ログイン"Mengawasi? Kenapa aku harus mengawasinya?!" seru Nyonya Ella dengan nada heran, matanya menyipit menatap suaminya. "Aku curiga Reynard mulai main gila dengan pengasuh itu," jawab Tuan Richard dingin tanpa ragu, melipat kedua tangannya di balik punggung. Nyonya Ella seketika memutar bolanya dan mendengkus kencang. "Astaga, Richard! Kau ini selalu saja paranoid dan berburuk sangka pada anakmu sendiri! Reynard itu punya selera tinggi. Mana mungkin dia suka dengan seorang pengasuh yang pasti wajahnya biasa saja, tidak terurus, dan jelas-jelas dari kasta jauh di bawah keluarga kita?!" "Aku hanya mengingatkanmu, Ella," sela Tuan Richard, mengabaikan kekehan istrinya. "Perhatikan saja bagaimana cara Reynard menatap wanita itu nanti." Malam pun tiba. Sebuah mobil hitam mewah meluncur membelah jalanan kota menuju kawasan elit di pinggiran ibu kota. Di dalam kendaraan tersebut, keberangkatan Reynard, Sean, dan Alina menuju rumah utama benar-benar terjadi. Semua pakaian dan keperluan bes
"Reynard! Kau ini di mana, sih?! Kenapa baru mengangkat telepon Ibu, hah?!" Suara melengking nan penuh penekanan itu menggelegar nyaring dari speaker ponsel. Reynard sampai spontan menggeser ponselnya agak jauh dari telinga, menatap layar benda pipih itu dengan dahi berkerut meringis. Alina, yang masih dalam posisi dipeluk hangat oleh Reynard, ikut menyimak samar-samar suara omelan yang melengking tersebut. Wanita mungil itu hanya bisa menahan napas seraya menyembunyikan senyum geli di dada tegap kekasihnya. Di seberang sana, di sebuah ruang keluarga nan megah bertabur marmer mahal, berdiri seorang wanita paruh baya berpenampilan amat elegan. Busana sutra yang dikenakannya tampak begitu berkelas, polesan riasan tipis menonjolkan raut wajahnya yang cenderung angkuh. Namun, di balik sikap cerewet dan ketegasannya, Nyonya Ella, ibu kandung Reynard sebenarnya adalah sosok ibu dan nenek yang sangat penyayang serta protektif pada keluarganya. Saat ini, Richard sendiri belum sempat memb
"Dialah satu-satunya pengasuh yang bisa mengendalikan Sean, Ayah," sahut Reynard dengan nada tenang yang amat dingin. "Setelah puluhan pengasuh sebelumnya tidak pernah bertahan lebih dari satu minggu." Tuan Richard mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia terdiam, pandangan matanya yang tajam seolah menimbang-nimbang setiap kata yang terlontar dari bibir putranya. Ia tahu betul betapa sulitnya menangani tabiat Sean jika sedang kumat, dan kenyataan bahwa wanita itu berhasil bertahan sejauh ini adalah hal yang tidak bisa ia bantah. "Aku akan membicarakan hal ini dulu dengan ibumu," putus Tuan Richard akhirnya seraya berdiri dengan bantuan tongkat kayunya. "Keputusan ini bukan cuma milikku, Reynard." Pria paruh baya itu berbalik, melangkah menuju pintu keluar dengan wibawa yang tetap terasa menekan. Namun, saat melewati koridor menuju teras depan, langkah Tuan Richard sempat tertahan sejenak. Ia berpapasan dengan Alina yang berdiri kaku di dekat pintu dapur. Alina seketika menundukkan ke
"Kau pikir aku buta, Reynard? Oh.. atau kau memang sudah menganggap ayahmu ini mati?!" Suara Tuan Richard memecah keheningan ruangan dengan nada yang rendah namun tajam, seolah menyayat udara yang dingin di ruang tamu. Pria tua itu tidak beranjak dari kursinya, matanya yang tajam tetap terkunci pada wajah putranya. Reynard tetap berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah yang sedatar tembok. "Ayah, ini rumahku. Ada urusan apa Ayah datang tanpa memberitahuku?" Tuan Richard mendengus kasar. "Urusan? Kau bertanya apa urusanku? Sean alergi kacang, dia masuk rumah sakit, dan kau tidak memberitahuku sepatah kata pun! Kemarin, anak buahku melapor jika cucuku berjalan pincang karena jatuh di sekolah, dan lagi-lagi, aku harus tahu dari orang lain, bukan dari kau ayahnya!" Di dapur yang berjarak cukup jauh, Alina yang sedang menyiapkan teh hanya bisa diam mematung. Ia mendengar setiap kata yang terlontar, hatinya mencelos saat mendengar suara kemarahan Tuan Richard yang me
"A-apa?! Siapa yang memukul Papa?!" Alina melotot sempurna. Kedua matanya membulat besar menatap Sean yang masih berdiri dengan posisi berkacak pinggang di depannya. Rasa kaget dan bingung bercampur menjadi satu di wajah wanita itu, membuatnya mendadak salah tingkah. "Sean... Tante tidak pernah memukul Papa! Siapa yang mengajari Sean bicara begitu?!" seru Alina cepat, memprotes tuduhan tak berdasar itu dengan wajah yang mulai merona merah. Sean tidak menurunkan kedua tangannya dari pinggang kecilnya. Bocah itu menyipitkan mata, menatap Alina dengan sok curiga. "Papa yang bilang tadi! Kata Papa, Tante Alina memukul Papa gara-gara Papa membuat Sean menangis semalam!" Alina seketika menolehkan kepalanya tajam ke arah Reynard yang masih berlutut di dekat meja makan. Pria berkuasa itu kini sudah berdiri tegak. Bukannya merasa bersalah atau membantu meluruskan kesalahpahaman, Reynard justru tak sanggup lagi menahan tawanya. Tawa renyah nan lepas menyembur begitu saja dari bibirnya,
"Janji apa? Saya tidak pernah merasa berjanji apa pun pada Tuan," cetus Alina pelan, berpura-pura lupa. Wanita itu mengalihkan pandangannya, enggan menatap ketajaman manik mata Reynard. "Lagipula, untuk apa saya berterima kasih pada lelaki pemarah yang suka membentak anak kecil?" Mendengar ucapan menohok itu, Reynard seketika menghentikan aksinya. Pria itu menghela napas panjang, lalu perlahan duduk tegak di sisi ranjang. Wajah tegapnya menyiratkan rasa bersalah yang amat sangat. "Alina, tolonglah... Jangan seperti ini," panggil Reynard dengan nada memohon, kembali memegang lembut jemari wanita itu. "Saya tahu saya salah. Lalu saya harus bagaimana agar kau tidak marah lagi padaku, hm? Katakan, apa yang harus saya lakukan?" Alina ikut mendudukkan dirinya, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut seraya menatap Reynard tajam. "Tuan tidak perlu melakukan apa pun untuk saya. Tapi kalau Tuan benar-benar merasa bersalah, Minta maaf pada Sean! Anak itu sangat ketakutan semalam gara-gara Tu







