Home / Romansa / Terjerat Pesona Duda Tampan / Angkat Celananya Lebih Tinggi

Share

Angkat Celananya Lebih Tinggi

Author: Nona Lee
last update publish date: 2026-07-09 13:48:16

"Sudah, Tuan Reynard! Tolong hentikan, jangan memarahi Sean lagi!"

Pekikan panik Alina memotong kalimat tegas Reynard, gema suaranya beradu dengan isak tangis Sean yang semakin memilukan. Alina berusaha menegakkan punggungnya di atas sofa, menahan denyutan kuat di kepalanya demi mengulurkan tangan, mencoba meraih lengan tegap Reynard agar melepaskan jewerannya pada telinga Sean.

"Dia harus diberi pelajaran, Alina! Anak ini tidak akan pernah mengerti arti bahaya kalau tidak tegas seperti ini!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Rasa Bersalah

    "Dokter! Tolong anak ini, Dokter! Dia tidak bisa bernapas!" Jeritan histeris Alina mengema memecah ketenangan lorong Instalasi Gawat Darurat. Dua orang perawat bergegas berlari membawa brankar, dengan sigap memindahkan tubuh kecil Sean yang sudah lemah dan terkulai tak berdaya. Wajah bocah polos itu pucat pasi, bibirnya kebiruan, dan dadanya naik turun begitu cepat berjuang meraup pasokan udara. "Sus, bantu siapkan nebulizer dan injeksi epinefrin sekarang!" seru sang dokter jaga seraya mendorong brankar masuk ke dalam ruang penanganan kritis. Alina ingin terus melangkah masuk, namun tangan seorang perawat menahannya di ambang pintu. "Mbak, tolong tunggu di luar ya. Biarkan dokter menangani adiknya dulu." "Tapi saya pengasuhnya, Suster! Tolong biarkan saya di dalam!" tangis Alina pecah, tangannya gemetar hebat saat tirai pembatas ditarik menutup pandangannya dari Sean. Di depan pintu ruang penanganan, Alina berdiri mematung. Seluruh persendiannya serasa lolos, membuatnya terhuyung

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Papa dan Tante Bertengkar?!

    "Tante Alina, kenapa kepalanya diusap-usap terus dari tadi?" Alina tersentak kecil, memelankan gerakannya yang sedang menata kotak bekal plastik bernuansa biru di atas meja makan. Ia mengulas senyum manis, berusaha menutupi gurat lelah dan mata sembabnya yang sempat tertangkap oleh netra polos bocah laki-laki di hadapannya. "Ah... tidak apa-apa, Sean," tutur Alina lembut, mengacak pelan rambut Sean yang sudah terikat rapi dengan seragam sekolahnya. "Tante Alina hanya sedikit pusing saja pagi ini. Tapi Tante sudah buatkan bekal makanan kesukaan Sean, lho." "Wah, beneran?" Mata Sean berbinar gembira, menyambar kotak bekalnya dengan penuh antusias. Namun, lirikan matanya mendadak berpindah pada kotak bekal lain yang berukuran lebih besar di sampingnya. "Kalau yang hitam itu buat siapa, Tante?" "Itu... untuk Papa," bisik Alina pelan. Suaranya mendadak mencicit canggung. Langkah kaki tegap yang berderap dari arah tangga membuat suasana dapur seketika membeku. Reynard berjalan mend

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Pelampiasan Nafsu?

    "Pelampiasan nafsu...?" Suara Reynard tercekat di udara. Kalimat singkat yang keluar dari bibir Alina bagaikan siraman air es yang seketika memadamkan kobaran kabut gairah di kepalanya. Pria itu terpaku, menatap lekat-lekat pada dua bulir air mata yang melintasi pipi pucat wanita di hadapannya. Alina perlahan mendorong dada tegap Reynard, mengikis jarak panas yang sempat tercipta. Kali ini, Reynard tak menahan. Ia melangkah mundur satu tapak, membiarkan jemarinya terlepas dari pipi Alina. "Apakah kau menganggap saya sepicik itu, Alina?" tanya Reynard dengan nada rendah yang bergetar tajam, menatap Alina yang kini mengusap sisa air matanya. "Lalu saya harus menganggap ini apa, Tuan Reynard?" balas Alina lirih, mendongak menatap lurus ke manik mata pria itu. "Tuan datang malam-malam ke kontrakan saya, marah-marah karena cemburu pada Andri, lalu memojokkan saya dan menuntut hal yang tidak seharusnya Tuan minta dari seorang pengasuh." "Saya cemburu karena saya memiliki perasaan padam

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Haruskah Kita Mengulang?

    "Lepaskan saya, Tuan Reynard..." Bisikan Alina tertahan di tenggorokan, suaranya gemetar menyatu dengan suara deru napas Reynard yang makin memburu. Pria itu sama sekali tidak mengendurkan cengkeraman tangannya pada dagu Alina, justru makin memojokkan tubuh wanita itu hingga tak bersisa celah di antara mereka. "Lepaskan?" Reynard menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan dominasi, tatapannya mengunci manik mata Alina yang panik. "Kenapa saya harus melepaskanmu, Alina? Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa saya hanya berprasangka? Lantas kenapa tubuhmu gemetar seperti ini?" "T-Tuan... tolong, ini tidak sopan," lirih Alina seraya berusaha memalingkan wajahnya, namun jemari Reynard menahannya dengan lembut namun begitu mengikat. "Tidak sopan?" Reynard mendekatkan wajahnya, membiarkan ujung hidungnya bersentuhan tipis dengan pipi Alina yang mendadak terasa hangat. "Apakah kau mendadak lupa dengan apa yang pernah terjadi di antara kita, hm? Apakah kau lupa bagaimana kau merintih

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Kecemburuan

    "Maafkan saya, Alina." Alina membeku di ambang pintu, netranya berkedip bingung menatap pria jangkung di hadapannya. Hening sejenak merayap di antara mereka, hanya bersisa suara jangkrik malam di pelataran kontrakan yang terletak tepat berseberangan dengan gerbang rumah megah itu. "T-Tuan... Reynard?" bisik Alina dengan nada suara bergetar ragu. "Maaf... untuk apa Tuan meminta maaf?" Reynard menghela napas panjang. Tanpa menunggu diizinkan, ia melangkah masuk ke dalam kontrakan sempit itu, membiarkan aroma parfum maskulin khas dirinya menguasai ruangan kecil tersebut. "Sikap Ayah saya," ujar Reynard seraya berbalik menatap Alina yang masih memegang gagang pintu. "Saya tahu Ayah saya menyambangi sekolah Sean dan mengintimidasimu. Saya minta maaf atas perkataan buruk yang terlontar dari mulutnya hingga membuatmu menangis histeris tadi sore." Jantung Alina serasa berhenti berdetak saat itu juga. Wajahnya seketika pucat pasi. Bagaimana Tuan Reynard bisa tahu? batinnya panik. Padahal

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Apa Yang Ayah Katakan Pada Alina?!

    "Sean tidak tahu, Papa..." Cicitan polos Sean memecahkan keheningan malam di ruang keluarga. Bocah kecil itu memiringkan kepalanya dengan raut bingung. "Waktu kakek datang, kakek suruh Sean masuk ke dalam kelas. Sean tidak dengar kakek bicara apa sama Tante Alina..." Reynard mengepalkan tangannya di atas pangkuan, meremas kain celananya hingga kusut. Rahangnya mengeras tajam. Asumsinya makin kuat bahwa histeria Alina sore tadi bukanlah tanpa alasan. Ayahnya pasti telah mendatangi Alina dan melontarkan kata-kata menyakitkan yang menekan mental wanita itu. Namun, rasa panas di dada Reynard justru makin membakar ketika teringat pemandangan sore tadi. Sialan. Kenapa di saat Alina rapuh dan menangis histeris, bukan dirinya yang ada di sana untuk merengkuh dan menenangkan wanita itu? Kenapa justru supirnya, si Andri, yang dengan leluasa memeluk dan mengusap kepala Alina? "Papa...? Papa kenapa melamun...?" panggil Sean seraya menyentuh lutut Reynard. Reynard tersentak dari amarahnya, la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status