Share

Memilih Pergi

Author: Rhea S
last update publish date: 2026-07-27 11:49:29

Suara gerbang yang dibuka oleh satpam membuat tatapan keduanya bertemu. Davin dengan tatapan penuh emosi dan Ayunindya dengan tatapan penuh luka. Dinginnya fajar tak mampu menghangatkan suasana yang terlanjur memanas.

“Apa mau kuantar sampai dalam rumah?” tawar Kenzo memapah Ayunindya dengan santai. Dia satu-satunya orang yang tahu rahasia Davin yang menikahi Ayunindya setahun lalu.

Kenzo memilih acuh walau tatapan Davin berkilat marah padanya.

“Apa yang kalian lakukan? Ayu, kamu pulang jam segini?” tanya Davin dingin.

“Apa harus aku jelaskan lagi?” Ayunindya membalas kali ini. Bukankah seharusnya Davin tahu kalau rencananya sudah gagal?

“Apa kamu tidak berniat membantu, Davin? Atau perlu aku ajarkan dulu caranya memperlakukan wanita?” sindir Kenzo.

Davin mendengus kesal. Dia langsung menarik tangan Ayunindya hingga istrinya terhuyung dan menabrak dada Davin.

“Tidak usah pura-pura kesakitan!” sinis Davin saat Ayunindya meringis kesakitan.

“Aku bukan artis yang pintar akting,” bantah Ayunindya.

“Cepat masuk,” Davin langsung meminta pelayan membawanya ke dalam rumah.

Davin melangkah hingga berhadapan dengan Kenzo.

“Kamu tidak terlihat hebat hanya karena berusaha mendekati Cantika lalu sekarang istriku!”

“Aku kira gunung es di Antartika itu adalah tempat yang paling dingin, Davin. Tapi sepertinya aku salah, ternyata kamu jauh lebih dingin. Kamu tidak ingin bertanya kenapa istrimu pulang dalam keadaan seperti itu?”

“Dia hanya pura-pura terluka. Lain kali jangan coba-coba mencari kesempatan lagi. Apa tidak cukup kita hanya bersaing dalam bisnis?”

“Terserah! Aku mau pulang. Aku hanya ingin mengingatkan jangan sampai kamu menyesal. Aku rasa Ayu istri yang cocok untukmu daripada Cantika,” Kenzo berbalik arah dan memilih pergi dengan santai.

Davin berdecak kesal. Sikap Kenzo yang terlalu santai justru membuat dia semakin hilang kendali. Davin akhirnya memilih masuk ke dalam rumah.

Tanpa mereka tahu Cantika sudah mengintip dari jendela kamar sejak tadi. Wanita itu memang menginap di rumah Davin malam ini. Puspita yang memintanya tetap tinggal.

“Beruntung sekali dia kali ini ketemu Kenzo,” Cantika hanya tersenyum miring. Diam-diam dia melangkah mengikuti Davin.

Ayunindya duduk di sofa. Matanya mengedar menatap segala sudut kamar. Ucapan dua penjahat tadi dan reaksi suaminya yang justru emosi saat dia pulang membuat Ayunindya sadar kalau tak ada tempat untuknya di rumah itu.

“Aku tahu bukan aku yang kamu pilih, Mas.” lirih Ayunindya membuka laci meja riasnya. Ada kartu ATM dari Davin yang diberikan pria itu di hari pertama pernikahan mereka dulu.

“Aku akan berikan uang berapapun yang kamu mau, Ayu. Tapi jangan harap pernikahan ini seperti pernikahan impianmu.”

Ucapan Davin waktu itu masih terngiang di telinganya. Sampai hari ini Ayunindya bahkan hanya menyimpan kartu ATM itu tanpa pernah tahu berapa uang di dalamnya.

“Harus sampai menyewa preman ya Mas, biar aku tidak betah di pernikahan ini? Sebegitu inginnya kamu bersama Cantika sampai nekat seperti ini?”

Air matanya jatuh di foto pernikahan yang dia simpan selama ini di dalam laci. “Baiklah aku pergi, Mas.”

“Kamu betah pakai baju compang-camping dan kotor itu? Kalau kamu tidak ingin keluar rumah cukup bilang tidak. Kenapa harus pulang dengan Kenzo?” tanya Davin yang muncul dari pintu kamar.

“Aku akan ganti pakaian.”

“Kamu tahu dia lawan bisnisku. Tapi kamu masih nekat mau diantar pulang dengannya?”

“Aku yang minta tolong diantar Kenzo, Mas.”

Ayunindya sudah tak punya energi untuk bertengkar. Tubuhnya terasa remuk redam, nyeri menjalar dari tangan sampai kakinya. Hingga dia memilih melangkah pelan menuju kamar mandi.

“Apa?! Ayu, aku sedang bicara. Kenapa harus dia? Kenapa tidak meneleponku?”

Ayunindya menoleh. “Harus ya telepon Mas? Bukannya kedua preman itu—”

“Cantika!” Davin memilih langsung keluar kamar saat mendengar jeritan Cantika tanpa mendengar penjelasan Ayunindya lagi.

Ayunindya tersenyum getir. Di hadapannya sekarang hanya ada udara yang berhembus lembut melewatinya.

“Kamu aku bebaskan Mas.” Ayunindya hanya tersenyum getir. Melangkah ke lemari pakaian dan menarik kopernya.

“Lain kali telepon pelayan saja Ca,” ucap Davin yang membantu Cantika turun dari tangga.

“Aku cuma ingin ambil minum, Davin. Mungkin karena mengantuk makanya aku hampir jatuh tadi,” cebik Cantika meringis kesakitan sambil mengelus kakinya yang sebenarnya baik-baik saja.

“Aku ambilkan obat.”

Davin mengobati Cantika dengan cekatan bahkan saat wanita itu merengek minta jangan ditinggalkan, Davin memilih menurut. Davin baru kembali ke kamarnya saat hari hampir pagi.

“Jangan telat ke kantor hari ini!” tegas Davin saat melewati istrinya.

“Seperti yang kamu mau, Mas.”

Davin sempat menoleh. Suara Ayunindya terdengar lemah di telinganya. “Kamu benaran sakit? Kecelakaan?” Davin mulai benar-benar memperhatikan kondisi istrinya pagi ini.

Ayunindya menggeleng dan tersenyum hambar. “Aku sangat baik Mas.”

Davin mengangguk lalu melangkah pergi ke kamar mandi.

*

Davin pagi ini sudah berada di kantor. Cantika ikut satu mobil dengannya. Sementara Ayunindya memilih tidak ikut sarapan pagi bahkan memilih berangkat kerja sendirian dengan santai.

“Pak Davin, kita ada masalah besar,” Handoko salah satu karyawannya menghampiri dengan wajah pias.

“Ada apa?”

“Konsep desain rancangan arsitektur yang ingin kita ajukan untuk tender rumah sakit Jiwa Sehat ternyata sama persis dengan milik perusahaan milik Pak Kenzo."

“Tidak mungkin!” panik Davin.

“Kenapa bisa? Itu desain milik perusahaan kita,” Cantika terlihat ikut panik tapi diam-diam senyum samar terbit di bibirnya.

“Saya juga tidak tahu, Bu Cantika,” Handoko hanya tertunduk dalam.

“Davin, pasti ada yang mengkhianati kamu. Aku dengar dari pelayan, semalam Ayu pulang dengan Kenzo. Apa mereka ada hubungan?” pancing Cantika.

“Panggil Ayu ke ruanganku sekarang!” Davin melangkah lebar ke lift.

“Bu Ayu belum sampai, Pak!”

“Aku tidak peduli. Telepon dan suruh dia datang sekarang!”

Hampir satu jam kemudian Ayunindya baru datang. Semua orang melihatnya tapi dia memilih berjalan dengan tenang.

“Pak Davin mencariku?”

Davin langsung melempar dokumen ke arah Ayunindya. Sorot matanya tajam menatap Ayunindya. Tapi istrinya itu tetap tenang.

“Apa kamu yang melakukan ini Ayu? Kamu yang memberikan konsep desain kita pada Kenzo?”

“Tidak!”

“Tapi aku menemukan file desainnya diunggah lewat komputer milikmu dan dikirim ke surel milik Kenzo.”

“Aku tidak melakukannya.” Ayunindya menjawab tanpa ragu.

“Kamu aku pecat. Semua bukti mengarah padamu!”

“Terima kasih Pak Davin. Aku sudah menyerahkan surat pengunduran diri ke HRD pagi tadi. Selamat tinggal.”

Davin benar-benar kaget. Tak menyangka Ayunindya malah memilih mengundurkan diri duluan. Dia pikir istrinya itu akan memohon padanya. Davin hanya melihat punggung belakang istrinya yang berlalu pergi tanpa dia tahu kalau istrinya kali ini pergi ke tempat yang tidak pernah dia ketahui.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Menjual Rahasia Cantika

    Kening Davin berkerut dalam saat membaca pesan dari nomor tak dikenal itu. Dia baca berkali-kali sampai dia yakin kalau yang dimaksud pesan itu adalah Cantika. Davin mencoba menelepon ke nomor itu namun teleponnya tidak diangkat sama sekali. Davin menggerutu kesal dan memilih keluar dari ruangan itu. Untuk sesaat fokusnya terpecah. Tapi lagi-lagi berkaitan dengan Cantika.“Siapa ini? Dan apa maksudmu?” tanya Davin mengirim balasan pesan setelah tiga kali teleponnya di tolak.“Aku yang tahu rahasia Cantika. Kalau kamu mau aku bisa mengirimkan buktinya kepadamu. Lengkap dengan foto dan video. Bahkan bukti perjalanan dan hotel. Bagaimana?” Pesan misterius itu kembali membuat Davin kebingungan. Dia mencoba tak mudah percaya walau saat ini nama Cantika mulai berubah buruk di pikirannya. “Jangan main-main. Aku tidak mengenalmu!” tegas Davin membalas pesan lagi.“Baiklah aku akan kirim contohnya!”Damar yang berada di seberang telepon langsung mengirim contoh foto. Cantika sedang bersama

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Akhirnya Tertangkap

    Damar tersenyum puas saat melihat dari kejauhan kalau kotak coklat darinya sudah diambil oleh Cantika. Untung saja wanita itu sangat suka berfoto. Termasuk foto paket yang datang ke rumahnya, makanya Damar jadi tahu alamat rumahnya.Dan hari ini dia akan menunggu Cantika untuk datang dan membayar biaya tutup mulutnya. Sementara Cantika yang semalam merasa frustasi setelah melihat foto-foto dirinya dengan Bobby dalam berbagai pose, hari ini memilih masih berada di kamarnya. “Kenapa tidak aku hapus foto-foto Bobby?” kesal Cantika. Dia terbiasa memfoto semuanya. Termasuk saat bersama Bobby. Dia merasa masih ada pria yang mau menerima dirinya, memuja dirinya dan mengejar dirinya saat dia merasa Davin berubah. “Tapi siapa yang mengirim kotak hadiah ini? Bukannya Bobby sudah mati? Apa copet kemarin? Tapi kalau copet kemarin kenapa dia bisa tahu tentangku dan Davin? Aneh!” Cantika terus mondar-mandir di dalam kamarnya hingga tanpa sadar waktu pertemuan yang ditentukan oleh Damar sudah te

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Kotak Misterius untuk Cantika

    Damar terus memindahkan data ponsel ke ponsel miliknya. Lalu dengan cepat dia menghapus semua yang ada di ponsel itu hingga memori ponsel kembali kosong. Dia bahkan menyimpan nomor Davin. Meski tubuhnya masih terasa sangat nyeri, Damar memilih tak peduli. Dia harus secepatnya menghilangkan jejak dari ponsel yang dia ambil.“Oke, sudah selesai. Sekarang tinggal satu ponsel lagi!” ucap Damar segera berusaha memecahkan sandi ponsel.“Sepertinya ponsel yang ini cuma untuk urusan pekerjaan,” gumamnya karena tak menemukan hal aneh apapun. Damar kemudian mematikan semua ponselnya. Dia kembali memakai masker dan topinya agar lukanya tak terlalu terlihat. Dia kembali menjual kedua ponsel itu. Damar tersenyum setelah segepok uang sudah ada di tangannya. “Lumayan, setidaknya setengah dari biaya persalinan sudah aku kumpulkan. Sekarang tinggal aku cari setengahnya lagi.” Selesai menjual ponsel, rasa nyeri makin terasa di tubuhnya. Tapi dia memilih pulang ke rumah. “Damar, apa yang terjadi pad

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Rahasia Terkuak

    Mata Damar beralih ke arah Davin yang sedang membeli es krim. Dia sedang mengukur waktu pria itu kembali hingga dia bisa melihat Cantika yang sebenarnya bisa jalan. “Mumpung sedang sepi. Davin juga sebentar lagi kembali. Sebaiknya aku beraksi sekarang!” putus Damar. Damar berjalan pelan dari arah belakang kursi roda. Cantika sama sekali tak menyadari ada orang di belakangnya. Dia lebih fokus melihat ke arah Davin di ujung jalan. Tangan Damar dengan cepat tiba-tiba mendorong kursi roda itu hingga jatuh. Suara jeritan Cantika terdengar saat tubuhnya ambruk ke rerumputan. Davin menarik tas Cantika lalu lari dengan cepat.“Copet!” pekik Cantika panik yang tiba-tiba berlari dan mengejar copetnya. Dia lupa kalau dia seharusnya sedang pura-pura kakinya tak bisa berjalan. “Wah copet tuh. Kejar woi!” teriak orang-orang yang melihat Damar.“Hei pencuri! Kembalikan tasku. Dasar manusia sampah. Pasti ibumu bukan perempuan baik-baik!” teriak Cantika benar-benar kesal.Davin yang berlari dan me

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Bertemu Davin dan Cantika

    Ayunindya masih memperhatikan foto di dinding. Seorang gadis muda yang terlihat cantik dengan latar belakang pantai yang indah. Dia masih ingat wajahnya dan dia sama sekali tak menyangka kalau kamar itu adalah miliknya.“Ayu, memangnya dia siapa?” tanya Damar yang berdiri di belakang Ayunindya. “Namanya Noni. Dia pernah bekerja sebagai office girl di perusahaan Mas Davin. Tapi tidak lama kerjanya, seingatku dia berhenti dan mau menyusul Ibunya kerja di luar negeri,” jelas Ayunindya. Damar menarik napas lega. Setidaknya dia tahu tidak ada ancaman yang berarti di rumah itu. “Mungkin gajinya lebih menjanjikan. Setidaknya aku tahu kita aman di sini.” “Iya. Di sini aku bisa memasak. Ada banyak perlengkapan masak di sini,” usul Ayunindya sambil menarik sprei dan membuka sarung bantal.“Tidak usah. Kamu sebentar lagi akan lahiran. Biar kita beli makan saja setiap hari,” tolak Damar membuka tas besarnya lalu mengambil selimut dan jaket yang ada di sana.“Kamu mau ke mana, Damar?” “Aku le

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Pindah Kontrakan

    Davin dan Adit saling pandang. Wajah mereka sama-sama terlihat menegang. Mata mereka sama-sama tertuju pada semak-semak tinggi yang lebat. Tak terlihat apapun dari pinggir jalan tapi rasa penasaran membuat kaki Davin melangkah.Sementara Ayunindya berubah panik. Matanya membulat saat mendengar suara kaki melangkah mendekat. Dia jadi menyesal kenapa lebih menuruti rasa penasarannya ketimbang ucapan Damar yang memintanya tetap tinggal di Masjid. “Ya Allah, hamba cemas!” lirih Ayunindya tanpa suara. Dia sampai merapatkan tubuhnya ke balik tanaman.“Pak, hati-hati!” seru Adit langsung menarik tangan Davin. Takut terjadi sesuatu dengan bosnya itu.“Aku hanya ingin lihat!” “Takutnya itu ular atau mungkin binatang berbisa lainnya,” sergah Adit yang membuat Davin tiba-tiba gamang. Suara gemerisik kembali terdengar dari balik tanaman namun kali ini ada seekor kucing kecil yang menyembul keluar sambil mengeong. “Oh, ternyata kucing!” ucap Davin dan Adit akhirnya tersenyum lega. Mereka akhi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status