分享

Hati Yang Teriris

作者: Nona Lee
last update publish date: 2026-07-22 10:23:56

"Silakan duduk dulu, Mbak Alina. Maaf jadi menyita waktunya sebentar," ucap Bu Maya ramah seraya membukakan pintu ruangannya.

Alina mengangguk kaku, menggendong Sean yang masih enggan melepaskan dekapan eratnya. "Iya, tidak apa-apa, Bu Maya. Sebenarnya... apa yang terjadi pada Sean di dalam kelas tadi?"

Setelah mereka bertiga duduk di sofa ruang guru yang tenang, Bu Maya mendesah pelan. Wajahnya memancarkan rasa prihatin yang mendalam. "Begini, Mbak Alina. Tadi saat jam istirahat, Sean sangat
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Tidak Punya Ibu

    "Tidak semua Ibu seperti itu, Sean..." Alina berlutut semakin rendah, menyamakan tingginya dengan Sean. Tangan lembutnya mengusap pipi ramah bocah kecil itu dengan begitu penuh kasih sayang. "Tante meminta maaf ya, kalau kehadiran Ibu tadi pagi membuat Sean takut," lanjut Alina dengan suara yang sangat lembut, menatap lekat iris mata polos di hadapannya. Sean mengedipkan matanya beberapa kali, lalu mengunyah roti di mulutnya sampai habis sebelum kembali bersuara. "Sean tidak takut, Tante. Tapi... Sean cuma berpikir, untung saja Sean tidak punya Ibu." Alina dan Andri seketika tertegun mendengarnya. "Kenapa Sean bicara begitu, Sayang?" tanya Alina prihatin. "Kata teman-teman Sean di kelas, Ibu mereka itu suka mengomel dan memarahi mereka kalau tidak mau belajar atau salah pakai kaus kaki," celoteh Sean dengan polosnya, menyedot susu kotaknya sampai terdengar bunyi berisik di dasarnya. "Jadi Sean pikir, lebih baik tidak punya Ibu daripada punya Ibu yang galak." Alina menghela napa

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Keributan Depan Kontrakan

    "Ibu sudah!! Berhenti, Bu!!" Alina menerobos kerumunan tetangga dengan napas terengah-engah. Tepat saat jemari Mirna hendak mencengkeram sanggul Ibu Karin, Alina dengan sekuat tenaga menarik bahu ibunya mundur ke belakang. "Lepaskan Ibu, Alina! Biar Ibu beri pelajaran wanita mulut lancang ini!" jerit Mirna berontak, matanya mendelik murka ke arah Ibu Karin. Ibu Karin justru semakin melipat tangannya di dada, melayangkan senyum mengejek yang teramat menyebalkan. "Coba saja kalau berani! Dasar keluarga tidak tahu malu! Datang-datang cuma bikin ribut di komplek orang!" "Ibu Karin, tolong berhenti memperkeruh suasana!" tegur Alina tegas dengan wajah memerah tahan malu, membungkukkan badan sedikit pada warga sekitar. "Maafkan keributan ini, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Tolong semuanya bubar, tidak ada yang perlu ditonton!" Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Alina menyeret lengan Mirna masuk ke dalam rumah kontrakan, lalu membanting pintu kayu itu hingga tertutup rapat. Brak! "Ibu ini kenapa

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Candu

    "T-Tuan bicara apa, sih?! Jadi Tuan memberi saya uang ini hanya agar Tuan bisa tidur dengan saya nanti malam?!" Alina berdiri terpaku dengan wajah yang membara bagai terbakar, matanya mendelik bulat sempurna. Tangannya masih mengepal di depan dada tegap Reynard setelah pukulan kecil yang ia layangkan tadi. Reynard terkekeh renyah, sebuah tawa seksi yang memantul halus di dinding foyer. Pria itu sama sekali tidak meringis kesakitan, justru menangkap pergelangan tangan Alina yang mungil lalu menariknya makin rapat ke dalam terkaman pelukannya. "Siapa yang bilang begitu, hm?" bisik Reynard dengan nada rendah yang amat menggoda, menundukkan kepalanya hingga napas hangatnya berembus tepat di permukaan leher Alina. "Saya tidak pernah menjual beli kehangatanmu dengan uang, Alina. Tuduhanmu itu sangat tidak benar." "L-Lalu kenapa Tuan bilang mau menagih ucapan terima kasih nanti malam?" cicit Alina, mencoba memalingkan wajahnya agar tidak terhipnosis oleh binar mata cokelat pekat milik ma

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Imbalan Sebuah Pertolongan

    "Tuan Reynard... saya betul-betul meminta maaf," cicit Alina lirih, berdiri menunduk kaku di balik pintu utama rumah mewah itu. Alina merekatkan kedua telapak tangannya di depan dada, tak berani mendongak menatap pria jangkung yang berdiri tegap di hadapannya. Rasa malu yang teramat sangat menyelimuti seluruh relung hatinya. Reynard yang sudah rapi dengan kemeja kerja dan jam tangan mewahnya menghentikan langkah. Pria itu menatap wanita di depannya dengan pandangan teduh, menyadari betapa gemetarnya bahu Alina saat ini. "Kenapa kau harus meminta maaf, Alina?" tanya Reynard pelan, suaranya terdengar begitu berat dan menenangkan. "Saya... saya sudah membuat keributan di rumah Tuan pagi-pagi begini," sahut Alina dengan suara yang makin serak menahan tangis, matanya membendung air mata. "Ibu saya juga bicaranya sangat sembarangan dan tidak sopan pada Tuan. Ditambah lagi... saya minta maaf karena Sean harus berangkat sekolah berdua saja dengan Andri tanpa ditemani oleh saya." Mendenga

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Berikan Aku Uang

    "Tentu saja aku peduli padamu, Alina! Kau pikir aku melakukan semua ini untuk siapa?!" "Cukup, Ibu! Hentikan semua tuntutan ini, karena aku sudah tidak sanggup lagi mendengarkannya!" Suara Alina memecah kesunyian rumah yang pengap itu, suaranya bergetar menahan amarah yang telah tertahan selama berbulan-bulan. Di hadapannya, Mirna duduk dengan santai, menyesap teh manis dengan gerakan yang begitu tenang, seolah teriakan putrinya hanyalah angin lalu yang tidak memiliki arti. "Kau berteriak kepadaku, Alina? Setelah semua yang telah aku korbankan untuk membesarkanmu?" Mirna meletakkan cangkir itu dengan denting yang tajam di atas meja kayu. "Aku tidak meminta banyak, aku hanya meminta kau sadar diri. Usiamu sudah cukup matang, dan kecantikanmu adalah aset. Mengapa kau menyia-nyiakannya dengan menjadi keras kepala?" Alina tertawa getir, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Aset? Kau menganggapku sebagai aset? Tentu saja, bagimu aku hanyalah komoditas, bukan seorang anak. Kau memandangku

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Sejak Kapan Ibu Perduli?

    "Ibu! Cukup! Jangan bicara sembarangan di depan Tuan Reynard!" Alina memotong ucapan ibunya dengan nada suara yang meninggi, nyaris menjerit. Wajahnya yang semula pucat kini berubah menjadi merah padam karena menahan malu dan amarah yang meluap-luap. Ia tidak bisa membiarkan Mirna terus melontarkan kalimat yang merendahkan martabatnya di hadapan pria yang kini menjadi kekasihnya itu. Mirna, yang mendapatkan teguran keras, justru tertawa sinis. Ia menyilangkan tangannya di dada dengan angkuh, menatap putrinya dengan tatapan meremehkan. "Kenapa kau marah begitu, Alina? Bukankah Ibu hanya bicara kenyataan? Statusmu memang janda, bukan? Dan kau memang bekerja di sini, bukan?" Alina tidak sanggup lagi menahan gejolak di dadanya. Ia segera menoleh ke arah Reynard, yang kini menatap Mirna dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Tuan Reynard, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kelancangan Ibu saya," ucap Alina dengan suara bergetar, pandangannya merunduk dalam. "Saya akan membawa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status