsung menuju apartemen, meski tahu istrinya belum pulang. Dari rumah, ia melanjutkan pekerjaannya. Di sela waktu yang ada, ia bahkan menyiapkan makan malam untuk mereka. Ia juga menyiapkan hal-hal kecil untuk melihat senyum istrinya.Seharian Serayu tenggelam dalam kesibukan di rumah sakit. Menjelang sore, ia berdiri menunggu sopir menjemput. Namun pandangannya terhenti ketika melihat mobil Abra terparkir sedikit menjauh. Lelaki itu berdiri di samping mobilnya.Serayu terkejut lalu wajahnya berbinar. Ia berjalan cepat menghampiri setelah berpamitan pada rekan-rekannya.“Mas? Kok nggak bilang mau jemput?”“Sengaja. Mau lihat wajah girang kam

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   203. Hang Out #2

    Sedanu keluar dari mobil untuk menyapa Ara yang menyunggingkan senyum kecil. Amalia sebelumnya sudah menyampaikan rencana sore itu, berburu makanan di kafe baru yang sedang ramai dibicarakan.“Di dalam ada dua temanku,” ujar Sedanu ketika Ara mendekat.Wajah Ara sempat berubah tipis saat melihat kursi depan sudah ditempati seorang lelaki. Sedanu membukakan pintu belakang tepat di belakang kursi kemudi.Wanita itu masuk dan kembali tersenyum kecil ketika menyadari dua dokter yang duduk di dalam mobil. Tidak akrab, tetapi mereka pernah bertemu dan saling bertegur sapa.Sepanjang perjalanan tidak canggung, tapi Ara memilih lebih banyak diam. Sesekali Sedanu mengajaknya berbicara dan ia hanya menjawab seperlunya.Kini mobil Sedanu sudah terparkir di depan kafe. Lagi-lagi, lelaki itu membukakan pintu untuk Ara lalu berjalan berdampingan memasuki kafe.Mereka masuk bersamaan. Ara tersenyum saat melihat Amalia melambaikan tangan. Namun senyum itu perlahan memudar ketika matanya menangkap sos

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   202. Hang Out #1

    “Mau makan dulu nggak sebelum pulang?” ajak Sedanu pada Ara begitu mereka berpisah dari Amalia. Ara terdiam sepersekian detik. Otaknya menolak, tapi hatinya justru mengiyakan. “Mobil kamu tinggal di klinik aja. Kita makan bareng. Pulangnya aku antar,” lanjut Sedanu.Nada suaranya tak memberi ruang untuk menolak. Tanpa menunggu jawaban, Sedanu meraih tangan Ara membawanya menuju mobil wanita itu.“Aku …”“Ketemu di sana, ya,” kata Sedanu lagi, melepaskan tangan itu saat mereka sampai.Ara akhirnya mengangguk. Sedanu sudah lebih dulu membukakan pintu untuknya. Sederhana, tapi cukup membuat dada Ara bergetar. Ia pun masuk ke dalam mobilnya.Sementara, di apartemen suasananya jauh berbeda.Serayu duduk bersandar di sofa kamarnya, semangat sekali saat bercerita. Ia menceritakan hari yang padat, pasien-pasiennya, juga pertemuan singkatnya dengan Amalia dan Sedanu di kafetaria rumah sakit.“Amalia niat banget, Mas. Sampai masak sendiri. Effort sekali sepupumu,” katanya terkekeh geli usai mema

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   201. Batu Api

    Tangan Sedanu terulur tampak hendak menyentuh puncak kepala Serayu. Namun wanita itu refleks mundur setapak, menjaga jarak. “Saya cuma mau ambil sesuatu di rambut kamu,” kekeh Sedanu, mencoba mencairkan suasana. Serayu buru-buru merapikan rambutnya dengan jemari yang sedikit kaku. Ia lalu mengambil ponsel dari tasnya, menyalakan kamera depan dan mengarahkannya ke wajah sendiri. Dari pantulan layar, ia melihat helai tipis seperti benang kecil tersangkut di sela rambutnya. Sedanu memperhatikan, tatapannya jatuh pada wajah Serayu dalam-dalam. “Dok, jangan diambil hati, ya,” ucap Serayu, masih menatap layar ponselnya. Bukan ia tidak tahu Sedanu menatapnya terus. “Saya cuma nggak mau suami saya salah paham sama kedekatan kita. Padahal… kita juga nggak sedekat itu, kan?” Kalimat terakhirnya menggantung. Ia sempat melirik Sedanu sekilas sebelum kembali memastikan benang kecil itu terlepas. “Wah, sakit hati saya dengarnya. Ternyata kita nggak sedekat itu,” kekeh Sedanu, santai. Serayu m

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   200. Dinas Luar Kota

    Abra segera membawa Serayu menjauh dari suasana yang mendadak menegang itu. Tangannya tetap melingkar di pinggang istrinya hingga mereka tiba di mobil.Dari balik jendela, Serayu masih sempat melihat Sedanu dan Ara berdiri berhadapan. Ada kecanggungan di antara keduanya. Terlihat jeda untuk dua orang yang seharusnya saling mengenal. Sesuatu yang ia sendiri sulit jelaskan.“Mas, lihat nggak tadi tatapan Dokter Ara ke Dokter Sedanu?” tanya Serayu saat mobil sudah meninggalkan area rumah sakit.Abra yang tengah mengemudi melirik sekilas, lalu menggeleng. “Nggak terlalu merhatiin.”“Sayang banget sih,” gumam Serayu. “Kalau dilihat-lihat, kayaknya Dokter Ara suka sama Dokter Sedanu, deh.”Mobil berhenti di lampu merah. Abra mengembuskan napas tipis, lalu satu tangannya terlepas dari setir, meraih tangan Serayu di pangkuannya. Jemarinya menggenggam hangat.“Lalu,” katanya santai, “dari hasil pengamatan kamu… bagaimana dengan dokter residen itu?”Sebelum Serayu sempat menjawab, Abra mengecup

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   199. Kembali Bertugas #2

    Sore itu Serayu diminta Amalia untuk menunggunya. Abra masih terjebak macet di jalan, katanya lalu lintas padat. Ia diminta sedikit bersabar.Sambil menunggu, Serayu teringat pada anak kecil yang tadi ia tenangkan. Ada dorongan halus di dadanya untuk memastikan keadaan bocah itu. Ia pun melangkah menuju ruang perawatan.Baru saja jemarinya menyentuh gagang pintu di mana kamar perawatan anak kecil itu, langkahnya terhenti. Pintu terbuka dari dalam dan Dokter Sedanu keluar. Serayu tersentak, refleks mundur setapak.“Twin?” ujar Sedanu kaget, tangannya spontan meraih kedua lengan Serayu agar ia tak kehilangan keseimbangan.“Dokter… maaf,” lirih Serayu, perlahan melepaskan diri. Ada rasa canggung yang tipis, seperti bayangan yang lewat sebentar lalu hilang.“Kamu mau apa ke sini?” tanya Sedanu.“Saya… saya mau menjenguk anak kecil yang di kamar ini,” jawabnya pelan.“Kamu kenal Leo?” alis Sedanu terangkat.Serayu menceritakan kejadian tadi, tentang bagaimana ia bertemu dengan bocah itu. Ce

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status