Masuk"Kalau saya bilang iya, Tuan mau apa?" bisik Alina dengan nada menantang, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Reynard tanpa sedikit pun gentar. Reynard terkekeh rendah, suara beratnya bergetar tepat di depan wajah Alina. "Aku akan makin menyukaimu, Alina. Jadi, katakan padaku secara langsung. Kau cemburu melihatku pergi bersama wanita lain?" Alina menelan ludahnya yang terasa kesat. Pegangan tangan Reynard di pinggangnya terasa makin posisif dan hangat, seakan menembus kain tipis gaun yang mengenakannya. Ketakutan akan kehilangan, bayang-bayang wanita berkelas lulusan London tadi, serta letupan emosi yang dipendamnya sejak pagi akhirnya pecah malam ini. "Saya cemburu, Tuan!" akui Alina akhirnya, suaranya bergetar namun sarat akan kejujuran. "Saya takut... saya takut sekali jika wanita itu jauh lebih baik dari saya, cantik, berpendidikan, dan Tuan akhirnya tertarik padanya. Saya takut Tuan dan Tuan Richard akan membuang saya setelah ini!" Mendengar pengakuan jujur yang begitu
"Sean hanya terlalu manja! Kau selalu memanjakannya sampai dia menjadi penakut seperti ini!" bentak Tuan Richard dengan napas memburu, berusaha membela diri dari tatapan tajam istrinya. Nyonya Ella melangkah maju, dadanya kempas-kempis menahan amarah yang membakar. "Manja kau bilang? Dia baru enam tahun, Richard! Kau selalu saja membuatnya ketakutan, menekan anak sekecil itu demi ambisi bisnismu sendiri!" "Aku mendidiknya agar menjadi pria yang tangguh! Bukan anak cengeng yang sedikit-sedikit menangis!" balas Tuan Richard tak mau kalah, suaranya menggelegar di ruang tengah yang megah itu. Namun, melihat raut wajah Nyonya Ella yang makin dingin dan mematikan, Tuan Richard mendengus kasar. Pria paruh baya itu membenarkan letak jasnya dengan tergesa-gesa. "Terserah apa katamu. Aku lelah!" cetusnya, lalu berbalik melangkah lebar menuju lantai dua, meninggalkan istri dan putranya. Nyonya Ella membuang napas berat, mencoba menenangkan emosinya. Sebagai seorang ibu yang peka, ia berbalik
"Selamat malam, Pak Gunawan. Senang sekali akhirnya kita bisa bertemu untuk makan malam," sapa Tuan Richard hangat seraya mengulurkan tangannya di ruangan VIP restoran bintang lima tersebut. "Selamat malam, Pak Richard! Wah, sebuah kehormatan bagi saya," balas Pak Gunawan dengan tawa renyah, menjabat erat tangan mitranya. Di samping Pak Gunawan, berdiri seorang wanita muda bersanggul modern dengan gaun malam sutra berwarna biru tua. Parasnya sangat cantik, anggun, dan memancarkan aura kelas atas yang begitu pekat. "Ini putri saya, Anna. Baru saja menyelesaikan studi magisternya di London," puji Pak Gunawan bangga. Anna menyunggingkan senyuman manis nan memikat, mengulurkan tangannya pada Reynard. "Selamat malam, Tuan Reynard. Saya Anna. Senang bisa berkenalan langsung dengan Anda." Reynard menerima uluran tangan itu sekadarnya, memberikan senyum formal yang amat tipis. "Reynard." Anna kemudian berjongkok pelan, mencoba menyapa anak kecil di sebelah Reynard. "Halo, Jagoan. Ini Se
"Aku tidak apa-apa kok, Ndri," sahut Alina pelan, memaksakan sebuah senyuman seraya mengelus cangkir kopi hangat di genggamannya. Andri mendesah pelan, tahu betul sahabatnya itu sedang berusaha menutupi keresahan hatinya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku taman, memandangi beberapa anak TK yang bermain di kejauhan. "Kau tidak usah menutupi semuanya denganku, Na," ujar Andri menasihati. "Tapi pesanku, jangan terlalu berpikiran buruk pada sesuatu yang belum tentu terjadi. Tuan Reynard bukan tipe pria yang gampang berpaling. Kau harus percaya padanya." Alina menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, Ndri. Terima kasih, ya." Milikmu... Kau yang memilih... Suara dering ponsel di dalam tas kainnya mendadak menghentikan pembicaraan mereka. Alina meraba isi tasnya dan mendapati nama Tuan Reynard tertera di layar. Jantungnya seketika berdesir hebat. "Ndri, aku angkat telepon dulu sebentar, ya," pamit Alina canggung. "Iya, santai saja," sahut Andri seraya melambaikan tangannya
"Ayah ingin menjualku lagi?" tanya Reynard seraya memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening, suaranya terdengar tajam dan sarkastik. Tuan Richard mendengus pelan, menatap putranya dengan pandangan menyalahkan. "Jangan bicara sembarangan, Reynard! Ayah tidak sedang menjualmu. Ayah hanya ingin memperkenalkanmu secara baik-baik pada putri dari sahabat lama Ayah. Apa salahnya memperluas jaringan?" "Itu namanya kencan perjodohan, Reynard. Jangan mau terkecoh oleh ucapan ayahmu," potong Nyonya Ella santai dari samping, menyunggingkan senyum tipis yang makin membuat suaminya geram. Tuan Richard menoleh cepat, melirik istrinya dengan kesal. "Ella, bisakah kau tidak memprovokasi putra kita pagi-pagi begini?" Melihat jarum jam di tangannya sudah menunjukkan makin siang, Tuan Richard memilih enggan memperpanjang perdebatan. Ia mendengus sekali lagi, membenarkan letak jasnya, lalu melangkah masuk ke dalam mobil. "Ingat, Reynard. Malam ini jam tujuh. Jangan sampai terlambat!" Mobil mewah
"Ngomong-ngomong aku ingin bicara sebentar, soal pengasuh baru Sean... bagaimana pendapatmu tentang Alina?""Alina? Menurutku dia pengasuh yang cukup baik untuk Sean," jawab Nyonya Ella tenang, suaranya mengalun lembut di tengah kegelapan kamar utama. Tuan Richard menghentikan pijatan di pelipisnya, menoleh kaget menatap sang istri. "Kau serius, Ella? Bukankah biasanya kau sangat selektif dan mudah curiga pada pekerja baru di rumah ini?" "Aku serius, Richard. Dia telaten mengurus cucu kita," sahut Nyonya Ella seraya membenahi posisi bantalnya. "Lalu... bagaimana dengan Reynard?" desak Tuan Richard, menyuarakan keraguan yang mengusik pikirannya sejak awal. "Apakah wanita itu bertindak aneh atau mencoba mendekati putra kita? Dia masih muda dan cukup menarik, aku khawatir Reynard tergoda." Nyonya Ella terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya di atas bantal. "Sama sekali tidak. Alina sangat tahu diri dan menjaga batas dengan putra kita. Kau tenang saja, Reynard tidak akan mudah ter







