LOGINMata Ayunindya mengerjap pelan. Hal pertama yang dia lihat hanya samar-samar cahaya lampu dan suara bariton pria di luar mobil. Perlahan ingatannya kembali. Dia sadar kalau dia dalam bahaya.
“Aku di mana?” Ayunindya sampai meraba hijab dan gamisnya. Dia menghembuskan napas lega, setidaknya dia tahu dua pria itu belum melakukan hal buruk padanya. “Bos, dia sudah bangun!” suara pria berkepala plontos membuat Ayunindya terperanjat kaget. “Wah, akhirnya si Manis bangun juga,” tawa pria bertato naga membuat Ayunindya bergidik ngeri. Pria berkepala plontos bahkan mencolek dagu Ayunindya. Hingga Ayunindya langsung memalingkan wajah dan berdesis kesal. “Apa mau kalian?” “Mau kami? Hahaha… sabar Cantik, kita menunggu perintah. Jadi kamu siap-siap saja. Yah, maksimal paling nyawamu melayang.” Dua pria itu kembali tawanya berderai panjang. Sementara Ayunindya tubuhnya lemas seketika. Pipinya sudah basah oleh hangatnya air mata sejak tadi. “Tega kamu, Mas Davin. Kalau aku mati, dua nyawa sekaligus kamu habisi.” racau Ayunindya sendiri. “Hei, kamu bicara apa?” suara menggelegar pria di kursi depan membuat Ayunindya sontak kaget. “Ka-kalian pasti melakukan ini karena uang ‘kan? Aku akan berikan. Berapa kalian mau? Tapi tolong bebaskan aku,” mohon Ayunindya menawar nyawanya dan nyawa janin yang sedang dalam kandungannya. Dia sudah merendahkan harga dirinya dengan diam-diam membawa kartu ATM dari Davin yang selama ini tidak pernah dia gunakan. Tadinya dia ingin menggunakan uang di ATM itu untuk biaya lahiran dan membesarkan buah hatinya nanti. Tapi saat ini keadaan mendesak. “Wah, sepertinya dia banyak uang Bos!” “Iya, kebetulan uang kita belum di transfer. Hei, apa kamu punya satu miliar?” tantang pria bertato itu sambil tersenyum miring. Ayunindya tercengang. “Satu miliar?” “Dari wajahnya dia tidak punya sebanyak itu, Bos,” pria berkepala plontos menatap remeh pada Ayunindya. “Tentu saja dia tidak punya. Aku sudah tahu, dia cuma sekretaris. Orang yang menyewa jasa kita pasti uangnya lebih banyak dari dia.” Ayunindya tertunduk dan terisak. Hatinya berdenyut nyeri saat membayangkan suaminya sendiri yang melakukan semua ini. “Ah sudah, kita lanjutkan perjalanan. Selagi menunggu orang itu menelepon kita lagi!” “Kita ke mana? Aku mohon berbaik hatilah, lepaskan aku. Dengar, aku bukan siapa-siapa. Kalau kalian menghabisiku, kalian bisa saja masuk penjara,” Ayunindya kembali berusaha membujuk kedua preman itu. “Makanya kami meminta bayaran mahal, Cantik. Kalau sampai kami di penjara, setidaknya kami punya banyak uang.” tawa pria bertato itu sungguh memuakkan di telinga Ayunindya. “Tenanglah, kami akan mencari lokasi yang paling aman buat tempatmu beristirahat terakhir kalinya,” timpal yang satunya sambil bersiul senang. Ayunindya menarik napas dalam-dalam. Memejamkan mata beberapa saat. Dia hanya bisa berdoa saat ini apalagi sejauh mata memandang dia hanya melihat tempat asing dan tidak ada perumahan warga. Terselip rasa putus asa dan rasa ingin menyerah. Tapi lagi-lagi dia ingat kalau dia sedang hamil. Ayunindya akhirnya diam-diam berusaha melepaskan ikatan tali yang ada di tangannya. Dia ingin hidup demi anak yang ada di dalam kandungannya. “Bos, ponsel berbunyi!” Pria yang sedang menyetir itu langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan lalu senyumnya langsung terbit saat tahu siapa yang menelepon. “Ayo keluar. Biarkan wanita ini di dalam mobil. Kita harus negosiasi harga!” Keduanya segera keluar dari mobil. Membiarkan Ayunindya tetap berada di kursi belakang. Jantung Ayunindya bertalu lebih cepat. Tangannya sampai merah dan lecet karena terus berusaha melepaskan ikatan tali di pergelangan tangannya. Dia bahkan mencoba menggigit simpul tali. “Iya, kami sudah setengah perjalanan. Tapi kami minta tambahan uang!” suara pria itu terdengar sampai ke jendela mobil yang terbuka. “Pekerjaan ini beresiko. Kami bisa masuk penjara kalau polisi menyelidiki kasus ini. Jadi cepatlah transfer setelah itu baru kami habisi dia.” Ayunindya menelan ludahnya saat mendengar suara pria itu. Dia masih terus berusaha. Setiap detik sangat berharga saat ini. “Alhamdulillah,” lirih Ayunindya waktu dia akhirnya berhasil melepaskan ikatan tali lalu diam-diam keluar dari mobil. Sementara kedua pria itu terlihat lengah. Ayunindya lari sekencang mungkin hingga suara napasnya terdengar di telinga dan perutnya terasa kencang. “Sabar ya, Sayang. Kita lari dan nanti Mama ajak kamu ke dokter.” gumam Ayunindya di antara derai air matanya. Dia pegang perutnya untuk mengurangi efek guncangan. Dia harap calon buah hatinya kuat di dalam sana. “Mama tidak punya siapa pun kecuali kamu, Sayang. Kita harus sama-sama bertahan ya,” racau Ayunindya dengan suara parau. “Hei, jangan lari!” dua pria itu akhirnya menyadari kalau Ayunindya melarikan diri. Ayunindya terus lari tanpa tahu ke mana arah yang dia tuju. Sementara kedua pria itu berlari lebih cepat mengejar dirinya. Sayangnya sejauh mata memandang hanya ada pepohonan dan lampu jalan yang redup. “Tolong!” pekik Ayunindya meski dia tak yakin ada orang di sekitar itu yang bisa menolongnya. “Ya Rabb, lindungilah hamba!” Ayunindya tiba-tiba ingat di saku gamisnya ada ponsel. Sambil berlari dia mengambil ponsel itu. “Astaghfirullah, ternyata baterainya habis.” ringis Ayunindya sudah tak tahu lagi harus bagaimana dan lari ke arah mana. Hingga dia melihat sebuah rumah berdinding bambu. Hanya ada satu rumah itu yang dia temukan. Ayunindya berlari ke arah sana. Tapi semakin dekat dia semakin sadar, rumah itu kosong. Terlihat dari banyaknya rumput liar yang sudah merambat di dinding. “Aku harus sembunyi!” mata Ayunindya bergerak melihat ke segala arah, dia berpikir cepat hingga dia memilih sembunyi di belakang rumah kosong itu. “Lari ke mana dia?” “Cepat juga larinya. Tapi tidak mungkin dia pergi jauh.” Kedua pria itu memilih duduk di bangku yang ada di samping rumah kosong. Cahaya senter dari ponsel membuat tempat itu lebih terang. Ayunindya sampai menggigit bibirnya dan merapatkan tubuhnya. Dia harap bayangan tubuhnya tidak terlihat oleh cahaya senter. “Bagaimana kalau kita tidak menemukan wanita itu, Bos? Pinggangku sekarang sudah sangat sakit,” tanya pria itu sambil merentangkan tangannya dan memilih meletakkan ponselnya di bangku kayu. “Jangan katakan pada siapa pun. Yang penting uangnya bakal di transfer ke kita.” “Bos benar!” pria berkepala plontos mengangguk setuju. Ayunindya yang melihat ada ponsel tergeletak, memberanikan diri mengambil ponsel itu diam-diam. Dia harus menghubungi seseorang agar bisa diselamatkan. Diam-diam Ayunindya kembali lari. Tapi ternyata suara ranting yang patah membuat kedua preman itu sadar. Ayunindya terus berlari meski napasnya sudah terengah-engah, kakinya letih bahkan tubuhnya terasa dingin dan gemetar. Hingga akhirnya tubuh Ayunindya tak kuat lagi, pandangan mulai berkunang-kunang. Dia akhirnya memilih bersembunyi di balik bak sampah besar yang ada di dekat semak-semak pinggir jalan. “Aku hanya hafal nomor Mas Davin.” gumam Ayunindya saat ingin mencari bantuan. Untuk sesaat dia tertegun tapi akhirnya dia putuskan menelepon Davin. “Aku akan minta Mas Davin menghentikan dua preman itu. Aku janji tidak akan mengganggu dia lagi.” *** Davin sendiri baru saja kembali ke rumah. Sampai tengah malam dia keliling kota mencari istrinya. “Davin, dari mana kamu?” tanya Cantika beranjak dari sofa. Sejak tadi dia menunggu di ruang tamu. Wanita itu bahkan sudah siap dengan pakaian tidurnya. Kening Davin bertaut. Tak menyangka ada Cantika di rumah. “Kenapa kamu di sini, Ca?” Cantika berjalan gemulai mendekati Davin. Tangannya mengusap lembut dasi Davin. “Apa kamu tidak suka ada aku di sini? Seharusnya aku yang tanya, kamu dari mana, Sayang?” “Bukan tidak suka. Tapi aku hanya kaget. Tadi aku mencari Ayu, dia pergi dari rumah.” Wajah Cantika langsung berubah masam. “Aku yakin dia sengaja biar kamu khawatir, Sayang.” Davin mengetatkan rahangnya dan menghembuskan napas kasar. “Aku mau mandi.” Rasa lelah dan pikiran yang terasa penuh membuat Davin langsung menaiki anak tangga. Sementara Cantika yang merasa diabaikan tetap mengikuti Davin. Baru saja membuka pintu kamar, ponsel Davin berbunyi lagi. “Nomor siapa ini?” sudah tiga kali nomor asing menelepon dirinya. Davin termasuk orang yang tidak asal menerima telepon seseorang. Namun karena sudah sampai tiga kali ponselnya berbunyi, Davin akhirnya memilih menekan tombol menerima telepon. “Sayang!” Cantika tiba-tiba merangkul pinggang Davin dari belakang. Membuat pria itu kaget dan langsung lupa kalau sedang menerima telepon. “Ca–” “Aku kangen banget sama kamu, Davin. Malam ini aku mau hanya ada kita berdua. Tidak ada orang lain,” pinta Cantika menatap lekat mata Davin. Menarik tangan Davin memasuki kamar. Suara Ayunindya tercekat. Bibirnya urung bicara. Hingga telapak tangan menutup mulutnya. Jari tangannya refleks menekan tombol matikan telepon saat mendengar suara Cantika yang menggoda suaminya. Dia sadar percuma saja dia menelepon laki-laki yang bahkan sangat ingin menghabisi hidupnya. “Di sini aku bertarung nyawa, Mas. Tapi di sana Mas Davin ternyata bersama Cantika.” Ayunindya hanya bisa meratap dalam hati. Suara tangisnya bahkan tak bisa keluar. Tubuhnya makin bergetar hebat saat dia mendengar suara langkah kaki mendekati tempat persembunyiannya.Kening Davin berkerut dalam saat membaca pesan dari nomor tak dikenal itu. Dia baca berkali-kali sampai dia yakin kalau yang dimaksud pesan itu adalah Cantika. Davin mencoba menelepon ke nomor itu namun teleponnya tidak diangkat sama sekali. Davin menggerutu kesal dan memilih keluar dari ruangan itu. Untuk sesaat fokusnya terpecah. Tapi lagi-lagi berkaitan dengan Cantika.“Siapa ini? Dan apa maksudmu?” tanya Davin mengirim balasan pesan setelah tiga kali teleponnya di tolak.“Aku yang tahu rahasia Cantika. Kalau kamu mau aku bisa mengirimkan buktinya kepadamu. Lengkap dengan foto dan video. Bahkan bukti perjalanan dan hotel. Bagaimana?” Pesan misterius itu kembali membuat Davin kebingungan. Dia mencoba tak mudah percaya walau saat ini nama Cantika mulai berubah buruk di pikirannya. “Jangan main-main. Aku tidak mengenalmu!” tegas Davin membalas pesan lagi.“Baiklah aku akan kirim contohnya!”Damar yang berada di seberang telepon langsung mengirim contoh foto. Cantika sedang bersama
Damar tersenyum puas saat melihat dari kejauhan kalau kotak coklat darinya sudah diambil oleh Cantika. Untung saja wanita itu sangat suka berfoto. Termasuk foto paket yang datang ke rumahnya, makanya Damar jadi tahu alamat rumahnya.Dan hari ini dia akan menunggu Cantika untuk datang dan membayar biaya tutup mulutnya. Sementara Cantika yang semalam merasa frustasi setelah melihat foto-foto dirinya dengan Bobby dalam berbagai pose, hari ini memilih masih berada di kamarnya. “Kenapa tidak aku hapus foto-foto Bobby?” kesal Cantika. Dia terbiasa memfoto semuanya. Termasuk saat bersama Bobby. Dia merasa masih ada pria yang mau menerima dirinya, memuja dirinya dan mengejar dirinya saat dia merasa Davin berubah. “Tapi siapa yang mengirim kotak hadiah ini? Bukannya Bobby sudah mati? Apa copet kemarin? Tapi kalau copet kemarin kenapa dia bisa tahu tentangku dan Davin? Aneh!” Cantika terus mondar-mandir di dalam kamarnya hingga tanpa sadar waktu pertemuan yang ditentukan oleh Damar sudah te
Damar terus memindahkan data ponsel ke ponsel miliknya. Lalu dengan cepat dia menghapus semua yang ada di ponsel itu hingga memori ponsel kembali kosong. Dia bahkan menyimpan nomor Davin. Meski tubuhnya masih terasa sangat nyeri, Damar memilih tak peduli. Dia harus secepatnya menghilangkan jejak dari ponsel yang dia ambil.“Oke, sudah selesai. Sekarang tinggal satu ponsel lagi!” ucap Damar segera berusaha memecahkan sandi ponsel.“Sepertinya ponsel yang ini cuma untuk urusan pekerjaan,” gumamnya karena tak menemukan hal aneh apapun. Damar kemudian mematikan semua ponselnya. Dia kembali memakai masker dan topinya agar lukanya tak terlalu terlihat. Dia kembali menjual kedua ponsel itu. Damar tersenyum setelah segepok uang sudah ada di tangannya. “Lumayan, setidaknya setengah dari biaya persalinan sudah aku kumpulkan. Sekarang tinggal aku cari setengahnya lagi.” Selesai menjual ponsel, rasa nyeri makin terasa di tubuhnya. Tapi dia memilih pulang ke rumah. “Damar, apa yang terjadi pad
Mata Damar beralih ke arah Davin yang sedang membeli es krim. Dia sedang mengukur waktu pria itu kembali hingga dia bisa melihat Cantika yang sebenarnya bisa jalan. “Mumpung sedang sepi. Davin juga sebentar lagi kembali. Sebaiknya aku beraksi sekarang!” putus Damar. Damar berjalan pelan dari arah belakang kursi roda. Cantika sama sekali tak menyadari ada orang di belakangnya. Dia lebih fokus melihat ke arah Davin di ujung jalan. Tangan Damar dengan cepat tiba-tiba mendorong kursi roda itu hingga jatuh. Suara jeritan Cantika terdengar saat tubuhnya ambruk ke rerumputan. Davin menarik tas Cantika lalu lari dengan cepat.“Copet!” pekik Cantika panik yang tiba-tiba berlari dan mengejar copetnya. Dia lupa kalau dia seharusnya sedang pura-pura kakinya tak bisa berjalan. “Wah copet tuh. Kejar woi!” teriak orang-orang yang melihat Damar.“Hei pencuri! Kembalikan tasku. Dasar manusia sampah. Pasti ibumu bukan perempuan baik-baik!” teriak Cantika benar-benar kesal.Davin yang berlari dan me
Ayunindya masih memperhatikan foto di dinding. Seorang gadis muda yang terlihat cantik dengan latar belakang pantai yang indah. Dia masih ingat wajahnya dan dia sama sekali tak menyangka kalau kamar itu adalah miliknya.“Ayu, memangnya dia siapa?” tanya Damar yang berdiri di belakang Ayunindya. “Namanya Noni. Dia pernah bekerja sebagai office girl di perusahaan Mas Davin. Tapi tidak lama kerjanya, seingatku dia berhenti dan mau menyusul Ibunya kerja di luar negeri,” jelas Ayunindya. Damar menarik napas lega. Setidaknya dia tahu tidak ada ancaman yang berarti di rumah itu. “Mungkin gajinya lebih menjanjikan. Setidaknya aku tahu kita aman di sini.” “Iya. Di sini aku bisa memasak. Ada banyak perlengkapan masak di sini,” usul Ayunindya sambil menarik sprei dan membuka sarung bantal.“Tidak usah. Kamu sebentar lagi akan lahiran. Biar kita beli makan saja setiap hari,” tolak Damar membuka tas besarnya lalu mengambil selimut dan jaket yang ada di sana.“Kamu mau ke mana, Damar?” “Aku le
Davin dan Adit saling pandang. Wajah mereka sama-sama terlihat menegang. Mata mereka sama-sama tertuju pada semak-semak tinggi yang lebat. Tak terlihat apapun dari pinggir jalan tapi rasa penasaran membuat kaki Davin melangkah.Sementara Ayunindya berubah panik. Matanya membulat saat mendengar suara kaki melangkah mendekat. Dia jadi menyesal kenapa lebih menuruti rasa penasarannya ketimbang ucapan Damar yang memintanya tetap tinggal di Masjid. “Ya Allah, hamba cemas!” lirih Ayunindya tanpa suara. Dia sampai merapatkan tubuhnya ke balik tanaman.“Pak, hati-hati!” seru Adit langsung menarik tangan Davin. Takut terjadi sesuatu dengan bosnya itu.“Aku hanya ingin lihat!” “Takutnya itu ular atau mungkin binatang berbisa lainnya,” sergah Adit yang membuat Davin tiba-tiba gamang. Suara gemerisik kembali terdengar dari balik tanaman namun kali ini ada seekor kucing kecil yang menyembul keluar sambil mengeong. “Oh, ternyata kucing!” ucap Davin dan Adit akhirnya tersenyum lega. Mereka akhi







