LOGINAyunindya yang kehilangan fokus membuat dua pria itu dengan mudah menariknya ke dalam mobil. Dia kembali memberontak meski tangan dan kakinya terasa nyeri luar biasa. Energinya terkuras habis.
“Lepaskan!” teriaknya berusaha mendorong dengan tangannya tapi sayang pintu mobil sudah tertutup dan mobil sudah melaju kencang. Ayunindya tetap tak menyerah. Meski napasnya terengah-engah, tangannya sudah merah bahkan sandalnya sudah lepas. Dia tetap berontak. “Hei diam! Kamu mau aku habisi, hah?” ancam pria itu. Nyali Ayunindya sedikit menciut. Tapi detik berikutnya dia tiba-tiba menggigit tangan pria itu. “Ada apa di mobil itu? Apa ada orang bertengkar?” Kenzo yang sedang berhenti di lampu merah mengernyitkan kening saat melihat mobil di sebelahnya. Ada siluet bayangan dari kaca gelap. Rasa penasaran membawa pria itu mengikuti mobil dari belakang. Cukup jauh dia mengikuti hingga sampai di gudang tua yang terbengkalai. “Tolong!” pekik Ayunindya. “Percuma kamu teriak, Cantik. Di sini tidak ada yang akan mendengarkan teriakanmu,” keduanya tertawa terbahak sambil menatap Ayunindya. Mata Ayunindya berkaca-kaca. Dia mulai merasa hidupnya tidak akan selamat. Rasanya dia lebih baik mati daripada harus menanggung malu seumur hidup. Tangan Ayunindya tiba-tiba menyentuh perutnya. Dia ingat dia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri saat ini. “Pak, tolong lepaskan. Aku mohon. Ambil saja ponsel sama perhiasan ini,” bujuk Ayunindya sambil terus melangkah mundur. Dua pria itu hanya tertawa. Tawa mereka makin melengking saat Ayunindya hilang keseimbangan dan jatuh ke lantai yang basah. Tangisan Ayunindya sudah seperti suara musik di telinga mereka. “Jangan, aku mohon!” tangis Ayunindya pecah, tubuhnya gemetar hebat. Inginnya lari tapi kakinya terkilir dan nyeri luar biasa. Sementara kedua orang itu sudah memegang pergelangan tangannya. *** Suara gelas pecah menghentikan tawa Puspita dan Cantika. Keduanya beralih menatap gelas yang berserakan di lantai. “Davin, kamu baik-baik saja?” tanya Cantika. “Tanganku tadi licin,” jawab Davin sekenanya. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tidak enak dan langsung terbayang wajah Ayunindya. “Oh tidak apa. Nanti Mama panggilkan pelayan buat bersihkan lantai.” “Kenapa Ayu belum kembali?” tanya Davin pada keduanya. Cantika dan Puspita saling pandang lalu sama-sama mengangkat bahu. “Entahlah, mungkin dia sedang bersantai di warung bakso,” sahut Puspita enteng. “Tapi ini sudah terlalu lama. Bukankah penjual bakso ada di depan komplek?” “Davin, aku rasa kamu terlalu khawatir. Dia pasti akan pulang sebentar lagi,” Cantika berusaha menenangkan. “Biar aku telepon dia,” putus Davin mengambil ponsel dari saku celananya tapi Puspita dengan cepat mengambilnya. “Davin, habiskan makananmu dulu. Mama yakin perempuan itu sengaja berlama-lama di luar sana. Dia ingin buat kamu khawatir!” “Tapi Ma–” “Kita nikmati makanan ini dulu. Jangan merusak suasana makan malam kita, Davin!” “Davin, kita sudah lama tidak makan malam bersama. Aku ingin malam ini kamu cuma mengingat aku bukan mengingat perempuan lain,” pinta Cantika penuh harap. Davin mengangguk lemah. Dia pikir mungkin saja benar Ayunindya sengaja berlama-lama di luar. “Baiklah, apapun untukmu Cantika,” Davin menggenggam tangan Cantika. *** Jeritan Ayunindya menjadi petunjuk Kenzo. Pria itu mengarahkan lampu mobilnya ke arah teras gudang tua yang hanya bercahaya remang. Sorot cahaya dari mobil membuat mata kedua pria itu silau. Mereka belum sempat melakukan apapun pada Ayunindya tapi sekarang malah kena tendangan keras dari Kenzo. Salah satu pria itu ambruk dan menyusul pria satunya. Suara jerit kesakitan terdengar dari keduanya tapi Kenzo tak memberi ampun. Sementara Ayunindya masih gemetar ketakutan. “Apa kamu baik-baik saja?” Kenzo mengulurkan tangannya. Ayunindya menatap wajah Kenzo, memastikan yang menolongnya adalah orang baik. “Pak Kenzo?” “Kamu…ternyata sekretaris rivalku,” ucap Kenzo tersenyum miring. Dia dan Davin adalah lawan bisnis sekaligus masih sepupu jauh. “Aku akan membawamu ke rumah sakit. Pegang tanganku.” lanjut Kenzo saat memperhatikan penampilan Ayunindya yang berantakan bahkan ada beberapa luka di tubuhnya. Ayunindya tampak ragu mengulurkan tangan. “Cepatlah sebelum mereka berdua bangun lagi.” Ayunindya melihat kedua penjahat itu terkapar di lantai kotor sambil mengerang kesakitan dan jika dia terlambat bisa saja keduanya kembali menyerang. “Kakiku terkilir, Pak Kenzo." “Baiklah. Jangan lupa katakan pada Bosmu yang angkuh itu kalau aku menyelamatkan sekretaris cantiknya,” pinta Kenzo iseng sambil menggendong Ayunindya ke mobil. Ayunindya menyeka air matanya dan menghela napas lega saat mobil melaju menjauh dari gudang. Meski tubuhnya masih gemetar hebat dan jantungnya berdegup sangat kencang. Kenzo membawa Ayunindya ke rumah sakit. Kembali menggendongku menuju IGD. “Terima kasih Pak Kenzo,” ucap Ayunindya terharu. Seandainya saja suaminya yang menolong saat ini. Kenzo hanya tersenyum tipis. Membiarkan dokter memeriksa Ayunindya dan mengobatinya. Kenzo memilih duduk di ruang tunggu. Sekilas dia menatap ruangan tempat Ayunindya berada. Namun suara ponsel Ayunindya tiba-tiba terdengar. Tadi perawat meminta ponselnya dibawa saja sekalian keluar. “Tengah malam Davin telepon?!” Kenzo tersenyum miring. Dia memilih membiarkan dan memejamkan matanya sebentar. Namun ponsel itu kembali berdering beberapa kali. Hingga Kenzo menghela napas berat dan memicingkan mata menatap layar ponsel. “Dasar saingan bisnis tidak tahu waktu. Tengah malam pun mengganggu tidurku.” Kenzo yang kesal langsung mengangkat telepon Davin. “Heh, berisik! Aku mau tidur!” sembur Kenzo setelahnya langsung mematikan ponsel milik Ayunindya. Davin yang berada di seberang telepon langsung terkejut dan menatap layar ponselnya sambil melotot. Dia kembali menelepon tapi sudah tak tersambung lagi. “Ternyata kamu sedang bersama pria lain, Ayu. Aku pikir kamu perempuan baik-baik,” dada Davin bergemuruh amarah. Sementara di rumah sakit, Kenzo terlelap tanpa sadar. Hingga pukul tiga malam dia baru terbangun. Dia langsung masuk ke dalam ruang rawat Ayunindya. “Hai, apa kamu mau aku telepon keluargamu? Berapa nomornya?” Ayunindya terlihat sudah lebih baik meski pakaiannya masih berantakan dan kotor. Tapi luka-lukanya sudah tertutup perban. Ayunindya menggelengkan kepala. “Boleh aku minta tolong satu kali lagi, Pak?” “Baiklah, aku tidak akan menolong setengah-setengah. Apa yang kamu mau? Makanan?” tebak Kenzo. “Bukan. Aku minta tolong diantar pulang. Aku takut pulang sendirian.” “Oke!” Ayunindya akhirnya mendapatkan izin untuk pulang. Dia tidak mengalami cedera serius. Sepanjang jalan Ayunindya hanya diam membisu. Pikirannya penuh oleh berbagai pertimbangan. Ucapan dua penjahat itu membuat dia yakin Davin adalah dalang dari semua yang terjadi padanya malam tadi. “Apa aku harus pergi dari Mas Davin? Tapi ke mana?” Hingga tak terasa mobil sudah sampai di depan gerbang rumah milik Davin. Kenzo keluar sambil membukakan pintu mobil untuk Ayunindya. “Jadi dia orangnya!” rahang Davin mengetat. Tangannya mencengkeram kuat ponselnya saat melihat istrinya pulang dengan Kenzo.Ayunindya menatap tak percaya. Dia tak menyangka Damar akan membujuk dirinya untuk Davin. Padahal selama ini Damar adalah orang yang menentang dirinya kembali pada Davin. “Ayu, aku hanya ingin kamu bahagia. Aku awalnya begitu marah saat bertemu dirinya. Tapi setelah berhari-hari aku lihat usahano, aku mulai sadar dia memang sudah berubah. Dia bahkan tak melawan sama sekali saat aku pukuli. Percayalah, dia terluka parah. Kamu tahu kan sekeras apa pukulanku,” Damar meyakinkan Ayunindya.Ayunindya tak langsung menjawab. Dia kembali merenung dalam.“Ayu, Ardam akan semakin besar. Dia butuh ayahnya. Bagaimana kalau ada anak lain yang mengejek Ardam karena tak punya ayah?” “Kamu ayahnya!” tegas Ayunindya.“Ah kamu benar. Tapi bicara masa depan, aku tak mau egois. Davin punya segalanya untuk kamu dan Ardam. Siapalah aku ini? Bahkan hadiah-hadiah yang aku bawa sebenarnya dari Davin. Dia memaksa aku membawanya untukmu,” jujur Damar akhirnya.“Damar, kenapa kamu berpikir seperti itu? Aku dan
Damar sampai melongo saat melihat Davin dengan totalitas jadi orang gila siang ini. Setelah memakai pakaian compang-camping dan memakai tas kantong plastik. Davin juga memakai rambut palsu agak panjang yang acak-acakan.Wajah Davin dan tubuh Davin juga sudah dibuat kotor. Dia bahkan tak memakai sandal. Davin keliling pasar sambil bernyanyi-nyanyi tak jelas. Kadang tiba-tiba loncat sendiri dan kadang menyapa daun bahkan langit.“Dia benar-benar mau?” Damar melongo. Padahal dia hanya iseng menyebutkan meminta Davin jadi orang gila. “Iya, Pak Damar. Kasihan bukan,” ucap Adit dengan wajah pura-pura memelas. “Ah, cuma segini. Ayu lebih menderita lagi selama beberapa bulan ini. Apalagi kalau melahirkan, memangnya Davin sanggup?” cibirnya. Adit dan Kenzo saling pandang. Mereka berdua garuk-garuk kepala. Ternyata sulit meyakinkan seorang Damar.Damar diam-diam merekam kegiatan Davin di pasar. Davin benar-benar totalitas. Dia memilih menghilangkan rasa malunya dan terus keliling pasar. Bahk
Adit dengan cepat menutup pintu ruangan itu. Dia sigap berdiri di depan pintu agar Damar tak bisa lari. Sementara Davin dengan tatapan memohon melangkah pelan mendekati Damar.Damar menatap ke arah Kenzo lalu ke arah Davin. Dia akhirnya sadar kalau dia sedang dijebak. Tangan Damar mengepal kuat. Urat di lehernya menyembul. Matanya tajam menatap Davin.“Jadi kalian menjebakku? Apa mau kalian?” geram Damar. Dia sungguh menyesal tadi cerita tentang Ayunindya dan Ardam. Dia tak sangka Kenzo punya tujuan lain. Kenzo langsung membuka kumis penyamaran juga kaca matanya. Membuat Damar makin meradang.“Tenanglah, kami memang mau membeli apartemen darimu. Ayo duduk dulu, Pak Damar. Kita bicarakan baik-baik,” bujuk Kenzo.“Damar, aku ingin bicara denganmu. Aku mohon duduklah dulu,” pinta Davin penuh harap.Damar justru menggelengkan kepala. “Lebih baik batal saja pembelian apartemennya. Aku tidak masalah. Tapi aku ingin keluar dari sini. Awas minggir!” sembur Damar pada Adit. Adit masih berdir
Mobil akhirnya sampai di sebuah gedung bertingkat tempat lokasi apartemen itu berada. Kenzo turun bersama Damar. Sejauh ini Damar sama sekali tak curiga. Dia terlalu senang bisa dapat klien baru. “Di sini penjagaan dua puluh empat jam, Pak. Lokasi bebas banjir dan sangat dekat dengan pusat perbelanjaan juga rumah sakit dan hanya lima belas menit menuju sekolah internasional,” papar Damar masih dengan semangat yang menggebu-gebu.“Kamu semangat sekali ya. Seperti seorang pria yang baru saja menjadi seorang ayah,” pancing Kenzo.Damar tertawa kecil. “Hahaha…bisa dibilang seperti itu, Pak!” angguknya.“Oh, jadi kamu sudah menikah? Dan sekarang punya seorang anak ya? Pantas semangat sekali,” Kenzo kembali memancing pembicaraan.“Bukan, Pak. Saya belum menikah. Tapi adik saya sudah punya seorang bayi. Bulan ini saya senang sudah melampaui target penjualan. Mungkin rezeki bayi adik saya. Kebetulan saya sedang menabung untuk masa depan adik saya dan bayinya,” ungkapnya jujur. “Oh maaf kala
Davin sampai beranjak dari duduknya saat menerima kabar kalau lokasi Ayunindya sudah ditemukan. Rasanya dia sudah tak sabar untuk bertemu istrinya itu.“Aku akan ke sana sekarang. Tunggulah aku di situ!” jawab Davin penuh semangat.“Pak, sebaiknya jangan sekarang,” sahut Adit di seberang telepon.Kening Davin berkerut dalam. “Apa maksudmu?” “Pak, apa Bapak lupa selama ini Bu Ayu selalu menghindar? Aku takutnya setelah Bapak menemui Bu Ayu tiba-tiba, tahu-tahu Bu Ayu lari!” jelas Adit.Davin langsung terhenyak. Dia baru menyadari ucapan Adit memang benar. Bisa saja Ayunindya minggat lagi. “Tapi aku sangat ingin bertemu dengannya dan bagaimana dengan anakku?” lirih Davin yang kini benar-benar seperti orang yang kehilangan semangat. “Aku tahu Pak. Kita akan cari jalan keluarnya. Aku sempat mengambil beberapa foto dan mungkin Bapak mau melihat fotonya.”“Tentu saja. Kirim fotonya sekarang. Dan sewa orang yang bisa memantau Ayu dua puluh empat jam. Aku tidak mau kehilangan istriku lagi!
Ayunindya menonton potongan video yang viral. Cantika yang sedang digiring dari mobil tahanan menuju gedung persidangan. Lalu Davin yang didatangi wartawan dan ditanya-tanya.“Apa benar Bapak membatalkan pertunangan dengan Nona Cantika? Bukankah kalian digadang-gadang akan menikah dan menyatukan dua perusahaan kalian?” “Tidak benar. Pertunangan itu hanya kabar angin. Saya sudah menikah, istri saya namanya Ayunindya. Tapi Cantika sudah menculik istri saya. Sampai hari ini saya sedang mencari istri saya,” jelas Davin di kamera wartawan.“Bapak sepertinya sangat mencintai istri Bapak?” tanya wartawan lagi.“Tentu saja. Saya sangat mencintai istri saya. Bagi siapa pun yang menemukan keberadaan istri saya, maka saya akan memberikan hadiah yang besar. Seratus juta rupiah!” ungkap Davin serius.“Wah menarik sekali, Pak. Ke mana harus menghubungi Bapak?” tanya wartawan lagi.“Langsung ke staff saya. Adit!” Adit kemudian memberikan nomor yang bisa dihubungi apabila ada yang melihat atau mene







