เข้าสู่ระบบSuara gerbang yang dibuka oleh satpam membuat tatapan keduanya bertemu. Davin dengan tatapan penuh emosi dan Ayunindya dengan tatapan penuh luka. Dinginnya fajar tak mampu menghangatkan suasana yang terlanjur memanas.
“Apa mau kuantar sampai dalam rumah?” tawar Kenzo memapah Ayunindya dengan santai. Dia satu-satunya orang yang tahu rahasia Davin yang menikahi Ayunindya setahun lalu. Kenzo memilih acuh walau tatapan Davin berkilat marah padanya. “Apa yang kalian lakukan? Ayu, kamu pulang jam segini?” tanya Davin dingin. “Apa harus aku jelaskan lagi?” Ayunindya membalas kali ini. Bukankah seharusnya Davin tahu kalau rencananya sudah gagal? “Apa kamu tidak berniat membantu, Davin? Atau perlu aku ajarkan dulu caranya memperlakukan wanita?” sindir Kenzo. Davin mendengus kesal. Dia langsung menarik tangan Ayunindya hingga istrinya terhuyung dan menabrak dada Davin. “Tidak usah pura-pura kesakitan!” sinis Davin saat Ayunindya meringis kesakitan. “Aku bukan artis yang pintar akting,” bantah Ayunindya. “Cepat masuk,” Davin langsung meminta pelayan membawanya ke dalam rumah. Davin melangkah hingga berhadapan dengan Kenzo. “Kamu tidak terlihat hebat hanya karena berusaha mendekati Cantika lalu sekarang istriku!” “Aku kira gunung es di Antartika itu adalah tempat yang paling dingin, Davin. Tapi sepertinya aku salah, ternyata kamu jauh lebih dingin. Kamu tidak ingin bertanya kenapa istrimu pulang dalam keadaan seperti itu?” “Dia hanya pura-pura terluka. Lain kali jangan coba-coba mencari kesempatan lagi. Apa tidak cukup kita hanya bersaing dalam bisnis?” “Terserah! Aku mau pulang. Aku hanya ingin mengingatkan jangan sampai kamu menyesal. Aku rasa Ayu istri yang cocok untukmu daripada Cantika,” Kenzo berbalik arah dan memilih pergi dengan santai. Davin berdecak kesal. Sikap Kenzo yang terlalu santai justru membuat dia semakin hilang kendali. Davin akhirnya memilih masuk ke dalam rumah. Tanpa mereka tahu Cantika sudah mengintip dari jendela kamar sejak tadi. Wanita itu memang menginap di rumah Davin malam ini. Puspita yang memintanya tetap tinggal. “Beruntung sekali dia kali ini ketemu Kenzo,” Cantika hanya tersenyum miring. Diam-diam dia melangkah mengikuti Davin. Ayunindya duduk di sofa. Matanya mengedar menatap segala sudut kamar. Ucapan dua penjahat tadi dan reaksi suaminya yang justru emosi saat dia pulang membuat Ayunindya sadar kalau tak ada tempat untuknya di rumah itu. “Aku tahu bukan aku yang kamu pilih, Mas.” lirih Ayunindya membuka laci meja riasnya. Ada kartu ATM dari Davin yang diberikan pria itu di hari pertama pernikahan mereka dulu. “Aku akan berikan uang berapapun yang kamu mau, Ayu. Tapi jangan harap pernikahan ini seperti pernikahan impianmu.” Ucapan Davin waktu itu masih terngiang di telinganya. Sampai hari ini Ayunindya bahkan hanya menyimpan kartu ATM itu tanpa pernah tahu berapa uang di dalamnya. “Harus sampai menyewa preman ya Mas, biar aku tidak betah di pernikahan ini? Sebegitu inginnya kamu bersama Cantika sampai nekat seperti ini?” Air matanya jatuh di foto pernikahan yang dia simpan selama ini di dalam laci. “Baiklah aku pergi, Mas.” “Kamu betah pakai baju compang-camping dan kotor itu? Kalau kamu tidak ingin keluar rumah cukup bilang tidak. Kenapa harus pulang dengan Kenzo?” tanya Davin yang muncul dari pintu kamar. “Aku akan ganti pakaian.” “Kamu tahu dia lawan bisnisku. Tapi kamu masih nekat mau diantar pulang dengannya?” “Aku yang minta tolong diantar Kenzo, Mas.” Ayunindya sudah tak punya energi untuk bertengkar. Tubuhnya terasa remuk redam, nyeri menjalar dari tangan sampai kakinya. Hingga dia memilih melangkah pelan menuju kamar mandi. “Apa?! Ayu, aku sedang bicara. Kenapa harus dia? Kenapa tidak meneleponku?” Ayunindya menoleh. “Harus ya telepon Mas? Bukannya kedua preman itu—” “Cantika!” Davin memilih langsung keluar kamar saat mendengar jeritan Cantika tanpa mendengar penjelasan Ayunindya lagi. Ayunindya tersenyum getir. Di hadapannya sekarang hanya ada udara yang berhembus lembut melewatinya. “Kamu aku bebaskan Mas.” Ayunindya hanya tersenyum getir. Melangkah ke lemari pakaian dan menarik kopernya. “Lain kali telepon pelayan saja Ca,” ucap Davin yang membantu Cantika turun dari tangga. “Aku cuma ingin ambil minum, Davin. Mungkin karena mengantuk makanya aku hampir jatuh tadi,” cebik Cantika meringis kesakitan sambil mengelus kakinya yang sebenarnya baik-baik saja. “Aku ambilkan obat.” Davin mengobati Cantika dengan cekatan bahkan saat wanita itu merengek minta jangan ditinggalkan, Davin memilih menurut. Davin baru kembali ke kamarnya saat hari hampir pagi. “Jangan telat ke kantor hari ini!” tegas Davin saat melewati istrinya. “Seperti yang kamu mau, Mas.” Davin sempat menoleh. Suara Ayunindya terdengar lemah di telinganya. “Kamu benaran sakit? Kecelakaan?” Davin mulai benar-benar memperhatikan kondisi istrinya pagi ini. Ayunindya menggeleng dan tersenyum hambar. “Aku sangat baik Mas.” Davin mengangguk lalu melangkah pergi ke kamar mandi. * Davin pagi ini sudah berada di kantor. Cantika ikut satu mobil dengannya. Sementara Ayunindya memilih tidak ikut sarapan pagi bahkan memilih berangkat kerja sendirian dengan santai. “Pak Davin, kita ada masalah besar,” Handoko salah satu karyawannya menghampiri dengan wajah pias. “Ada apa?” “Konsep desain rancangan arsitektur yang ingin kita ajukan untuk tender rumah sakit Jiwa Sehat ternyata sama persis dengan milik perusahaan milik Pak Kenzo." “Tidak mungkin!” panik Davin. “Kenapa bisa? Itu desain milik perusahaan kita,” Cantika terlihat ikut panik tapi diam-diam senyum samar terbit di bibirnya. “Saya juga tidak tahu, Bu Cantika,” Handoko hanya tertunduk dalam. “Davin, pasti ada yang mengkhianati kamu. Aku dengar dari pelayan, semalam Ayu pulang dengan Kenzo. Apa mereka ada hubungan?” pancing Cantika. “Panggil Ayu ke ruanganku sekarang!” Davin melangkah lebar ke lift. “Bu Ayu belum sampai, Pak!” “Aku tidak peduli. Telepon dan suruh dia datang sekarang!” Hampir satu jam kemudian Ayunindya baru datang. Semua orang melihatnya tapi dia memilih berjalan dengan tenang. “Pak Davin mencariku?” Davin langsung melempar dokumen ke arah Ayunindya. Sorot matanya tajam menatap Ayunindya. Tapi istrinya itu tetap tenang. “Apa kamu yang melakukan ini Ayu? Kamu yang memberikan konsep desain kita pada Kenzo?” “Tidak!” “Tapi aku menemukan file desainnya diunggah lewat komputer milikmu dan dikirim ke surel milik Kenzo.” “Aku tidak melakukannya.” Ayunindya menjawab tanpa ragu. “Kamu aku pecat. Semua bukti mengarah padamu!” “Terima kasih Pak Davin. Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri ke HRD pagi tadi. Selamat tinggal.” Davin benar-benar kaget. Tak menyangka Ayunindya malah memilih mengundurkan diri duluan. Dia pikir istrinya itu akan memohon padanya. Davin hanya melihat punggung belakang istrinya yang berlalu pergi tanpa dia tahu kalau istrinya kali ini pergi ke tempat yang tidak pernah dia ketahui.Tak ada yang menyadari pagi tadi Ayunindya keluar rumah sambil membawa koper. Sekarang dia sudah duduk di salah satu sudut halte bus. Kening Ayunindya masih bertaut bingung menentukan rute perjalanannya kali ini. “Mau pergi ke mana, Mbak?” seorang calo tiket mendekati Ayunindya hingga membuat wanita itu memilih waspada.Aynindya memilih menggeser duduknya dan memalingkan wajah. Dia tak mau menunjukan jejak air mata dan kelopak matanya yang bengkak. “Kalau mau pergi jauh, malam ini bus ke Yogyakarta bakal berangkat. Satu jam lagi, Mbak,” calo tiket itu sepertinya paham kalau Ayunindya saat ini sedang dalam masalah.“Yogyakarta?” “Iya, kota yang tenang dan indah. Kalau mau, aku bawakan tiketnya sekarang?” Ayunindya menghela napas panjang. Membayangkan indahnya Yogyakarta dari foto-foto wisata yang sering dia lihat di internet. “Mungkin aku bakal hidup tenang di sana.” “Iya, aku mau satu tiket,” angguk Ayunindya akhirnya.Calo tiket itu langsung mengacungkan kedua jempolnya. Berlari
Suara gerbang yang dibuka oleh satpam membuat tatapan keduanya bertemu. Davin dengan tatapan penuh emosi dan Ayunindya dengan tatapan penuh luka. Dinginnya fajar tak mampu menghangatkan suasana yang terlanjur memanas.“Apa mau kuantar sampai dalam rumah?” tawar Kenzo memapah Ayunindya dengan santai. Dia satu-satunya orang yang tahu rahasia Davin yang menikahi Ayunindya setahun lalu. Kenzo memilih acuh walau tatapan Davin berkilat marah padanya. “Apa yang kalian lakukan? Ayu, kamu pulang jam segini?” tanya Davin dingin.“Apa harus aku jelaskan lagi?” Ayunindya membalas kali ini. Bukankah seharusnya Davin tahu kalau rencananya sudah gagal?“Apa kamu tidak berniat membantu, Davin? Atau perlu aku ajarkan dulu caranya memperlakukan wanita?” sindir Kenzo.Davin mendengus kesal. Dia langsung menarik tangan Ayunindya hingga istrinya terhuyung dan menabrak dada Davin. “Tidak usah pura-pura kesakitan!” sinis Davin saat Ayunindya meringis kesakitan.“Aku bukan artis yang pintar akting,” banta
Ayunindya yang kehilangan fokus membuat dua pria itu dengan mudah menariknya ke dalam mobil. Dia kembali memberontak meski tangan dan kakinya terasa nyeri luar biasa. Energinya terkuras habis. “Lepaskan!” teriaknya berusaha mendorong dengan tangannya tapi sayang pintu mobil sudah tertutup dan mobil sudah melaju kencang.Ayunindya tetap tak menyerah. Meski napasnya terengah-engah, tangannya sudah merah bahkan sandalnya sudah lepas. Dia tetap berontak. “Hei diam! Kamu mau aku habisi, hah?” ancam pria itu. Nyali Ayunindya sedikit menciut. Tapi detik berikutnya dia tiba-tiba menggigit tangan pria itu.“Ada apa di mobil itu? Apa ada orang bertengkar?” Kenzo yang sedang berhenti di lampu merah mengernyitkan kening saat melihat mobil di sebelahnya. Ada siluet bayangan dari kaca gelap. Rasa penasaran membawa pria itu mengikuti mobil dari belakang. Cukup jauh dia mengikuti hingga sampai di gudang tua yang terbengkalai. “Tolong!” pekik Ayunindya.“Percuma kamu teriak, Cantik. Di sini tidak
Ayunindya ingat malam itu. Siangnya dia masih bekerja dan Davin pergi ke lokasi peluncuran produk terbaru. Tapi tiba-tiba malamnya dia pulang dalam keadaan mabuk. Rupanya dia mabuk karena frustasi memikirkan Cantika.“Siapa di sana?” Suara tumpukan map dokumen yang jatuh dari tangan Ayunindya membuat Davin sadar ada orang di luar pintu. Ayunindya gelagapan. Dia tak mau ketahuan dan memilih pergi tapi tangan Davin lebih cepat memegang pergelangan tangan Ayunindya. Tatapan mereka bertemu. Davin yang tadinya ingin marah tiba-tiba tertegun saat melihat mata Ayunindya berkaca-kaca.“Kamu mendengar semuanya?” tanya Davin datar.Ayunindya tersenyum keluh. Dia menahan laju air mata. “Aku hanya ingin meletakkan dokumen ini di mejamu. Tolong lepaskan tanganku.” “Jangan diulangi lagi. Aku tidak suka ada orang yang menguping.” Ayunindya mengangguk dan tersenyum hambar. “Seperti yang kamu mau, Pak Davin.” Dia menarik paksa tangannya dari genggaman Davin. Nyeri di pergelangan tangan tak sebe
Untuk sesaat Ayunindya kehilangan pegangan. Dia tetap saja tidak siap walau tahu dari dulu hari ini akan tiba. Hari di saat dia bertemu masa lalu suaminya. Wanita yang ingin dinikahi Davin tapi terhalang restu kakek Soedjatmiko.“Bercerai? Kalau begitu mintalah pada Davin biar dia menceraikan aku,” ucap Ayunindya berusaha setegar mungkin. Dia lebih memilih melangkah ke pintu keluar daripada meladeni Cantika.“Kamu pasti tahu Davin terhalang oleh wasiat kakeknya. Tapi aku yakin kamu tidak pernah disentuh Davin. Dia sudah berjanji padaku.” Tangan Ayunindya menggantung di udara. Padahal hanya tersisa beberapa sentimeter lagi dari gagang pintu. Beberapa saat gemuruh di dadanya harus dia tenangkan sendiri. Potongan memori selama satu tahun ini silih berganti memenuhi ruang pikirannya. Rumah tangganya memang dingin tanpa sentuhan kecuali malam itu. Malam yang bahkan dia yakin tak pernah dianggap oleh Davin.“Jangan harap kamu akan jadi Nyonya Davin Sabiru selamanya."“Kalau begitu berjuan
“Dia sudah kembali!” suara Davin terdengar dingin dan tanpa ekspresi. Ayunindya menghentikan langkah kakinya. Dia membeku dan hanya menatap punggung belakang Davin. Alat test pack masih menggantung di tangannya. Tadinya dia mau memberitahu kabar kehamilannya pada Davin tapi ucapan Davin yang ambigu membuat Ayunindya menebak-nebak. “Dia?” “Cantika kekasihku!” jawab Davin singkat. Pria itu tanpa rasa bersalah bicara jujur pada Ayunindya. Bahkan gerakannya menyemprotkan parfum terlihat begitu tenang. Tubuh Ayunindya sempat limbung. Cepat-cepat dia menyembunyikan alat test pack di punggung belakangnya. Dia pikir Davin yang akan mendapatkan kejutan pagi ini sebelum mereka berangkat kerja tapi ternyata justru dirinya yang terkejut. “Oh dia!” angguk Ayunindya lemah. Dia sadar sekarang alat test pack itu tidak ada gunanya. Kesalahan satu malam dalam pernikahan mereka yang dingin sepertinya tak membuat Davin berhenti mengejar Cantika. Pernikahan mereka bukan diawali dengan cin







