LOGIN“S–saya …” Serayu bingung harus berkata apa.
Semua orang tahu Serayu pulang bersama Abra, termasuk Sedanu. Jadi, sekarang Serayu tak tahu harus beralasan apa.
“Ayo, saya antar kamu,” ujar Sedanu tanpa basa-basi, seolah memahami kebingungan Serayu.
Pada akhirnya, Serayu mengikuti ajakan Sedanu sebab sejak tadi tak kunjung mendapat taksi. Beruntung, selama perjalanan menuju apartemen, Sedanu tak banyak bertanya.
___
Pagi itu Serayu tertegun. Abra sudah duduk di meja makan dengan seragam kerjanya, lebih pagi dari biasanya. Ia ragu mendekat, terlebih hidangan di meja jelas hanya untuk dua orang.
Abra mengangkat wajah, memberi isyarat singkat agar ia duduk. Serayu tak punya ruang untuk menolak, jadi ia menarik kursi perlahan.
Sejenak mereka sibuk dengan makanan masing-masing. Hingga akhirnya, tanpa bicara Abra meletakkan ponselnya di meja dan mendorongnya ke arah Serayu.
Serayu menahan napas. Di layar, terlihat jelas dirinya masuk ke mobil Sedanu. Bibirnya terbuka, tapi Abra sudah berbicara lebih dulu.
“Sedekat apa kalian?”
“Ha–hanya sebatas dokter residen yang bantu koas,” jawab Serayu pelan.
Abra mengambil lagi ponselnya.
“Kalau begitu, ini terakhir kalian berinteraksi di luar RS.” Abra berdiri, menatap Serayu singkat. “Jangan buat skandal. Aku tidak mau personal branding-ku rusak.”
Serayu terdiam di tempat. Setiap kata yang keluar dari mulut Abra selalu berupa perintah yang tak bisa dibantah, meninggalkan perih tersendiri di hatinya.
Tanpa menunggu respon Serayu, Abra langsung meninggalkan Serayu.
Tak lama kemudian, Serayu ikut bangkit dan pergi ke rumah sakit menggunakan taksi online. Hari ini, ia ada beberapa jadwal visit sebelum menerima pengumuman rotasi.
Begitu tiba di rumah sakit, Serayu langsung disibukkan dengan semua kegiatannya. Pikiran tentang ucapan Abra pagi tadi seketika lenyap. Hingga menjelang sore, salah satu rekannya memberi tahu bahwa daftar rotasi telah diumumkan.
Sebagai koas, rotasi stase selalu jadi momen penting. Setiap beberapa minggu, mereka dipindahkan ke departemen berbeda agar pengalaman klinisnya lengkap.
Artinya pembimbing baru, ritme kerja baru, dan aturan baru yang harus disesuaikan lagi.
Serayu menarik napas pelan, rotasi mungkin satu-satunya hal hari ini yang benar-benar bisa ia kendalikan. Tanpa menunda, ia melangkah menuju papan pengumuman.
Namun, begitu tiba di papan pengumuman, Serayu menelan ludah saat melihat daftar rotasi. Namanya tercantum di stase Bedah di bawah konsulen dr. Abra Wijaya Utomo, Sp.BTKV.
Lututnya hampir goyah. Rasa lega yang tadi ia punya hilang seketika.
“Eh, kenapa wajahmu pucat begitu?” bisik rekannya.
“Enggak apa-apa,” jawab Serayu pelan.
Beberapa teman lain ikut mendekat, membaca daftar yang sama.
“Wah, Serayu! Kamu di bawah dokter Abra? Gila, enak banget. Konsulen paling ganteng satu RS!”
“Iri banget sumpah.”
Serayu hanya tersenyum pasrah, padahal dadanya seperti dicekik. Jadwal stase menunjukkan mereka akan sering bertemu.
Map di tangannya bergetar halus.
‘Habislah kau, Serayu,’ batin Serayu pasrah.
Serayu keluar dari depan papan pengumuman dengan langkah lemas, kepala masih penuh bayangan tentang stase bedah. Pandangannya menerawang jauh hingga tanpa sadar ia menabrak seseorang. Tubuhnya hampir jatuh, tapi dua tangan kuat menahannya.
Serayu mendongak, dan pandangannya langsung bertemu dengan wajah Abra.
“Ma—maaf, Dok,” ucap Serayu cepat, lalu buru-buru memperbaiki posisinya.
Abra hanya menatap sebentar tanpa ekspresi, sebelum melepaskannya dan berjalan pergi begitu saja.
Serayu tetap menunduk, membisikkan maaf sekali lagi meski pria itu sudah jauh.
Rekannya yang melihat adegan itu langsung mendekat.
“Serayu! Kamu ngelamunin apa sih? Untung ada dokter Abra yang nolongin. Gimana tuh rasanya dipegang dokter Abra?” godanya sambil menyenggol lengan.
Serayu hanya menjeling, wajahnya panas. Sementara rekannya terkikik, jelas menikmati momen itu.
Tidak heran, Abra memang sering jadi bahan obrolan. Ia dokter bedah paling dingin, paling sulit didekati… dan paling banyak digandrungi.
Serayu akhirnya melanjutkan langkahnya, tapi belum sempat benar-benar melangkah, ponselnya berdenting menampilkan satu pesan dari Abra.
[Kita pulang bersama, saya tunggu di halte.]
Serayu mengernyitkan dahinya sejenak, lalu menghela napas pasrah. Belakangan, mereka memang beberapa kali pulang bersama, dan itu cukup membuat Serayu bingung dengan sikap pria itu.
Menahan rasa bingung itu, Serayu buru-buru melangkah ke ruangan koas untuk bersiap pulang. Setelah itu, ia buru-buru berjalan menuju halte yang tak jauh dari rumah sakit.
Lama menunggu, akhirnya sebuah mobil hitam berhenti di depan Serayu. Begitu jendela turun dan wajah dingin Abra muncul, ia langsung masuk tanpa banyak pikir.
Suasana di dalam mobil sunyi seperti biasa. Hanya suara mesin yang menemani. Serayu menatap keluar jendela, mencoba merapikan napasnya yang selalu kacau jika berada di dekat pria itu.
Tiba-tiba ponsel Abra berdering, tersambung ke layar mobil. Nama Mama muncul. Abra mengangkat panggilan dengan satu sentuhan.
“Iya, Ma?”
Serayu tetap diam, tapi telinganya tak bisa mengabaikan suara Riani yang lantang, namun terdengar lembut dari speaker.
“Kamu sudah selesai di rumah sakit?”
Serayu mengatupkan rahang. Suara itu yang selalu membuat dadanya mengeras.
“Ya. Baru selesai,” jawab Abra datar.
“Perfect! Kamu ke sini ya. Sekarang lagi di mana?”
“Di jalan pulang dengan—” Abra terhenti. Sesaat ia menoleh ke arah Serayu dan refleks Serayu pun ikut menatapnya. Ada hening sekejap di antara mereka.
“Langsung ke sini aja ya,” potong Riani cepat. “Mama tunggu. Sendiri saja. Jangan bawa istrimu itu. Mood Mama lagi bagus, jangan sampai rusak karena keberadaannya.”
Serayu menegang. Pandangannya tetap lurus menatap jalanan, tapi hatinya tercekat mendengar dirinya begitu terang-terangan tidak diharapkan. Rasanya seperti ditampar tanpa pernah bisa membela diri.
“Mama buat acara makan malam untuk ulang tahun adikmu malam ini, sekalian ada yang ingin bertemu denganmu” lanjut Riani dengan nada penuh rahasia.
“Baik, Ma,” balas Abra datar.
Jawaban itu membuat dada Serayu seperti dicubit. Ada perih yang merembes pelan, membuat napasnya tak beraturan.
Pertanyaan-pertanyaan buruk bermunculan. Siapa yang ingin bertemu Abra? Dan juga, kenapa ia tak diperbolehkan datang di acara ulang tahun adik Abra?
Tapi, tidak satupun bisa ia suarakan.
Panggilan berakhir tanpa penjelasan. Hening kembali menelan mereka.
Serayu menggenggam tas di pangkuannya kuat-kuat. Ia tidak berharap apa-apa lagi, yang ada hanya persiapan batin. Dalam pikirannya, Abra bisa saja menurunkannya di pinggir jalan, seperti malam itu. Rasa pasrah itu sulit diusir.
Namun mobil terus melaju, melewati titik di mana ia biasanya disuruh turun. Serayu semakin tegang, jantungnya memukul-mukul dada. Hingga akhirnya mobil berhenti tepat di depan apartemen.
Serayu buru-buru membuka pintu, tidak ingin menunggu aba-aba seperti orang yang terus berharap.
“Turunlah, saya harus—Serayu!” suara Abra meninggi karena ia sudah keburu keluar. Serayu tetap melangkah, muak dengan semuanya.
Pintu mobil terbuka lebih lebar, lalu suara dingin itu kembali menyambar. “Saya belum selesai bicara!”
Serayu berbalik, rahangnya mengeras. Tatapannya menembus ke arah Abra, penuh gejolak yang tak bisa ditahan lagi.
“Ada apa dengan kamu?” tanya Abra, heran dengan sikap Serayu yang sulit ditebak belakangan ini dan justru membuatnya resah.
Serayu menarik napas, mengumpulkan keberanian hingga suaranya lirih terdengar. “Kalau saya minta, Mas, untuk tidak pergi… apa Mas Abra mau mendengarkan saya?”
Maafkan dr. Abra yang tidak peka ~_~
“Siapa, Mas?” tanya Serayu begitu Abra masuk ke dalam mobil. “Serius sekali.” Abra tidak menjawab. Ia hanya tersenyum kaku, lalu mengusap puncak kepala kesayangannya. Setelah itu, ia pun menyalakan mesin mobil. “Kita berangkat sekarang ya,” katanya, jelas sekali mengalihkan pembicaraan. Serayu menangkap hal itu. Ia tahu suaminya sengaja menghindar, tapi memilih diam. Jalan yang Abra pilih terasa lebih jauh, berputar dan sedikit memakan waktu. Lampu-lampu kota berderet seperti garis samar di balik kaca jendela. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai. Abra melangkah lebih dulu, memilih meja yang agak jauh dari pintu utama. “Di sini saja, Sayang,” sarannya. Serayu duduk dan langsung membuka buku menu, matanya menyapu daftar hidangan. Di seberangnya, Abra justru sibuk dengan ponselnya. Wajahnya serius, membuat alis Serayu mengernyit. Tak lama kemudian, ponsel itu berdering. Abra sontak berdiri. “Sayang, tunggu di sini sebentar ya. Saya terima
Ara menyentuh pelipisnya, jari-jarinya sedikit gemetar meski napasnya sudah jauh lebih teratur dibanding beberapa menit lalu. “Dok… bisa ke RS Husada saja?” pintanya pelan, suaranya terdengar lebih stabil. “Saya sudah lebih baik. Di sana ada kenalan saya.” Abra melirik sekilas, memastikan perempuan itu benar-benar sadar dan tidak tampak semakin lemah. Ia mengangguk tanpa banyak tanya. Dalam pikirannya, yang penting perempuan itu mendapat penanganan medis secepatnya, di mana pun tempatnya. “Baik,” jawab Abra singkat. Ia membelokkan setir, mengubah arah menuju RS Husada. Tidak ada niat lain, semua ia lakukan semata karena refleks seorang dokter yang melihat orang lain terluka. Di tempat lain, di sisi jalan yang mulai lengang, Serayu duduk sendirian di halte. Ia sudah mencoba memesan taksi online berkali-kali, tapi lucunya tidak ada yang menerima pesanannya Ia menghela napas kesal, menengadah sebentar menatap langit yang berubah keemasan. “Kok bisa nggak lewat sih…,” gumamnya lir
Abra kembali ke rumah sakit lebih dulu, meninggalkan Ara dan Ryan di restoran. Bukan Abra banget yang mau basa-basi. Lelaki itu bahkan pergi tanpa berpamitan pada Ara yang sempat memperhatikan punggung tegap lelaki itu menjauh. Di kantornya, Abra langsung menutup pintu dan merebahkan punggung sebentar ke sandaran kursi. Kepalanya terasa penuh, bukan oleh pekerjaan, melainkan oleh rindu yang datang tiba-tiba. Tanpa ragu, ia meraih ponsel dan menekan video call. Layar ponselnya memperlihatkan Serayu di sana dengan kaus kebesaran yang ia kenali. Wanita itu mengenakan celana pendek sederhana, rambut diikat asal. Wajahnya segar, tanpa riasan, tapi justru itu yang membuat Abra tersenyum lebar. “Hai… Mas sayang …,” sapa Serayu ceria. “Mana boleh cantik tiap hari,” kata Abra sambil menyandarkan kepala, matanya menyapu layar dengan puas. Serayu mendengus kecil. “Cantik tiap hari buat suami, kan?” “Bagus,” jawab Abra singkat, tapi nadanya penuh bangga. “Pakai kaos saya?” Serayu menganggu
Tidak dibenci oleh Riani, tapi mertuanya hanya malu memiliki menantu miskin. Nyatanya Itu bukan penolakan terhadap Serayu, tapi pengakuan atas luka Riani yang belum sembuh di masa lalu. Abra meminta Serayu untuk tidak memikirkan hal itu lagi. Tidak perlu memikirkan apa yang Riani katakan. *** Hari ini Abra kembali bekerja dan Serayu hanya akan menghabiskan seharian di rumah saja. Entah kenapa, pikiran itu membuat dadanya terasa sedikit kosong. Saat Abra bersiap merapikan kemeja dan jam tangannya, Serayu mendekat dari belakang. Ia memeluk suaminya erat, pipinya menempel di punggung Abra. Pelukan itu bukan manja biasa, tapi lebih seperti permohonan agar waktu berjalan sedikit lebih lambat saja. “Saya beneran nggak ke rumah sakit kalau kamu seperti ini,” kata Abra sambil tertawa kecil. Serayu langsung melepas pelukannya. “Yaudah,” katanya cepat, lalu mendengus pelan. Abra berbalik menghadapnya. “Ikut saya ke rumah sakit saja, ya,” ajaknya, entah sudah yang keberapa kali. “Ng
Riani terdiam cukup lama setelah pertanyaan itu meluncur dari bibir Serayu. Matanya menatap ke depan, jarinya bergerak pelan, seolah meraba ingatan yang tercerai-berai.“Saya tidak benci,” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Saya malu,” akunya.Serayu mengerutkan keningnya halus. Kata malu membuatnya kian penasaran.“Sejak kecil,” lanjut Riani, “hidup saya selalu kekurangan. Punya ayah miskin. Kami dihina, diremehkan. Saya tumbuh dengan rasa ingin menghilang saja setiap hari.” Ia tertawa kecil, namun terdengar pahit. “Sampai hari di mana… ibu saya tidak kuat. Kamu pergi meninggalkan ayah saya, lalu beliau menikah dengan laki-laki kaya. Hidup kami berubah. Terpandang. Kami … kami baik-baik saja setelah itu. Dipuja-puji, saya tumbuh cantik dan pintar karena perawatan dan Pendidikan yang bagus.” Riani menghela napas, matanya berkabut. “Kemiskinan tidak lagi menjadi momok yang menakutkan. Tidak takut tidak makan. Tidak ada yang berani menghina lagi.”Serayu menahan napas. Dadanya terasa se
Pesan yang masuk malam itu ternyata penting. Pesan dari Aksa, berisi jadwal Abra untuk satu minggu ke depan. Ada beberapa perubahan, membuat kepulangan mereka esok hari justru terasa tepat. Mereka akan kembali, lalu datang lagi lain waktu untuk melihat progres rumah orang tua Serayu yang tengah direnovasi. Waktu yang dimaksud tepat untuk Abra. Sementara Serayu masih menunggu penugasan berikutnya. Siang harinya, keduanya berpamitan pada orang tua Serayu. Pelukan dan doa mengiringi kepergian mereka. “Aslinya masih pengen lama-lama,” kata Serayu jujur. “Dua hari ternyata nggak cukup.” “Ya mau bagaimana lagi,” jawab Abra santai, sama sekali tanpa rasa bersalah. “Saya nggak bisa jauh dari kamu walau sebentar.” Serayu terkekeh geli mendengarnya. “Saya sudah bilang ke ibu dan ayah, selama renovasi pindah dulu ke apartemen saja.” “Mana mau ayah sama ibu,” sambung Serayu. “Nggak mau merepotkan.” “Padahal saya senang dikunjungi,” kata Abra lagi, lalu menoleh ke istrinya dengan senyum







