LOGINSerayu menunduk, matanya gugup menatap tajamnya manik milik Abra. Tatapan itu selalu saja membuatnya sesak.
“Lihat saya, Serayu.” Serayu perlahan mengangkat pandangannya, ragu dan gugup menatap mata Abra. “Sekarang, jawab pertanyaan saya.”
“Te—tentu saja,” ucapnya lirih, meski bibirnya bergetar menahan getir.
Jawaban Serayu membuat Abra mengernyit tipis, keningnya berkerut seolah tengah mencari kebenaran dari sorot mata Serayu.
“Mas juga senang, kan?” Serayu menambahkan, suaranya bergetar namun dipaksakan terdengar tenang. “Hutang saya lunas dan Mas Abra mendapatkan jabatan yang Mas impikan.”
Sekilas ada perubahan di wajah Abra, tetapi segera ditutupi kembali oleh tatapan dinginnya. Rahangnya mengeras.
Serayu menelan ludahnya, tatapannya seakan terkunci pada sorot mata Abra. Ya, Serayu sudah tahu apa tujuan Abra sebenarnya dalam pernikahan kontrak ini.
“Benar. Saya akan sangat senang sekali, sama seperti kamu,” jawab Abra dengan menekan kata ‘kamu’.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bersuara. Abra akhirnya berpaling, melangkah pergi menuju kamarnya tanpa menoleh lagi.
Serayu menahan napasnya. Belum sampai punggung Abra benar-benar menghilang, ia sudah buru-buru masuk ke kamar, menutup pintu rapat, lalu memutar kunci dengan tangan gemetar. Bersandar pada pintu, ia menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya tak karuan.
Seolah ada gumpalan emosi menyesaki yang tidak ia mengerti. Perasaan lega?
Serayu sempat termenung, berusaha meyakinkan dirinya bahwa jawabannya tadi sudah tepat.
Serayu terpaku beberapa detik. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa jawaban tadi memang yang paling benar. Semua orang menginginkannya. Riani. Keluarga besar. Bahkan dirinya… kan?
Tapi dadanya justru terasa makin sesak.
Serayu menggeleng cepat, menepuk pipinya pelan untuk membuang pikiran aneh itu, lalu berjalan menuju kamar mandi.
Saat melewati cermin, ia berhenti. Bayangan dirinya tampak kusut dengan rambut berantakan, kemeja putih kebesaran milik Abra menjuntai longgar di tubuh mungilnya.
Serayu meremas ujung kemeja itu. Seketika ingatan itu menyelinap masuk.
Mobil tiba-tiba berhenti di pinggir jalan.
“Mas, kenapa berhenti?” tanya Serayu panik.
Abra hanya menunjuk ke belakang. “Ganti pakaian. Baju kamu basah.”
“Di… sini?” tanya Serayu ragu.
“Di belakang,” jawab Abra datar. “Atau kamu mau saya biarkan masuk angin dan bikin repot?”
Serayu sempat terdiam kaku. Ia tidak berani membantah. Perlahan ia berpindah ke kursi belakang, berusaha melepaskan dress lengket itu. Namun sebelum sempat menurunkannya, matanya naik ke spion tengah dan bertemu manik mata Abra yang jelas menatap ke arahnya.
“Mas… jangan lihat ke sini,” desisnya panik.
Abra hanya menjawab lirih, tenang tapi menusuk, “Sekalipun lihat, saya tidak nafsu.”
Ingatan itu terputus.
Serayu kembali encar di depan cermin, jemarinya meremas kemeja itu lebih kuat karena kesal, malu, dan entah kenapa sedikit… perih.
Ia menarik napas panjang.
“Tidak, saya seharusnya tidak merasakan apa-apa,” gumam Serayu pelan.
Tapi dada Serayu tetap terasa penuh, seolah kemeja itu sendiri mengingatkan bahwa ia masih sangat terpengaruh oleh lelaki yang seharusnya segera ia tinggalkan.
___
Pagi itu, Serayu bangun lebih awal. Pandangannya langsung jatuh pada kemeja putih kebesaran yang semalam ia pakai. Ia mendesah, menendang selimut.
Hari ini stase bedah dimulai, dua sampai tiga bulan harus berada di satu ruangan dengan Abra, dibimbing oleh Abra. Jelas ini bukan masa yang mudah bagi Serayu.
Serayu bangkit, meraih kemeja itu, meremasnya pelan.
“Mohon kerjasamanya, dr. Abra…” gumamnya pasrah.
Setelah bersiap, Serayu keluar kamar dan hampir tersentak melihat Abra sudah duduk rapi menikmati sarapan. Serayu mendekat pelan.
“Mas…” panggilnya hati-hati. “Kemeja semalam saya cuci dulu—”
Abra menjawab tanpa menoleh, dingin. “Buang saja.”
Ucapan itu menghantam lebih keras dari yang seharusnya. Jemari Serayu langsung saling meremas.
‘Ya, tentu. Memangnya aku berharap apa?’ gumam Serayu pada dirinya sendiri.
Semalam Abra membelanya, tapi pagi ini… tetap sama. Abra selalu kembali ke dinginnya.
“Duduk,” perintahnya sambil mendorong piring untuk Serayu.
“Terima kasih,” lirih Serayu, mencoba bersikap biasa. Tapi tiap detik ia rasakan jarak itu seperti jurang yang tidak pernah benar-benar menutup.
Saat Serayu mulai makan, kursi Abra bergeser. Lelaki itu menatapnya datar.
“Siap untuk stase bedah?” tanyanya tenang.
Serayu cepat mengangguk, memaksakan senyum. “Siap, Mas. Saya… bahkan sangat bersemangat.”
Jantungnya berdebar keras. Tentu saja yang ia katakan barusan itu kebohongan besar!
Abra menatapnya sejenak seolah tahu kebohongan itu, tapi ia mengangguk saja. “Bagus.”
Hening. Sampai akhirnya Abra bersuara lagi, “Kamu tahu dokter baru yang menggantikan dr. Meta?”
Serayu mengerutkan kening kecil. Ia memang belum mendapat nama siapa penggantinya. “Belum, Mas. Siapa?”
Abra menatapnya lurus. Wajahnya tegang. “Dalam waktu dekat dia akan mulai masuk. Apapun yang terjadi, jauhi saja dia.”
Serayu nyaris tertawa karena bingung, tapi ia tahan. “Memangnya kenapa, Mas?”
Abra menghempaskan napas kasar, nada suaranya meruncing. “Serayu, jangan banyak bertanya. Ikut saja.”
Serayu membeku. Namun, belum sempat ia bereaksi lagi, Abra kembali bersuara, “Soal obrolan semalam, jangan terlalu dipikirkan dulu. Kontrak kita masih ada setengah tahun lagi.”
Tanpa menunggu respon Serayu, Abra langsung bangkit dan meninggalkannya.
Eh... kok gitu nanyanya? kamu juga senangkan Abra? >_<
“Siapa, Mas?” tanya Serayu begitu Abra masuk ke dalam mobil. “Serius sekali.” Abra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kaku, lalu mengusap puncak kepala kesayangannya. Setelah itu, ia pun menyalakan mesin mobil. “Kita berangkat sekarang ya,” katanya, jelas sekali mengalihkan pembicaraan. Serayu menangkap hal itu. Ia tahu suaminya sengaja menghindar, tapi memilih diam. Jalan yang Abra pilih terasa lebih jauh, berputar dan sedikit memakan waktu. Lampu-lampu kota berderet seperti garis samar di balik kaca jendela. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Abra melangkah lebih dulu, memilih meja yang agak jauh dari pintu utama. “Di sini saja, Sayang,” sarannya. Serayu duduk dan langsung membuka buku menu, matanya menyapu daftar hidangan. Di seberangnya, Abra justru sibuk dengan ponselnya. Wajahnya serius, membuat alis Serayu mengernyit. Tak lama kemudian, ponsel itu berdering. Abra sontak berdiri. “Sayang, tunggu di sini sebentar ya. Saya terima telep
Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempuan itu benar-benar sadar dan tidak tampak semakin lemah. Ia mengangguk tanpa banyak tanya. Dalam pikirannya, yang penting perempuan itu mendapat penanganan medis secepatnya, di mana pun tempatnya. “Baik,” jawab Abra singkat. Ia membelokkan setir, mengubah arah menuju RS Husada. Tidak ada niat lain, semua ia lakukan semata karena refleks seorang dokter yang melihat orang lain terluka. Di tempat lain, di sisi jalan yang mulai lengang, Serayu duduk sendirian di halte. Ia sudah mencoba memesan taksi online berkali-kali, tapi lucunya tidak ada yang menerima pesanannya Ia menghela napas kesal, menengadah sebentar menatap langit yang berubah keemasan. “Kok bisa nggak lewat sih…,” gumamnya lir
Abra kembali ke rumah sakit lebih dulu, meninggalkan Ara dan Ryan di restoran. Bukan Abra banget yang mau basa-basi. Lelaki itu bahkan pergi tanpa berpamitan pada Ara yang sempat memperhatikan punggung tegap lelaki itu menjauh. Di kantornya, Abra langsung menutup pintu dan merebahkan punggung sebentar ke sandaran kursi. Kepalanya terasa penuh, bukan oleh pekerjaan, melainkan oleh rindu yang datang tiba-tiba. Tanpa ragu, ia meraih ponsel dan menekan video call. Layar ponselnya memperlihatkan Serayu di sana dengan kaus kebesaran yang ia kenali. Wanita itu mengenakan celana pendek sederhana, rambut diikat asal. Wajahnya segar, tanpa riasan, tapi justru itu yang membuat Abra tersenyum lebar. “Hai… Mas sayang …,” sapa Serayu ceria. “Mana boleh cantik tiap hari,” kata Abra sambil menyandarkan kepala, matanya menyapu layar dengan puas. Serayu mendengus kecil. “Cantik tiap hari buat suami, kan?” “Bagus,” jawab Abra singkat, tapi nadanya penuh bangga. “Pakai kaos saya?” Serayu menganggu
Tidak dibenci oleh Riani, tapi mertuanya hanya malu memiliki menantu miskin. Nyatanya Itu bukan penolakan terhadap Serayu, tapi pengakuan atas luka Riani yang belum sembuh di masa lalu. Abra meminta Serayu untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Tidak perlu memikirkan apa yang Riani katakan. *** Hari ini Abra kembali bekerja dan Serayu hanya akan menghabiskan seharian di rumah saja. Entah kenapa, pikiran itu membuat dadanya terasa sedikit kosong. Saat Abra bersiap merapikan kemeja dan jam tangannya, Serayu mendekat dari belakang. Ia memeluk suaminya erat, pipinya menempel di punggung Abra. Pelukan itu bukan manja biasa, tapi lebih seperti permohonan agar waktu berjalan sedikit lebih lambat saja. “Saya beneran nggak ke rumah sakit kalau kamu seperti ini,” kata Abra sambil tertawa kecil. Serayu langsung melepas pelukannya. “Yaudah,” katanya cepat, lalu mendengus pelan. Abra berbalik menghadapnya. “Ikut saya ke rumah sakit saja, ya,” ajaknya, entah sudah yang keberapa kali. “Ng
Riani terdiam cukup lama setelah pertanyaan itu meluncur dari bibir Serayu. Matanya menatap ke depan, jarinya bergerak pelan, seolah meraba ingatan yang tercerai-berai.“Saya tidak benci,” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Saya malu,” akunya.Serayu mengerutkan keningnya halus. Kata malu membuatnya kian penasaran.“Sejak kecil,” lanjut Riani, “hidup saya selalu kekurangan. Punya ayah miskin. Kami dihina, diremehkan. Saya tumbuh dengan rasa ingin menghilang saja setiap hari.” Ia tertawa kecil, namun terdengar pahit. “Sampai hari di mana… ibu saya tidak kuat. Kamu pergi meninggalkan ayah saya, lalu beliau menikah dengan laki-laki kaya. Hidup kami berubah. Terpandang. Kami … kami baik-baik saja setelah itu. Dipuja-puji, saya tumbuh cantik dan pintar karena perawatan dan Pendidikan yang bagus.” Riani menghela napas, matanya berkabut. “Kemiskinan tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Tidak takut tidak makan. Tidak ada yang berani menghina lagi.”Serayu menahan napas. Dadanya terasa se
Pesan yang masuk malam itu ternyata penting. Pesan dari Aksa, berisi jadwal Abra untuk satu minggu ke depan. Ada beberapa perubahan, membuat kepulangan mereka esok hari justru terasa tepat. Mereka akan kembali, lalu datang lagi lain waktu untuk melihat progres rumah orang tua Serayu yang tengah direnovasi. Waktu yang dimaksud tepat untuk Abra. Sementara Serayu masih menunggu penugasan berikutnya. Siang harinya, keduanya berpamitan pada orang tua Serayu. Pelukan dan doa mengiringi kepergian mereka. “Aslinya masih pengen lama-lama,” kata Serayu jujur. “Dua hari ternyata nggak cukup.” “Ya mau bagaimana lagi,” jawab Abra santai, sama sekali tanpa rasa bersalah. “Saya nggak bisa jauh dari kamu walau sebentar.” Serayu terkekeh geli mendengarnya. “Saya sudah bilang ke ibu dan ayah, selama renovasi pindah dulu ke apartemen saja.” “Mana mau ayah sama ibu,” sambung Serayu. “Nggak mau merepotkan.” “Padahal saya senang dikunjungi,” kata Abra lagi, lalu menoleh ke istrinya dengan senyum







