แชร์

Kejadian di Terminal

ผู้เขียน: Rhea S
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-28 21:43:20

Tak ada yang menyadari pagi tadi Ayunindya keluar rumah sambil membawa koper. Sekarang dia sudah duduk di salah satu sudut halte bus. Kening Ayunindya masih bertaut bingung menentukan rute perjalanannya kali ini.

“Mau pergi ke mana, Mbak?” seorang calo tiket mendekati Ayunindya hingga membuat wanita itu memilih waspada.

Aynindya memilih menggeser duduknya dan memalingkan wajah. Dia tak mau menunjukan jejak air mata dan kelopak matanya yang bengkak.

“Kalau mau pergi jauh, malam ini bus ke Yogyakarta bakal berangkat. Satu jam lagi, Mbak,” calo tiket itu sepertinya paham kalau Ayunindya saat ini sedang dalam masalah.

“Yogyakarta?”

“Iya, kota yang tenang dan indah. Kalau mau, aku bawakan tiketnya sekarang?”

Ayunindya menghela napas panjang. Membayangkan indahnya Yogyakarta dari foto-foto wisata yang sering dia lihat di internet. “Mungkin aku bakal hidup tenang di sana.”

“Iya, aku mau satu tiket,” angguk Ayunindya akhirnya.

Calo tiket itu langsung mengacungkan kedua jempolnya. Berlari cepat dan menghilang di balik deretan bus-bus besar.

“Rabb, aku mohon hidup yang bahagia di tempat baru. Tidak ada lagi yang menyakitiku seperti di sini.” air mata Ayunindya kembali jatuh. Hatinya berdenyut nyeri. Tak pernah menyangka pada akhirnya akan sampai di titik ini. Pergi dan hidup tanpa laki-laki yang diam-diam dia cintai.

Tapi tanpa Ayunindya tahu dari kejauhan ada dua pria yang sedang memperhatikan dirinya.

“Bos, bukannya dia perempuan yang kemarin kita culik,” bisik pria berkepala plontos.

“Iya, ternyata dia datang sendiri ke markas kita,” suara bariton pria bertato naga itu terdengar tertawa puas.

“Terus gimana, Bos?”

“Dasar otak udang! Hubungi orang yang menyewa jasa kita kemarin. Kalau dia setuju langsung kita sikat. Aku masih dendam sama kelakuan penolongnya kemarin,” geram pria itu sampai memukul tembok di sampingnya.

“Siap Bos!”

Ponsel segera terhubung dan mereka mengobrol serius dengan Cantika di seberang telepon. Tak lama mata keduanya berbinar bahagia melihat sejumlah uang yang sudah di transfer.

“Pak, toilet di mana ya?” tanya Ayunindya pada salah satu pedagang asongan.

“Di belakang sana, Mbak. Tapi agak sepi.”

“Tidak apa. Terima kasih ya.”

Ayunindya menarik kopernya ke arah yang ditunjuk pria tadi. Kakinya terus melangkah tapi pikirannya entah ke mana. Wajah Davin masih terbayang. Dia coba cari senyuman Davin dalam kenangan tapi tak ada satupun senyum sang suami yang jadi miliknya.

“Mas pasti senang sekarang. Aku sudah pergi dan tidak ada lagi yang bakal menghalangi Mas Davin dan Cantika.” Ayunindya bicara seakan suaminya ada di depan mata. Dia seka air mata berkali-kali.

Hingga kaki Ayunindya tiba-tiba berhenti. Dia baru sadar kalau dia tersesat.

“Sepertinya aku salah arah.”

Baru saja berbalik arah, Ayunindya langsung dibuat kaget dengan dua pria yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Ka-kalian…”

Aynindya sadar dia kembali dalam bahaya. Dia masih ingat dua pria yang menculiknya malam kemarin. Kaki Ayunindya gemetar dan lehernya langsung meremang.

“Hahaha… Kamu pikir bisa lari, Manis?” keduanya mendekati Ayunindya yang terus melangkah mundur.

“Bilang sama Mas Davin, aku tidak akan mengganggu hidupnya lagi. Jadi tolong lepaskan aku. Ku mohon,” pinta Ayunindya dengan suara bergetar.

Dua pria itu saling pandang lalu kembali tertawa terbahak.

“Akan kami sampaikan pada suamimu, Manis. Tapi sekarang mari kita bersenang-senang dulu,” tangan pria itu berusaha menggapai tangan Ayunindya.

“Tolong!” pekik Ayunindya hendak lari tapi tangannya dengan cepat dicengkeram oleh kedua pria itu.

“Jangan… Tolong!” Ayunindya masih berusaha berontak sebelum akhirnya mulutnya dibekap dengan kain tebal dan pria satunya mengacungkan pisau ke arahnya.

“Diam atau nyawamu melayang!” ancam pria bertato yang mengarahkan pisau ke perut Ayunindya.

Rasa takut menjalar ke seluruh tubuh Ayunindya. Matanya kembali berkaca-kaca. Bukan hidupnya lagi yang dia pikirkan tapi janin di dalam kandungannya berhak untuk hidup.

Ayunindya mengangguk pelan. Tangannya ditarik paksa dan kakinya sampai terseret ke arah yang semakin jauh dan sepi.

Nyeri hebat tiba-tiba menjalar di perutnya, mata Ayunindya berkunang-kunang dan saat tengkuknya dihantam oleh kayu balok, dia terjatuh di atas rerumputan liar. Hal terakhir yang dia lihat hanya langit senja yang menggelap.

***

Suara decit mobil Davin terdengar tajam kali ini. Sudah larut malam dia baru pulang ke rumah. Kejadian di kantor hari ini benar-benar menguras pikiran dan waktunya.

Sejak siang dia berusaha menemui Kenzo. Davin tak terima penghinaan ini. Dia yakin Kenzo mencuri desain rancangan arsitektur milik perusahaannya. Baru saja membuka sabuk pengaman, ponsel Davin berbunyi. Ada nama Kenzo di layar ponsel.

“Oh jadi seperti ini. Kamu hanya berani lewat telepon, Kenzo. Cih, dasar pengecut!” erang Davin sampai memukul setirnya.

“Santai Davin. Aku sangat sibuk seharian. Besok saja kita bertemu. Apa kamu pikir aku serendah itu mencuri desain perusahaanmu?” suara Kenzo terdengar tenang.

“Tentu saja. Kamu memang tidak punya harga diri, Kenzo!”

“Wah bicaramu kejam sekali. Mungkin kamu lupa tapi kita ini masih sepupu jauh. Asal kamu tahu Davin, aku juga kaget desain kita bisa sama. Apa kamu tidak berpikir ada yang mau mengadu domba kita?”

“Kamu mau menuduh siapa, hah? Jelas-jelas kamu sejak bulan kemarin mendekati Cantika dan kemarin malah dengan berani mengantar istriku pulang. Sudah pasti kamu yang curang. Proyek itu seharusnya milik perusahaanku!” amuk Davin hingga urat-urat di lehernya menyembul.

“Sudahlah, percuma bicara sekarang. Aku tunggu besok di kantorku. Kita selesaikan urusan ini.”

“Halo… halo Kenzo!” Davin mengumpat kesal saat Kenzo menutup telepon tiba-tiba.

Rasa amarah membuat Davin keluar dari mobil dan langsung mencari istrinya.

“Ayu!” serunya sambil melangkah lebar.

Tak ada sahutan sama sekali. Para pelayan bahkan hanya diam dan menyingkir ke dapur saat Davin menaiki tangga. Dari nada suara Davin saja mereka sudah tahu pria itu sedang marah.

“Ayunindya, apa kamu mendengarku?” suara Davin menggelegar bersamaan dengan suara daun pintu yang dibuka kasar.

Tapi yang pertama kali Davin lihat hanyalah keheningan di kamar itu. Tak ada Ayunindya yang biasa selalu berdiri menyambut sambil membantunya melepas sepatu.

“Ayu keluarlah, aku mau bicara!” Davin mengetuk pintu kamar mandi.

Tak ada jawaban hingga dia membuka pintu kamar mandi yang ternyata kosong. Kening Davin berkerut dalam. Baru kali ini kepulangannya tidak disambut istrinya.

“Tuan Davin,” pelayan datang dan terlihat setengah ketakutan.

“Bicaralah, ada apa?”

“Sepertinya Nyonya Ayu pergi, Tuan. Lemari pakaiannya kosong waktu saya ingin membersihkan.”

“Apa!?”

Mata Davin membulat. Cepat-cepat dia membuka lemari. Dari atas sampai bawah lemari semua bersih tak ada apapun.

Davin terdiam. Rasanya dia tak percaya Ayunindya berani pergi darinya. “Ke mana istriku pergi?”

Perasaan Davin tiba-tiba resah hingga tanpa sadar Davin mengambil kunci mobilnya dan langsung melesat pergi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Menjual Rahasia Cantika

    Kening Davin berkerut dalam saat membaca pesan dari nomor tak dikenal itu. Dia baca berkali-kali sampai dia yakin kalau yang dimaksud pesan itu adalah Cantika. Davin mencoba menelepon ke nomor itu namun teleponnya tidak diangkat sama sekali. Davin menggerutu kesal dan memilih keluar dari ruangan itu. Untuk sesaat fokusnya terpecah. Tapi lagi-lagi berkaitan dengan Cantika.“Siapa ini? Dan apa maksudmu?” tanya Davin mengirim balasan pesan setelah tiga kali teleponnya di tolak.“Aku yang tahu rahasia Cantika. Kalau kamu mau aku bisa mengirimkan buktinya kepadamu. Lengkap dengan foto dan video. Bahkan bukti perjalanan dan hotel. Bagaimana?” Pesan misterius itu kembali membuat Davin kebingungan. Dia mencoba tak mudah percaya walau saat ini nama Cantika mulai berubah buruk di pikirannya. “Jangan main-main. Aku tidak mengenalmu!” tegas Davin membalas pesan lagi.“Baiklah aku akan kirim contohnya!”Damar yang berada di seberang telepon langsung mengirim contoh foto. Cantika sedang bersama

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Akhirnya Tertangkap

    Damar tersenyum puas saat melihat dari kejauhan kalau kotak coklat darinya sudah diambil oleh Cantika. Untung saja wanita itu sangat suka berfoto. Termasuk foto paket yang datang ke rumahnya, makanya Damar jadi tahu alamat rumahnya.Dan hari ini dia akan menunggu Cantika untuk datang dan membayar biaya tutup mulutnya. Sementara Cantika yang semalam merasa frustasi setelah melihat foto-foto dirinya dengan Bobby dalam berbagai pose, hari ini memilih masih berada di kamarnya. “Kenapa tidak aku hapus foto-foto Bobby?” kesal Cantika. Dia terbiasa memfoto semuanya. Termasuk saat bersama Bobby. Dia merasa masih ada pria yang mau menerima dirinya, memuja dirinya dan mengejar dirinya saat dia merasa Davin berubah. “Tapi siapa yang mengirim kotak hadiah ini? Bukannya Bobby sudah mati? Apa copet kemarin? Tapi kalau copet kemarin kenapa dia bisa tahu tentangku dan Davin? Aneh!” Cantika terus mondar-mandir di dalam kamarnya hingga tanpa sadar waktu pertemuan yang ditentukan oleh Damar sudah te

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Kotak Misterius untuk Cantika

    Damar terus memindahkan data ponsel ke ponsel miliknya. Lalu dengan cepat dia menghapus semua yang ada di ponsel itu hingga memori ponsel kembali kosong. Dia bahkan menyimpan nomor Davin. Meski tubuhnya masih terasa sangat nyeri, Damar memilih tak peduli. Dia harus secepatnya menghilangkan jejak dari ponsel yang dia ambil.“Oke, sudah selesai. Sekarang tinggal satu ponsel lagi!” ucap Damar segera berusaha memecahkan sandi ponsel.“Sepertinya ponsel yang ini cuma untuk urusan pekerjaan,” gumamnya karena tak menemukan hal aneh apapun. Damar kemudian mematikan semua ponselnya. Dia kembali memakai masker dan topinya agar lukanya tak terlalu terlihat. Dia kembali menjual kedua ponsel itu. Damar tersenyum setelah segepok uang sudah ada di tangannya. “Lumayan, setidaknya setengah dari biaya persalinan sudah aku kumpulkan. Sekarang tinggal aku cari setengahnya lagi.” Selesai menjual ponsel, rasa nyeri makin terasa di tubuhnya. Tapi dia memilih pulang ke rumah. “Damar, apa yang terjadi pad

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Rahasia Terkuak

    Mata Damar beralih ke arah Davin yang sedang membeli es krim. Dia sedang mengukur waktu pria itu kembali hingga dia bisa melihat Cantika yang sebenarnya bisa jalan. “Mumpung sedang sepi. Davin juga sebentar lagi kembali. Sebaiknya aku beraksi sekarang!” putus Damar. Damar berjalan pelan dari arah belakang kursi roda. Cantika sama sekali tak menyadari ada orang di belakangnya. Dia lebih fokus melihat ke arah Davin di ujung jalan. Tangan Damar dengan cepat tiba-tiba mendorong kursi roda itu hingga jatuh. Suara jeritan Cantika terdengar saat tubuhnya ambruk ke rerumputan. Davin menarik tas Cantika lalu lari dengan cepat.“Copet!” pekik Cantika panik yang tiba-tiba berlari dan mengejar copetnya. Dia lupa kalau dia seharusnya sedang pura-pura kakinya tak bisa berjalan. “Wah copet tuh. Kejar woi!” teriak orang-orang yang melihat Damar.“Hei pencuri! Kembalikan tasku. Dasar manusia sampah. Pasti ibumu bukan perempuan baik-baik!” teriak Cantika benar-benar kesal.Davin yang berlari dan me

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Bertemu Davin dan Cantika

    Ayunindya masih memperhatikan foto di dinding. Seorang gadis muda yang terlihat cantik dengan latar belakang pantai yang indah. Dia masih ingat wajahnya dan dia sama sekali tak menyangka kalau kamar itu adalah miliknya.“Ayu, memangnya dia siapa?” tanya Damar yang berdiri di belakang Ayunindya. “Namanya Noni. Dia pernah bekerja sebagai office girl di perusahaan Mas Davin. Tapi tidak lama kerjanya, seingatku dia berhenti dan mau menyusul Ibunya kerja di luar negeri,” jelas Ayunindya. Damar menarik napas lega. Setidaknya dia tahu tidak ada ancaman yang berarti di rumah itu. “Mungkin gajinya lebih menjanjikan. Setidaknya aku tahu kita aman di sini.” “Iya. Di sini aku bisa memasak. Ada banyak perlengkapan masak di sini,” usul Ayunindya sambil menarik sprei dan membuka sarung bantal.“Tidak usah. Kamu sebentar lagi akan lahiran. Biar kita beli makan saja setiap hari,” tolak Damar membuka tas besarnya lalu mengambil selimut dan jaket yang ada di sana.“Kamu mau ke mana, Damar?” “Aku le

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Pindah Kontrakan

    Davin dan Adit saling pandang. Wajah mereka sama-sama terlihat menegang. Mata mereka sama-sama tertuju pada semak-semak tinggi yang lebat. Tak terlihat apapun dari pinggir jalan tapi rasa penasaran membuat kaki Davin melangkah.Sementara Ayunindya berubah panik. Matanya membulat saat mendengar suara kaki melangkah mendekat. Dia jadi menyesal kenapa lebih menuruti rasa penasarannya ketimbang ucapan Damar yang memintanya tetap tinggal di Masjid. “Ya Allah, hamba cemas!” lirih Ayunindya tanpa suara. Dia sampai merapatkan tubuhnya ke balik tanaman.“Pak, hati-hati!” seru Adit langsung menarik tangan Davin. Takut terjadi sesuatu dengan bosnya itu.“Aku hanya ingin lihat!” “Takutnya itu ular atau mungkin binatang berbisa lainnya,” sergah Adit yang membuat Davin tiba-tiba gamang. Suara gemerisik kembali terdengar dari balik tanaman namun kali ini ada seekor kucing kecil yang menyembul keluar sambil mengeong. “Oh, ternyata kucing!” ucap Davin dan Adit akhirnya tersenyum lega. Mereka akhi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status