แชร์

Rujak Buah

ผู้เขียน: Rhea S
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-18 20:59:53

Davin memasang telinganya lebih tajam. Dia bisa mendengar sayup-sayup suara Ayunindya dari kejauhan. Hingga kaki Davin melangkah lebih lebar mendekati barisan pepohonan yang lebat.

“Suaranya dari sana?” Davin masih ragu. Dia menatap ke segala arah. Hanya ada pepohonan di sekitar sana. Bahkan tak ada orang lain yang melintas.

“Apa aku salah dengar? Tapi aku yakin tadi suara Ayu,” ucap Davin saat dia tak lagi mendengar suara Ayunindya.

Sementara Ayunindya sendiri berseru kegirangan saat Damar b
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Melihat Ayunindya

    Perahu yang dipakai Davin dan Cantika ternyata mengalami kebocoran kecil. Tapi mereka tak menyadari hingga sampai keliling pulau dan akhirnya Davin yang panik sampai tenggelam. Kakinya mengalami kram.Perahu akhirnya tak terlihat lagi di permukaan air sementara Cantika terus berteriak meminta pertolongan sambil terus berusaha berenang ke tepian.“Tolong! Aku mohon tolong aku!” pekik Cantika panik. Dia mulai lelah sedari tadi berusaha mencari Davin dan akhirnya tenaga Cantika hampir habis. Tak lama Damar dan dua anak buahnya akhirnya keluar dari kapal. Mereka langsung berenang ke arah yang ditunjuk Cantika. “Di sana! Davin ada di sana!” Pekik Cantika dari tepian menunjuk ke arah Davin tenggelam. Ayunindya hanya bisa mengintip dari jendela di kapal. Dia sedikit lega karena akhirnya berhasil membujuk Damar untuk menyelamatkan Davin. “Davin, aku harap kamu selamat!” ucap Ayunindya penuh harap. Damar menyelam bersama dua anak buahnya. Mereka tak terlihat untuk beberapa saat. Hanya ada

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Davin Tenggelam

    Kening Davin berkerut dalam. Dia tak mau berpikir buruk tentang Cantika. Yang dia tahu Cantika adalah gadis yang baik dan tak pernah ada berita buruk tentangnya sejak kuliah. Di mata Davin Cantika itu sempurna. Bahkan di saat Davin menikah dengan Ayunindya, Cantika hanya memilih menjauh pergi tanpa mengganggu pernikahannya. “Cantika!” panggil Davin yang membuat Cantika terlonjak kaget. Cantika gelagapan sampai ponselnya jatuh ke pasiran. Jantungnya berdetak kencang namun dengan cepat Cantika berusaha terlihat santai.“Hai…Davin! Kamu di sini?” “Iya, aku tadi jalan dan tidak sengaja mendengar kamu lagi menelepon. Siapa yang kamu telepon?” tanya Davin penasaran.Cantika menelan ludahnya. Otaknya bekerja cepat. Dia tak mau Davin curiga. Sudah sejauh ini usahanya agar dia bisa bersama Davin. Hanya tinggal satu langkah lagi menuju pernikahan. “Aku hanya menelepon asisten Papa,” elak Cantika.“Oh begitu. Tapi ke dokter obgyn? Untuk apa?” Davin menautkan alisnya dan menatap lekat Cantik

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Rahasia Cantika

    Cantika tergesa-gesa pergi ke apotik kecil di pulau itu. Dia benar-benar panik dan berharap rasa paniknya ini tidak beralasan sama sekali. Dia bahkan masih memakai baju tidur.“Mbak, aku mau beli te…” “Cantika!” Suara yang membuat Cantika langsung berhenti bicara. Bibirnya langsung bungkam. Tanpa menoleh ke belakang, Cantika langsung tahu siapa yang memanggilnya. “Kamu ke apotik sepagi ini mau beli apa?” tanya Puspita terlihat segar pagi ini. Topi lebar di kepalanya dengan pita merah jambu menandakan kalau dia sudah siap menuju pantai.“Ma-mama! Kok Mama di sini?” tanya Cantika masih belum menemukan alasan yang cocok. “Ah tidak. Mama tadi mau menyusul Davin buat sarapan pagi. Tapi malah melihat kamu masuk ke apotik. Jadi Mama ikuti ke sini,” jawab Puspita tak curiga sama sekali. Dia terlalu senang karena akhirnya Davin bertunangan dengan Cantika. Menantu idamannya sejak dulu. “Oh, aku mau…membeli obat masuk angin, Ma!” jawab Cantika gugup. Untung saja dia melihat obat masuk angin

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Rujak Buah

    Davin memasang telinganya lebih tajam. Dia bisa mendengar sayup-sayup suara Ayunindya dari kejauhan. Hingga kaki Davin melangkah lebih lebar mendekati barisan pepohonan yang lebat. “Suaranya dari sana?” Davin masih ragu. Dia menatap ke segala arah. Hanya ada pepohonan di sekitar sana. Bahkan tak ada orang lain yang melintas.“Apa aku salah dengar? Tapi aku yakin tadi suara Ayu,” ucap Davin saat dia tak lagi mendengar suara Ayunindya. Sementara Ayunindya sendiri berseru kegirangan saat Damar berhasil memetik buah rambutan yang sudah merah. Ayunindya tidak menyadari kalau suaranya terlalu besar. Dia terlalu sibuk memunguti buah rambutan yang jatuh. “Davin!” suara dari belakang membuat Davin tersentak kaget. Dia langsung menoleh ke belakang. Ternyata Cantika yang berdiri sambil memasang muka masam. “Kenapa kamu di sini?” tanya Davin.“Seharusnya aku yang tanya sedang apa kamu di sini, Davin? Pesta kita belum benar-benar usai!” ucap Cantika menahan rasa kesalnya. Davin menghela napas

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Pesta Pertunangan

    Malam itu adalah malam yang sibuk di pulau. Semua orang sedang menyiapkan acara pertunangan Davin dan Cantika. Sementara di kapal, Damar juga sedang latihan berpura-pura memasak agar besok terlihat meyakinkan. “Bos, bukannya itu gula!” celetuk anak buahnya saat Damar salah memilih toples. Mengira gula adalah garam. “Aduh, kenapa susah sekali membedakan keduanya? Mereka sama-sama warna putih,” keluh Damar sampai menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Aku beri nama di toplesnya saja ya,” usul Ayunindya. “Bos, tenang. Bos cukup pura-pura memasak. Yang penting tangan bos tidak terlihat kaku,” celetuk anak buahnya. Damar menghembuskan napas kasar dan mengangguk mengerti. Orang yang tidak biasa memasak dengan orang yang biasa memasak tentu saja gestur tubuhnya sangat berbeda. “Ayu, kenapa kita tidak hancurkan saja pesta pertunangannya besok? Rasanya aku lebih ahli menghajar orang daripada mengupas kulit bawang,” usul Damar setengah putus asa melihat kuali dan kompor. “Ah iya ak

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Tangisan Cantika

    Damar berpikir cepat, permintaan Davin baginya mustahil untuk dia lakukan. Andai dia memberanikan diri memasak secara langsung, Davin akan langsung sadar kalau masakan malam ini bukanlah masakannya.“Mas…halo? Kenapa hanya diam?” tanya Davin terlihat tak sabaran. Sejujurnya dia ragu dengan pengakuan Damar. Pria itu baginya tak terlihat seperti koki sama sekali justru lebih mirip seperti tubuh kekar preman. “Oh iya, Pak. Tapi kenapa Bapak sangat ingin melihat saya memasak langsung?” tanya Damar mengulur waktu. Sampai detik ini dia tak bisa menemukan alasan apapun untuk menolak permintaan Davin.“Hanya penasaran karena rasa enak sekali. Mirip dengan masakan almarhumah istriku,” ungkap Davin yang tatapan matanya meredup saat mengingat istrinya.Mata Damar membulat. Mantan istri? Damar sampai kaget mendengarnya. “Baik Pak, besok pagi saya akan memasak di tepi pantai ini,” jawab Damar akhirnya. Entahlah bagaimana nanti, Damar memilih akan memikirkan caranya nanti.Davin tersenyum tipis.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status